Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 64-- Teman Lama


__ADS_3

Setelah dua tahun lamanya pertemanan mereka terpisah begitu saja membuat Olla merasa kini berjarak dengan Elvira yang dulu selalu bersamanya.


Ia tidak menampik betapa saat ini Elvira sudah jauh berubah dari segi penampilan dan sudah memiliki nama besar yang disandangnya, Olla hanya perlu merasa untuk menghormatinya setelah tadi sudah puas melampiaskan perasaannya saat pertama kali bertemu Elvira lagi.


Sedangkan Elvira masih merasa jika ia tidak ingin memiliki jarak dengan orang yang pernah ada di masa lalunya ini, bagaimanapun Olla adalah salah satu orang terdekatnya yang harus ia tinggalkan kala memutuskan melepaskan Kehidupan yang runyam saat itu.


Entah ia merasa masih pantas atau tidak jika saat ini meminta Olla untuk kembali bersamanya lagi, apalagi setelah melewati badai dalam kehidupannya yang membuatnya seakan ingin kembali seperti dulu menjalani kehidupan tanpa beban yang berarti.


“Apa kamu masih akan terus diam saja di situ?” tanya Elvira tiba-tiba berucap setelah puas merutuki dirinya.


“Maaf kan saya Bu Elvira, saya sungguh menyesal atas kejadian tadi,” ucap Olla.


“Bukan itu kalimat yang ingin ku dengar, tidak bisa kah kamu mengatakan kalau kamu masih mau menerimaku sebagai teman kamu lagi.”


Mendengar perkataan Elvira tersebut membuat Olla segera mendongak menatap ke arahnya, ia mendapati pandangan mata Elvira yang saat ini penuh kerinduan dan penyesalan karena dulu sempat memilih pergi darinya.


“Kamu tidak ingin memelukku?” tanya Elvira.


“Kalau aku ke sana, apa kamu akan kabur lagi?”


“Mana bisa, aku--”


Elvira tidak sempat melanjutkan kata-katanya lagi karena Olla terburu untuk memeluknya dengan erat dan ia merasa sangat senang karena ternyata Elvira sama sekali tidak berubah.


Selain penampilannya, Olla mendapati ternyata sikap dan tutur kata Elvira masih sama seperti dahulu.


“La, aku hampir tidak bisa bernapas!” protes Elvira saat Olla masih enggan melepas pelukannya.


“Ini balasan untuk kamu karena sudah berani kabur dariku! Kamu kan tahu aku tuh orangnya tidak bisa dibeginikan, aku kalau sudah sayang sama orang, aku tidak akan mudah melupakannya sekalipun itu seorang teman!”


“Iya, maafkan aku ya.”


Olla lalu melepas pelukannya dan menatap Elvira dengan nanar.


“Ra, pasti berat ya menghadapi hari-hari kamu? Aku pernah membaca beberapa artikel tentang suami kamu.”


Elvira merasa tidak sanggup untuk menjelaskan bagaimana perasaannya hingga ia hanya bisa menunjukkan raut wajah yang sendu dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Selama beberapa tahun berteman dengannya, Olla bahkan tidak pernah melihat Elvira menangis secara langsung di hadapannya seperti ini karena Elvira tipikal orang yang pandai menyembunyikan penderitaannya sendiri.


“Ra, tidak apa-apa. Menangis lah, kamu sekarang sudah bertemu denganku lagi. Kini kamu sudah punya aku dalam hidup kamu, tolong jangan menjauh lagi ya,” pinta Olla yang kini memeluknya lagi seraya Elvira menumpahkan kembali air matanya.

__ADS_1


Walaupun saat ini ia merasa belum bisa menceritakan semua yang terjadi pada Olla, tapi mendapat satu bahu kokoh lagi untuknya bersandar membuat Elvira sudah merasa sangat beruntung dan mendapat tumpuan batin lagi untuk terus melanjutkan hidup.


“Elvira, aku senang banget hari ini. Aku benar-benar tidak menyangka jika akan bertemu kamu lagi, aku pikir tadinya akan sangat sulit untuk menjangkau kamu yang sekarang.”


“Tidak ada yang berubah apapun dariku, La.”


“Iya, aku tahu.” Olla tersenyum ke arahnya sembari membantu mengusap air mata di pipi Elvira.


“La, maafkan aku. Aku telah menyia-nyiakan teman yang baik seperti kamu,” sesal Elvira.


“Ra, kamu bicara apa sih. Aku masih bisa berteman dengan kamu bukan karena status kamu yang sekarang. Mau bagaimana pun keadaan kamu, bagiku kamu tetap Elvira yang dulu yang selalu setia mendengar segala keluh kesah dan omelan ku."


