
Elvira memutuskan pergi sebuah supermarket, ia mengambil keranjang besar untuk berbelanja buah-buahan dan sayuran serta bahan makanan yang menyehatkan.
Meskipun hal ini hampir tidak pernah ia lakukan selama menjadi nyonya di rumah keluarga Arkatama, namun ia bersyukur jika dirinya masih memiliki semangat untuk menjalani hidup. Untuk sesaat ia ingin melupakan segala permasalahannya.
Tiba di rumah, Dewanti terkejut melihat Elvira masuk dengan tangan yang penuh tas belanjaan namun bukan berisi barang-barang mahal yang biasa ia beli.
Elvira menyapa Dewanti lalu ia segera berjalan mengarah ke dapur, sedangkan Dewanti yang penasaran langsung mengikutinya.
“Elvira, tumben kamu pergi belanja ini? Banyak sekali beli buah-buahan sama sayuran.” Dewanti merasa heran.
“Oma, mulai sekarang aku mau lebih sering memasak makanan sehat di rumah.” Perkataan Elvira membuat Dewanti mendelik tidak percaya.
“Apa? Memasak?”
Selama ini Elvira bahkan hampir tidak pernah menyentuh area dapur rumah, terhitung hanya beberapa kali ia terlihat pergi ke ruang ini, itu pun hanya untuk mengambil air minum di dalam lemari pendingin.
“Apa yang terjadi dengan kamu?”
“Tidak ada, Oma.”
“Kamu yakin mau masak? Tiba-tiba saja?” Pertanyaan Dewanti seakan meragukan kemampuan Elvira.
“Oma tidak percaya?” tantang Elvira.
“Sayang, Daffin bahkan tidak mengizinkan kamu untuk menyentuh alat-alat masak.”
“Tidak apa-apa, Oma. Dulu waktu aku masih tinggal sendiri, aku suka masak sendiri. Aku yakin masih memiliki kemampuan untuk itu.”
“Hmm, ya sudah kalau kamu mau. Tapi nanti Oma ikut cobain masakan kamu ya.”
“Beres, Oma. Eh, Bibi mau ke mana?” cegat Elvira yang melihat Mirah masuk ke dapur.
“Bibi mau masak untuk makan siang. Nyonya Elvira sedang apa di sini?” jawab Bi Mirah heran. Sama halnya seperti Dewanti, Mirah tampak tidak percaya.
“Hari ini aku yang masak,” pinta Elvira.
“Eh, jangan. Ini tugas Bibi.”
“Pokoknya hari ini aku yang masak, Bibi ikut aja ya.”
Ia lalu menguncir rambut panjangnya, memakai celemek, menyingsingkan lengan baju dan siap untuk melakukan aksinya.
Dewanti yang masih saja penasaran turut memperhatikan dan ia sangat takjub melihat cucu menantunya itu ternyata cukup cekatan dan lihai di dapur.
Beberapa saat kemudian semua makanan yang sudah di masak kini tersaji di meja makan, Dewanti terlihat bersemangat menantikannya.
“Kamu pandai memasak ternyata,” kata Dewanti saat menikmati hidangan.
“Oh ya, Bi Mirah. Aku sudah menyiapkan beberapa hidangan untuk para asisten rumah tangga, Bibi ajak mereka nanti makan bersama ya.”
“Baik, Nyonya.” Lalu Mirah segera permisi.
“Ada apa sebenarnya dengan kamu hari ini? Kamu tidak ada pekerjaan di kantor?” tanya Dewanti.
“Aku hanya mau melakukan yang aku suka saja, Oma. Hari ini tidak banyak pekerjaan, aku mau bersantai saja di rumah dan memasak untuk Oma,” jawab Elvira yang bersemangat untuk membuat Dewanti tersenyum bahagia hari ini.
“Oma senang kalau kamu bisa melakukan apa yang kamu sukai, ini akan jadi energi yang bagus untuk diri kamu. Oma juga senang dimasakin sama kamu.”
“Pokoknya hari ini Oma mau makan apa, aku akan masakin untuk Oma.”
“Hmm, kamu manis sekali. Oma pokoknya senang sekali melihat kamu seperti ini.”
Dewanti sangat bahagia melihat raut keceriaan terpancar dari wajah Elvira hari ini karena untuk sejenak Elvira sepertinya ingin melupakan kejadian tadi malam.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anya yang baru pulang setelah bekerja tidak sengaja melihat Elvira sedang tampak duduk bersantai di salah satu kursi halaman samping rumah.
