Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 31-- Kembali Pulang


__ADS_3

Mengenali sosok yang baru saja turun dari mobil yang sudah berhenti di dekatnya, Elvira akhirnya bisa bernapas lega karena sepertinya Nevan bisa dengan mudah menemukannya.


Ia segera keluar dari mobilnya untuk menyambut kedatangan Nevan.


"Aku tahu kamu sedang terpuruk, tapi jangan bertindak bodoh! Kamu tahu berada di tempat sepi seperti ini bisa saja membahayakan diri kamu,” cecar Nevan langsung tanpa basa basi begitu mereka bertemu.


“Iya aku tahu. Aku hanya ingin pergi keluar sekedar mencari ketenangan.” Elvira beralasan.


“Lalu, sudah dapat ketenangan sekarang?”


Elvira menggelengkan kepalanya, ia belum bisa mendapatkan ketenangan seperti yang ia inginkan.


“Ikut aku pulang sekarang,” ajak Nevan, lebih tepatnya memaksa.


Elvira melenguh kesal lalu berkata, “Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi kenyataan ini sekarang.”


Ia menyeka air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata lalu mengungkapkan kekesalannya.


“Kamu bisa pikirkan? Seorang perempuan yang telah mengambil hati suamiku dan mengandung anaknya, kini malah akan tinggal bersamaku. Anggapannya dia akan memberiku keturunan dari suamiku di saat aku sendiri sudah tidak bisa mempertahankan anakku.”


Elvira menghela napas lalu kembali meratapi nasibnya.


“Sesakit ini kah rasanya menerima hasil pengkhianatan? Kenapa takdir bisa setega ini kepadaku??!” gerutunya.


Melihat Elvira yang terlihat sangat gusar membuat Nevan tidak bisa berkata-kata, ia lalu meraih kedua bahu Elvira dan mengusapnya, hal itu membuat Elvira langsung memeluknya sambil menangis sesenggukan.


Sedangkan Nevan hanya membiarkan saja Elvira meluapkan segala kekesalan dan air matanya sepuas hati.


Sampai pada beberapa saat kemudian, Nevan menyadari sudah tidak ada lagi suara tangisan dari Elvira. Ia segera melirik dan ternyata Elvira sudah memejamkan matanya.


“Kamu tertidur?” tanya Nevan memastikan, namun tidak ada jawaban.


Detik berikutnya Nevan mengelus punggungnya namun hal itu ternyata membuat perempuan itu tersadar.


Ia pun segera melepas pelukannya, rupanya tadi ia merasa sangat nyaman berada di pelukan Nevan hingga membuatnya jauh lebih tenang sampai-sampai ia terhanyut tidak ingin melepasnya.


Elvira yang sudah berhenti menangis malah jadi tersipu malu dan mulai salah tingkah karena sedang ditatap oleh Nevan membuatnya segera berdalih. “Aduh, kepalaku sangat pusing.”


Elvira berlagak memijat dahinya yang sama sekali tidak terasa sakit.


“Aku pasti sangat kelelahan. Apa kita bisa pulang sekarang?” tanya Elvira tidak ingin berlama-lama lagi di tempat ini.


“Kamu pulang ikut aku, nanti mobil kamu biar aku suruh orang untuk mengambilnya.”


“Oh, tidak perlu. Kita bisa naik mobil masing-masing, aku akan mengikuti kamu di belakang.”

__ADS_1


“Kepala kamu sudah tidak pusing?”


“Emm, i-iya. Tapi masih pusing sih, ini pasti karena aku terlalu banyak menangis.”


“Ikut aku saja.”


Elvira akhirnya mengikut saja, padahal ia merasa sangat malu soal tadi. Seandainya ia bisa, Elvira bersumpah untuk bisa secepatnya pergi dari Nevan karena saking malunya.


Di dalam perjalanan pun Elvira sesekali memperhatikan Nevan yang sedang fokus menyetir, Elvira berharap adik iparnya itu tidak akan salah paham dengannya karena bagi Elvira berpelukan dengan pria lain merupakan pelanggaran besar.


“Dasar!” Elvira memelankan suaranya memaki dirinya sendiri.


Meski selama ini ia tidak bisa mencintai suaminya dengan baik, bahkan dua tahun terakhir bersama tidak bisa memberikan cinta yang selayaknya untuk Daffin.


Ia sangat menjaga  kehormatannya dan hanya Daffin lah pria satu-satunya dalam hidupnya yang bisa menyentuhnya.


Tiba-tiba Nevan menengok ke arahnya dan mendapati raut wajah penuh penyesalan Elvira membuatnya penasaran.


Baru saja Nevan hendak bertanya, Elvira sudah menyadari pandangannya. Sesegera mungkin Elvira pura-pura tertidur dengan memalingkan wajahnya dari Nevan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam sudah semakin larut, saat itu Dewanti sedang termenung sendiri sembari melihat keluar jendela, menatap wajah hari yang gelap di balik jendela kaca berukiran besar.


Pikirannya masih tidak bisa lepas dari Elvira, ia sangat berharap jika Nevan berhasil menemukan Elvira dan membawanya pulang.


