Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 55-- Penebar Kesalahpahaman


__ADS_3

Anya berjalan masuk ke ruangan Meisya dengan penuh senyum kemenangan. Namun sepertinya Meisya telah memasang raut wajah terhadapnya.


“Kamu mendapat keringanan pekerjaan dari saya bukan berarti bisa pergi sesuka kamu, kenapa lama sekali?!” omel Meisya.


“Tenang dulu, Bu. Saya pergi lama karena mendapatkan sesuatu untuk Bu Meisya.”


“Berhenti bicara, lanjutkan pekerjaan kamu.”


“Ibu Meisya akan menyesal jika tidak melihat ini sekarang.” Anya mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan foto-foto yang baru ia dapatkan tadi.


“Apa ini?” Meisya mendelik jelas terkejut melihatnya. Raut wajahnya langsung berubah penuh dengan kemarahan.


“Apa yang dia lakukan? Dia berani berhubungan dengan laki-laki lain? Tapi, laki-laki ini bukannya dia dokter di rumah sakit itu ya?” Meisya mencoba mengingatnya karena ia merasa pernah melihat wajah tersebut.


“Wah, menantu Bu Meisya pandai juga mencari laki-laki lain bahkan dia belum lama ditinggal oleh pak Daffin. Benarkan yang saya bilang, dia tidak pernah mencintai pak Daffin. Setelah pak Daffin tiada, dia bahkan langsung memacari laki-laki lain.”


Meisya dengan geram lalu menyerahkan kembali ponsel milik Anya, terlihat jelas sekali kini ia sedang naik darah apalagi Anya mengingatkan tentang kepergian putranya yang belum lama.


“Beraninya dia melakukan ini kepada putraku!” umpat Meisya, kini kebenciannya semakin bertambah kala merangkum segala kelakuan Elvira yang tidak bisa ia terima.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elvira baru keluar dari mobilnya yang sudah terparkir di halaman kantor yayasan Mentari Kasih. Ia dikejutkan oleh kehadiran Nevan di dalam ruang kerjanya yang terlihat sedang menunggu kedatangannya.


“Darimana saja kamu? Kenapa keluar lama sekali?” celetuk Nevan terlihat kesal.


“Apa aku harus melapor ke kamu kalau aku mau pergi keluar?”


“Tidak juga, tapi kenapa lama sekali membiarkan aku menunggu!”


“Kamu tidak memberitahu kalau kamu kesini.” Elvira membela diri.


“Bukan kah tadi malam sudah kukatakan aku akan kesini! Mau pura-pura lupa? Ini Apa? Kenapa lukisannya masih disini? Ya ampun, kamu bahkan belum membukanya sama sekali,” gerutu Nevan kala melihat lukisan yang dikirimkannya masih tergeletak di sebuah sudut dinding masih terbungkus rapi.


“Tidak usah marah-marah segitunya juga, tadi pagi waktu aku kesini belum ada, mungkin baru saja datang saat aku sedang keluar.”


“Tidak bisakah kamu menghargai pemberian orang?”


“Iya, terima kasih,” ucap Elvira yang masih bisa menahan kesabarannya.


Saat melihat Nevan bersikap seperti ini kepadanya juga membuatnya hampir tersulut emosi hingga ia merasa memang kadang tidak pernah cocok dengan adik iparnya itu yang selalu sukses memancing emosinya.


“Ya sudah, sini biar aku sendiri yang memajangnya.” Nevan lalu mengambil benda berbentuk persegi tersebut.


Hingga beberapa saat kemudian, Nevan sudah membantu untuk memajangnya di sebuah sudut dinding ruangan yang bisa terjangkau oleh pandangan saat Elvira bekerja.


Elvira turut berdiri di sampingnya memperhatikan lukisan tersebut. Sebuah lukisan yang menggambarkan sosok seorang anak perempuan kecil tengah berlari di sebuah tempat.


“Aku membelinya waktu datang ke acara pameran lukisan Daniel, seorang pelukis terkenal. Kamu tahu tentangnya?” tanya Nevan.


“Tidak,” jawab Elvira santai.


“Ya ampun. Dia pelukis yang sangat terkenal. Saat aku melihat lukisan ini, aku langsung teringat kamu.”


“Oh ya?”


“Kamu lihat? Dia menggambarkan seorang anak perempuan yang sedang berlari ke suatu titik, kamu tahu maknanya? Lukisan ini mengajarkan kalau kita harus terus melangkah, karena dalam hidup akan selalu ada titik awal dan titik akhir. Tidak peduli bagaimanapun akhirnya dan sesulit apapun memulainya, kita hanya perlu untuk terus melangkah.”

__ADS_1


Nevan menuturkan kepadanya membuat Elvira turut meresapi maknanya.


