
Malam itu Dewanti dan Meisya sudah duduk bersama di ruang keluarga, suasana hati Meisya sepertinya lagi bagus karena tidak melihat keberadaan Elvira saat ini. Mereka sebenarnya sedang menunggu kehadiran Nevan.
“Sebenarnya ada apa, Ma?” tanya Meisya.
“Apa Nevan belum cerita? Dia dipilih untuk jadi CEO baru perusahaan kita.”
“Yang benar, Ma?” tanya Meisya yang bersemangat.
“Malam Oma, Mama,” sapa Nevan yang baru datang menyela pembicaraan. Lalu ia ikut duduk bersama mereka.
“Iya, saat ini Nevan yang paling potensial dan dipercaya bisa menempati jabatan itu. Dia juga orang yang sangat handal dan mengerti tentang bisnis perusahaan kita. Bagaimana Nevan, kamu mau kan Nevan?” tanya Dewanti yang melihat Nevan tampak berpikir.
“Nevan, Sayang. Kamu mau kan? Mama sangat mendukung kamu, Mama percaya kamu bisa.”
“Aku sebenarnya tidak terlalu yakin,” jawab Nevan.
“Tidak yakin bagaimana? Kamu sejauh ini sangat bagus membangun karir kamu sendiri, kamu seorang yang paling potensial, Nevan.” Meisya mencoba meyakinkan putranya itu.
“Iya, perusahaan Oma sangat membutuhkan orang seperti kamu. Oma yakin mendiang kakak kamu juga pasti sangat menginginkan hal ini. Bukankah itu salah satu keinginan terakhirnya?” timpal Dewanti.
“Nevan, kamu kan sudah memutuskan untuk tetap tinggal di sini. Sudah saatnya kamu membantu mengurus perusahaan keluarga kita ya?” Meisya masih terus meyakinkannya, ia terlihat yang paling bersemangat.
Nevan terlihat sejenak memikirkan.
“Oke, aku memang tidak bisa menolak apalagi ini adalah salah satu keinginan terakhir kakakku,” jawabnya membuat Dewanti dan Meisya sangat senang.
...----------------...
Setelah selesai pembicaraan dengan Dewanti dan Meisya, Nevan memilih berjalan-jalan di area rumah yang luas ini.
Rumah ini banyak sekali menyimpan kenangannya bersama Daffin dari mereka kecil hingga dewasa.
Tiba-tiba pandangan matanya teralihkan pada Elvira, yang sedang sendirian di tepi kolam renang.
Merasa sudah cukup puas berdiri, Elvira lalu duduk di sebuah kursi sembari menikmati pemandangan langit malam.
Elvira lalu memainkan ponselnya sambil berselancar di media sosial, ia melihat-lihat fotonya sendiri yang pernah ia unggah.
Ia sangat merindukan saat-saat ia bisa tersenyum ceria seperti di foto-fotonya tersebut.
Ia sangat menikmati kehidupannya dengan banyak bepergian ke beberapa tempat, Elvira tersenyum sendiri saat melihat, betapa dirinya selalu kelihatan cantik hampir di semua foto.
Sudah lama rasanya ia tidak lagi senyum lebar seperti yang ditunjukkan oleh foto-fotonya tersebut.
Baru mengalami peristiwa besar dalam hidupnya karena kehilangan calon anak dan suaminya, membuat Elvira seakan mengubah arah dan tujuan hidupnya.
Entahlah, saat ini saja ia merasa hidupnya seperti sudah kehilangan arah.
Merasa bosan, Elvira lalu meletakkan kembali ponselnya di samping. Ia tersentak karena tiba-tiba sudah ada Nevan duduk di sampingnya.
“Astaga!” pekik Elvira.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Nevan santai.
“Kamu mengejutkanku!” cecar Elvira.
Tidak menyadari kapan dan dari mana pria ini bisa tiba-tiba muncul di dekatnya.
“Kamu yang sedang asik sendiri, sampai tidak sadar kehadiranku di sini.”
