
Gio membuka kunci pintu dari sebuah kamar indekos sambil terlihat menerima sebuah panggilan telepon.
“Iya Bu, ini kuncinya sudah ku ambil sama mbak Yayuk tadi,” ujar Gio yang menyebut nama salah satu pengurus panti asuhan milik Bu Rani.
“Tadi waktu kamu ke panti sepertinya Ibu masih diluar. Tapi ya sudah lah kalau kamu sudah berada di sana,” sahut suara Rani via sambungan telepon.
“Iya Bu.” Gio segera menutup teleponnya.
Kini ia sudah masuk ke dalam tempat tersebut yang sedikit terlihat berantakan karena tidak terus entah sudah berapa lama Anya tidak pernah lagi mendatangi tempatnya ini semenjak tinggal di rumah keluarga Arkatama.
Gio lalu membuka pintu lemari dan segera menemukan kamera miliknya. Selama ia bertugas diluar kota, benda ini dan beberapa barang miliknya yang lain ia titipkan di kamar ini.
Gio duduk di ujung tempat tidur sembari memeriksa keadaan kamera miliknya yang selama ini membantu menunjang kegemarannya melakukan seni fotografi di sela waktu sibuknya menjadi anggota kepolisian.
Sejauh ini ia dikenal di kalangan orang terdekatnya sebagai pria dengan bakat dalam dunia fotografi yang keahlian yang tidak diragukan lagi.
Setelah selesai dengan benda untuk menangkap gambar tersebut, Gio meletakkannya di atas tempat tidur tersebut lalu kembali berjalan sebentar mendatangi meja komputer milik adiknya.
Gio tidak bisa menerka entah komputer desain modern yang saat ini layarnya dalam keadaan padam masih bisa berfungsi dengan baik atau tidak karena pemiliknya meninggalkan benda berharga ini begitu saja.
Tiba-tiba tanpa sengaja tangan Gio menyenggol beberapa tumpukan buku bercampur kertas yang ada di bagian pojok meja, yang akhirnya benda tersebut jatuh ke lantai. Mengharuskannya segera berjongkok untuk memungutnya.
Akan tetapi saat dalam keadaan berjongkok seperti ini, mata Gio menangkap sebuah kertas terlipat tergeletak di bawah meja tersebut yang terletak di samping tempat sampah berukuran mini.
Gio segera memungutnya bermaksud sekalian merapikan sedikit kamar ini dan membuang sampah yang mungkin masih ada.
Namun pandangannya terfokuskan pada kertas yang tadi baru diambilnya sekilas bertuliskan nama rumah sakit membuat Gio mendelik heran dan bertanya-tanya.
“Apa dia memeriksakan kesehatannya?” gumam Gio bertanya sendiri
Ia berniat akan membuka lipatan kertas tersebut untuk sekedar mengetahui isinya.
Detik berikutnya sorot matanya langsung berubah seketika setelah membaca hasil yang tertera pada surat tersebut dengan tulisan cetak yang menerangkan tentang kondisi kehamilan Anya.
Gio yang masih terkejut lalu memeriksa tanggal pada saat surat tersebut di keluarkan dan hal itu membuat lututnya terasa lemas hingga saat ia terduduk ke lantai. Matanya dengan jelas melihat tulisan nama yang tertera di kertas tersebut adalah nama lengkap adiknya.
“Apa yang terjadi?” Gio bertanya dengan dirinya sendiri dengan sedikit gemetar, karena gejolak hatinya yang saat ini dipenuhi rasa sesak mendapati sebuah kenyataan.
Mengetahui keadaan adiknya yang tengah mengandung padahal status Anya di masyarakat masih lajang membuat Gio merasakan kesedihan serta kekecewaan yang mendalam, entah apa yang sudah terjadi dengan adiknya selama ia tidak berada di sisinya setahun ini.
Gio meremas kertas tersebut dengan penuh amarah yang tidak berarah. Kepada siapa ia marah saat ini? Entah kepada Anya yang menyembunyikan ini darinya, atau kah kemarahan ini ditujukan kepada dirinya sendiri yang merasa sudah gagal dalam melindungi adik semata wayangnya itu.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Sembari terus menginjak pedal gas membawa laju mobilnya di jalanan malam, Gio masih belum mau berhenti mencoba menghubungi Anya.
Namun panggilan teleponnya masih belum juga mendapat jawaban entah sudah berapa kali Gio menekan memanggil nomor kontak tersebut sampai ia mulai jengah.
Sedangkan saat itu Anya masih terlihat bersama Meisya di sebuah ruangan membantu Meisya mengurus sedikit pekerjaan.
Anya berkali-kali melirik ponselnya yang sedang ia letakkan di atas meja yang tak hentinya bergetar karena telepon dari Gio.
“Kenapa tidak dijawab?” tanya Meisya yang mulai terganggu dengan getaran benda tersebut yang seakan tanpa henti.
“Tidak apa-apa, Bu. Bukan hal yang penting.” Anya segera meraih ponselnya lalu segera mematikan ponsel tersebut.
...🍃🍃🍃...
Merasa panggilan teleponnya diabaikan adiknya sendiri, Gio yang kini sudah berada di depan rumah keluarga tersebut masih terus menatap ke arah sana dari dalam mobilnya. Gio langsung teringat Elvira dan mencoba menghubunginya.
