Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 56-- Pertemuan Kerja


__ADS_3

Malam itu di kediamannya, Melody sedang menelepon Nevan.


“Iya, ada apa?” Terdengar suara Nevan yang menyahut teleponnya.


“Kamu lagi sibuk? Aku takut mengganggu sebenarnya.”


“Tidak juga.”


“Oh ya, bagaimana lukisan yang kamu beli waktu itu? Apa kakak ipar kamu menyukainya?” tanya Melody penasaran.


“Iya, dia menyukainya. Walaupun dia tidak tahu siapa Daniel sang pelukisnya.”


“Oh ya? Ya ampun, masa dia tidak mengenal orang yang sangat terkenal seperti Daniel?”


“Iya, begitulah kakakku.”


“Tapi semoga saja dengan dia tahu mengenai maknanya, itu akan selalu memberi semangat untuknya. Ngomong-ngomong, aku jadi ingin deh dikenalkan sama kakak ipar kamu.”


“Kamu ingin berkenalan dengannya?” tanya Nevan mengulangi.


“Iya, siapa tahu aku bisa berteman dengannya.”


“Aku tidak yakin kalian akan bisa berteman, secara dia orangnya jutek. Aku bahkan tidak tahu apakah dia punya teman perempuan atau tidak.”


“Kenalkan saja aku dengannya, aku pasti bisa mengimbanginya. Aku suka sosok perempuan jutek karena sifatnya sama seperti mendiang kakakku. Terus terang aku sangat merindukan sosok seperti kak Suci,” ujar Melody seolah-olah ia sangat menyayangi mendiang kakak tirinya itu.


“Baiklah, nanti kapan-kapan aku kenalkan dengannya.”


“Ya sudah, aku Cuma mau mengatakan itu saja. Aku tutup teleponnya sekarang, jangan lupa janji kamu untuk mengenalkannya.”


“Iya.” Nevan segera menutup sambungan teleponnya.


Sementara Melody langsung menatap layar ponselnya yang sudah mati saat Nevan mematikan telepon begitu saja.


“Dulu dia selalu mengucapkan selamat malam dan kata-kata manis, sekarang benar-benar sudah berubah. Aku jadi merindukan saat-saat itu,” gumam Melody yang meratapi hubungannya dengan Nevan saat ini.


“Mas Tora?!!!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan Hannah dari arah luar kamarnya yang mengalihkan perhatian Melody untuk segera memeriksanya keluar.


Melody sangat terkejut begitu keluar ia mendapati mamanya yang tengah terkejut hebat melihat papa tirinya sudah jatuh tersungkur ke lantai sepertinya tidak sadarkan diri.


Hannah ditemani seorang asisten rumah tangganya lalu memeriksa keadaan Tora yang sedang dalam keadaan tertelungkup dan ternyata masih bernapas.


Mereka menduga Tora tadi jatuh sendiri ke lantai karena mabuk Mereka pun akhirnya bergegas membawa Tora ke rumah sakit.


Memang setelah kepergian putri pertamanya yang bernama Suci, Tora berubah menjadi seperti orang yang kehilangan semangat hidup karena ia sangat menyayangi putrinya tersebut.

__ADS_1


Karena itu terkadang untuk menghibur dirinya sendiri ia suka minum-minum apalagi di kala malam sepulang dari kerja sehingga selalu membuat Hannah geram dan jengah dengan kelakuannya, ditambah akhir-akhir ini keadaan perusahaan mereka mulai tidak baik-baik saja.


Beberapa saat kemudian, Tora yang sudah mendapat pertolongan medis kini terbaring belum sadarkan diri di ranjang perawatan rumah sakit.


Hannah memandangnya dengan penuh perasaan benci, ia pikir setelah kepergian Suci, Tora masih akan bersikap baik dan penuh perhatian kepadanya seperti pada awal mereka menikah.


Tapi yang terjadi justru malah Tora berubah sering mengabaikannya karena belum bisa terima kepergian putri kesayangannya.


Seseorang lalu mengetuk pintu dan yang datang seorang sekretarisnya.


“Permisi, Bu. Bagaimana kondisi Bapak?” tanya wanita itu.


“Dia belum sadarkan diri,” jawab Hannah.


“Maaf Bu, saya cuma mau menyampaikan besok Bapak Tora ada pertemuan penting dengan sebuah lembaga pemerintah dan yayasan sosial. Apa perlu saya batalkan saja?”


“Memangnya dalam rangka apa?” tanya Hannah tiba-tiba penasaran.


“Pak Tora jadi donatur utama untuk program pemberdayaan panti asuhan dan para lansia, Bu.”


“Apa? Bagaimana dia masih bisa menyumbangkan uangnya untuk hal yang tidak penting seperti itu, bahkan keuangan perusahaan saja sedang terancam krisis,” gerutu Hannah tidak terima.


“Maaf Bu, ini adalah program rutin yang memang selalu dijalankan oleh pak Tora karena ini amanat dari mendiang istrinya yang dulu mengembangkan perusahaan ini.”


“Tidak perlu dibatalkan, biar saya yang akan mewakilinya besok.”


Hannah kembali menatap kesal ke arah suaminya yang saat ini terbaring lemah belum sadarkan diri.