“Maafkan aku ya, aku tidak bermaksud untuk menciptakan kekacauan di keluarga ini. Aku benar-benar tidak menyangka jika kehadiran aku di rumah ini akhirnya membuat Elvira pergi,” kata Anya memulai pembicaraan.


“Dia juga menjadi nyonya di rumah ini, untuk apa dia pergi hanya karena ada tamu yang tidak diundang seperti kamu?”


“Oma, kalaupun Oma marah dan tidak bisa menerima aku karena statusku, setidaknya aku memohon sama Oma untuk bisa menerima anakku. Dia cicit Oma.”


“Sebagai sesama perempuan, pernah kah kamu sekali saja memikirkan bagaimana perasaannya? Kamu tidak harusnya mengganggu seorang pria yang sudah beristri, kamu tahu bagaimana Elvira harus menanggung penderitaan hanya karena hasil perbuatan kamu?!”


“Oma!” Suara yang sangat familiar itu terdengar jelas seketika mengalihkan perhatian Dewanti dan Anya.


Kini di depan matanya sudah ada Elvira yang baru datang bersama Nevan, Dewanti pun langsung menyambutnya dengan memeluknya tanpa memedulikan tentang Anya.


“Kamu kemana saja? Kenapa pergi tidak bilang sama Oma. Oma sangat khawatir,” ujar Dewanti.


“Aku tadi cuma pergi jalan-jalan aja sebentar, Oma.Maafkan aku ya. Tapi Oma tidak perlu khawatir, aku pulang dalam keadaan selamat kan?” canda Elvira dengan senyuman tersungging di bibirnya.


Sepertinya suasana hatinya sudah jauh lebih membaik. Sejak memutuskan untuk kembali pulang ke rumah ini, Elvira merenung hampir sepanjang perjalanan.


Ia lalu memutuskan untuk tidak akan berlari dari kenyataan dan akan mengumpulkan segenap kekuatan untuk menghadapi apapun dalam hidupnya.

__ADS_1


“Hai.” Sebuah kata sapaan itu terucap dari mulut Elvira kepada Anya yang masih berada di sana. Anya lalu membalasnya dengan senyum simpul.


“Aku pikir aku belum menyambut kamu, Anya,” kata Elvira yang sukses membingungkan semua orang.


“Elvira, apa yang kamu pikirkan?” tanya Dewanti heran.


“Tidak masalah kalau kamu mau tinggal  di rumah ini, dan mengenai anak kamu itu aku akan menerimanya, bukankah begitu sebaiknya?” pungkas Elvira membuat Dewanti dan Nevan saling memandang heran.


“Elvira,” cegah Dewanti.


“Aku beneran tidak apa-apa Oma. Anya sepertinya sangat pandai menghormati semua orang, dia meminta izinku untuk tinggal di sini karena menghargai posisiku di rumah ini dan aku mengizinkannya, Oma.”


“Oma tidak mengerti dengan jalan pikiran kamu Elvira?” protes Dewanti terhadapnya.


“Dia datang dengan baik-baik, kita harus menyambutnya dengan baik juga. Bukankah begitu? Oma tidak perlu khawatir. Oh ya, aku merasa sangat lelah. Kalau begitu, aku permisi ya mau istirahat dulu ke kamar,” pamit Elvira.


Sementara Dewanti dan Nevan yang masih terheran dengan sikap Elvira hanya bisa membiarkan saja Elvira pergi.


Sedangkan Anya masih mencerna perkataan dari Elvira tadi, ia memikirkan apa Elvira itu orang yang mudah menyerah dan menerima keberadaannya begitu saja di rumah ini.


Anya pun segera permisi meninggalkan Dewanti dan Nevan.


“Nevan, kamu yakin tidak terjadi apa-apa dengan kakak kamu?” Dewanti menginterogasinya.


“Tidak ada, Oma.”


“Apa yang dia pikirkan? Bagaimana dia bisa menerima perempuan itu begitu saja?” Dewanti masih tidak percaya.


“Aku juga tidak tahu Oma. Bisa saja dia sudah menyerah dan tidak ingin mengambil pusing masalah ini.” Nevan mencoba berasumsi.


“Oma tahu bagaimana terpuruknya dia selama ini, dia tidak mungkin bisa secepat itu berpasrah dengan perempuan itu. Perempuan mana saja yang hatinya tersakiti pasti tidak akan secepat itu bisa memaafkan, Nevan.”


“Mungkin saja kak Elvira lebih memilih mengikhlaskan semuanya.”


“Kalaupun memang itu yang terjadi sebenarnya, Oma tidak tahu terbuat dari apa hatinya.”


“Aku pun tidak bisa menebaknya, Oma.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, pagi ini Anya yang sudah berpakaian rapi hendak pergi bekerja terkejut ketika melihat Elvira yang sedang menyiapkan sarapan.


Seketika Elvira langsung menyadari akan kedatangan Anya yang berjalan mendekat kepadanya. Elvira menyadari pandangan mata penuh tanya itu.


 

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2