
Elvira merasa tidak tahan lagi, perasaan yang tidak bisa ia artikan ini membuatnya langsung melepaskan diri dari dekapan Nevan. Ia seperti baru bisa kembali menghirup udara segar sembari merutuki diri atas apa yang telah ia lakukan.
Sialnya ia seperti baru mendapat aliran energi untuk segera tersadar dari efek pengaruh minuman tadi.
Elvira melirik ke arah Nevan yang sedang mengambil sesuatu pada kantong jaketnya dan menyerahkan kepadanya. “Ini kunci akses apartemen ku. Kamu sedang mabuk, malam ini menginap lah disini.”
“Apa? Kamu mau aku menginap disini? Apa kamu--”
“Aku akan pulang ke rumah dan memberi kabar kepada Oma. Jangan berpikir macam-macam tentangku,” sahut Nevan memotong perkataan Elvira.
Lalu ia segera pergi meninggalkan Elvira yang sepertinya masih kesusahan menenangkan ritme jantungnya.
Elvira meraba bibirnya. “Astaga, apa yang ku lakukan tadi?”
Detik berikutnya ia kembali merutuki diri. “Arrgghhhh!” Suaranya memekik menyimpan rasa malu atas apa yang sudah terjadi.
Kepalanya masih terasa pusing, perlakuan Nevan terhadapnya malam ini membuatnya tidak bisa mengartikannya.
Elvira lalu meraba dadanya yang terasa berdebar, ia tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat ini karena sebelumnya ia tidak pernah berdebar seperti ini bahkan saat berada di dekat suaminya dulu.
Elvira lalu menghela napas dan segera melihat-lihat sebentar isi ruangan yang tertata rapi dan sangat bersih tersebut, lalu ia menemukan sebuah pintu dan ia masuk ke dalamnya yang ternyata kamar tidur Nevan yang luas dengan nuansa modern.
Dulu pernah satu kali ia berkunjung ke sini tapi baru kali ini ia masuk ke kamar Nevan.
Elvira mendekat ke arah ranjang besar di kamar tersebut dengan perasaan sedikit ragu lalu duduk di atasnya dan merasakan betapa nyamannya berada di tempat tidur tersebut.
Tapi ia tidak yakin malam ini ia akan bisa tidur nyenyak di tempat ini, mengingat apa yang baru saja terjadi rasanya semakin membuat kepalanya bertambah pusing.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya, Elvira baru sampai di rumah dan sudah berganti pakaian serta riasan karena kemarin ia membeli banyak pakaian waktu berbelanja, beruntung Nevan pergi tanpa membawa mobilnya.
Elvira berjalan dengan hati-hati menuju kamarnya, akan tetapi sudah ada Dewanti yang sepertinya sedang menunggunya.
“Elvira, kamu sudah pulang,” sapa Dewanti terlihat antusias melihat kehadirannya.
“Eh, Oma. Iya Oma.”
“Nevan bilang kamu ada acara dan menginap dengan teman-teman kamu.”
Elvira mendelik sebentar mendengar pernyataan itu. Entah apa yang dikatakan Nevan kepada Dewanti mengenai dirinya yang semalam tidak pulang ke rumah.
“Oh, itu. I-iya, Oma,” jawab Elvira terbata.
“Lain kali kalau kamu ada acara diluar, kasih kabar ke Oma ya. Oma sangat khawatir.”
“Maafkan aku ya, Oma,” sesal Elvira.
“Oma senang kalau kamu sekarang sudah kembali bergaul dengan teman-teman kamu, tapi Oma kok tidak pernah tahu siapa teman-teman kamu.” Perkataan Dewanti terdengar seperti sebuah sindiran untuknya.
“Memang aku tidak punya teman sih,” gumam Elvira dalam hati.
“Cuma ada beberapa teman lama, Oma,” jawab Elvira.
Ia sungguh tidak nyaman hati karena sudah membohongi Dewanti, sementara Dewanti selalu percaya kepadanya.
“Ya sudah, ayo kita sarapan bersama, Oma tunggu ya.” Lalu Dewanti segera pergi menuju ke arah ruangan makan.
Elvira langsung mengikutinya dan duduk bersama Dewanti di meja makan untuk sarapan bersama.
“Pagi,” sapa Anya yang baru ikut bergabung.
“Aku boleh ikut sarapan bareng kan Oma?” tanya Anya. Namun Dewanti tampaknya tidak ingin menanggapinya.
“Silahkan saja,” sahut Elvira.
“Untungnya hari ini hari libur, jadi aku bisa lebih bersantai di rumah,” ujar Anya sembari mengoleskan selai kacang ke atas roti.
