Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 83-- Rumah Kedua


__ADS_3

Asty yang baru keluar dari kelas setelah selesai mengajar, tampak terburu mengambil ponsel dari dalam tasnya. Sesekali mendapat sapaan dari para mahasiswanya yang berpapasan, membuatnya turut membalas sapaan mereka.


Ia segera menghubungi nomor Elvira. Setelah beberapa saat nada panggilan berbunyi, suara Elvira di seberang sana sudah terdengar menyahut.


“Elvira, kamu tidak lupa kan hari ini? Kemarin kamu kamu sudah janji loh sama Kakak untuk berkunjung ke rumah menemui ibu.” Asty kembali mengingatkan Elvira.


Saat pertemuan lalu, Asty memintanya untuk berkunjung ke rumah dan menemui Widya. Elvira hanya mengiyakan saja karena ia juga memang merasa sangat merindukan Widya namun ia meminta agar Asty tetap tidak akan bercerita tentang semua yang terjadi pada Elvira selama ini.


“Iya, Kak. Aku tidak akan lupa,” jawab Elvira yang kini terlihat sedang sibuk di sebuah tempat memesan makanan untuk dibungkus.


“Ya sudah, kamu di mana sekarang?” tanya Asty sambil terus berjalan di lorong bangunan besar tersebut.


“Aku masih di restoran nih, pesan beberapa makanan untuk dibawa nanti ke rumah,” jawab Elvira di seberang telepon.


Tanpa sengaja tiba-tiba Asty menabrak tubuh seseorang, hingga terdengar suara benda jatuh di lantai. Ternyata beberapa buah buku yang tadi dibawa seorang perempuan kini sudah berserakan di depan kakinya yang terhenti.


Asty yang terkejut, langsung berinisiatif untuk membantu perempuan tersebut, yang lebih dulu hendak memungut kembali buku-buku miliknya.


“Saya minta maaf ya,” ucap Asty, sembari menyerahkan sebagian buku yang berhasil ia ambil.


Sambil menyambut bantuan dari Asty, seorang perempuan yang ternyata adalah Melody yang baru-baru ini memulai menjadi dosen disini memberinya sebuah senyum ramah. “Tidak apa-apa.” Lalu mereka segera berdiri.


“Saya benar-benar tidak sengaja,” sesal Asty.


“Iya, tidak apa-apa. Kalau begitu saya permisi dulu,” pamit Melody yang segera berlalu pergi.


Sementara Asty juga terus melanjutkan langkahnya, sambil melanjutkan pembicaraannya dengan Elvira di telepon yang masih belum terputus.


“Halo, Elvira?” panggil Asty memastikan.


“Iya Kak.”


“Maaf ya, tadi Kakak tidak sengaja menabrak seseorang.”


“Iya Kak, tidak apa-apa. Aku sudah mau jalan nih,” ujar Elvira yang sudah selesai melakukan pembayaran di kasir.


“Ya sudah, Kakak juga sudah mau jalan nih. Sampai ketemu di rumah ya.” Asty lalu mengakhiri panggilannya dan segera pergi untuk mencari taksi.


Rupanya sejak tadi Anya sudah berada di sebuah sudut ruangan, mengamati Asty. Kebetulan saat ia sedang berada di sekitar gedung itu, tidak sengaja melihat Asty.


Anya langsung teringat, karena kemarin Asty turut berada di kafe tersebut dan ikut mendengar perkataan Anya. Tentu Anya kesal, karena ada orang lain yang ikut mengetahui tentangnya. Apalagi Asty adalah orang yang bekerja di kampus ini dan mereka saling kenal.


Sambil terus memperhatikan gerak gerik Asty, Anya masih berpikir dan tidak bisa menahan rasa keingintahuannya, mengenai Asty yang ternyata juga mengenal Elvira.


Waktu itu Anya mendengar Elvira menyebut Asty dengan sebutan kakak, dan saat tadi ia mencuri dengar pembicaraan mereka di telepon juga sepertinya terdengar akrab.


Melihat Asty yang kini sepertinya sudah dihampiri sebuah mobil  taksi online yang sudah dipesannya, Anya segera mencari-cari taksi yang kemungkinan melintas di sekitar sana.


Hingga Asty sudah masuk ke mobil, Anya yang merasa beruntung mendapatkan taksi kosong yang kebetulan melintas di sekitarnya, turut langsung pergi mengikutinya.