Tiba-tiba Olla terpikirkan sesuatu. "Oh ya, Ra. Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku ceritakan sama kamu.”


“Oh ya? Tentang apa? Apa kamu sudah menikah sekarang?”


“Bukan itu! Tapi ...” Olla masih merasa ragu untuk mengungkapkannya kepada Elvira karena ia merasa malu.


“Apa? Katakan saja, apa tadi Sakti memarahi kamu?”


“Bukan.”


...----------------...


Usai menemui Elvira, Olla merasa tidak ingin cepat kembali ke kantornya tapi waktu mengharuskannya segera kembali ke kantor. Padahal ia masih belum puas untuk temu kangen dengan Elvira.


Saat Elvira mengantarnya hingga ke depan pintu lift seperti ini pun, Olla masih tetap tidak ingin melepaskan tangannya karena selama ini ia tidak menemukan lagi seorang teman yang seperti Elvira.


“Ra, kok waktu cepat sekali ya berlalu.”


“Tidak apa-apa, kamu kembali saja sekarang ke kantor. Aku janji nanti kita akan ketemu lagi.”


“Janji loh ya. Kalau kamu ingkar, aku benar-benar akan menjambak rambut kamu!” ancam Olla yang terdengar sebagai candaan.


“Iya.”


“Aku akan menghubungi kamu nanti,” ujar Olla sebelum akhirnya ia sudah memasuki lift.


Setelah pintu lift tertutup, wajah Elvira yang tadi senyum ceria kini sudah berubah menjadi masam dan penuh dengan kemarahan karena Olla sudah menceritakan semua tentang Sakti kepadanya beberapa saat sebelumnya.


Elvira lalu celingak-celinguk mencari tanda-tanda keberadaan Sakti dan ia bersumpah saya menemukannya, ia tidak akan melepaskannya sebelum pria itu menerima segala kemarahannya.

__ADS_1


“Sakti!!” teriak Elvira penuh amarah saat membuka pintu ruangan Nevan barangkali di sini ia menemukan keberadaannya


Nevan sampai-sampai kelepasan pena yang sedang dipegangnya karena terkejut mendengar suara Elvira.


“Ada apa?” tanya Nevan.


“Dimana Sakti?”


“Dia sedang izin keluar. Kamu masih di sini? Sudah selesai pertemuannya?”


“Izin keluar? Apa dia menghindari ku?” tanya Elvira balik tanpa mau menjawab pertanyaan dari Nevan.


“Mana aku tahu,” jawab Nevan terkesan lepas tangan.


“Aku benar-benar akan memarahinya!”


“Kamu kenapa tiba-tiba marah begini?” tanya Nevan pura-pura tidak tahu apa-apa.


“Beraninya seorang pria seperti dia melakukan ini terhadap temanku! Dia tidak sadar apa yang sudah dia lakukan selama ini sangat membuatnya menderita! Dasar pengecut,” umpat Elvira yang merasa sangat kesal.


“Tenang lah." Nevan mencoba menenangkan Elvira yang sedang dipenuhi amarah dengan memegang kedua bahunya sambil membimbingnya untuk mengatur napas.


"Atur napas terlebih dahulu.”


Elvira melirik tangan Nevan yang berani memegangnya. “Apa yang kamu lakukan?”


Lalu tiba-tiba Nevan malah membimbingnya untuk segera duduk pada sofa dan kini sudah melepaskannya.


“Kamu mau menunggunya di sini?” tanya Nevan.


“Ya, aku akan menunggunya! Cepat hubungi dia, bilang kalau aku menunggunya sini!”


“Baik lah.” Nevan segera berlalu dengan santai dan kembali duduk di kursinya.


Elvira benar-benar merasa harus melampiaskan kemarahannya hari ini kepada Sakti. Bagaimana tidak, selama dulu ia berteman dengan Olla, perempuan itu selalu saja mencurahkan isi hatinya yang merana dan belum bisa lepas dari bayang-bayang mantan kekasihnya di masa lalu yang menurutnya pergi begitu saja tanpa memedulikan bagaimana perasaannya.


Mendengar langsung penuturan dari Olla yang masih tersiksa rindu dan cinta pada masa lalunya membuat Elvira turut merasa sedih dan membenci pria yang ada dalam cerita tersebut.


Tapi kini ia malah sangat terkejut ternyata takdir justru mempertemukannya dengan pria tersebut yang ternyata adalah Sakti, seorang yang sudah dianggapnya sebagai saudara yang pastinya mendapatkan kasih sayang serta perhatiannya sebagai salah seorang yang berarti dalam hidupnya.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2