“Bukan hanya persoalan perasaan, tapi juga untuk sebuah kesedihan. Kita harus bergerak, karena terjebak dalam diam itu tidak akan baik. Aku ingin kamu terus melangkah menghadapi apapun dalam hidup kamu,” lanjut Nevan lagi.


Elvira merasa tersentuh bisa-bisanya Nevan memberinya perhatian seperti ini yang membuatnya seolah mempunyai semangat baru untuk menjalani hidup. Baru saja ia merasa dibuat emosi karena sikap Nevan tadi, namun sekarang seolah Nevan sendiri juga yang bisa meredakannya.


“Aku tahu kamu sedang terharu,” goda Nevan.


“Terima kasih,” ucap Elvira.


“Aku senang kalau kamu pandai berterima kasih seperti ini. Kamu menyukainya?”


“Iya,” jawab Elvira, sedangkan Nevan yang melihat Elvira tersenyum ia pun turut senang.


“Oh ya, kamu datang bersama Sakti?” tanya Elvira.


“Iya.”


“Tapi aku tidak melihatnya tadi waktu di depan.”


Saat mereka keluar dari ruangan Elvira, mereka memang tidak melihat keberadaan Sakti.


Ternyata Sakti sedang main ke salah satu ruangan tempat staf bekerja, Elvira dan Nevan yang melihatnya lalu menghampirinya. Sakti terlihat sedang mengajarkan sesuatu pada Dara di depan meja komputer.


“Untuk membuat daftar laporan harus seperti ini bagusnya,” kata Sakti.


“Oh gitu, maaf ya Pak, saya masih belum menguasainya. Tapi saya akan belajar lebih giat lagi,” ujar Dara bersemangat.


“Hm, ini salah satu modusnya Sakti nih,” ledek Nevan.


“Apaan? Aku hanya mengajarinya agar bisa membuat laporan yang baik,” sahut Sakti membela diri.


“Mana ada?”


“Jangan percaya laki-laki seperti dia, dia ahlinya mempermainkan perasaan perempuan. Kemarin dia baru bertemu mantannya dan langsung ditampar. Astaga Sakti, kamu pasti sudah mempermainkannya.”Nevan tertawa geli meledeknya dan hal itu sukses membuat Sakti kesal kepadanya.


“Masa?” Elvira terheran tidak percaya.


“Iya, beneran.”


“Ya ampun."


“Bu Elvira, Nevan bahkan lebih parah. Dia juga ahlinya mempermainkan hati perempuan, masa kemarin masih mengajak mantannya berkencan,” balas Sakti.


“Aku tidak berkencan dengannya!” sanggah Nevan yang balik kesal, ia tidak mau citra dirinya rusak di depan Elvira.


“Lalu apa? Kemarin jelas-jelas kamu mengatakan jika dia mantan kamu dan kalian masih jalan berdua.”


“Sudah, sudah ya. Kalian seperti anak kecil deh yang meributkan hal kecil. Lagian itu urusan pribadi kalian, siapa yang peduli?” Elvira mencoba menengahi.


“Kamu tidak peduli?” tanya Nevan kepadanya.


“Untuk apa aku peduli? Itu urusan pribadi kalian,” jawab Elvira yang terlihat biasa saja seolah hal itu bukan masalah baginya.


“Kita impas,” ledek Sakti kepada Nevan yang masih terlihat kesal dengannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Saat baru sampai di rumah, Elvira dikejutkan oleh Meisya dan Anya serta Dewanti yang terlihat duduk bersama di sofa. Meisya lalu bangun dari duduknya untuk menghampirinya, Elvira mendapati tatapan kemarahan dari mama mertuanya.


“Keterlaluan! Beraninya kamu melakukan ini kepada putraku! Katakan, sudah berapa lama kamu berhubungan dengan laki-laki itu?”


“Maksud Mama apa?” tanya Elvira yang tidak mengerti datang-datang langsung disambut seperti ini.


Meisya lalu memperlihatkan sebuah foto pada ponsel dan Elvira sangat terkejut saat melihatnya.


“Kenapa? Kamu terkejut karena ketahuan sekarang?Oma bilang laki-laki itu adalah dokter yang merawat kamu waktu di rumah sakit. Keterlaluan kamu, tidak tahu malu! Bisa-bisanya kamu berselingkuh dengan laki-laki lain bahkan putraku baru saja tiada! Katakan, apa kamu sudah bersamanya sejak masih di rumah sakit waktu itu? Hah!” hardik Meisya yang meninggikan nada suaranya.


“Ma, ini tidak seperti yang Mama pikirkan. Oma?” Elvira melihat Dewanti yang tampak terdiam saja seperti memendam sebuah kekecewaan terhadapnya.