Sedangkan Elvira dan Dewanti juga sibuk sendiri menikmati sarapan mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba saat hendak memakan roti miliknya, Anya merasa mual sehingga ia kembali meletakkan roti tersebut di atas piring.
“Maaf ya, kok bisa sih mual aku tiba-tiba kambuh. Kebiasaan orang hamil memang seperti ini. Maaf ya, aku permisi dulu,” kata Anya sambil menahan mualnya yang terasa tidak nyaman, lebih tepatnya ia hanya ingin menyinggung Elvira perihal keadaannya.
“Elvira, kamu hari ini tidak ada rencana kemana-mana kan?” tanya Dewanti mengalihkan perhatian Elvira dari kelakuan Anya.
“Tidak ada, Oma.”
“Kamu mau tidak menemani Oma ke suatu tempat?”
“Ke mana Oma?” tanya Elvira penasaran.
“Ke makam opa kalian.”
Elvira mengingat tempat itu juga berdekatan dengan makam Daffin. “Oh gitu. Bisa, Oma.”
“Hari ini sebenarnya hari ulang tahunnya, Oma merasa kangen ingin ke sana.”
“Iya Oma, nanti aku temani.”
Lalu Dewanti tiba-tiba melihat ada Nevan yang berjalan mengarah ke meja makan dan menyapanya.
“Kamu hari ini tidak sibuk kan?” tanya Dewanti saat Nevan sudah duduk bersama mereka.
“Tidak, Oma,” sahut Nevan.
“Kalau begitu kamu hari ini antar Oma ya, Oma mau ke makam opa.”
“Loh, pak Imam kemana? Biasanya kan Pak Imam yang selalu mengantar.”
“Imam hari ini izin libur karena ada hajatan keluarga. Lagi pula Oma mau mengajak kamu dan Elvira ke sana.”
“Begitu ya? Ya sudah. Nanti aku antar.”
“Kenapa dia masih ada disini? ”tanya Elvira dalam hati, ia merasa sedikit terganggu dengan keberadaan Nevan di dekatnya saat ini.
Sampai detik ini ia bahkan belum bisa melupakan apa yang sudah mereka lakukan tadi malam. Tanpa disadari oleh Nevan ternyata Elvira masih saja memperhatikan setiap gerak geriknya.
Elvira baru menyadari betapa ia terpesonanya melihat wajah Nevan kali ini dan hatinya berdebar melihat bibir merah alami itu saat Nevan meminum segelas jus. Namun detik berikutnya Elvira langsung membuyarkan pikirannya.
Ia mengira masih berhalusinasi efek minum-minum tadi malam dan ia bersumpah dalam hatinya tidak akan pernah lagi menyentuh minuman tersebut.
“Elvira.”
Panggilan Dewanti mengejutkan Elvira hingga ia terkesiap. “Iya Oma!”
“Kamu kenapa? Apa Oma mengejutkan kamu?”
“Aku tidak apa-apa, Oma. Oma bicara apa tadi?” tanya Elvira yang tidak fokus.
“Tidak ada, Oma cuma memanggil nama kamu karena kamu terlihat melamun. Apa ada yang sedang kamu pikirkan?”
“Oh, maaf ya Oma. Tidak ada kok, kalau begitu aku ke siap-siap dulu ya.”
Elvira segera berjalan dengan cepat menuju kamarnya dengan perasaan malu karena tadi kehilangan fokus.
“Oma tidak ajak mama sekalian?” tanya Nevan.
“Tidak. Dia juga pasti tidak akan mau ikut, dia pasti akan langsung menangis saat melihat makam Daffin.”
...----------------...
Elvira membukakan pintu mobil untuk Dewanti yang hendak masuk, di bangku depan sudah ada Nevan yang siap memegang kemudi. Nevan terheran begitu menengok ke belakang ada Dewanti dan Elvira yang sudah siap untuk berangkat.
“Loh, apa kamu membiarkan aku sendirian di depan? Apa bedanya aku sama supir,” protes Nevan kepada Elvira.
“Ya memangnya kenapa? Aku mau duduk disini sama Oma,” sahut Elvira.
“Kapan lagi Oma bisa disupiri sama CEO Arkatama grup,” timpal Dewanti.
“Pindah ke depan!” desak Nevan kepada Elvira.
__ADS_1
“Ya ampun perkara duduk saja dibikin masalah,” gerutu Elvira.
“Dia memang begitu. Elvira, kamu pindah ke depan temani adik kamu ya,” pinta Dewanti.
“Iya Oma.” Elvira langsung saja menuruti dengan patuh. Lalu ia segera pindah untuk duduk di kursi penumpang di depan.
“Sudah puas?” tanya Elvira kepada Nevan.
