Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 43-- Sandiwara Anya


__ADS_3

Elvira menatap ke arah langit malam yang berwarna gelap dengan ditemani cahaya temaram dari sudut taman sekitar, saat ini ia sedang duduk bersantai di sebuah bangku yang terletak di dekat kolam renang untuk menyendiri.


Tempat ini menjadi salah satu tempat kesukaannya untuk bersantai di rumah. Dulu, ia juga sering bersantai di tempat ini bersama Daffin hanya sekedar untuk mengobrol biasa, namun kepergian Daffin yang terasa begitu cepat baginya membuatnya selalu merasa kesepian.


“Kamu di sini?” sapa Anya yang tiba-tiba menghampirinya, namun Elvira memilih hanya mengacuhkannya.


“Kita tinggal satu rumah selama beberapa waktu ini, rasanya aneh saja jika kita tampak asing, bukan?” Anya kini ikut duduk di sampingnya.


“Bisakah kamu tidak menggangguku?” Elvira sudah memasang wajah malas karena kehadiran Anya.


“Elvira, kalau dipikir-pikir. Kita tuh harusnya bisa berteman loh. Kita bisa berbagi perasaan, bahkan anakku nantinya juga akan memanggil kamu dengan sebutan mama Elvira. Terdengar menyenangkan, bukan?”


Merasa tidak ingin menanggapi ocehan Anya, Elvira langsung berdiri dan hendak meninggalkannya.


Namun Anya terburu melihat ada Meisya yang sedang berjalan tidak jauh dari mereka dan ia mulai memikirkan sesuatu.


Detik berikutnya, Anya langsung pura-pura jatuh hingga ia mengaduh dengan suara yang keras mampu terdengar oleh Meisya.


Elvira pun turut dibuat terkejut olehnya dan matanya terbelalak saat ia berpaling melihat Anya sudah dalam posisi duduk di lantai sembari seperti menahan sakit sambil memegang perutnya.


“Anya?” Elvira bermaksud bersimpati.


“Kenapa kamu melakukan ini, Elvira? Apa sebegitu bencinya kah kamu terhadapku sehingga mau mencelakai ku dan anakku!” Perkataan Anya membuat Elvira merasa tertipu, rupanya ia mengambil kesempatan ini untuk menyudutkannya menarik simpati dari Meisya yang kini sudah menghampiri mereka.


Meisya terkejut melihat Anya yang mendesis kesakitan dan mendengar pembicaraan mereka barusan.


“Elvira, apa yang kamu lakukan?!” tanya Meisya yang langsung penuh amarah, Meisya lalu membantu Anya untuk berdiri.


“Kamu tidak apa-apa? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Meisya memberi perhatian.


“Saya juga tidak mengerti Bu, kenapa Elvira bisa melakukan hal ini kepada saya. Mungkin dia masih belum benar-benar menerima saya, tapi dia tidak seharusnya mendorong saya seperti tadi,” ungkap Anya yang membuat Elvira semakin naik pitam mendengar fitnahan yang dilontarkan kepadanya.


“Beraninya kamu!”


Meisya mulai mengangkat tangan bermaksud hendak melayangkan tamparan ke arah wajah Elvira akan tetapi terburu di tahan oleh suara dari Dewanti yang menyeru namanya datang secara tiba-tiba.


“Apa yang kamu lakukan?!” Dewanti terlihat geram melihat perlakuan Meisya membuat Meisya menarik kembali tangannya.


“Ma, Elvira sudah berani mendorong Anya sampai terjatuh, dia bisa saja membahayakannya dan calon anaknya.” Meisya mengadukan kejadian tersebut.


“Itu benar, Oma,” timpal Anya dengan kepura-puraannya memasang wajah penuh kesedihan karena merasa teraniaya.

__ADS_1


“Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal ini, lalu apa artinya sikap kamu selama ini yang seolah baik dan menerimanya? Astaga, kamu benar-benar membuatku muak! Aku tahu kamu melakukan ini karena takut kan hak kamu juga akan dimilikinya?! Tega sekali kamu menyakiti orang yang sedang mengandung, apa kamu tidak punya hati nurani?!” celetuk Meisya memakinya.


Namun kali ini terdengar sangat menyakiti hati Elvira yang sudah dalam keadaan tersudut. Belum juga ia hendak menjelaskan, Meisya sudah memalingkan muka darinya menyisakan rasa kebencian terhadapnya.


“Anya, apa kamu perlu periksa ke dokter?” tanya Meisya memberi perhatian.


“Tidak perlu, Bu. Saya hanya perlu istirahat saja.”


“Ma, Mama belum mendengar penjelasan dariku, ini tidak seperti yang Mama lihat.” Elvira berucap.


“Tidak perlu membela diri! Kelakuan kamu sudah keterlaluan! Kalau kamu dendam karena telah kehilangan calon anak kamu, bukan berati kamu harus berbuat seperti ini kepada Anya. Apa kamu juga mau dia merasakan kehilangan anaknya seperti yang pernah kamu alami? Tega sekali kamu.”


“Meisya!” tegur Dewanti dengan suara memekik, akan tetapi tidak dihiraukan olehnya.


Meisya pun langsung mengajak Anya segera meninggalkan Elvira yang masih mengepal tangannya dengan erat karena darahnya sudah mendidih menerima tuduhan semacam itu.


Sedangkan Anya hanya melayangkan pandangan sinis terhadapnya saat melewatinya membuat Elvira semakin tertekan.