“Bagaimana bisa dia melakukan ini? Sudah kuduga selama ini dia tidak becus dalam mengelola perusahaan, memberi sumbangan hanya akan menghabiskan uang saja. Apa? Amanat dari mendiang istrinya yang dulu? Dia juga sudah tiada, kini sepertinya aku yang harus mengambil alih semuanya, aku tidak bisa berdiam diri lagi.”


Hannah menggumam sendiri dengan raut wajah penuh amarah sembari memikirkan sesuatu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Elvira sudah berada di depan pintu kamar Dewanti masih menyimpan harapan jika Dewanti mau bicara dengannya untuk mendengar penjelasan darinya. Baru saja ia ingin mengetuk pintu tersebut tiba-tiba Mirah datang.


“Maaf, Nyonya Elvira. Nyonya besar sepertinya masih tidak ingin diganggu dan Bibi tadi diminta untuk mengatakan ini,” kata Mirah.


“Iya, Bi. Terima kasih ya. Kalau begitu aku pergi dulu. Bibi tolong perhatikan kesehatan Oma ya, tolong perhatikan jangan sampai Oma melewatkan makannya.”


Elvira pun segera menjauh dari tempat tersebut dengan perasaan yang masih mengganjal di benaknya. Ia masih ingin bicara dengan Dewanti akan tetapi pagi ini ia harus segera pergi karena harus menghadiri acara penting.


Selama acara pertemuan berlangsung, Elvira tetap mencoba fokus saat memperhatikan dan turut berdialog walau hatinya masih merasa tidak tenang karena belum bisa meluruskan kesalahpahaman Dewanti kepadanya.


Pada pertemuan kali ini juga turut hadir Hannah yang mewakili Tora dari PT. Mega Abadi Sentosa yang menjadi donatur utama. Hannah sangat terkejut saat mengetahui jumlah dana yang digelontorkan oleh perusahaan suaminya cukup besar.

__ADS_1


Jelas Hannah tidak bisa terima ini, namun ia tetap berusaha bersikap baik dan berwibawa di depan semua orang apalagi acara ini diliput banyak wartawan dari berbagai media.


Usai berlangsungnya acara, Hannah tidak segan untuk menegur Elvira dan Elvira turut menyapanya dengan ramah.


“Ini pertemuan pertama kita, saya harap kita bisa terus bekerja sama seperti ini,” ungkap Hannah mencoba mengambil hatinya.


Meski sebenarnya ia masih memikirkan cara agar tidak akan pernah lagi melakukan hal ini saat perusahaan suaminya sudah berada dalam kekuasaannya nanti.


“Iya Bu Hannah. Oh ya, saya dengar pak Tora sedang sakit ya? Tolong sampaikan salam saya dan semoga pak Tora cepat sembuh.”


“Iya Bu Elvira, terima kasih. Bu Elvira ini masih muda ya rupanya, kira-kira seumuranlah dengan anak saya.”


“Oh begitu?”


“Iya, dia baru pulang dari Paris.”


Pembicaraan mereka pun terhenti disitu karena Elvira segera berpamitan setelahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Elvira kembali ke kantor, ia masih saja terpikirkan tentang masalahnya. Namun saat ia kembali duduk di kursinya, ia mencoba untuk tetap tenang dan berpikir jernih. Nanti ia pasti akan bisa menjelaskan semuanya kepada Dewanti.


Lalu diliriknya di atas mejanya ada berkas keterangan proposal kerja sama dengan panti asuhan milik Bu Rani. Elvira langsung teringat dengan anak-anak di sana.


Apalagi suasana hatinya saat ini sedang tidak baik-baik saja, ia berpikir untuk sejenak sedikit menghibur diri dengan melakukan sesuatu yang bermanfaat.


Elvira kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


“Halo, Pak Imam. Jemput saya di kantor sekarang ya,” titah Elvira yang langsung diiyakan oleh supirnya itu.


...----------------...


Beberapa saat waktu berlalu, Elvira yang kini sudah ditemani oleh supirnya sedang berjalan-jalan di mall. Ia sengaja mendatangi tempat ini untuk berbelanja membeli pakaian serta macam-macam mainan untuk anak-anak panti.


Imam dengan setia sekali mengikutinya sambil membawakan tentengan belanjaan hingga saat ini kedua tangan pria paruh baya itu sudah penuh.


“Pak, saya tunggu di pintu utama saja ya,” ujar Elvira saat sudah selesai berbelanja.


“Baik Nyonya.”


Imam segera memisahkan diri darinya karena hendak mengarah ke sebuah pintu sisi lain untuk mengambil mobil yang terparkir di basemen area mall.


Sedangkan Elvira yang turut membawa beberapa tas belanjaan di tangannya terus berjalan di area tersebut hingga ia sudah tiba di depan pintu utama untuk menunggu Pak Imam menjemputnya.


Tak berselang lama, sebuah mobil lalu berhenti di depannya dan Elvira terkejut saat melihat Meisya dan Anya yang keluar dari mobil. Hari ini Meisya yang merasa bosan minta temani Anya untuk pergi berbelanja.

__ADS_1


“Mama?” sapa Elvira.


Bersambung ...


__ADS_2