
Tadi malam saat Elvira merenung sendiri di kamarnya, ia tiba-tiba saja teringat tentang kakaknya yang selama ini masih selalu ia rindukan, apalagi sejak pertemuan terakhir mereka waktu di rumah sakit kala itu.
Ia pun menghubungi Asty dan meminta untuk bertemu, namun karena Asty mengatakan jika nanti ia ada janji pergi dengan Raldy, Elvira pun sekalian meminta untuk bertemu dengan mereka berdua.
Asty sangat bersemangat menantikan kedatangan dari Elvira, ia merasa sudah tidak sabar ingin bertemu adiknya. Tak menunggu lama, terlihat Elvira berjalan mengarah ke meja mereka.
Asty sangat bahagia melihat adiknya itu setelah terasa lama tidak berjumpa terhitung waktu pertemuan kembali mereka di rumah sakit waktu itu.
“Kak Asty,” sapa Elvira bersemangat begitu ia sudah ada di depan Asty, lalu mereka berpelukan sejenak melepas rindu.
“Kakak senang banget bisa bertemu kamu lagi,” ungkap Asty.
“Maaf ya Kak aku baru menepati janjiku untuk menghubungi Kakak.”
“Kakak sangat mengerti kalau kamu akhir-akhir ini harus melewati banyak hal, dan Kakak tahu itu pasti tidak akan mudah kan?”
“Sejujurnya itu adalah masa-masa terberat ku, tapi perlahan aku bisa melaluinya.”
“Elvira, harusnya Kakak ada bersama kamu di saat-saat seperti itu. Maaf ya karena Kakak membiarkan kamu menghadapinya sendirian.” Asty merasa bersalah.
“Ini bukan salah Kakak. Aku baik-baik saja, buktinya sekarang aku berada di sini bersama kalian.”
“Iya, yang penting Kakak bisa ketemu kamu sekarang. Bagaimana kabar kamu?” tanya Asty.
“Aku baik, Kak. Kak Asty bagaimana?”
“Seperti yang kamu lihat, Kakak juga baik. Kakak kangen banget sama kamu,” ungkap Asty.
“Maaf ya, Kak. Selama ini aku tidak pernah menemui Kakak,” sesal Elvira.
“Kakak mengerti, Kok. Tapi Kakak sudah cukup senang melihat kamu baik-baik saja. Kamu beruntung banget tinggal di keluarga itu, mereka sepertinya mengurus kamu dengan baik.”
“Iya, Kak. Meski suami aku sudah tidak ada, keluarganya tetap baik dan sayang sama aku,” tutur Elvira.
Elvira harus menunjukkan kepada kakaknya jika ia menjalani kehidupannya dengan sangat baik karena ia tidak mau Asty mengkhawatirkannya, kembali lagi ia menyadari jika selama ini ia sudah banyak mengambil kebahagiaan yang harusnya menjadi Asty.
Lalu Asty mengajaknya ikut duduk dan memilih menu makanan.
“Pokoknya aku tidak mau tahu, hari ini aku yang akan traktir kalian,” ujar Elvira yang kali ini sudah bisa terlihat ceria lagi.
“Habiskan uangnya!” sahut Raldy bersemangat.
“Kak Raldy apa kabar?” tanya Elvira.
“Seperti yang kamu lihat, aku selalu baik-baik saja,” jawab Raldy.
“Elvira, Kakak senang kamu bisa menjalani hidup dengan baik, para perempuan di luar sana pasti banyak yang menginginkan hidup seperti kamu,” ujar Asty mengungkapkan perasaannya melihat adiknya itu.
“Kakak berlebihan, deh. Oh ya, bagaimana kabar ibu?” tanya Elvira.
“Ibu sehat, baik kok. Kamu tidak ada rencana mau menemuinya?”
“Iya, nanti. Aku pasti menemuinya,” kata Elvira sedikit ragu karena mengingat terakhir kali ia menemuinya, Widya malah mengusirnya seperti tidak ingin lagi melihatnya.
“Oh ya, kita pesan makanan dulu deh.” Raldy lalu mengalihkan pembicaraan.
Ia pun memanggil seorang pelayan restoran dan mereka segera memesan makanan lalu menikmati waktu bersama.
__ADS_1
Ketiganya sangat bersemangat saat pesanan mereka sudah di antar ke meja, sudah lama sekali rasanya Elvira tidak merasakan momen seperti ini.
