
Daffin berlari dengan cepat untuk menghampiri Elvira yang sedang dalam bahaya seraya berteriak menyerukan namanya.
Namun Elvira yang baru menyadari keadaan menghimpit saat bahaya ada di depan mata membuatnya sangat ketakutan hingga kakinya terasa kaku untuk bisa menghindar.
Saat keadaan mencekam itu membuatnya hampir pasrah, Daffin yang baru datang langsung mendorongnya hingga ia terjatuh ke jalan dan menghindari hantaman mobil tersebut.
Akan tetapi Daffin yang berhasil menyelamatkan Elvira tidak sempat menyelamatkan dirinya sendiri dalam kejadian yang berlangsung sepersekian detik itu, sehingga tubuhnya harus tertabrak mobil jenis minibus itu dengan keras yang membuatnya terlempar beberapa meter ke jalanan.
Kejadian yang tiba-tiba dan diiringi suara benturan yang terdengar keras itu langsung menarik perhatian bagi beberapa orang yang kebetulan berada di sekitar sana.
Beberapa orang menghampiri Elvira yang tengah kesakitan sambil terus memegangi bagian perutnya, sebagian ada yang langsung memeriksa kondisi Daffin dan segera memanggil unit pelayanan darurat.
Beberapa orang lainnya turut mengamankan pengemudi mobil yang terpaksa menghentikan laju mobilnya sesaat setelah terjadi tabrakan itu.
“Tidak! Mas Daffin!” teriak Elvira sangat histeris.
Matanya terbelalak sempurna dipenuhi kepanikan saat melihat keadaan suaminya itu yang tidak sadarkan diri, Elvira bahkan melihat bagian kepalanya sudah dipenuhi cairan merah pekat yang mengalir.
Elvira pun mencoba melepas pegangan beberapa orang wanita yang kini berusaha menolongnya.
“Mas Daffin!”
Sembari menahan sakit, Elvira berusaha untuk menghampirinya akan tetapi tubuhnya merasa sangat lemah dan ia melihat juga ada cairan merah itu sudah mengalir hingga ke kakinya yang membuatnya semakin ketakutan sekaligus merasa lemas sekujur tubuh.
Elvira tidak dapat mengendalikan diri yang memaksanya semakin masuk ke dalam pusaran hilang kesadaran. Segera setelahnya, Elvira tidak sadarkan diri di pangkuan seorang wanita.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Sakti yang sudah mendapat pemberitahuan dari awal kini sudah berada di rumah sakit tepat di depan pintu ruang penanganan Daffin.
Terlihat jelas dari sela- sela kaca pada pintu tim medis sedang dalam situasi kepanikan memberi pertolongan pertama pada Daffin yang masih belum sadarkan diri.
Sakti lalu menoleh ke sebuah arah tampak kedatangan Nevan bersama Dewanti dan Meisya yang sudah dalam keadaan sangat panik setelah mengetahui kabar darinya.
“Daffin! Bagaimana ini terjadi?! Bagaimana dia sekarang?!” tanya Meisya yang sangat mengkhawatirkannya, ia pun melihat ke arah ruangan yang ada di depan mereka saat ini.
“Putraku ada di sana?” Meisya hendak menerobos pintu tersebut karena sudah tidak sabar ingin melihat Daffin, akan tetapi terburu di tahan oleh Nevan.
“Ma, tunggu lah di sini,” pinta Nevan yang tidak kalah paniknya.
“Menunggu kamu bilang? Mama mau melihat Daffin! Bagaimana bisa Mama hanya berdiam disini sementara kakak kamu di dalam sedang memperjuangkan hidupnya!” celetuk Meisya terdengar penuh emosi.
Matanya sudah berkaca-kaca membayangkan sesuatu yang buruk mungkin saja terjadi pada Daffin.
“Iya, Ma. Aku tahu, kita percayakan pada tim dokter saja ya.”
“Tidak bisa Nevan!” Meisya kini sudah berurai air mata tidak sanggup menyaksikan Daffin yang kembali mengalami kecelakaan.
“Meisya, tenang kan diri kamu.” Dewanti yang tampak turut terisak menyarankannya.
Berbeda dari Meisya yang tidak bisa mengendalikan rasa kekhawatirannya, Dewanti bisa terlihat lebih tenang walau sebenarnya dalam hati dan pikirannya juga sedang cemas dan tidak hentinya berdoa untuk keselamatan Daffin.
