
Elvira menyambut kehadiran Anya dengan seutas senyum simpul seraya menyapa, “Kamu sudah mau berangkat kerja?”
Namun sepertinya pertanyaannya tidak mendapat sambutan.
“Apa tidur kamu nyenyak semalam?” tanya Elvira lagi.
“Iya, cukup nyenyak,” jawab Anya.
“Aku harap kamu betah bermalam di rumah ini. Bagaimana, kamar tamu di rumah ini cukup bagus kan?” Pertanyaan Elvira ini membuat Anya tersenyum sinis.
“Duduk lah, aku juga ingin menjamu tamuku untuk sarapan pertamanya di rumah ini.” Elvira menyiapkan sebuah kursi untuk Anya, ia pun segera duduk dan menerima pelayanan Elvira.
“Kamu cukup baik dalam menyambut orang baru,” ujar Anya yang melihat Elvira menuangkan minuman untuknya.
“Aku banyak belajar dari suamiku. Dia suka menyambut tamunya dengan cara yang istimewa sebelum akhirnya membiarkannya pergi.”
“Oh ya?” nada suara Anya terdengar seperti sebuah ledekan.
“Menurut kamu kenapa dia mengistimewakan tamunya? Karena baginya itu hanya sekedar sambutan saja agar menarik. Kamu mengerti kan arti dari sekedar ‘tamu’?”
“Apa tidak bisa kamu langsung ke intinya saja? Aku rasa, kamu memang sudah seharusnya menerima keberadaan ku disini kan? Jangan lupa, aku sekarang adalah bagian dari keluarga ini karena aku memiliki calon anakku.”
Anya mulai jengah setelah mengetahui ternyata sikap manis Elvira sebelumnya hanyalah sandiwara belaka di depan yang lainnya, nyatanya Elvira tidak bisa mempertahankan sikap ramahnya lagi di depannya.
“Tidak masalah, nikmati saja selama berada disini. Meski kamu merasa sebagai bagian dari keluarga ini, tapi kamu harus tahu kalau bagian kamu di rumah ini hanya sebagai tamu yang sewaktu-waktu bisa saja terusir oleh penghuni rumahnya. Apa perlu aku perjelas lagi?”
“Terlepas dari sikap yang kamu tunjukkan saat ini, entah itu pura-pura kuat untuk bertahan atau apapun itu. Kalau aku jadi kamu, aku mungkin sudah pergi meninggalkan rumah ini. Jangan bersikap sok nyonya di rumah ini. Selain suami kamu yang sudah tiada, kamu juga tidak memiliki apapun lagi untuk dipertahankan, menjaga calon anak kamu sendiri saja kamu tidak bisa.”
Ucapan Anya terdengar jelas meledek Elvira, namun ia tetap berusaha menahan diri menghadapinya.
“Aku kasihan melihat betapa menyedihkannya kamu, Elvira. Aku yakin dengan hadirnya anak ini nanti akan merubah semuanya, dia pasti akan memberikan kebahagiaan di keluarga ini. Sementara kamu, tidak ada yang bisa diharapkan dari kamu,” lanjut Anya lagi, lalu ia meminum teh yang tadi dituangkan Elvira untuknya.
Sedangkan Elvira yang masih dalam posisi berdiri di dekat Anya, darahnya sudah seakan mendidih.
Ia mengepal tangannya dengan erat dan lantas mencengkeram kerah baju Anya sontak membuatnya terkejut.
Elvira lalu menyandarkan Anya ke punggung kursi. Menyadari dirinya ditahan oleh Elvira, Anya berusaha menarik tangan Elvira mencoba melepaskan cengkeramannya dari bajunya.
Akan tetapi terasa percuma karena tangan Elvira yang sedang dalam keadaan marah jauh lebih kuat darinya.
“Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!” Berontak Anya sambil terus memegangi tangan Elvira pada lehernya.
Ia dengan jelas melihat tatapan kemarahan yang membara dari Elvira.