“Nih, kamu makan yang banyak dong,” kata Raldy kepada Asty sambil menambahkan beberapa lauk ke piring Asty.
“Ya ampun, Raldy. Ini kebanyakan, bagaimana aku menghabiskannya?” protes Asty.
“Bisa lah, kamu tuh perlu asupan yang banyak buat mengajar.”
“Apaan sih. Nih, kamu juga harus habiskan ini.” Asty lalu membalas sama seperti yang Raldy lakukan kepadanya, bahkan Asty menambahkan lauk lebih banyak lagi.
“Dokter kan harus punya banyak tenaga buat mengobati dan merawat pasiennya,” timpal Asty.
Elvira tersenyum sendiri melihat Asty dan Raldy yang selalu berdebat dan bercanda selagi menyantap makanan seperti ini. Keduanya tampak serasi, meski sering meledek satu sama lain mereka sebenarnya sama-sama peduli.
Elvira selalu mengharapkan kebahagiaan untuk kakaknya, ia malah menganggap Asty lebih beruntung darinya karena memiliki seseorang seperti Raldy di sisinya juga ada seorang ibu yang selalu menyayanginya. Asty juga sering terlihat bahagia saat bersama Raldy.
“Oh ya Elvira, aku dengar kamu sekarang mengelola yayasan besar?” tanya Raldy.
“Iya, Kak.”
“Wah, hebat kamu. Nanti Kakak boleh kan sesekali main ke kantor kamu,” sahut Asty.
“Iya, Kak, boleh.”
“Kamu pasti banyak memiliki kegiatan sosial ya, Kakak mau deh sesekali ikutan.”
“Iya, boleh banget.”
...----------------...
Saat pertemuan mereka sudah usai, Elvira berpamitan untuk pergi lebih dulu dari mereka namun Asty segera menyusul menghampirinya yang hendak masuk ke mobilnya.
Asty lalu memegang tangannya dan memandangnya lagi dengan penuh kasih sayang seakan tidak ingin membiarkannya pergi. Asty menatap dengan nanar.
“Elvira, tolong jangan menjauh lagi. Kamu tahu kan kalau Kakak akan selalu ada untuk kamu. Kamu kalau ada apa-apa jangan sungkan untuk mengadu ke Kakak, ya. Itu pun kalau kamu masih menganggap Kakak ada.”
“Kak, kenapa bicara seperti itu? Aku minta maaf kalau selama ini aku sudah menjauh dari kalian, tapi Kakak tetap lah Kakakku.”
“Jangan menjauh lagi,” pinta Asty dengan lirih.
“Iya Kak.”
“Kamu janji?”
“Iya, aku janji.”
“Sebentar lagi peringatan hari kematian ayah, kita pergi bersama ya ziarah ke makam ayah,” ajak Asty. Elvira mengangguk setuju.
“Ya sudah, jaga diri kamu baik-baik.”
“Kakak juga jaga diri Kakak.” Elvira lalu berpamitan dan meninggalkan seutas senyuman untuk Asty.
Sedangkan Asty turut melepasnya dengan senyuman, ia merasa bersyukur kembali bisa berjumpa dengan adiknya.
Meski telah mengetahui kebenaran tentang mereka, hal itu tidak sedikit pun membuat kasih sayang Asty berkurang terhadap Elvira. Baginya Elvira tetap akan menjadi adiknya sampai kapanpun.
Detik berikutnya Asty kembali menghampiri Raldy yang masih berdiri di sekitar sana melihatnya.
__ADS_1
“Bagaimana?” tanya Asty yang bermakna ambigu bagi Raldy.
“Apanya?”
Asty menatapnya dengan memberi sebuah senyum penuh arti. “Setelah bertemu Elvira lagi.”
“Hmm, entah lah. Aku senang melihatnya lagi,” jawab Raldy sekenanya.
“Kamu masih menyimpan perasaan terhadapnya?” tanya Asty penuh selidik.
“Asty, itu sudah lama.” Raldy terlihat malas membahas soal perasaannya dulu terhadap Elvira.
“Ya sudah, deh. Kita jadi pergi sekarang?” ajak Asty, Raldy mengiyakan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Elvira yang baru pulang lebih awal ke rumah hari ini dan hendak masuk ke kamarnya tiba-tiba dikejutkan oleh kehadiran Anya yang menemuinya.
