
Saat sudah kembali dalam perjalanan membawa laju mobilnya, Elvira masih saja mengumpat kesal mengingat pria yang baru ditemuinya tadi.
“Ya ampun, kenapa aku sekesal ini sih. Orang itu benar-benar menyebalkan, dia tidak tahu betapa ketakutannya aku, aaargghhh!” Elvira menghela napas dengan kasar.
Tidak lama setelahnya, mobil Elvira sudah tiba di depan gedung fakultas tempat Asty menunggunya, Asty pun langsung masuk ke mobil dan mereka pergi bersama.
“Kamu kenapa sih kok sepertinya lagi kesal?” tanya Asty penasaran.
Elvira pun menceritakan kejadian yang baru ia alami dan rasa kesalnya masih belum juga luntur.
“Ya ampun.” Komentar Asty singkat.
“Pokoknya aku kesal banget deh, jantungku hampir lepas dibuatnya.”
“Tapi kan niat orangnya baik, dia sedang menolong orang yang perlu penanganan cepat loh. Kamu kan juga jadinya turut menolong orang itu juga, tapi untungnya kamu tidak kenapa-napa. Itu yang terpenting.”
“Iya Kak.”
“Udah ah jangan cemberut terus, nanti manisnya kamu hilang loh,” goda Asty.
“Kakak selalu aja, dulu sering banget ngomong seperti itu.”
...----------------...
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di sebuah area pemakaman umum tempat makam ayah mereka.
Setelahnya, mereka lanjut duduk sebentar di sebuah kursi yang berada di sekitar tempat area peristirahatan pagi peziarah.
“Elvira, udah lama ya rasanya ayah pergi meninggalkan kita,” kata Asty.
“Iya Kak.”
“Ayah sering bilang dulu, ayah meminta Kakak untuk menjaga kamu. Tanpa ayah meminta pun, Kakak pasti akan selalu menjaga kamu meski dari kejauhan.”
“Makasih ya, Kak,” ucap Elvira. Lalu ia menyadari pandangan mata Asty yang sudah berkaca-kaca.
“Kakak rasanya masih tidak menyangka saja. Kamu yang dulu suka manja dan suka merengek kalau minta sesuatu sama Kakak, sekarang sudah tumbuh dewasa bahkan sudah memiliki keluarga sendiri. Kamu benar-benar sudah berubah menjadi wanita yang tangguh dan mandiri. Padahal kalaupun sekarang seandainya kamu masih suka manja, Kakak tidak apa-apa kok. Malah senang,” tutur Asty sambil tertawa kecil.
“Kakak benar-benar yakin ingin melihat aku manja lagi?” tantang Elvira.
“Iya lah, Kakak malah senang kalau kamu selalu bergantung sama Kakak.”
“Kalau begitu aku lagi pengen bermanja sekarang.” Elvira segera menyandarkan kepalanya pada bahu Asty berharap mampu sedikit mengurangi beban yang dirasakannya selama ini.
__ADS_1
“Apa ada hal yang ingin kamu ceritakan ke Kakak? Kakak mengerti bagaimana perasaan kamu saat ini. Kakak yakin kamu sedang tidak baik-baik saja setelah kepergian suami kamu.”
“Kakak tahu, kehilangan mas Daffin seakan membuatku kehilangan separuh hidupku, Kak. Selain ayah, dia adalah pria terbaik yang pernah mencintaiku. Kini aku sudah kehilangan dua orang pria yang paling penting dalam hidupku, dan itu membuat hidupku terasa hampa,” curhat Elvira.
“Kamu yang kuat ya, bagaimanapun juga kamu harus tetap melanjutkan hidup. Jangan putus asa, kamu pasti bisa melewati semua ini. Kakak akan selalu bersama kamu.”
“Iya Kak.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Anya sedang memandang ke arah sebuah bangunan rumah yang ada di depannya saat ini. Setelah turun dari taksi yang ditumpanginya beberapa saat lalu, ia merasa ragu untuk melangkah masuk ke rumah tersebut.
Anya lalu memandang ke sebuah pelang yang bertuliskan panti asuhan Pelita Bunda,di tempat ini dulu ia banyak menghabiskan masa kecil bersama kakaknya hingga dewasa sebelum akhirnya bisa hidup mandiri seperti sekarang.
“Anya!” Seorang wanita paruh baya memanggil dari kejauhan lalu berjalan menghampirinya.
“Ibu,” sapa Anya dengan ramah.
“Kenapa masih berdiri disitu? Kakak kamu sudah ada di dalam,” ajak wanita itu.
Namanya Rani, beliau merupakan pemilik sekaligus pengurus rumah panti asuhan tersebut yang sudah dianggap seperti orang tua kandung bagi Anya karena kasih sayang dan perhatiannya yang tidak terhingga selagi ia masih berada di tempat ini.
Karena itu Anya sangat menghormatinya layaknya seorang ibu yang telah melahirkannya.
“Kak Gio,” sapa Anya, detik berikutnya pria bernama Gio itu berdiri langsung menyambutnya.
“Sini,” panggilnya, lalu ia memeluk adiknya itu dengan penuh kasih sayang dan mengusap kepalanya.