Sebelum hendak ke kamarnya, Anya memutuskan untuk menemui Elvira terlebih dulu. Ia sekarang jadi sangat suka untuk mengganggu perempuan itu agar Elvira semakin merasa tidak nyaman dan tidak betah lagi di rumah ini.
Elvira yang tengah sibuk mengupas kulit sebuah apel dengan pisau kecil ditangannya langsung menyadari kehadiran Anya yang selalu mampu memancing amarahnya.
“Kamu sedang apa? Bersantai?” sapa Anya sok akrab.
Ia melirik ke arah meja besi di depan Elvira sudah tersedia segelas jus buah dan satu keranjang kecil yang berisi buah-buahan yang didominasi oleh buah apel merah kesukaan Elvira.
Anya tersenyum sinis dan mengganggunya dengan megambil sebuah apel yang masih ada di tangan Elvira, lalu ia dengan santainya menggigit buah tersebut.
“Mm, ini enak banget, manis,” gumam Anya sambil mengunyah terlihat menikmati.
“Kamu suka memakannya tanpa kulitnya? Sama dong,” kata Anya lagi.
“Apa kamu selalu seperti ini, suka merebut milik orang lain?” sindir Elvira yang merasa terganggu karena kehadiran Anya.
“Mm, itu salah satu keahlian ku. Sekarang kamu harus tahu jika seseorang yang kamu anggap tamu ini, juga bisa mengambil milik kamu,” balas Anya santai tanpa menghiraukan raut kesal di wajah Elvira saat menatapnya.
“Dasar tidak tahu diri!” umpat Elvira.
“Perlahan tapi pasti, kamu akan sepenuhnya kehilangan perhatian dari Bu Meisya. Tapi aku rasa memang Bu Meisya sepertinya sudah sangat membenci kamu, jangan harap dia akan menganggap kamu sebagai menantunya lagi.”
Elvira masih mendengarkannya bicara dan ia menyadari memang sejak awal ia sudah tidak mendapat perhatian dari mama mertuanya itu, kini Elvira merasa memang Meisya sudah sepertinya dipenuhi kebencian yang lebih lagi terhadapnya.
“Aku rasa aku sudah mendapatkan perhatian dari Bu Meisya sepenuhnya, kamu tidak akan mendapat perlakuan baik lagi darinya,” lanjut Anya terkesan sombong.
Elvira lalu dengan kesal menancapkan pisau yang masih di tangannya pada sebuah apel yang masih ada di wadah, menyaksikan itu membuat Anya sedikit tersentak karena terlihat betapa tajamnya pisau yang menancap dengan sempurna itu.
Seketika melihat tangan Elvira yang melakukannya terasa menakutkan bagi Anya, belum lagi saat Elvira menatapnya dengan pandangan tajam seperti tersimpan kemarahan dalam dirinya membuat Anya menelan ludah.
Pikirannya lalu melayang kemana-mana membayangkan bagaimana seandainya jika Elvira berpikir hendak melukainya.
Akhirnya Anya memutuskan untuk pergi begitu saja meninggalkannya.
Saat Anya berpaling, ia berpapasan dengan Dewanti yang sepertinya hendak menghampiri Elvira.
“Oma,” sapa Anya dengan sopan.
Dewanti lalu melirik ke tangan Anya yang masih memegang sebiji buah apel yang di ambilnya dari Elvira.
“Jangan mengganggunya.” Dewanti memperingatkan lalu terus berjalan tanpa ingin menghiraukannya lagi. Menyadari perlakuan Dewanti berbeda terhadapnya membuat Anya hanya bisa kesal lalu segera pergi.
“Elvira,” sapa Dewanti begitu sudah berada di dekatnya.
“Eh, Oma.”
“Lagi bersantai? Apa dia mengganggu kamu?”
“Tidak juga.”
“Jangan terlalu menghiraukannya, ya. Oh ya, Oma ada sesuatu untuk kamu.”
“Apa Oma?”
Dewanti lalu memperlihatkan sebuah kotak perhiasan dan ia membuka di hadapan Elvira, ternyata Dewanti ingin memberikan kalung yang waktu itu pernah dijanjikannya untuk Elvira.
Sementara Elvira terpesona melihat betapa indahnya kalung yang terbuat dari emas putih bermatakan butir berlian yang menghias di bagian rantai dan liontinnya.
