Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 87-- Kejutan Untuk Elvira


__ADS_3

Elvira berjalan dengan santai memasuki ruangan khusus untuk rapat. Namun alangkah terkejutnya ia saat memasuki ruangan tersebut yang masih kosong, tak seorang pun peserta rapat yang terdiri dari beberapa orang stafnya terlihat berhadir.


Hanya tampak keheningan ruangan dengan sedikit penerangan serta meja panjang kosong dikelilingi jajaran kursi yang menganggur. Harusnya sebelum Elvira masuk ke ruang rapat, mereka semua sudah siap sedia menunggunya.


Biasanya segala keperluan penunjang rapat sudah disediakan terlebih dahulu, seperti menyalakan laptop dan proyektornya, salinan materi dalam bentuk kertas serta pelengkap konsumsi seperti minuman yang disusun rapi di atas meja.


Namun apa yang terjadi hari ini, Elvira benar-benar hampir dibuat naik pitam kalau saja mereka melupakan tentang pekerjaan hari ini. Ia membuka ponsel yang sejak tadi berada dalam genggaman untuk memeriksa kembali jadwal rapat yang sudah diagendakan jauh-jauh hari, ia tidak menemukan kekeliruan tentang tanggal dan waktunya.


“Apa yang mereka lakukan?” Elvira bertanya sendiri.


Beberapa detik membingung dengan perasaan yang sudah kesal, ia lalu berbalik badan dan tiba-tiba pintu ruangan dibuka seseorang dari arah luar.


Elvira seketika mengerjap melihat banyak staf dan karyawannya berhamburan masuk sembari membawakan sebuah kue tart bertingkat tiga dengan banyak lilin menyala diiringi nyanyian lagu khas selamat ulang tahun untuknya.


Masih dalam rasa terkejutnya, Elvira menyaksikan langsung kemeriahan yang mereka buat di ruangan ini. Ia melihat ternyata juga ada Olla yang turut bergabung di tengah-tengah mereka dan sukses membuat Elvira lebih terkejut. Perasaan bingungnya turut mengiringi sembari menunggu mereka selesai menyanyikan lagu.


“Ayo tiup lilinnya,” pinta Olla yang memperhatikan Elvira seperti tanpa ekspresi menatap kue dengan lilin-lilin tersebut kini berada persis di hadapannya.


Cahaya dari lilin-lilin tersebut memantul terang di wajahnya sebelum akhirnya memudar karena salah seorang telah menyalakan lampu ruangan.


Sambil meredamkan amarahnya yang tadi sudah hampir memuncak, Elvira lalu menuruti keinginan mereka meniup lilin-lilin tersebut dan diiringi riuh kegembiraan bagi mereka.


“Selamat ulang tahun ya,” ucap Olla yang kini memeluknya.


“Terima kasih semuanya.” Elvira turut berucap setelah mendapat kejutan ini.


Meski sebenarnya dalam hatinya ia tidak lagi menyukai perayaan seperti ini pada setiap hari ulang tahunnya yang bahkan ia sendiri tidak ingin mengingat hari kelahirannya tersebut.


Setelah mengetahui kenyataan pahit tentang asal usulnya membuat Elvira merasa benci setiap mengingat tanggal lahirnya. Karena saat hari ia dilahirkan, sebuah penderitaan langsung merambat ke dalam kehidupan seseorang.


Kenyataan yang telah ia curi dengar kala itu sebuah kecelakaan menimpa wanita yang baru melahirkannya dan pada hari itulah awal ia masuk ke kehidupan mereka.


Elvira tak kuasa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan Widya saat itu, dan kini ia mengerti bagaimana rasanya yang mungkin serupa dengan perasaan Elvira saat ini yang dipaksa keadaan untuk menerima kehadiran Anya beserta calon anaknya.


“Ra, malah membingung sendiri, ayo kita potong kue nya dan makan bersama.” Suara Olla segera membuyarkan pikirannya.


Bagaimanapun ia harus tetap menghargai setiap usaha yang mereka lakukan untuk ini dan segala perhatian yang mereka berikan kepadanya.


“Ayo makan kue nya, hari ini rapat dibatalkan saja,” titah Elvira.


“Siap, Bu,” sahut semuanya kompak.


“Agus,” panggil Elvira kepada salah satu stafnya. Tidak perlu waktu lama, pria muda berkacamata itu segera menghampiri.

__ADS_1


“Iya, Bu.”


“Saya akan pesan kan tempat di sebuah restoran, kamu ajak mereka semua makan siang di sana nanti. Alamatnya akan saya kirimkan ke nomor kamu,” ujar Elvira.


“Beneran Bu?”


Elvira mengiyakan dan langsung di sambut keriangan penuh semangat dari semua orang yang ada di dalam ruangan. Ini ke sekian kalinya Elvira melakukan hal seperti ini kepada para karyawannya walaupun tidak melulu dalam rangka hari ulang tahunnya.


“Bu Elvira nanti juga ikut kan?” tanya Dara.


“Kita lihat nanti ya, kalau saya sedang tidak ada urusan.”


“Wah, enak banget jadi karyawan kamu, Ra. Aku mau dong.”


“Olla, otak kamu terlalu cerdas untuk bekerja di sini. Gaji di sini tidak akan sebesar gaji kamu di bank.”


“Ya tidak apa-apa juga sih sebenarnya. Aku melihatnya sepertinya di sini kerjanya lebih santai dan seru lagi sering berkunjung ke tempat-tempat lain. Terus terang aku mulai bosan kerja di tempatku sekarang. Sangat melelahkan, kamu ingat kan dulu bagaimana kamu kerja di sana?”