__ADS_1


Beberapa saat berlalu, Anya yang masih terus merasa harus mengikuti Asty tidak akan membiarkannya lolos begitu saja dari pemantauannya.


Hingga kini mobil yang ditumpangi Asty sudah tiba di depan sebuah bangunan toko kue, Anya memperhatikan tempat itu, namun sekilas tidak ada yang mencurigakan.


Tidak lama kemudian,  Asty yang terlihat sepertinya masih aktif berbicara di telepon segera menyimpan kembali ponselnya, begitu melihat mobil Elvira baru sampai.


Asty sengaja menunggunya dan menyambut kedatangan Elvira, yang sudah keluar dari mobil dengan banyak tentengan tas belanjaan.


Dari kejauhan pandangan Anya yang masih memantau mereka, keakraban yang ditunjukkan keduanya tambah membuat Anya penasaran. Bahkan sesekali Asty mengusap kepala Elvira dengan penuh kelembutan, sebelum akhirnya mereka berjalan masuk ke dalam toko kue milik ibu mereka.


Anya merasa hasil pantauannya hari ini sia-sia karena tidak menemukan kecurigaan apa pun selain keakraban yang Asty dan Elvira tunjukkan, ia pun menyandarkan kepala dengan kesal ke jok.


Bagaimana tidak, ia khusus meluangkan waktu hanya untuk melihat dua orang itu bertemu dan mengunjungi sebuah toko kue. Anya juga merasa ragu untuk turut masuk ke bangunan itu, hingga ia dibuat kesal sendiri dan memutuskan untuk segera pergi.


“Jalan, Pak,” titahnya kepada sang supir taksi.


...🌻🌻🌻...


Di toko kue Bu Widya.


Widya yang terlihat sedang hendak menyimpan kembali botol obat-obatan yang diminumnya, dikejutkan oleh kedatangan Asty dan Elvira yang tiba-tiba.


Kehadiran keduanya membuat Widya tampak sedikit gelabakan, ia segera menyimpan botol obat miliknya itu ke dalam sebuah laci.


“Ibu, lihat siapa yang datang,” sapa Asty.


Widya menemui mereka dan bertatap muka lagi dengan Elvira, yang kini sudah memberinya senyum senang karena melihatnya lagi. Turut mengetahui beberapa peristiwa yang sudah Elvira alami, membuat Widya sedikit bisa melunakkan hatinya.


“Bagaimana kabar Ibu?” tanya Elvira segan. Ia merasa ragu untuk memeluknya, karena perilaku dingin yang ditunjukkan oleh Widya.


“Baik. Kamu sepertinya baik-baik saja,” sahut Widya terlihat canggung.


“Seperti yang Ibu lihat, aku baik-baik saja.”


“Kamu hidup dengan baik?” tanya Widya lagi walaupun masih terdengar dingin.


“Iya Bu, sangat baik,” jawab Elvira yang tiada hentinya menebarkan senyuman untuknya.


“Oh ya, Bu. Ini Elvira banyak membawakan makanan, sekalian juga untuk para karyawan toko,” ujar Asty memecahkan suasana haru dan canggung itu.


“Iya. Letakkan saja di meja.”


...🌻🌻🌻...


Di balkon lantai dua bangunan tersebut, Asty kini sudah mengajak Elvira untuk duduk bersama di area tersebut yang sudah dibuat layaknya sebuah teras dengan taman.


Dilengkapi sofa serta hiasan estetika lainnya, membuat area balkon ini menjadi tempat yang sangat nyaman untuk Asty biasanya sekedar duduk bersantai, maupun melakukan hobi membacanya.


“Ngomong-ngomong, apa Kakak masih mengunjungi rumah lama peninggalan Ayah?” tanya Elvira tiba-tiba.

__ADS_1


“Sejak pindah ke sini, belum ada sih. Kan rumahnya di sewa kan ibu, ya dari pada tidak terawat. Bagaimana pun juga rumah itu kan menyimpan banyak kenangan kita.”


“Iya, Kak.”


“Lagi pula ibu sepertinya merasa lebih nyaman di sini, karena juga dekat kalau mau ke pusat kota. Kalau nanti kamu ingin kembali, Kakak sudah siapkan satu kamar untuk kamu. Ya walaupun tidak besar dan megah seperti tempat kamu sekarang, tapi Kakak yakin kamu akan jauh lebih bahagia berada di sini dan bisa hidup lebih tenang, karena jauh dari perempuan itu.”


