
Di kediaman keluarga Arkatama.
Melihat Anya tampak merenung sendiri berdiri di depan sebuah jendela kaca membuat Meisya segera menghampirinya.
“Siapa laki-laki tadi?” tanya Meisya.
“Bukan siapa-siapa, Bu,” jawab Anya berbohong.
“Tidak usah bohong dengan saya, yang pastinya dia adalah orang yang mengenal kamu kan? Siapa dia?”
“Dia kakak saya, Bu,” jawab Anya lagi pasrah.
“Apa? Apa dia tahu tentang kamu yang sedang...”
“Dia belum mengetahuinya, Bu.” Anya langsung memotong perkataan Meisya.
“Belum mengetahui kamu bilang?”
“Maksud saya dia tidak mengetahui tentang keadaan saya dan saya akan pastikan dia tidak akan pernah mengetahuinya,” kata Anya untuk meyakinkannya.
“Baiklah, saya serahkan ke kamu untuk mengatasi keluarga kamu. Saya tidak mau hal ini diketahui orang lain, kamu mengerti?” Meisya memperingatkannya.
“Iya Bu, saya mengerti.”
Setelahnya, Meisya pun segera meninggalkan Anya yang masih terlihat gelisah sendiri.
Anya kembali mengingat saat dirinya telah berbohong dan berkata kasar kepada Gio saat pertemuan mereka tadi dan hal itu masih saja mengganggu pikiran Anya.
Ia juga menyesali karena tadi terdengar marah-marah kepada Gio karena tidak ingin jika kakaknya terlalu mengurusi hidupnya, padahal selama ini ia sangat dekat dan bahkan selalu bergantung pada Gio dalam hal apapun.
Sebuah kesalahan besar yang pernah dilakukannya benar-benar harus membawanya sampai pada titik ini dan ia tidak bisa menyerah begitu saja karena merasa sudah terlanjur hancur serta terancam kehilangan masa depan seperti yang dulu selalu ia impikan.
Ia lalu melihat ke arah perutnya, tidak pernah sedikit pun terbesit dalam hatinya jika ia akan memiliki anak dengan cara seperti ini, apalagi kini pria yang seharusnya bertanggung jawab malah sudah pergi untuk selamanya.
“Maaf kan aku, Kak.” Anya menggumam sendiri dengan rasa sesal saat mengingat sikapnya terhadap Gio.
...----------------...
Saat itu Elvira yang baru pulang berpapasan dengan Meisya yang hendak naik ke lantai dua rumah.
“Mama,” sapa Elvira dengan ramah dan sopan seperti yang selalu ia lakukan selama ini.
Namun hal itu nampaknya masih tidak bisa meluluhkan hati Meisya yang beku terhadapnya. Meisya hanya menatapnya sebentar lalu segera terus melangkah tanpa memedulikan menantunya itu.
__ADS_1
Hal ini membuat Elvira menghela napas, mengapa terasa begitu sulit baginya untuk meluluhkan hati mama mertuanya.
Meisya bahkan selalu memandangnya dengan sebelah mata meski ia sudah sangat berusaha untuk tetap bersikap baik terhadapnya dan yang membuatnya tidak habis pikir adalah bisa-bisanya Meisya malah lebih menerima kehadiran Anya.
Dulu di saat mendapatkan perlakuan dari Meisya seperti ini, selalu ada Daffin yang berada di sisinya dan selalu bisa menenangkannya karena Daffin percaya nanti perlahan hati Meisya pasti akan luluh juga.
Meski kerap menyaksikan perlakuan Meisya serta perkataannya yang tidak menyenangkan terhadap Elvira, hal itu tak lantas membuat Daffin membenci mamanya. Melainkan ia sering mengungkapkan rasa betapa ia sangat menyayangi Meisya dan bukan bermaksud untuk menentangnya.
Hingga saat ini pun Elvira masih bisa mempertahankan sikapnya kepada Meisya karena ia mengingat bagaimana perasaan Daffin terhadap mamanya itu dan selalu menginginkan agar suatu saat nanti keduanya bisa hidup akur dan saling menyayangi.
Walaupun tampaknya untuk mencapai hal itu, Elvira masih perlu melalui perjalanan panjang untuk membuka pintu hati Meisya untuknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya di kantor, Anya yang sedang sibuk bekerja dengan layar komputernya tiba-tiba merasakan kram pada perutnya dengan rasa sakit yang serasa menyiksanya.
“Kamu kenapa?” tanya Meisya tiba-tiba saat ia melintas di dekatnya dan melihat keadaan Anya.
“Perut saya sakit, Bu. Saya mau izin untuk menemui dokter.”
“Baiklah, kamu bisa pergi sendiri?”