“Iya. Kita berangkat sekarang.” Nevan langsung saja menginjak pedal gas.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, mobil Nevan sudah tiba di tempat parkir area pemakaman. Mereka langsung turun dan ikut mengiring Dewanti yang berjalan paling depan.
Tidak perlu waktu lama untuk berjalan, mereka sudah tiba di sebuah makam yang merupakan makam suami dari Dewanti.
Elvira memperhatikan bagaimana lembutnya suara Dewanti saat memberi sapaan dan kasih sayang yang ia tunjukkan kepada mendiang suaminya itu.
Meski sudah lama sekali terpisah dunia, namun sepertinya Dewanti masih sangat mencintai suaminya.
“Selamat ulang tahun ya, Papa,” ucap Dewanti dengan senyum simpulnya.
Elvira melihat langsung betapa tegarnya sosok wanita tua itu. Betapa tidak, ia bahkan kehilangan tiga orang laki-laki yang ia sayangi dalam hidupnya.
Setelah mendiang suaminya, ia juga kehilangan putra satu-satunya yaitu papanya Nevan, baru-baru ini ia juga kehilangan cucu laki-lakinya yang merupakan suami dari Elvira.
Elvira lalu menjauh tanpa mengganggu Dewanti, ia memutuskan untuk berjalan sendiri mengarah ke makam Daffin yang terletak tidak jauh dari makam kakeknya itu.
Elvira meletakkan sebuah rangkaian bunga yang dibawanya di atas pusara dan membelai batu nisan persegi yang bertuliskan nama Daffin.
“Aku sama sekali tidak membenci kamu, aku hanya putus asa karena harus kehilangan kamu secepat ini. Andai aku bisa memutar waktu, aku pasti tidak akan menyia-nyiakan semua kasih sayang dan perhatian kamu,” ungkap Elvira yang merasa pilu.
Ia menyandarkan kepalanya pada batu nisan suaminya tersebut seolah ia sedang memeluknya.
Elvira kembali merenung sembari terus memikirkan tentang mendiang suaminya itu. Untuk sesaat ia merasa dunianya terhenti meratapi perihnya kehilangan. Dari kejauhan Dewanti dan Nevan sudah menemukan keberadaannya.
“Maafkan aku. Kalau saja aku masih diberi kesempatan, aku pasti akan jadi istri yang baik untuk kamu. Maafkan aku, Mas,” lirih Elvira yang mulai terisak.
“Sayang,” panggil Dewanti yang baru menghampirinya bersama Nevan.
“Oma sudah selesai?” tanya Elvira segera bangun sambil menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
“Iya. Kamu pasti sangat merindukannya ya?” tebak Dewanti. Elvira mengiyakannya hanya dengan mengangguk.
“Meninggalkan dan ditinggalkan, adalah dua hal yang harus kita hadapi dalam hidup ini dan kita tidak bisa menghindarinya.”
Setelah berkata demikian, Dewanti langsung memeluk Elvira sambil membelai kepalanya.
“Elvira, yang harus kamu tahu, kamu tidak sendiri. Sepeninggal Daffin, Oma sudah berjanji dengan diri Oma sendiri bahwa Oma harus menjaga kamu. Kamu adalah bagian dari keluarga ini, kamu harus selalu ingat itu. Jadi jangan pernah sekalipun terlintas dalam pikiran kamu untuk pergi meninggalkan keluarga ini ya,” tutur Dewanti panjang lebar.
“Iya, Oma. Malah sekarang harusnya aku yang menjaga Oma,” canda Elvira dengan memberikan senyum simpul.
“Itu biarkan menjadi tugasku,” sahut Nevan.
“Terus kenapa kalau aku juga ingin menjaga Oma?” sanggah Elvira.
“Ya tidak apa-apa sih, kita berdua bisa menjaga Oma dengan baik,” pungkas Nevan.
...----------------...
Saat mereka sudah hendak kembali tiba-tiba seseorang pria paruh baya menghampiri memberi sapaan dengan sopan kepada Dewanti.
Dilihat dari pakaiannya sepertinya dia petugas kebersihan di area pemakaman ini, tampaknya Dewanti sudah sangat akrab dengannya karena Dewanti termasuk yang sering berkunjung kesini.
Kepribadian Dewanti yang ramah dan mudah akrab dengan siapa saja tanpa memandang kasta ataupun kedudukan membuatnya sering kali disegani oleh orang-orang.
“Nevan, Elvira. Kalian duluan saja ke mobil ya, Oma mau mengobrol disini sebentar,” pinta Dewanti.
“Iya, Oma,” sahut Nevan dan Elvira kompak.
Setelahnya mereka melanjutkan perjalanan menuju area parkir, sepanjang melangkah bersama, Elvira memilih menjaga jarak menunjukkan kesan ingin menghindar darinya.
__ADS_1
Bersambung ...