“Aku bahkan sudah lama rasanya tidak melihat kamu, bagaimana mungkin aku tahu kamu akan datang ke sini setelah menghilang begitu saja.”
“Menghilang bagaimana? Aku memutuskan tidak kembali ke Amerika dan aku juga sering ke rumah ini beberapa kali.”
“Oh ya?” Elvira mengangkat alis.
Ia merasa belum pernah bertemu dengan Nevan lagi, setelah hari pemakaman Daffin.
Lalu ia berpikir mungkin yang dikatakan Nevan benar, jika ia selama ini yang terlalu asik menyendiri, entah itu di rumah atau pun di kantor.
“Mm, aku turut sedih mendengar kabar tentang kamu yang harus kehilangan anak kamu waktu itu.”
“Iya.”
“Kamu baik-baik saja, kan?” tanya Nevan terlihat khawatir.
“Iya, sekarang sudah jauh lebih baik. Oh ya, apa aku perlu memberi ucapan selamat?” tanya Elvira tiba-tiba mengalihkan pembicaraan.
“Untuk apa?” Nevan mengangkat alis.
“Memberi ucapan selamat, bukannya kamu baru terpilih jadi CEO Arkatama grup sekarang?”
Sedangkan Elvira masih memikirkan apa ia harus memberi hadiah eksklusif seperti yang diinginkan oleh adik iparnya itu. Tapi ia masih tidak mengerti hadiah seperti apa yang diinginkan oleh Nevan.
...----------------...
Hari ini semua orang yang ada di lobby utama mengalihkan perhatian mereka kepada Nevan, yang sedang memasuki gedung ditemani oleh Sakti dan beberapa orang lainnya.
Penampilannya yang biasanya terlihat lebih santai, sekarang berubah setelah mengenakan setelan kantor yang terkesan lebih rapi dan berwibawa, dengan rambutnya yang ditata lebih rapi dari biasanya. Namun sedikit pun tidak merubah pesona ketampanannya.
Terlebih bagi para kaum hawa yang berdecak kagum saat melihatnya lagi, kali ini dengan statusnya yang sekarang sebagai atasan mereka.
Hampir setiap wanita di kantor yang melihatnya sedang berjalan dengan gagahnya, membuat mereka rasanya tidak bisa mengalihkan pandangan dari Nevan, melainkan hanya bisa melihatnya dengan penuh kekaguman.
Kehadiran Nevan seketika menggemparkan ruang obrolan grup chat para karyawan yang ramai bergosip tentangnya, namun di luar grup chat pun mereka sudah ramai membicarakannya.
“Itu pak Nevan kan? Adik dari pak Daffin yang selama ini tinggal di luar negeri,” ujar seorang karyawan perempuan setelah melihat Nevan melintasi mereka.
“Iya, sekarang katanya jadi CEO baru kita,” timpal seseorang lagi.
“Apa kalian baru melihatnya? Dia pernah beberapa kali datang ke sini. Tapi kan hari ini kantor kita mengadakan penyambutannya secara khusus, makanya semua karyawan diharuskan untuk menyambut dan mengenalinya.”
“Benarkah?”
“Pantas saja aku baru melihatnya.”
__ADS_1
“Sumpah, ganteng banget ya ampun.”
“Jadi semangat ngantor tiap hari.”
“Tapi, rumornya pak Nevan itu orangnya tegas dan disiplin loh.”
“Tidak jauh beda sih sama pak Daffin, bedanya yang ini lebih segar aja liatnya.”
“Rumornya dia belum memiliki pasangan.”
“Wah, seleranya pasti tidak main-main.”
Beragam celotehan pun terdengar riuh, setelah Nevan sudah memasuki lift untuk menuju ke ruangannya, yang berada di lantai atas gedung ini.
Hari pertama ia memasuki kantor ini sebagai CEO, ternyata mendapat sambutan yang positif dari banyak karyawan maupun dewan direksi lainnya.
Padahal biasanya Nevan suka datang ke kantor ini tanpa disadari oleh yang lainnya, namun karena kali ini ia sudah menduduki jabatan baru, mengharuskannya untuk memperlihatkan diri kepada para karyawannya.