Saat itu Elvira masih berada di dalam kamarnya masih memeriksa luka pada bagian telinganya yang mulai sedikit demi sedikit hilang dan rasa sakitnya kini sudah mereda. Ia mendapati ponselnya berbunyi dan dilihatnya panggilan dari Gio.
“Iya?” jawab Elvira.
“Keluar lah sekarang. Ada hal yang ingin ku bicarakan.”
“Apa yang dia katakan? Apa dia sekarang, ada di depan rumah?” Elvira bertanya sendiri sambil mendelikkan matanya.
Tanpa pikir panjang lagi, ia segera keluar dan benar saja saat beberapa saat kemudian ia sudah tiba di depan pagar rumah, ia melihat Gio yang masih berada dalam mobil. Elvira segera menghampiri karena pria itu tak urung turut bahkan setelah melihat keberadaannya.
Sementara itu Nevan yang mengemudikan mobilnya sudah hampir sampai di rumah keluarganya karena ia merasa harus meminta maaf kepada Elvira.
Sejauh ini pikirannya tidak bisa tenang betapa ia menyesalkan yang telah ia lakukan kepada kakak iparnya itu.
...🍃🍃🍃...
“Masuk lah,” titah Gio saat Elvira sudah menemuinya dibalik kaca jendela mobilnya yang terbuka.
“Ada apa? Aku? Masuk ke mobil kamu?” tanya Elvira tampak ragu.
“Kamu tahu aku seorang polisi, aku tidak akan melakukan hal yang macam-macam terhadap kamu. Sekarang masuk lah, ikut aku. Ada yang harus kita bicarakan.”
Elvira berpikir sejenak, namun akhirnya ia segera mengikuti saja permintaan Gio.
__ADS_1
Hal itu ternyata terlihat jelas oleh Nevan yang kini sudah mendekat ke arah sana, Nevan langsung menyimpan banyak pertanyaan sekaligus rasa penasaran karena Elvira tiba-tiba saja pergi bersama pria yang sudah tidak asing lagi baginya.
Apalagi ini sudah malam, membuat naluri Nevan terus mendorongnya untuk mengikuti mereka.
Elvira masih merasa bingung karena sejauh ini Gio masih saja belum membuka suara untuk memulai pembicaraan, padahal jelas tadi ia mengatakan hendak membahas sesuatu.
Tetapi sekarang Elvira memperhatikan raut wajahnya penuh misteri, ia tiba-tiba bersikap dingin dan seperti sedang menyimpan kemarahan.
Sementara Nevan yang masih mengiringi mereka di belakang, hatinya terus menggerutu bertanya-tanya kemana mereka akan pergi bersama malam ini.
Bahkan tadi yang terlihat dalam penglihatan Nevan, Gio seolah sedang menjemput Elvira.
Tidak lama kemudian, Gio menghentikan mobilnya di tepi jalanan yang tidak terlalu ramai yang ternyata di dekat sana ada taman kota yang masih banyak didatangi orang-orang pada malam hari seperti ini.
Gio lalu berjalan entah menuju kemana dan hal itu membuat Elvira harus mengikutinya daripada ia hanya berdiam sendiri di tempat pemberhentian mobil Gio tadi yang tampak sepi.
Hingga kini mereka tiba di salah satu sudut taman kota mendapat cukup penerangan dan di dekat mereka sekarang terdapat sebuah bangku taman yang biasa orang-orang gunakan untuk sekedar duduk bersantai atau beristirahat.
Merasa di tempat ini membuatnya nyaman untuk bicara, Gio lalu menghela napas sebentar mengatur amarah yang masih enggan pergi dari benaknya.
Ia memberikan kertas yang ditemukannya di kamar kost Anya.
Elvira segera memeriksanya. “Jadi, kamu sudah tahu?”
“Apa? Jadi kamu sudah lebih dulu mengetahuinya?” Gio melempar kembali pertanyaan tersebut saat mendengar pertanyaan Elvira yang mengisyaratkan jika Elvira memang sudah lebih dulu mengetahuinya.
“Bagus lah kalau kamu sudah mengetahuinya.” Elvira kembali menyerahkan kertas tersebut yang enggan diterima lagi oleh Gio.
“Jadi kalian sudah mengetahuinya?” Gio menanyainya sembari sedikit tertawa sinis, merasa jika ternyata dirinya yang tahu paling belakangan.
“Adikku tiba-tiba berhenti dari perusahaan Arkatama grup karena alasan yang tidak jelas, lalu dia bekerja untuk mama mertua kamu sampai harus tinggal di rumah kalian dan kalian tahu jika dia sedang mengandung? Apa kamu bisa menjelaskan apa yang sudah terjadi dengannya? Lebih tepatnya, apa yang sudah kalian lakukan terhadapnya?”
“Apa? Bagaimana bisa kamu melayangkan pertanyaan semacam itu kepadaku?”
“Adikku, setelah bertemu denganku lagi, dia langsung berubah bahkan tidak mau menemuiku lagi. Dia juga selalu mengabaikan telepon dariku. Saat aku menemuinya dengan ibu Meisya, dia bahkan menunjukkan raut wajah ketakutan. Apa yang sudah kalian lakukan terhadapnya? Apa kalian mengekang dan menawannya? Apa kalian memanfaatkannya?!” tuding Gio yang sedang penuh amarah.
Plakkkk....
Sebuah tamparan keras dari telapak tangan Elvira langsung mendarat di pipinya.
__ADS_1
Bersambung ...