Namun Anya masih tidak menjawabnya karena sibuk menahan rasa sakit yang tidak mengenakkan.
“Ya sudah, saya akan suruh Dody untuk mengantar kamu.”
...----------------...
Anya tampaknya sudah bisa tenang karena sudah diberi obat peredam sakit dari dokter.
Dokter hanya menjelaskan jika ia yang sedang mengandung tidak boleh terlalu banyak bekerja dan berpikir berat karena itu akan berpengaruh terhadap kondisi janin yang ada dalam kandungannya yang masih berusia muda.
“Terima kasih, Dok,” ucap Anya yang kini sudah bisa bangun kembali setelah beristirahat beberapa saat di ruangan tersebut.
Karena dokter mengatakan jika ia tidak perlu dirawat, akhirnya Anya memutuskan akan kembali namun ia sudah mendapat izin dari Meisya untuk bisa langsung pulang ke rumah.
Sesaat setelah keluar dari ruangan dokter kandungan, Anya tidak sengaja berpapasan dengan Asty yang saat itu sedang berjalan di sekitar sana.
Anya mendelik sebentar ke arahnya dan ia memperhatikan Asty yang sedang membawa sebuah bingkisan di tangannya.
“Bu Anya di sini? Apa Ibu sedang sakit?” tanya Asty namun ia melirik ke arah ruangan yang baru saja di datangi oleh Anya membuatnya terheran.
Sedangkan Anya tertegun sejenak karena ia merasa kepergok.
__ADS_1
“Mm, iya. Kalau begitu, saya pergi dulu. Saya harus segera kembali ke kantor.”
Anya langsung saja ingin mengakhiri obrolan singkat mereka karena Anya merasa malas menanggapi pertanyaan dari seorang yang masih asing baginya seperti Asty, ia pun akhirnya segera melewati Asty begitu saja dengan meninggalkan seutas senyum simpul kepadanya.
“Dokter kandungan?” Asty mendelik heran, namun ia tidak ingin tahu lebih akhirnya juga turut meneruskan langkahnya.
...----------------...
Tidak lama kemudian, Asty sudah sampai di ruangan Raldy. Raldy menyambut kedatangannya dengan hangat karena Asty membawakan sesuatu untuknya.
“Ibu menyuruhku membawakan makanan untuk kamu, tadi Ibu masak banyak,” ujar Asty sambil meletakkan bingkisan yang dibawanya di atas meja Raldy.
“Oh ya? Wah, calon mertuaku sangat perhatian.” Raldy terlihat sangat senang, ia tidak hentinya menebar senyuman untuk Asty.
“Duduk lah, ada yang ingin ku katakan,” ujarnya.
Lalu Raldy mengambil sesuatu dari laci mejanya, ia memperlihatkan kepada Asty sebuah kotak perhiasan berisi gelang yang dulu sempat ia perlihatkan ke Asty, saat mengatakan jika ia hendak memberikannya kepada Elvira untuk mengungkapkan perasaan.
Namun sayangnya Raldy terlambat karena Elvira sudah terburu menerima pinangan dari Daffin.
Memang ia sempat merasa patah hati, akan tetapi Asty selalu berada di sampingnya dan menjadi orang yang selalu memberi semangat kepadanya.
Tanpa Raldy tahu saat itu betapa beratnya Asty menjalani perannya yang seolah-olah baik-baik saja di hadapannya.
“Kamu ingat ini? Aku masih menyimpannya.”
“Iya, aku ingat,” jawab Asty.
“Sudah dua tahun lamanya benda ini bermalam di ruangan ini. Aku rasa aku tidak perlu menyimpannya.”
“Maksud kamu?”
“Kalau kamu mengizinkan, aku ingin memberikannya kepada Elvira. Karena dulu waktu aku membelinya aku meniatkan ini untuknya. Aku tahu selama ini aku terjebak dengan ini yang membuatku terkadang masih mengingatnya. Tapi aku rasa sekarang aku sudah harus melepaskannya dari hatiku, dengan itu, aku akan bisa memulai kembali bersama kamu,” tutur Raldy panjang lebar.
Sedangkan Asty menyimaknya dengan perhatian penuh.
“Aku ingin kita mencoba untuk bersama tanpa ada keraguan lagi. Aku juga ingin memulai hubungan baru dengan Elvira layaknya seorang kakak dan adik agar kamu bisa mengisi hatiku sepenuhnya.” Raldy melanjutkan penuturannya.
“Iya, tidak apa-apa,” sahut Asty sambil memegang tangannya. Ia merasa terharu karena orang yang disukainya sejak dulu akhirnya mau membuka hati untuknya.
“Terima kasih,” ucap Raldy memandanginya dengan senyuman yang tiada hentinya.
__ADS_1
Bersambung ...