Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 98-- Dua Keluarga


__ADS_3

Asty tampak memikirkan sesuatu sembari duduk di sebuah kursi di area toko lantai bawah. Sejak kepulangannya kemarin ke rumah, ia sudah mendapati cerita dari Widya.


Hal yang membuatnya hingga saat ini masih merasa kesal dan marah, karena ternyata Anya benar-benar hendak mengganggu keluarga mereka dan tak hentinya mengusik Elvira.


Beruntung tadi malam ia sudah berhasil berkomunikasi singkat dengan Elvira di telepon, yang memberitahu hari ini akan datang kesini bersama Dewanti. Ia mulai merasa sedikit lega karena dari penjelasan Elvira, sepertinya tidak hal yang perlu ditakutkan.


Sebuah bunyi pemberitahuan singkat dari ponselnya tiba-tiba menyadarkannya, ia segera meraih ponsel yang terletak di atas meja, dan membuka sebuah pesan. Detik berikutnya Asty segera bangkit dari posisinya, segera berlari membuka pintu utama toko.


Di depan sudah ada sebuah mobil mewah yang sepertinya baru berhenti. Elvira baru turun dari mobil dan menyapanya dengan seutas senyuman, rupanya tadi ia mengirim pesan singkat memberitahu jika ia baru sampai.


Bersama Elvira saat ini sudah ada Dewanti yang turut memberi senyum simpul kepada Asty.


“Elvira menceritakan sedikit tentang kamu, kamu pasti Asty kan?” tebak Dewanti.


“Iya,” jawab Asty ragu karena ia merasa segan.


“Kamu boleh panggil saya Oma.”


“Iya Oma. Mari, silahkan masuk,” ajak Asty.


...❆❆❆...


Dewanti memperhatikan saat ini di depan matanya sudah banyak sekali tersaji hidangan yang telah disiapkan oleh Widya, khusus untuk menyambut kedatangannya.


Mereka duduk bersama di meja makan layaknya sebuah keluarga dalam suasana hangatnya kebersamaan.


“Sebenarnya tidak perlu repot-repot begini, Bu Widya,” ujar Dewanti.


“Tidak apa-apa, Bu. Sungguh suatu kehormatan bagi kami menerima kedatangan Ibu Dewanti di sini. Bagaimana keadaan Ibu?” tanya Widya penuh perhatian.


“Seperti yang kamu lihat, saya sudah dalam keadaan sehat.”


“Mari, silahkan, Bu.” Widya segera mengajak mereka untuk menikmati makan bersama.


Dewanti terlihat sangat merasa senang berada di sini meski dalam kesederhanaan, ia juga memuji masakan Widya sangat enak dan ia nampak sangat menyukainya.


Sedangkan Widya dan Asty yang tadinya merasa segan, kini mulai bisa lebih merasa nyaman saat mengobrol dengannya karena pembawaan Dewanti yang ramah dan pandai menghargai orang lain. Sehingga mampu menghilangkan rasa kecanggungan di antara mereka.


“Ibu Widya, saya sangat senang akhirnya bisa dipertemukan dengan Ibu Widya dan Nak Asty. Saya tidak menyesalkan dengan yang telah terjadi, bagi saya Elvira tetap lah jadi cucu saya. Tidak peduli bagaimanapun masa lalunya dan keluarganya,” ungkap Dewanti.


“Iya Bu, saya juga sangat senang bisa bertemu dengan Ibu Dewanti. Terima kasih karena telah menyayangi dan menjaga Elvira,” ucap Widya.

__ADS_1


“Kamu Ibunya, kamu yang paling menyayanginya. Kalau bukan karena kamu yang merawat dan membesarkannya, saya mungkin tidak akan bertemu dengan Elvira. Ibu Widya, saya datang kesini sebenarnya mau meminta izin secara langsung kepada kamu agar Elvira bisa tetap tinggal bersama saya. Saya mohon,” pinta Dewanti dengan penuh harap.


“Ibu Dewanti tidak perlu meminta izin seperti ini. Tanpa meminta pun, pasti akan saya izinkan.”


“Terima kasih. Saya juga tidak akan melarang kapan pun Elvira datang kesini. Mulai sekarang kita adalah keluarga,” ujar Dewanti.


“Iya, Bu.”


“Terima kasih ya, Bu.” Elvira turut berucap.


“Apa yang kamu pikirkan? Kamu memiliki dua keluarga. Kamu boleh tinggal disana bersama Oma Dewanti, kamu juga boleh datang kesini sesuka hati kamu,” pungkas Widya.


Elvira hanya mengangguk senyum. Saat ini ia melirik ke arah Asty yang tersenyum kepadanya, namun sepertinya masih ada suatu kekhawatiran dalam benak kakaknya.


Di satu sisi, Asty sangat senang karena Elvira memiliki orang yang menyayanginya seperti Dewanti, tapi di sisi lain ia juga masih merasa terganggu dengan keberadaan Anya yang pasti akan terus mengusik Elvira.