“Ma, aku tidak bisa tenang! Daffin putraku,” lirih Meisya kala menyebut nama putra pertamanya itu.
“Sakti, bagaimana keadaan Elvira?” tanya Dewanti yang turut mengkhawatirkan keadaan Elvira.
“Bu Elvira berada di ruang rawat juga masih belum sadarkan diri,” jawab Sakti.
__ADS_1
“Sakti, kamu temani saya ke sana. Saya mau melihat keadaannya.”
“Baik, Oma.”
Tidak lama kemudian, Dewanti sudah tiba di depan pintu kamar VIP tempat Elvira dirawat.
Tiba-tiba sebuah pintu terbuka dari dalam dan sudah ada seorang dokter ditemani seorang perawat yang hendak meninggalkan ruangan.
“Dokter,” sapa Dewanti.
“Ibu Dewanti,” sapa balik dokter tersebut yang sepertinya sudah mengenali siapa Dewanti.
“Bagaimana keadaan cucu saya?”
“Kondisinya masih lemah dan masih harus dirawat hingga benar-benar pulih. Tapi Bu, ada kabar buruk yang harus saya sampaikan, dengan sangat menyesal saya harus mengatakan jika kami tidak bisa menyelamatkan janin yang ada dalam kandungannya.”
“Apa?! Maksud Dokter, Elvira sedang mengandung?” tanya Dewanti sangat terkejut karena ia belum mengetahui apapun tentang ini.
“Iya Bu.”
Tanpa ingin mendengarkan lagi perkataan dokter tersebut, Dewanti segera bergegas masuk ke dalam untuk menghampiri Elvira yang masih terbaring lemah belum sadarkan diri, diikuti oleh Sakti yang sebelumnya mengucap kata permisi kepada dokter tersebut.
Dewanti langsung menangis sedih dengan menutup mulutnya karena betapa sedihnya ia melihat keadaan Elvira saat ini apalagi setelah mengetahui kenyataan jika Elvira harus kehilangan calon anak yang dikandungnya.
“Sayang, kenapa semua ini terjadi sama kamu,” rintih Dewanti menyesali keadaan.
Sedangkan Sakti yang sebenarnya sudah mengetahui apa yang terjadi di antara Elvira dan Daffin saat ini merasa tidak tahan melihat kesedihan itu, ia sangat ingin memberitahukan semuanya tetapi ia tahu hal itu hanya akan menambah kesedihan Dewanti jika ia mengetahui kebenaran yang tidak ingin ia dengar.
...----------------...
“Dok, denyut nadinya melemah,” kata salah seorang dokter lainnya dan salah seorang dokter masih terus mengambil tindakan untuk memacu respon jantung.
“Tidak ada respon!”
Detik berikutnya terdengar bunyi panjang seiring melurusnya garis dari layar monitor ICU yang meninggalkan rasa kesedihan mendalam dari orang-orang yang saat ini menanganinya.
Seorang dokter masih belum menyerah lalu mencoba memeriksa kembali beberapa titik denyut nadinya serta memeriksa pupil matanya. Detik selanjutnya ia menggelengkan kepala mengisyaratkan jika usaha penyelamatan mereka tidak berhasil.
Mereka pun harus bersiap menyampaikan kabar duka ini keluarganya. Saat dokter yang memimpin tindakan sudah keluar dari pintu ruangan tersebut untuk menemui Meisya dan Nevan yang masih menunggu di sana, raut wajahnya terlihat penuh sesal dan kedukaan yang mengisyaratkan jika mereka tidak berhasil.
“Kami sudah melakukan semaksimal mungkin, tapi pak Daffin tak bisa terselamatkan. Saya turut berduka cita,” tuturnya dengan sesal seperti memahami kepiluan dari mereka.
Nevan yang mendengar itu hanya bisa mematung tidak bisa berkata-kata lagi. Melihat raut wajah Meisya yang membeku membuatnya tidak bisa lagi menahan air matanya.
“Apa? Apa maksudnya putraku tidak bisa terselamatkan?!” tanya Meisya dengan nada marah penuh emosi.
“Kami mohon maaf, Bu Meisya,” ucap dokter tersebut.