“Iya, Kak. Rumah ini, pasti akan jadi tempat ternyaman untukku.”


“Elvira, Kakak boleh tanya sesuatu?”tanya Asty tiba-tiba.


“Iya, boleh. Kakak mau tanya apa?”


“Elvira, apa yang mengizinkan Anya tinggal di rumah kamu adalah ibu Meisya?” tanya Asty lagi yang selama ini melihat langsung bagaimana Anya yang tampak dekat Meisya. Elvira hanya mengangguk mengiyakan.


“Bu Meisya sudah mengetahui semuanya dari awal?”


“Iya.”


Asty langsung merasa lemas setelah mendengar pernyataan Elvira, ia benar-benar tidak bisa membayangkan, bagaimana perlakuan Meisya terhadap Elvira selama ini.


“Sejak awal, Mama mertuaku memang tidak pernah menyukaiku, Kak. Belum lagi soal Mas Daffin yang telah menyelamatkan nyawaku serta mengenai aku yang mengalami keguguran waktu itu. Mungkin dengan menerima Anya, mama mertuaku akhirnya akan memiliki cucu dari darah daging mas Daffin di saat aku tidak bisa memberikannya,” ungkap Elvira.


“Ya ampun.” Perasaan Asty yang terlalu halus merasa tidak sanggup mendengarnya.


Kini matanya sudah berkaca-kaca, membayangkan betapa batin Elvira yang tersiksa selama ini.


“Lalu kenapa? Kenapa kamu masih belum bisa meninggalkan keluarga itu? Kamu tidak pantas mendapatkan semua ini, Elvira. Mengapa takdir begitu kejam membiarkan kamu mengalami semua ini? Mengapa Daffin tega sekali melakukan ini kepada kamu?” Asty tidak kuasa menahan kesedihannya.


“Jangan menyalahkannya, dia bahkan membayarnya dengan nyawanya sendiri. Sejak awal menikah, aku tidak pernah memberi hatiku untuknya hingga aku merasakan penyesalan sekarang. Aku hanya merasa putus asa saat menerima lamarannya waktu itu. Kenyataan bahwa aku bukanlah anak kandung ibu membuat hatiku sangat hancur,” tutur Elvira yang kini tidak bisa lagi menahan air matanya.


Asty merasa sangat terkejut mendengar pengakuan Elvira. “Jadi, kamu sudah tahu?”


“Aku mendengar semuanya waktu itu, bagaimana ibu bercerita kepada Kakak tentang kehadiranku yang sudah menjadi duri bagi kebahagiaan kalian. Serta asal usul ku yang lahir dari hasil hubungan gelap ayah dengan entah perempuan mana yang--”


“Cukup!” Asty langsung memotong ucapannya lalu memeluknya dengan erat merasa tidak sanggup lagi mendengar curahan hati Elvira.


“Jangan diteruskan lagi,” pinta Asty.


Keduanya tampak tenggelam dengan kesedihan beberapa saat.


“Tak peduli apa pun tentang kita di masa lalu, kamu tetap selamanya akan jadi adikku.” Asty berucap seraya melepas pelukannya, Elvira mengangguk mengiyakan.


“Kak, aku belum bisa meninggalkan mereka karena aku masih menyimpan rahasia tentang Kakak dan ibu yang selama ini belum mereka ketahui. Meski di sisi lain aku harus menjaga perasaan oma yang sangat menyayangiku, tapi aku rasa memang sudah seharusnya mengatakan semua ini. Entah bagaimana pun reaksi mereka nantinya, yang terpenting aku sudah mengatakannya. Biarkan aku menyelesaikan semuanya terlebih dahulu, Kak.”


“Iya Elvira, lebih baik seperti itu. Kakak bangga sama kamu karena kamu berani bertanggung jawab dengan permasalahan kamu sendiri. Kakak yakin, setelah ini Tuhan pasti punya rencana yang lebih indah untuk hidup kamu.”


“Aku akan jadikan ini pelajaran hidupku. Ke depannya, aku tidak ingin melakukan kesalahan seperti ini lagi,” pungkas Elvira.


“Iya, Sayang.” Asty kembali membelai kepalanya penuh kasih sayang.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2