“Kamu?” Elvira terlihat heran karena Anya sudah ada di rumah padahal belum menunjukkan waktu pulang kerja pada biasanya.
“Aku merasa bersyukur karena mama mertua kamu sepertinya sangat baik dan perhatian kepadaku. Ibu Meisya memberiku keringanan saat aku sudah menyelesaikan pekerjaan, aku boleh pulang lebih awal, karena itu aku sudah ada di rumah.”
Anya menjelaskan panjang lebar seolah memahami pertanyaan yang ada di dalam kepala Elvira.
“Oh ya,” sahut Elvira menanggapi dengan datar.
Seolah sudah terbiasa hidup satu atap dengan Anya membuat Elvira merasa jika wajah Anya sudah tidak asing lagi di rumah ini, namun ia juga sering bersikap seolah tidak peduli akan Kehadiran Anya.
“Jangan menggangguku. Aku mau istirahat.” Elvira memperingatkannya sembari membuka pintu kamarnya, ternyata ia kembali dikejutkan oleh Anya yang ikut menyelonong masuk.
“Apa-apan kamu?” tanya Elvira marah.
Anya berdecak kagum tanpa rasa malu berjalan melihat-lihat isi kamar yang terdominasi oleh barang-barang mahal tersebut. “Ya ampun, aku selalu penasaran seperti apa kamar kamu. Wah, lihat lah kamar ini. Begitu luas dan megah."
“Apa kamu tidak punya rasa malu?!” Wajah Elvira sudah terlihat sangat marah, akan tetapi Anya tampak tidak memedulikannya.
Detik berikutnya Anya yang dari awal masuk sudah mengagumi tempat tidur Elvira langsung duduk di atasnya. Lalu ia membelai kasur berlapis sutra itu sambil membayangkan betapa menyenangkannya hidup Elvira berada di sisi Daffin selama ini.
“Hidup kamu sepertinya sangat menyenangkan. Kamu tahu, melihat kamu bisa memiliki semua ini terkadang membuatku juga ingin memilikinya.”
“Keluar dari kamarku?!” pinta Elvira yang masih menahan amarahnya.
“Elvira, kamu mungkin harus tahu kenapa aku melakukan semua ini. Kamu memiliki masa depan yang cerah bahkan saat Daffin sudah tiada. Sedangkan aku? Aku telah menyerahkan diriku untuknya, kehilangannya juga membuatku hancur. Aku terus berpikir bagaimana aku bisa terus melanjutkan hidup. Kamu harus mengerti ada hak anak di dalam kandunganku yang harus aku perjuangkan.”
Elvira masih tampak mendengarkan perkataannya.
“Aku rasa hubunganku dengan Daffin bukanlah suatu kesalahan, apa kamu tidak pernah menyalahkan diri kamu sendiri? Jadi, tak bisa kah kamu menerimaku dengan lapang dada? Setidaknya untuk anak ini, dia juga akan jadi bagian keluarga ini.” tutur Anya panjang lebar terdengar lirih dengan menunjukkan wajahnya yang sendu.
“Keluar dari kamarku!” pinta Elvira lagi setengah berteriak.
Anya lalu melangkah untuk mendekatinya hingga kini mereka berhadapan, Elvira mendapati perubahan seketika raut wajah Anya yang tidak lagi terlihat sendu. Anya bahkan tersenyum sinis kepadanya.
“Sekarang aku benar-benar membenci kamu. Kamu tahu kenapa? Karena cinta tulus yang kuberikan tidak pernah bisa membuat Daffin berhenti mencintai dan meninggalkan kamu! Jangan pernah menyalahkan ku, tapi salahkan diri kamu sendiri kenapa suami kamu sampai bermain denganku. Suka tidak suka, kamu harus menerima anak ini. Aku akan membuat dia mendapatkan hak yang sama seperti kamu, semua yang kamu miliki juga akan dimiliki anakku. Anggap saja kita impas.”
Puas meluapkan isi pikirannya kepada Elvira, Anya langsung keluar dari kamar tersebut.
Sedangkan Elvira masih tertegun usai menerima kalimat pernyataan dari Anya yang membuatnya kembali dipenuhi kepiluan.
__ADS_1
Setetes air mata lalu jatuh di pipinya, ia buru-buru mengusapnya. Mengingat semua kesalahannya terhadap mendiang suaminya membuat dadanya terasa sesak karena dipenuhi oleh rasa penyesalan yang mendalam.
Bersambung ...