“Ini untuk kamu, Bu Ester baru saja mengirimkannya. Sini, Oma bantu pakaikan.” Dewanti lalu memakaikan kalung tersebut ke leher Elvira, ia tersenyum bahagia melihat ke arah Elvira.
__ADS_1
“Ini bagus banget, Oma. Terima kasih ya Oma,” ucap Elvira tersenyum senang.
“Sama-sama, Sayang. Sangat cantik saat kamu yang memakainya.” Dewanti membelai kepalnya dengan penuh kasih sayang.
Rupanya hal itu terlihat oleh Nevan dan Sakti yang baru saja datang hendak menemui mereka.
“Nevan? Sakti? Kalian datang,” tegur Dewanti begitu menyadari kehadiran kedua pria tersebut.
Detik berikutnya keduanya langsung ikut bergabung bersama Dewanti dan Elvira.
“Aku mau mengambil mobilku, Oma,” ujar Nevan.
“Kalian tidak akan langsung pulang kan? Tinggal lah di sini dulu, nanti kita makan malam bersama,” ajak Dewanti.
“Iya, pulang lah setelah makan malam. Nanti aku akan masak kan sesuatu untuk kalian,” timpal Elvira.
Keduanya mengiyakan saja dengan kompak.
“Oh, Oma sampai lupa. Oma tadi ada pesan kue, tunggu sebentar ya biar Oma siapkan.”
“Loh, Oma. Biar aku saja,” cegat Elvira.
“Tidak usah. Kamu di sini saja temani mereka,” bantah Dewanti. Lalu ia segera masuk kembali ke dalam rumah.
“Melihat bagaimana Oma memperlakukan kamu dengan penuh kasih sayang seperti tadi. Aku jadi teringat tentang perkataan kamu waktu itu, apa kamu benar-benar ingin meninggalkan Oma dan keluarga ini?” tanya Nevan tiba-tiba kepada Elvira.
“Apa? Bagaimana bisa? Apa itu benar?” tanya Sakti yang penasaran.
“Kapan aku pernah mengatakannya?” elak Elvira berlagak lupa.
“Malam itu.”
Nevan membantu mengingatkannya, akan tetapi Elvira justru malah teringat saat mereka berciuman malam itu dan hal itu tiba-tiba membuat dadanya terasa berdesir.
Sedangkan saat ini Elvira sudah mendapati ekspresi keheranan dan penuh rasa penasaran dari wajah Sakti.
“Oh, soal itu. A-aku yakin itu hanya bentuk dari keputusasaan ku saja waktu itu,” jawab Elvira tergagap.
“Bagaimana bisa kamu berpikir untuk meninggalkan keluarga ini? Kamu lihat kan bagaimana perlakuan dan kasih sayang oma sama kamu.”
Perkataan Nevan membuat Elvira menyesal telah mengungkapkan niatnya tersebut, apalagi mengingat semua perlakuan dan kasih sayang yang Dewanti berikan kepadanya selama ini.
Meskipun di sisi lain ada Meisya yang tidak menyukainya serta kehadiran Anya yang selalu mengganggunya, namun ia masih saja bisa bertahan karena Dewanti.
“Maksudku, tidakkah kamu memikirkan bagaimana Oma.”
“Bagaimana bisa kamu berpikir seperti itu? Kamu adalah bagian dari keluarga ini, kita adalah keluarga. Kalau masalah mengenai Anya, anggap saja dia tidak berarti apa-apa.” Sakti turut meyakinkan.
“Iya. Aku tahu, mulai sekarang aku tidak akan pernah lagi terpikir untuk meninggalkan Oma,” pungkas Elvira lalu ia menyadari tatapan mata kedua pria itu terhadapnya seperti menunggu ia menyelesaikan perkataannya.
“Dan kalian berdua,” sambung Elvira.
“Awas kalau sampai berpikir ingin pergi lagi.” Nevan memperingatkannya.
“Kami tidak akan membiarkannya atau kami berdua pasti akan menghukum kamu.” Sakti menimpali.
“Itu terdengar seperti sebuah ancaman.”
“Memang, anggap saja begitu,” ujar Nevan.
“Jadi kalian mengancam ku?”
“Iya!” jawab kedua pria itu kompak dengan tegas membuat Elvira terharu, ia merasa beruntung memliki keduanya yang berada di sisinya. Ia seperti mendapat kekuatan lagi untuk bertahan menjalani kehidupannya.
__ADS_1
Bersambung ...