“Aku melihat kamu yang jauh lebih menyedihkan, aku benar-benar jijik dengan kelakukan kamu! Kamu tidak pernah tahu bagaimana menderitanya aku karena kamu belum pernah merasakan bagaimana rasanya kehilangan suami dan anak secara bersamaan!” pekik Elvira dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
Sementara Anya masih menyimak perkataan Elvira walau ia sedang terintimidasi karena sepertinya Elvira enggan melepaskan cengkeraman tangannya.
“Kalau saja kamu tidak masuk dalam kehidupan mas Daffin, hal ini tidak akan pernah terjadi! Aku tidak akan kehilangan suamiku dan anakku! Puas kamu sekarang!”
__ADS_1
Elvira lalu melepaskan tangannya dari baju Anya hingga Anya kembali bisa bernapas dengan lega, sedangkan Elvira menghela napas untuk mengatur emosinya yang semakin akan meledak.
“Kamu tidak pernah ada artinya bagi mas Daffin sekalipun setelah kehadiran anak itu. Kamu tidak pernah ada artinya baginya.”
Elvira menegaskan kembali perkataannya yang membuat Anya naik pitam hingga ia langsung berdiri dari kursinya.
Elvira melihat Anya sudah mengepal tangan dengan penuh amarah mungkin sepersekian detik lagi akan melayangkan sebuah tamparan ke arahnya.
Akan tetapi tiba-tiba Anya langsung menahan niatnya karena mendengar suara Mirah menyapa Dewanti yang sepertinya akan menuju ke ruang makan.
“Kamu benar-benar tidak tahu diri. Kamu beruntung karena ada anak dalam perut kamu sekarang, kalau tidak, kamu tidak akan pernah menginjakkan kaki di rumah ini! Aku mungkin masih bisa menerimanya, tapi tidak dengan kamu. Jangan lupa, kamu masuk ke rumah ini karena juga memohon izinku. Bukan kah kamu harusnya selalu menunjukkan sikap hormat kamu kepadaku?” ujar Elvira dengan tatapan menantang.
“Aku tidak perlu mendapat izin dari kamu, dasar bermuka dua!” umpat Anya kesal.
“Aku hanya mengikuti permainan kamu. Setidaknya tunjukkan lah sikap baik kamu di depan oma seperti saat pertama kali kamu masuk ke rumah ini.” Elvira melirik Dewanti yang berjalan semakin mendekat.
“Kalian berdua di sini?” sapa Dewanti setelah mendekat ke arah mereka, pikirannya masih dipenuhi rasa heran melihat keduanya tadi tampak mengobrol tanpa tahu isi obrolan tersebut.
“Oma,” sapa Elvira yang kini langsung memasang wajah senang seolah tidak terjadi apapun di antaranya dengan Anya tadi.
“Pagi, Oma.” Anya turut menyapanya.
“Kita sarapan bareng yuk, Oma,” ajak Elvira.
“Oma mau sarapan di taman belakang saja. Elvira, kamu temenin Oma ya,” pinta Dewanti.
“Anggap saja itu adalah penyambutan dariku,” ujar Elvira kepada Anya lalu ia segera pergi menyusul Dewanti.
“Sial! Beraninya dia melakukan ini kepadaku, awas saja kamu Elvira. Kamu sudah menyatakan perang denganku.”
Anya menggerutu masih tidak terima diperlakukan demikian dan ia sangat kesal saat menyadari bahwa ia ternyata tidak bisa meremehkan Elvira begitu saja.
“Kita lihat saja bagaimana kehadiranku di rumah ini akan membuat kamu tidak akan pernah bisa merasa nyaman.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kantor Arkatama grup.
Nevan sedang bercerita dengan Sakti di ruangannya mengenai apa yang terjadi baru-baru ini di keluarganya.
Sakti yang mendengarkan juga turut marah dan kesal, tapi ia bisa apa karena tidak memiliki kapasitas apapun dalam masalah keluarga Nevan meskipun Sakti sudah dianggap seperti keluarga sendiri oleh mereka.