“Mm, maaf semuanya. Silahkan dilanjut dulu. Elvira, ikut Kakak ke atas sebentar, yuk. Kakak ada sedikit oleh-oleh untuk kamu,” ajak Asty tiba-tiba memecah suasana haru.


“Oh iya, Kakak kamu kan baru saja dari tempat calon mertuanya.”


“Iya, Bu.” Elvira mengiyakan saja.


Namun saat mereka hendak pergi menaiki anak tangga, Raldy tiba-tiba sudah masuk ke ruang makan dan dikejutkan dengan kehadiran Dewanti.


“Iya, dr. Raldy disini?” Dewanti turut menyapa dengan pertanyaan sama.


“Dia adalah calon tunangannya Asty, Bu.” Widya memberitahu.


“Oh ya?” Dewanti tampak sangat senang mendengarnya.


“Duduk, Nak,” ajak Widya.


Raldy segera mengambil kursi untuk duduk, lalu ia turut menyapa Elvira dengan senyuman.


“Kalau begitu kami ke atas dulu ya,” pamit Asty.


...❆❆❆...


Setibanya di kamar Asty, ia lalu memberikan sebuah tas berukuran lumayan besar berisi bermacam-macam makanan kemasan oleh-oleh khas daerah sana di dalamnya.


“Ya ampun, banyak banget, Kak.” Elvira membulatkan mata saat menyambutnya.

__ADS_1


“Keluarganya yang memberikan.Makanya waktu Kakak kembali ke sini, Kakak sampai menambah koper. Tapi tenang, yang lain sudah kebagian kok.”


“Nanti ku bawa ke kantor saja, deh.”


“Terserah kamu saja. Oh ya, ada yang ingin Kakak bahas dengan kamu.”


“Ada apa, Kak?”


“Kakak sebenarnya sangat senang kamu tinggal disana karena ada oma Dewanti yang begitu menyayangi kamu. Tapi Elvira, bagaimana mengenai perempuan itu? Dia pasti akan mengusik kamu terus.” Asty tak kuasa untuk tidak mengungkapkan kegelisahannya.


“Bagaimana ya, aku juga tidak tahu harus bagaimana mengatasinya. Selama Mama mertuaku masih saja mempertahankannya di rumah, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menerimanya karena anak itu. Sementara aku benar-benar tidak bisa menolak keinginan oma yang memintaku kembali ke sana.”


“Kakak khawatir kalau-kalau dia melakukan sesuatu terhadap kamu.”


“Kakak tenang saja, ya. Aku pasti akan jaga diri. Yang penting Kakak jangan pernah kasih tahu Ibu soal ini ya,” pinta Elvira.


“Iya. Kalau kamu perlu sesuatu atau bantuan apapun, kasih tahu Kakak. Kakak akan selalu ada untuk kamu.”


“Iya, Kak. Terima kasih ya.”


Tak berselang lama, Elvira dan Asty sudah kembali berada di lantai bawah. Sepertinya tadi Dewanti dan Widya sedikit banyak mengobrol dengan Raldy. Setelahnya, Dewanti dan Elvira segera berpamitan untuk pulang dengan di antar mereka sampai depan mobil.


...❆❆❆...


Meisya menghentakkan telapak tangan di atas meja kerjanya sontak membuat Anya terkejut.


“Saya semakin tidak mengerti dengan Mama mertua saya, bagaimana bisa mereka hari ini melakukan pertemuan dan menganggap keluarga Elvira sebagai keluarga, keterlaluan!” gerutu Meisya teramat marah saat mengetahui tadi Dewanti dan Elvira bertamu ke tempat Widya.


“Sampai kapan pun aku tidak bisa menerimanya,” gumam Meisya dalam hati masih dengan raut wajah dendam yang belum padam.


Ia lalu melirik ke arah Anya yang saat ini tengah berdiri di depan meja kerjanya nampak terdiam memikirkan sesuatu.


“Pergi lah ke meja kamu. Biarkan saja berkasnya di atas meja saya. Saya akan pergi keluar sekarang,” ujar Meisya yang kini bersiap dengan tasnya.


“Ibu mau ke mana?” tanya Anya.


“Apa itu penting buat kamu? Lakukan saja pekerjaan dengan baik, saya mau menenangkan pikiran,” celetuk Meisya, lalu segera pergi meninggalkan meja kerjanya.


Anya masih memperhatikan wanita itu berjalan dengan terburu, Anya pun melengos kesal setelah memastikan Meisya sudah tidak nampak lagi dari arah pintu.


Sejak gagalnya rencana mereka dan kembalinya Elvira ke rumah, sejauh ini Meisya selalu tambah bersikap ketus kepadanya. Pembawaan Meisya yang sedang gusar dan penuh kemarahan membuat Anya sering jadi pelampiasan.

__ADS_1


Menyadari jika saat ini posisinya terancam karena sepertinya Meisya sudah tidak bisa berkutik lagi terhadap kuasa Dewanti, membuat Anya terus memutar otak mencari cara sendiri untuk tetap bertahan pada tujuannya.


Bersambung ...


__ADS_2