“Harusnya memang dari awal aku sudah tahu kalau kamu benar-benar tidak pernah mencintai putraku, kamu menikah dengannya hanya karena ada yang kamu incar kan dari keluarga ini? Dasar tidak tahu malu! Putraku bahkan mengorbankan nyawanya sendiri hanya untuk menyelamatkan perempuan seperti kamu!”


“Ma, tidak seperti itu. Aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun! Aku bisa jelaskan tentang foto itu.”


“Kamu mau berdalih bagaimana lagi? Bagaimana bisa kamu melakukan ini dan menikmati hidup kamu, sementara putraku sudah tidak bisa lagi kembali ke dunia ini!”


“Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, Ma. Ini hanya kesalahpahaman, tidak ada laki-laki lain di hidupku selain mas Daffin!” tegas Elvira.


“Bohong! Aku yakin kamu memiliki hubungan khusus dengannya karena sering bertemu di rumah sakit, atau bisa saja siapa tahu memang kalian sejak awal sudah melakukan ini di belakang Daffin.”


Lalu Meisya merebut tas jinjing mahal milik Elvira dan memeriksanya, segera setelahnya ia menemukan kotak berisi gelang tersebut.


“Ini, bukti yang tidak akan bisa membuat kamu mengelak lagi.”


Meisya merasa sangat puas menguak kelakuan Elvira di hadapan Dewanti, kali ini ia sangat percaya diri karena memiliki bukti yang kuat untuk memojokkan Elvira.


Meisya pun mendekat ke arah Dewanti untuk memperlihatkan benda perhiasan tersebut kepadanya.


“Ma, ini sudah jelas buktinya jika Elvira memang benar bertemu dengan dokter itu, foto yang didapatkan Anya itu bukanlah sebuah karangan,” kata Meisya meyakinkan Dewanti.


Dewanti pun lalu bangun dari duduknya dan menatap sebentar ke arah Elvira dengan tatapan dingin masih dengan raut wajah kekecewaan, kemarahan dan rasa tidak percaya jika Elvira melakukan seperti halnya yang dituduhkan oleh Meisya.


“Oma, ini tidak seperti yang Oma pikirkan. Aku memang menemuinya, namun aku tidak ada hubungan apapun dengannya. Tolong percaya sama aku,” pinta Elvira terdengar lirih dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, ia sangat takut mengecewakan Dewanti.


Merasa harus menenangkan diri, Dewanti pun segera berlalu pergi tanpa terlihat ingin bicara kepadanya. Namun bagi Elvira, diamnya Dewanti sungguh membuat batinnya terguncang karena selama ini Dewanti tidak pernah memarahinya langsung seperti yang dilakukan Meisya, tapi diamnya kali ini seperti benar-benar menyimpan kemarahan terhadapnya.


“Oma,” panggil Elvira, namun Dewanti tampak tidak menghiraukannya.


“Oma sepertinya sangat kecewa, setelah ini tidak tahu apa yang akan terjadi pada nasib kamu selanjutnya, jadi bersiaplah.”


Meisya memperingatkannya kemudian turut pergi meninggalkannya yang kini hanya berdua dengan Anya yang sepertinya dari tadi sudah tidak sabar untuk turut bicara.Elvira menatap wajah Anya yang tampak senyum penuh kemenangan.


“Kamu pasti tidak pernah membayangkan mendapat perlakuan seperti ini dari Oma, tapi sepertinya sikap Oma tadi cukup untuk membuat kamu takut. Entah kamu menunggu Oma mengusir kamu, atau lebih baik kamu sendiri yang memilih pergi. Aku yakin kesalahan seperti ini tidak akan termaafkan dengan mudah, Oma saja tidak bisa menerima penjelasan kamu.”


Anya tidak bisa menyembunyikan perasaan senang dan puasnya melihat Elvira yang dalam posisi tersudut kali ini.


...----------------...


Merasa penjelasannya diabaikan oleh Dewanti membuat Elvira malam ini seakan tidak bisa tenang,ia terus berpikir mencari jalan keluar dari kesalahpahaman ini. Tiba-tiba Elvira mengingat Asty, ia sangat ingin menghubunginya untuk meminta bantuan.


Akan tetapi detik berikutnya Elvira mengurungkan niatnya karena ia tidak mau melibatkan kakaknya dalam permasalahannya. Belum lagi perihal kebohongannya kepada keluarga ini tentang keluarganya, ia tidak ingin keluarganya di sini mengetahui tentang Asty dan Widya.


Elvira mengusap rambutnya dengan kasar karena rasa yang berkecamuk dalam dadanya, ia merasa sudah masuk terlalu dalam di keluarga ini hingga ia merasa terjebak sendiri dengan permainannya.


Lebih parahnya ia sudah sangat menyayangi Dewanti yang selama ini selalu menyayangi dan memperlakukannya dengan istimewa dan hal itu membuat Elvira tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Dewanti jika mengetahui kebohongannya selama ini.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2