“Benar-benar keterlaluan! Andai saja dulu aku mengetahui lebih awal tentang hubungan mereka, aku pasti tidak akan tinggal diam. Nevan, aku tahu betul kalau Daffin sangat mencintai bu Elvira, dia sanggup memberikan semua yang dia miliki. Tapi terlepas dari itu, aku jadi kepikiran sih bagaimana bu Elvira bisa menghadapi semua ini. Perasaan perempuan itu sangat halus,” ujar Sakti.
“Dia sepertinya baik-baik aja sih. Dia sepertinya menunjukkan sikap yang baik terhadap Anya.”
“Masa?” Sakti seolah tak percaya.
“Iya.”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti.”
“Aku juga. Oh ya, ada hal yang ingin ku tanyakan,” kata Nevan mengalihkan topik pembahasan.
Nevan lalu berdiri dan berjalan mengambil beberapa dokumen yang ada di atas mejanya.
Selanjutnya ia kembali duduk di sofa bersama Sakti dan meletakkan dokumen tersebut di atas meja di hadapan Sakti.
“Ini, aku membaca lagi tentang laporan hasil pengerjaan proyek yang dilakukan oleh PT. Jaya Wardana yang telah selesai dan ini proposal kerja sama yang baru diajukan mereka lagi.”
“Oh, ini perusahaan kontraktor yang sudah di blacklist oleh pak Daffin,” jawab Sakti.
“Iya aku tahu, tapi ada yang aneh. Mereka mengerjakan semuanya dengan baik dan tepat waktu. Kenapa kak Daffin tidak melanjutkan kontrak dengan mereka? Malah dimasukkan ke daftar hitam. Tadinya aku tidak mempermasalahkan jika kita tidak harus pakai perusahaan yang masuk daftar hitam. Tapi kita perlu perusahaan seperti mereka, bukankah perusahaan itu tidak seharusnya masuk daftar hitam melihat rekor mereka yang bagus? Aku sudah melihat isi proposal mereka dan aku tertarik.” Nevan berbicara panjang lebar membahasnya.
“Mm, begini. Sebenarnya pak Daffin dulu ada, ya semacam marah lah dengan pemilik perusahaan itu, namanya Jaya Wardana. Waktu pak Daffin menghadiri jamuan dari pak Jaya bersama bu Elvira. Tanpa diduga bu Elvira mengalami hal yang kurang menyenangkan, seorang pelayan restoran disitu menumpahkan minuman yang menyebabkan pakaiannya basah dan kotor. Pak Daffin sangat marah karena itu dia memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan kontrak kerja dengan pak Jaya untuk proyek terbaru kita. Baginya, kehormatan istrinya sangat penting.”
“Ya ampun, tapi aku rasa itu hanya amarah sesaatnya. Kak Daffin pasti tidak melihat proposal mereka secara keseluruhan."
"Melihat nama perusahaan itu saja sudah langsung dicoretnya dan langsung di blakclist."
"Sakti, kita perlu kerjasama dengan perusahaan mereka terlepas dari masalah pribadi kak Daffin. Ajukan penawaran untuk mereka,” titah Nevan.
“Aku tidak yakin, kita sudah lama menolak mereka. Mungkin saja sekarang proyek itu di ambil oleh perusahaan lain.” Sakti pesimis.
“Kenapa tidak? Lakukan saja, ajukan penawaran yang lebih tinggi. Kita harus dapatkan kontrak dengan mereka.”
“Kita masih bisa mendapatkan kontraktor yang lain.”
“Tidak bisa, kita tetap perlu mereka.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat itu Elvira sedang duduk menyendiri di ruangannya di kantor yayasan Mentari Kasih. Elvira menghela napas mencoba melapangkan dada dan berdamai dengan keadaan, ia juga tidak ingin terus merasa terpuruk.
Ia terus berpikir entah ini takdir atau karma yang harus diterimanya, apapun yang terjadi ia harus menghadapinya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, detik berikutnya seseorang perempuan muda membuka pintu ruangannya.
“Maaf Bu Elvira saya mengganggu.”
“Oh, iya. Ada apa?”
“Ada tamu yang ingin bertemu dengan Bu Elvira. Mereka dua orang yang sama dulu pernah ingin bertemu dengan Bu Elvira.”
"Oh ya, siapa?"
Bersambung ...
__ADS_1