Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 92-- Memori Lama


__ADS_3

Meisya membawa Elvira kembali ke rumah utama. Selama di perjalanan pun, Elvira tidak dibiarkan lepas sedikit pun. Ia tak ubahnya seperti tawanan.


Meisya menarik lengannya dan menyuruhnya duduk di sofa sebuah ruangan. Tidak lama, Anya datang menyusul dengan membawa map yang ia letakkan di atas meja di depan Elvira saat ini. Kedua wanita itu sudah berdiri di seberang meja memantaunya.


“Perbuatan kamu sudah sangat keterlaluan. Kamu menipu putraku juga keluarganya, lalu kamu berharap kamu bisa memiliki semua miliknya? Sekarang kamu menyebabkan oma terbaring di rumah sakit. Kamu tidak akan memiliki tempat lagi di rumah ini.” Meisya rupanya masih belum puas meluapkan kemarahannya.


“Maaf kan aku, Ma,” ucap Elvira.


“Kata maaf kamu tidak akan ada gunanya, kamu harus meninggalkan rumah ini dan menyerahkan semuanya yang memang tidak seharusnya menjadi milik kamu.”


Elvira lalu melirik ke arah map yang sudah dibuka kan oleh Meisya. Dari jarak pandangannya, Elvira bisa membaca itu adalah surat pernyataan penolakan kuasa, atas semua saham dan aset milik Daffin yang diberikan kepadanya.


“Apalagi yang kamu tunggu? Cepat tanda tangani surat itu dan pergi dari rumah ini!” titah Meisya terdengar mendesaknya.


Elvira menekur sejenak, merenungi betapa lelahnya ia dengan semua ini. Jika ini adalah jalan yang memang harus ia pilih, maka ia akan lakukan demi bisa terlepas dari kegundahannya dan penyesalan, yang selama ini merasuk dalam dirinya.


Diambilnya sebuah pena berwarna hitam yang ada di samping kertas tersebut, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas materai, dan segera meletakkan kembali pena tersebut. Tidak perlu waktu lama, tanda tangan dengan lambang pengesahan itu, sudah tercantum rapi di atas kertas.


Meisya menyunggingkan seutas senyuman sinis saat menyaksikannya langsung, hatinya merasa sangat puas karena berhasil membuat Elvira yang terdesak perasaan bersalah, akhirnya menuruti keinginannya.


Hal serupa turut dirasakan oleh Anya, yang merasa menang karena rencananya menyingkirkan Elvira dari rumah ini telah berhasil.


“Kamu masih disini? Cepat kemasi barang-barang kamu.”


“Iya, Ma.”


Elvira berpasrah saja walau hatinya masih berat meninggalkan Dewanti, yang sampai saat ini pun Elvira masih belum bisa melihat keadaannya.


“Bi Mirah!” Suara nyaring Meisya menggelegar memanggil asisten rumah tangga itu. Tidak lama, segera direspon oleh sang punya nama.


“Iya, Nyonya.”


“Kamu antar dia ke kamar untuk mengemasi barang-barangnya, dan awasi jangan biarkan dia membawa semua koleksi perhiasan dan barang-barang mahal di kamarnya. Termasuk juga kunci mobil dan semua fasilitas kartu debit maupun kredit miliknya!” perintah Meisya dengan tegas.


“Baik, Nyonya.”


Elvira segera bangkit dari duduknya, dan langsung berjalan menuju kamarnya diiringi Mirah.


...☁︎☁︎☁︎...


Sementara itu Nevan yang kini tengah duduk sendiri di bangku sebuah lorong rumah sakit, tiba-tiba dikejutkan oleh kedatangan Widya. Wanita itu langsung menemukan keberadaanya, setelah mendapat keterangan dari para pengawal, yang menjaga pintu ruangan Dewanti.

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu, saat Widya yang sudah hampir tiba di depan kediamannya, pikirannya masih belum bisa lepas dari Elvira yang mungkin akan menghadapi kemarahan keluarga suaminya sendirian.


Untuk itu Widya tiba-tiba memutuskan untuk pergi ke rumah sakit besar ini, karena ia yakin Dewanti pasti akan dibawa kesini karena jaraknya tidak terlalu jauh dari restoran tadi.


“Saya boleh menemui ibu Dewanti? Apa Elvira juga ada di dalam bersamanya?” tanya Widya.


“Untuk sekarang saya belum bisa mengizinkan siapa pun menjenguk oma, dan kak Elvira tidak ada disini,” jawab Nevan.


“Apa? Kemana dia? Sebelumnya dia mengatakan hendak menemui ibu Dewanti, harusnya dia sudah sampai.” Widya mulai cemas karena tidak menemukan keberadaan Elvira.


Sedangkan Nevan masih dalam diamnya, turut mempertanyakan keberadaan kakak iparnya itu.


“Lalu bagaimana keadaan ibu Dewanti?” tanya Widya lagi yang terlihat turut mengkhawatirkan keadaannya.


“Oma masih belum sadarkan diri,” jawab Nevan sekenanya.


“Maaf karena saya telah lancang datang kesini. Tolong sampaikan maaf saya kepada ibu Dewanti. Dan tolong, jangan timpakan semua kesalahan terhadap Elvira. Dia sebenarnya hanya korban dari sikap dan perlakuan saya selama ini, sejak kecil dia tidak pernah saya perlakukan dengan baik seperti kakaknya,” tutur Widya, sedangkan Nevan masih mendengarkannya.