...----------------...
Sementara itu di rumah, Elvira sedang bersiap untuk pergi ke kantor. Namun sesaat akan menuju pintu utama rumah, terdengar suara hentakan dari sepatu hak yang sedang mengarah kepadanya, ingga kini seseorang yang berjalan itu sudah masuk setelah melewati pintu rumah yang sedang terbuka lebar.
“Apa kabar Bu Elvira?” sapaan dari suara yang tidak asing membuat Elvira langsung menoleh penuh tanya, ternyata Anya kini menunjukkan diri di hadapannya.
Anya tersenyum manis kepadanya seolah tidak pernah terjadi ketegangan di antara mereka berdua sebelumnya. “Lama tidak berjumpa.”
“Kamu? Beraninya datang kemari! Berani sekali masuk ke rumah orang tanpa permisi, apa yang kamu lakukan di sini?” celetuk Elvira yang merasa masih ada sisa kemarahan terhadapnya.
“Kenapa? Aku berani masuk ke sini karena penghuni rumahnya yang mengizinkan,” balas Anya, yang sepertinya sudah tidak memiliki sikap ramah dan sopan lagi kepada Elvira.
“Maksud kamu?” Elvira mengernyit heran.
“Iya, ibu Meisya yang mengizinkanku datang kemari, karena sekarang aku bekerja untuk ibu Meisya,” ujar Anya.
“Apa? Bekerja untuk mama Meisya? Aku pikir kamu masih punya rasa malu,” sindir Elvira.
“Kalau dipikir-pikir ya, sebenarnya di antara kita siapa yang harusnya mempunyai rasa malu? Aku atau kamu? Secara sepeninggal pak Daffin, kamu masih saja tak punya rasa malu di rumah ini setelah apa yang kamu perbuat terhadapnya! Gara-gara kamu anakku kehilangan papanya!” Mulut Anya sepertinya sudah tidak terkontrol lagi.
“Apa?”
“Kamu pikir aku tidak tahu kalau Daffin harus kehilangan nyawanya hanya demi menyelamatkan kamu. Sekarang, apa pantas orang seperti kamu masih bisa tinggal di rumah ini dan numpang hidup enak?”
“Aku tidak mengerti orang seperti kamu ternyata benar-benar tidak punya rasa malu, apa kamu tidak menyadari apa yang sudah kamu lakukan terhadapku, masih berani kamu menunjukkan diri kamu di hadapanku? Lalu apa, kamu juga mau masuk ke keluarga ini dengan cara mendekati mama mertuaku? Kamu harusnya sadar di mana posisi kamu. Apa harus aku tegaskan sekali lagi mengenai statusku di rumah ini? Aku adalah istri sah dari mendiang mas Daffin, jelas?”
“Apa artinya status istri sah jika sudah tidak dicintai suaminya lagi, menurut kamu kenapa Daffin masih bisa membohongi kamu? Dia jelas sudah merubah perasaannya terhadap kamu dan dia tetap mempertahankan ku karena aku mengandung anaknya.”
Elvira masih menahan amarah saat mendengarnya, ia yang mulai naik pitam merasa benar-benar harus menguatkan diri saat menghadapi Anya.
“Kamu salah! Kalaupun suamiku masih hidup, dia jelas tetap mencintaiku. Dia bahkan mencintaiku sampai dia tiada. Sementara kamu, kamu hanya selingkuhan dan pelampiasan sesaat. Kamu harus sadar itu, kamu tidak pernah berarti baginya! Lebih baik kamu menjauh dari keluarga ini jika kamu masih punya rasa malu.”
Elvira merasa puas mengatakan hal itu kepada Anya, menghadapi perempuan seperti Anya membuatnya harus menahan banyak kesabaran.
Tungga saja kamu, Elvira. Aku akan membungkam semua kesombongan kamu itu, kita lihat saja seberapa kuat kamu akan bertahan di tempat ini, gumam Anya dalam hatinya yang sedang menahan amarah.
__ADS_1
Bersambung ...