Perkataan Meisya yang menohok tadi sungguh membuat Elvira bertambah sedih setiap kali disinggung mengenai kehilangan calon anaknya waktu itu.


“Elvira, Sayang.” Dewanti lalu menghampirinya membuat Elvira sedikit bisa meredam amarahnya.


Dewanti juga tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak melihat kejadiannya secara langsung.


“Aku tidak melakukannya, Oma.”


“Kalau kamu tidak melakukannya, kenapa kamu tidak memaksa untuk memberi penjelasan? tanya Dewanti lagi. Elvira lalu menyeka matanya yang mulai berair.


“Oma, sama seperti Anya yang tidak memiliki bukti jika aku yang mendorongnya, aku juga tidak memiliki bukti bahwa aku tidak melakukannya. Namun, karena mama Meisya sudah lebih mencondongkan hatinya kepada Anya, karena itu mama Meisya lebih percaya kepada Anya. Tidak akan ada kesempatan untuk aku bisa menjelaskan semuanya karena semua terasa percuma.”


“Elvira, Oma percaya sama kamu.”


“Dia menjatuhkan dirinya sendiri, Oma. Aku bahkan sama sekali tidak ada menyentuhnya.”


“Iya Sayang.”


Dewanti lalu membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. Kalau saja bukan karena perlakukan Dewanti terhadapnya selama di rumah ini, Elvira mungkin sudah tidak tahan lebih lama lagi berada di sini.


“Kamu yang sabar ya atas perlakuan mama mertua kamu, Oma juga tidak menyangka dia sudah berubah seperti ini. Entah apa yang ada dalam pikirannya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Dewanti menghampiri Meisya yang tampak duduk bersantai di sebuah ruangan sepertinya sudah meredam amarahnya.


“Mama benar-benar kecewa atas sikap kamu Meisya, kamu tidak seharusnya bertindak sejauh ini. Kalau bukan Mama yang menahan, apa kamu benar-benar akan menampar menantu kamu sendiri demi perempuan itu?”


“Ma, dia memang harusnya pantas mendapatkannya.”


“Kamu juga tidak tahu tentang kebenarannya kan? Apa kamu melihat benar Elvira yang melakukannya? Kamu bahkan selalu saja menyinggung tentang dia yang kehilangan calon anaknya, di mana hati nurani kamu? Kamu juga seorang ibu, apa kamu tidak mengerti bagaimana perasaannya?” omel Dewanti dengan penuh kemarahan.


“Ma, tidak perlu membelanya seperti ini. Sudah pasti dia yang melakukannya, perempuan sepertinya sangat berpotensi untuk mencelakai orang lain hanya demi ambisinya.”


“Kamu benar-benar penilai karakter yang buruk, Meisya. Kamu sebut diri kamu orang yang berpendidikan dan beretika? Kamu hanya meninggikan rasa kebencian di atas akal sehat kamu!”


“Mama!” Meisya yang tidak terima dengan perkataan Dewanti langsung berdiri dari duduknya.


“Kenapa? Kamu merasa tersinggung? Kalau begitu apa pernah kamu sedikit saja memikirkan perasaan menantu kamu saat kamu memaki dan mencacinya sesuka hati kamu? Sekarang kamu malah membawa perempuan itu ke rumah ini yang pada kenyataannya dia bukan siapa-siapa kita.”


“Ma, aku membawanya kemari karena ada alasan.”


“Apapun alasan kamu membawanya ke rumah ini, Mama tidak akan membiarkan kamu menyakiti Elvira sedikit pun! Kamu benar-benar sudah kelewatan! Mama peringatkan kamu jangan pernah berani menyentuh Elvira!””


“Ma! Mama sadar tidak kalau Mama selalu saja mencemooh ku seperti ini! Mama sudah berubah semenjak selalu membela Elvira! Mama kenapa sih selalu saja membelanya seperti itu?” protes Meisya.


“Kamu yang sudah berubah, Meisya! Hanya karena rasa kebencian atas kepergian putra kamu, kamu selalu menimpakan semua kesalahan pada Elvira! Pernahkah kamu membuka mata kamu sekali saja bagaimana dia bersikap dan sangat menghormati kamu? Kamu malah selalu saja memojokkan dia! Mama kali ini benar-benar serius memperingatkan kamu, jangan pernah berani menyentuh Elvira!”


Puas memperingatkan Meisya lagi, Dewanti langsung berlalu pergi membuat Meisya kembali penuh amarah.


...----------------...


Sementara itu Elvira sudah kembali ke kamarnya untuk beristirahat karena ia harus menenangkan diri setelah apa yang terjadi. Elvira tidak habis pikir jika ternyata Anya melakukan hal tersebut yang tidak pernah terduga olehnya.


Detik berikutnya ponselnya berbunyi dan ia mendapati panggilan dari nomor yang tidak ada namanya, Elvira langsung mengambil ponsel dan menjawabnya.


“Ya, halo?”


“Bagaimana pembalasan dariku? Apa kamu menyukainya?” terdengar suara Anya dari seberang telepon yang membuat Elvira semakin naik pitam.


“Kamu!” Elvira bersuara dengan geram.


“Bukan kah kamu yang menyatakan perang terhadapku lebih dulu? Aku tidak bisa terima atas penyambutan kamu waktu itu, jadi aku pikir aku juga harus memperingatkan kamu kalau aku adalah lawan yang tangguh, Elvira.”


Elvira merasa tidak tahan lagi mendengar suara kemenangan dari Anya, ia langsung menutup sambungan teleponnya dan melempar ponselnya ke kasur dengan perasaan penuh amarah.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2