“Saya yakin dia juga tidak bermaksud berbohong apalagi menipu kalian, dia hanya terlalu takut menerima dan menjalani kenyataan dalam hidupnya. Tolong maaf kan dia.”


Setelahnya, Widya segera berpamitan undur dari dari hadapan Nevan. Sedangkan Nevan terlihat membiarkannya saja, sembari memikirkan perkataan dari Widya tadi. Ia pun saat ini tidak tahu apa yang ia rasakan. Entah marah maupun kecewa, atau bahkan bisa menepis keduanya.


...☁︎☁︎☁︎...


“Iya, Bu. Ada, ini sudah ada di tanganku,” ujar Gio yang sembari menerima panggilan telepon.


Setelah mengucapkan terima kasih, ia langsung saja melangkah pergi dari sana sambil masih terus menerima telepon.


“Lagian, kok bisa Bapak sampai ketinggalan memasukkan bingkai foto ini ke dalam tas?” Gio melanjutkan kembali pembicaraannya.


“Iya, tahu nih bapak, padahal kan benda itu salah satu barang penting bagi Ibu. Untung saja waktu Ibu menghubungi pihak rumah sakit ternyata telah diamankan oleh mereka,” gerutu Rani terdengar di seberang telepon sana yang saat ini sudah bisa pulang dari rumah sakit sejak tadi sore.


“Ya sudah, habis ini aku antar kan ke rumah.”


“Kamu benar-benar sedang tidak sibuk kan, Nak?” tanya Rani memastikan.


“Iya, Bu. Aman, tadi baru selesai rapat sama tim. Tapi keadaan Ibu sekarang sudah jauh lebih baik kan?”


Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Gio tidak sengaja tertabrak tubuh seseorang. Bingkai foto yang dibawanya tidak sengaja terlepas dari tangan, lalu jatuh ke lantai.


Hal itu lantas membuat seorang wanita tersebut sangat terkejut, karena tadi ia tampaknya sedang berjalan dengan pikiran mengambang.

__ADS_1


“Maaf kan saya ya,” ucap Widya penuh sesal, sembari mengambilkan benda tersebut.


“Tidak apa-apa, Bu,” sahut Gio.


Akan tetapi ia mendapati raut wajah wanita paruh baya kisaran seusia Rani itu, sedang tampak sangat terkejut. Gio mengiringi arah pandangannya, yang tenyata tertuju pada foto wanita muda kembar dalam bingkai tersebut.


“Gio, ada apa, Nak?” tanya Rani yang masih terhubung di telepon.


“Tidak apa-apa, Bu. Aku tutup dulu teleponnya ya.”


“Kirana?” gumam Widya membatin sembari dalam keadaan gemetar memegangi bingkai foto itu saat mengenali sosok wajah yang ada di dalamnya; dua orang dengan wajah yang sama.


Pikiran Widya menerawang sejenak mengingat betapa ia sangat mengenali wajah cantik perempuan yang saat itu bersama suaminya dalam masa silam bahkan sampai memiliki seorang anak di belakangnya.


Sedangkan Gio yang saat ini masih memandanginya, malah mengira Widya merasa sedih karena melihat kaca pada bingkai tersebut, telah retak sebagian akibat terhempas tadi.


“Ini tidak akan jadi masalah, Bu. Nanti biar saya ganti dengan bingkai yang baru,” ucap Gio lalu ia mengambil kembali benda tersebut.


“Bu? Ibu tidak apa-apa?” tanya Gio lagi karena belum mendapat tanggapan.


Tiba-tiba Widya memijat keningnya, kepalanya terasa pusing saat kembali berhasil mengingat masa lampau yang sudah ia hapus dalam hidupnya. Tangannya gemetar masih belum melepaskan benda yang dipegangnya.


“Ibu tidak apa-apa? Mau saya bantu ke ruang pemeriksaan dokter?” tanya Gio menawarkan bantuan. Namun Widya segera menyerahkan benda tersebut ke tangan Gio.


“Saya tidak apa-apa, saya mau langsung pulang saja,” ujar Widya.


“Ibu sedang menunggu jemputan?”


“Tidak, saya akan pulang naik taksi,” jawab Widya.


Ia menatap wajah Gio sebentar, namun ia mendapati sebuah senyuman ramah dari pria itu. Batinnya bertanya-tanya, jika benar itu adalah Kirana yang ada dalam ingatannya, mungkin kah kembaran Kirana masih hidup. Widya bahkan tidak tahu menahu tentang asal usul wanita itu.


Makin ia pikirkan, makin ia merasa kepalanya menegang. Belum lagi saat ini pikirannya masih kacau memikirkan Elvira yang ia pun masih belum tahu dimana keberadaannya.


“Kalau begitu, saya permisi dulu ya, Bu.” Suara Gio yang sedang berpamitan membuyarkan lamunan Widya dan ia hanya mengiyakan saja.


Hingga punggung pria itu sudah menjauh, Widya masih memperhatikannya. Apa yang baru saja Widya lihat menyisakan banyak tanda tanya yang memenuhi pikirannya saat ini.


Tentang foto Kirana yang kembar, dan tentang pria yang membawa bingkai foto tersebut.


 

__ADS_1


Bersambung ...


 


__ADS_2