“Tidak mungkin! Daffin!" Suara Meisya memekik sebelum akhirnya ia tumbang dan langsung disambut oleh Nevan yang menahannya agar tidak jatuh ke lantai.
“Ma, Mama!” Nevan menepuk-nepuk pipi Meisya namun tidak mendapat respon darinya.
“Meisya!” suara Dewanti yang baru datang tiba-tiba terdengar cemas saat melihatnya pingsan.
Nevan langsung mengangkat tubuh mamanya untuk menempatkan di sebuah ruang rawat rumah sakit.
Sedangkan Dewanti yang baru saja turut mendengarkan penjelasan dari dokter kini sudah menumpahkan air matanya merasa tidak sanggup menerima kabar duka ini.
__ADS_1
“Daffin,” lirihnya yang kini juga dalam keadaan syok berat sambil menahan rasa sesak yang sudah memenuhi dadanya.
“Oma,” panggil Sakti yang turut mengkhawatirkan keadaan Dewanti kini siaga berdiri di dekatnya.
...----------------...
Sementara itu Nevan yang kini sudah memastikan Meisya mendapat perawatan di ranjang rumah sakit hanya bisa terus menangisi kepergian Daffin. Ia masih saja tidak menyangka jika kakaknya itu telah menutup mata untuk selamanya.
Segala rasa sedih dan sesal akan kejadian itu kini berkecamuk di dalam dadanya yang membuatnya sesak.
Tidak lama kemudian, Sakti masuk ke ruangan dan menemuinya. Sakti melihat Meisya masih terbaring belum sadarkan diri dengan selang infus yang kini sudah terpasang di tangannya.
“Bagaimana Oma?” tanya Nevan yang kini sudah mengusap air matanya.
“Oma sedang di sebuah ruangan melihat Daffin.”
“Ada kabar dari kepolisian?” tanya Nevan.
“Ada, mereka sudah memeriksa tempat kejadian dan sudah mengamankan orang yang menabraknya. Infonya orang tersebut mengemudi dalam pengaruh alkohol dan mereka telah menahannya.”
“Berikan dia hukuman yang setimpal,” titah Nevan dengan nada suara penuh amarah.
“Aku akan mengurusnya.”
“Sekarang, pergi lah ke kamar rawat kak Elvira. Aku akan segera menyiapkan pemakaman untuk kak Daffin.”
“Baiklah, aku ke sana sekarang.”
“Nevan.” Terdengar suara serak dari Meisya memanggil.
Nevan dan Sakti segera melihat ke arah Meisya dan menemui Meisya baru sadarkan diri.
“Mama.” Nevan segera menghampirinya dan Meisya langsung memeluknya dengan erat menumpahkan lagi air mata kepiluannya.
“Saya permisi dulu,” ujar Sakti yang langsung meninggalkan ruangan.
“Nevan, Mama tidak sanggup menghadapi kenyataan ini,” ungkap Meisya yang kini menangis sesenggukan dan Nevan hanya bisa terus memeluknya memberi kekuatan di tengah hatinya yang saat ini juga rapuh.
...----------------...
Berita duka yang datang dari keluarga Arkatama atas kepergian Daffin pun dengan cepat menyebar hingga mengundang banyak pihak dan kolega berdatangan untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa.
Berbeda dari Meisya dan Dewanti yang sangat jelas tidak bisa menyembunyikan perasaan kehilangannya dengan air mata, Nevan lebih bisa menyembunyikan kesedihannya hingga ia pun masih bisa berdiri menegakkan bahu saat menerima ucapan duka cita dari berbagai pihak sampai prosesi pemakaman itu pun tiba.
Saat pemakaman Daffin yang bertempat di sebuah area pemakaman elit di tengah kota, Meisya yang masih tidak sanggup kehilangan putranya itu akhirnya hendak tumbang lagi di pelukan Dewanti yang saat ini terus berusaha memberinya kekuatan karena Dewanti sangat memahami bagaimana perasaan Meisya saat terpuruk seperti ini.
...----------------...
Sementara itu di rumah sakit. Sakti yang masih setia ditugaskan untuk menjaga istri bosnya kini dikejutkan oleh Elvira yang baru sadarkan diri hingga membuatnya segera menghampiri untuk memeriksa keadaannya.
“Bu Elvira!”
Bersambung ...
__ADS_1