“Hm, iya sih. Melelahkan memang, tapi seru, banyak tantangannya.”


“Aku jadi ingin ikut kerja sama kamu, lebih tepatnya biar bisa ngintilin kamu sih. Terima aku, Ra. Jadi asisten kamu juga boleh, deh,” pinta Olla tiba-tiba.


“Olla, apaan sih. Aku tidak perlu asisten,” tolak Elvira.


“Kalau begitu, jadi staf akuntan deh. Aku jago loh,” ujar Olla setengah memaksa.


... ❀❀❀...


Sebuah mobil mewah sedang melaju membelah keramaian aktivitas jalan raya, Dewanti yang baru menyelesaikan sebuah urusan kini tampak duduk santai di kursi mobil dan sedang menunggu panggilan teleponnya mendapat jawaban seseorang.


Di tempat lain. Di sebuah landasan pacu pesawat terbang, Nevan yang baru saja keluar dari jet pribadi milik keluarganya mendapati panggilan telepon.


“Halo, iya Oma?” jawab Nevan sambil terus berjalan diiringi Sakti dan beberapa orang lainnya menuju mobil penjemputan yang sudah disiapkan untuknya.


“Nevan, kamu sudah sampai?” tanya Dewanti via telepon, memastikan perkiraannya tidak meleset.


“Iya, Oma. Ini baru sampai di bandara.”


“Kamu bisa langsung ke rumah kan? Ada hal yang ingin Oma bicarakan, ajak saja Sakti sekalian.”


“Iya, Oma. Aku ke sana sekarang.”


“Ya sudah, sampai bertemu di rumah ya.”

__ADS_1


... ❀❀❀...


Sementara itu di rumah, sudah Meisya yang tampak duduk sendiri menunggu di sebuah sofa karena sebelumnya juga mendapat telepon dari Dewanti yang memintanya pulang ke rumah.


Tidak lama kemudian, Meisya yang sedang terlihat sibuk dengan ponselnya kini langsung mengalihkan pandangannya begitu menyadari kedatangan Dewanti.


“Mama, sebenarnya ada apa Mama meyuruh ku pulang?” tanya Meisya langsung tanpa basa basi.


“Mama kan sudah katakan tadi di telepon, ada hal yang ingin Mama bahas,” jawab Dewanti.


“Membahas apa? Memangnya Mama dari mana?” tanya Meisya penasaran melihat Dewanti berpakaian rapi.


“Dari kantor pengacara pak Rony,” jawab Dewanti membuat Meisya langsung tertegun.


“Mama dari sana?” tanya Meisya lagi memastikan.


“Iya, kamu pikir Mama tidak tahu soal saham milik Daffin? Hal itu kan yang jadi alasan kamu begitu membenci menantu kamu? Mama akan melakukan sesuatu mengenai ini, nanti akan kita bahas saat Nevan sudah datang.” Dewanti segera berlalu pergi sepertinya hendak menuju kamarnya.


“Ma!” panggil Meisya yang masih ingin meminta penjelasan, namun sepertinya tak digubris oleh Dewanti.


Perasaan Meisya seketika menjadi tidak tenang dan kini pikirannya penuh rasa kekhawatiran.


Diambilnya kembali ponselnya yang tadi ia letakkan di atas meja saat berbicara sebentar dengan Dewanti, Meisya menekan nomor telepon Rony.


“Halo, Rony.Apa yang Mama mertua saya rencana kan?” tanya Meisya terdengar tidak sabaran setelah nada telepon tersambung ke nomor pria itu.


Meisya lalu mendengarkan penjelasan dari Rony di seberang telepon dan detik berikutnya ia terlihat lemas dan semakin menunjukkan raut kegelisahan.


...❀❀❀...


Beberapa saat kemudian, saat Nevan dan Sakti sudah sampai di rumah. Mereka langsung ikut duduk bersama Meisya dan kini langsung disusul oleh Dewanti yang datang membawa beberapa lembar dokumen di tangannya.


Dengan arahan Dewanti, Nevan turut mengambil salah satunya dan memeriksanya diikuti Sakti yang kini berada di sampingnya.


“Itu adalah daftar kepemilikan jumlah saham milik Daffin dan surat pemindahan kuasa yang di tanda tangani Daffin sendiri sebelum kepergiannya. Oma turut meminta Sakti hadir di sini karena saat itu Sakti pasti langsung menyaksikan saat Daffin melakukannya dengan sadar.” Dewanti langsung ke intinya saat membuka pembahasan.


“Itu benar, Bu. Saat itu saya turut berada di sana dan pak Daffin memang melakukannya atas kesadarannya sendiri,” ujar Sakti bersaksi.


“Selama ini Mama cukup jengah dengan kelakuan kamu, Meisya. Mama hanya ingin melindungi yang seharusnya menjadi milik Elvira agar tidak ada yang berusaha menyentuh kepemilikannya,” kata Dewanti terdengar ketus terhadap Meisya.


“Tapi, Ma.” Meisya memandangnya tidak terima.


“Hari ini Mama akan meminta Elvira untuk melakukan klaim terhadap saham miliknya yang otomatis akan menjadikannya pemegang saham terbesar kedua di perusahaan.”

__ADS_1


Dewanti membuat pernyataan yang tentu saja mengejutkan dan pastinya sangat bertentangan dengan keinginan Meisya.


Bersambung...


__ADS_2