“Kakak kenapa tidak mengabari aku kalau Kakak sudah pulang? Apa Kakak sedang cuti?” tanya Anya yang sekarang sudah duduk bersamanya.
“Tidak, masa tugas Kakak di luar kota sudah selesai, sekarang Kakak akan kembali lagi bertugas di sini. Oh ya, tadinya Kakak mau ke tempat kamu, tapi kata Ibu kamu sudah pindah ke tempat atasan kamu yang baru. Katanya kamu juga sudah tidak bekerja di Arkatama grup lagi. Kenapa?” tanya Gio meminta penjelasan.
“Iya Kak.” Anya terlihat ragu untuk menjelaskannya apalagi kakaknya tidak mengetahui apapun yang sudah terjadi kepadanya.
“Lalu kenapa kamu tiba-tiba berhenti dari Arkatama grup? Bukannya selama ini kamu sangat memimpikan bisa bekerja di sana? Kamu juga menjadi sekretaris yang handal. Lalu sekarang kamu bekerja dengan siapa?” Gio menghujaninya dengan pertanyaan.
“Sebenarnya aku berhenti karena memang sudah tidak memungkinkan lagi kerja di sana, tapi aku sekarang bekerja untuk ibu Meisya, ketua yayasan kampus Arkatama yang memang juga dikelola oleh perusahaan itu.”
“Maksud kamu?” Gio masih mencerna penjelasan adiknya itu.
“Bu Meisya itu anggota keluarga dari Arkatama grup, beliau mengurus yayasan di kampus Arkatama. Pernah dengar kan Arkatama grup memiliki universitas swasta dengan nama yang sama?”
“Iya, Kakak tahu kampus itu.”
__ADS_1
“Nah, aku bekerja sebagai asistennya sekarang dan pekerjaannya jauh lebih santai dibanding waktu masih di perusahaan, Kak.”
“Terus, apa benar kamu sekarang tinggal dengan atasan kamu itu? Kenapa?” Gio nampak penasaran.
“Karena ibu Meisya yang mengajakku, Kak. Agar lebih memudahkan saja dalam pekerjaan. aku kan asistennya, dan itu mengharuskan ku sering bersamanya,” jawab Anya berdalih.
Lalu ia memperhatikan kakaknya itu terlihat memikirkan jawaban darinya tadi.
Sebenarnya Anya merasa sangat bersalah, selama ini ia belum pernah berbohong dengan kakaknya yang sangat ia hormati dan ia segani itu.
Tapi Anya juga takut jika seandainya Gio mengetahui apa yang terjadi kepadanya atas kesalahannya sendiri, ia tidak bisa membayangkan bagaimana kecewa dan marahnya kakaknya itu kepadanya.
“Maafin aku ya, Kak. Aku terpaksa menyembunyikan masalahku dari Kakak. Kalau Kakak sampai tahu, habislah aku.”Anya menggumam dalam hati dengan penuh rasa sesal.
“Anya, Gio, kalian senggang kan? Kita makan siang bareng dulu ya.” Suara dari Rani yang baru masuk ke ruangan mengalihkan perhatian keduanya.
“Iya Bu,” sahut Anya.
“Aku harus kembali ke asrama sekarang, Bu, Maaf ya,” sesal Gio.
“Kamu ini, selalu saja datang tiba-tiba, pergi juga tiba-tiba,” omel Rani terhadap Gio.
“Maaf Bu, namanya juga abdi negara.”
“Kakak tu ya, bahkan tidak kelihatan loh kalau Kakak tu seorang polisi. Aku tuh sampai bingung di mana Kakak menyimpan seragam kebesaran Kakak,” celetuk Anya.
“Kakak kan masuk di tim khusus, tidak boleh kelihatan mencolok. Kakak pergi sekarang ya, jaga diri kamu. Ingat, jangan ngelakuin yang aneh-aneh.” Gio mengusap-usap kepala Anya hingga rambutnya sedikit berantakan, lalu berpamitan kepada Rani.
“Kakak hati-hati ya.” Anya melemparinya dengan senyum bahagia, sekilas tidak ada yang aneh dari pemandangan ini.
Berada di sini Anya tak ubahnya seperti perempuan pada umumnya yang memiliki kebahagiaan sendiri saat bersama keluarganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kediaman keluarga Arkatama.
Anya masih saja terpikir bagaimana tadi ia membohongi kakak dan ibu angkatnya yang membuatnya merasa menyesal. Akan tetapi mengingat keadaannya saat ini tidak kalah membuatnya frustasi.
Karena kesalahannya sendiri yang menjalin hubungan terlarang dengan Daffin membuatnya harus menanggung hasil perbuatannya sendiri.
Anya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Gio dan ibu Rani jika mengetahui dirinya yang tengah hamil. Rasa ketakutan itu kini jadi terbayang di benaknya jika ia sampai mengecewakan orang yang paling disayangi dan hormatinya selama ini karena Anya hanya mereka yang ia miliki di dunia ini.
Samar-samar terdengar dari tempatnya berdiri sekarang ada suara Dewanti yang memanggil Elvira. Anya pun segera berjalan mendekat ke arah sana, ia melihat sudah ada Elvira dan Dewanti yang kini duduk bersama di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
Bersambung ...