
Setelah perbuatan Nevan terhadapnya, saat dalam situasi berdua seperti ini membuat Elvira jadinya selalu merasa canggung dan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
Bahkan saat sudah sampai di dekat mobil pun, Elvira selalu menghindar setiap Nevan ingin berada di dekatnya.
Elvira tidak menyangka dengan adanya kejadian semalam malah menciptakan jarak di antara mereka dimana ia sendiri yang menciptakan jarak tersebut.
Nevan yang menyadari hal itu turut bertanya-tanya. “Kamu menghindari ku?”
“Tidak, biasa saja,” jawab Elvira memasang wajah santai.
“Terus, kenapa menjauh?” tanya Nevan lagi sembari mendekat dan menatapnya dengan tatapan yang terasa mampu menembus jantung.
“Aku hanya ingin disini,” sahut Elvira sambil melangkah mundur karena Nevan yang semakin mendekat, hingga tubuh Elvira tersandar pada mobil membuatnya hanya bisa terdiam pasrah.
“Jangan menatapku seperti itu!” Elvira panik dengan Nevan yang sekarang hanya berjarak satu langkah di depannya.
Elvira lalu hendak menghindar akan tetapi tangan Nevan dengan sigap menghalanginya, membuat Elvira mendelik kesal. Menyadari tatapan yang mengintimidasinya itu, Elvira merasa semakin tidak nyaman.
Elvira mengaitkan anak rambut ke telinganya sambil menghindari tatapan Nevan. Tidak ada yang tahu jika saat ini Elvira merasa berdebar, pikirannya masih kacau saat mengingat kejadian semalam sehingga ia terlihat nampak gelisah seraya meredam rasa malu.
“Apa karena hal semalam?” tanya Nevan mengingatkannya kembali.
Elvira langsung membelalakkan matanya bingung harus bagaimana menanggapi.
Ia masih saja sibuk bergelut dengan rasa malunya, namun ia tetap mencoba bersikap biasa saja. “Kamu! Beraninya kamu berbuat kurang ajar kepadaku, kamu lupa kalau aku ini kakak ipar kamu?!” celetuk Elvira kesal.
“Kamu sendiri yang memintanya.” Nevan membela diri, lalu ia memandangi Elvira degan tatapan seperti sedang meledeknya. “ Lagi pula kamu yang lebih agresif.”
“Apa?! Kamu benar-benar ya!”
“Sepertinya aku belum mendengar ucapan terima kasih untuk semalam,” sindir Nevan.
“Ucapan terima kasih kamu bilang? Harusnya kamu meminta maaf padaku karena telah bertindak kurang ajar! Kamu yang memulainya duluan,” ketus Elvira.
“Benar-benar tidak tahu cara berterima kasih, padahal aku tidak sembarangan kasih izin seseorang untuk tidur di ranjang ku. Harusnya ku biarkan saja pria itu berbuat sesuatu sama kamu,” gerutu Nevan kesal.
Saat ia hendak berpaling, Elvira langsung menahannya dengan menarik lengannya hingga kini posisi keduanya semakin dekat.
“Tunggu! Iya, iya, terima kasih karena sudah menolongku dan mengizinkan ku tidur di apartemen kamu,” ucap Elvira menyesal, cara bicaranya terdengar tergagap.
“Kamu berdebar?” ledek Nevan sembari menyeringai.
Pria itu melayangkan sebuah tatapan yang seakan menyilaukan mata. Elvira merasa kepalanya mulai mendidih, ia lalu memberanikan diri untuk melawan pesona wajah Nevan.
“Berdebar? Dengar ya, aku tidak akan mudah tersentuh oleh model laki-laki kayak kamu!” ketus Elvira.
“Oh ya? Berarti bagus dong, kita bisa lupakan saja kejadian semalam,” ucap Nevan dengan senyum manisnya yang terkesan sedang meledek.
Lalu ia segera menjauhkan diri dari Elvira yang sepertinya nampak susah bernapas dengan tenang.
“Kamu yang memulainya! Aku akan laporkan perbuatan kamu ke oma!” ancam Elvira setengah berteriak.
“Laporkan saja!” tantang Nevan.
“Menyebalkan!” umpat Elvira.
“Tapi jangan lupa, aku punya kartu As kamu, aku bisa saja memberitahu oma kalau tadi malam kamu pergi ke bar dan minum alkohol hingga mabuk,” lanjut Nevan lagi.
“Kamu mengancam ku sekarang?! Itu bahkan terdengar berlebihan, sebenarnya aku hanya minum sedikit.”
__ADS_1
“Pokoknya berbuat baiklah terhadapku,” pungkas Nevan.
Nevan memutuskan untuk segera masuk ke mobil sedangkan Elvira masih saja pada posisinya yang menyimpan banyak kekesalan kepada adik iparnya itu.
Tiba-tiba Nevan mendapati ponselnya berdering, matanya mendelik saat melihat siapa yang meneleponnya karena nomor kontak orang tersebut masih saja tersimpan di ponselnya.
“Halo?” jawab Nevan, lalu ia mendengarkan suara dari seseorang yang berbicara di seberang telepon.
...----------------...
Menit berikutnya, Nevan yang sudah keluar dari mobil lalu menghampiri Elvira.
“Apa lagi!” celetuk Elvira yang masih kesal dengannya.
“Galak banget sih.”
“Nih.” Nevan langsung melempar kunci mobil ke arah Elvira sehingga Elvira dengan sigap menangkap lemparan jarak dekat tersebut.
“Kamu bawa mobilku pulang bersama oma, aku harus pergi karena ada urusan mendadak.”
Elvira menatapnya kesal, lalu memandangi benda kecil yang sudah ada di tangannya. “Apa-apa an ini.”
“Aku pergi sekarang. Oh ya ngomong-ngomong, itu tadi tangkapan yang bagus, kamu ternyata jago juga menangkap ya.”
Setelah mengatakannya, Nevan langsung berlalu pergi. Sedangkan Elvira masih terdiam memandangi punggung pria itu menjauh, terlihat Nevan sedang memberhentikan taksi yang kemudian melintas di dekat sana.
Detik berikutnya Elvira memandangi lagi kunci mobil yang kini berada di dalam genggamannya, ia menghembus napas dengan kasar. “Sepenting apa urusannya sampai ia harus pergi terburu-buru seperti itu.”
Namun rasa penasaran itu langsung saja ditepis oleh Elvira karena ia melihat Dewanti yang tampak berjalan mengarah kepadanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sampai pada sebuah meja, Nevan memperhatikan seorang perempuan yang sedang duduk membelakanginya dengan sebuah koper yang masih berada di dekatnya.
Nevan segera mendekat ke arahnya, detik berikutnya perempuan tersebut sudah menyadari kehadirannya.
“Nevan?” sapanya yang segera berdiri dari kursinya, sembari menyunggingkan senyum kebahagiaan ia langsung memeluk Nevan melepas rasa rindu.
...----------------...
Sementara itu, Elvira dan Dewanti sudah tiba di rumah dan kedatangan mereka di sambut oleh Meisya dan Anya yang sedang duduk bersama di sofa panjang ruang tamu.
“Kalian baru pulang, sayang sekali aku tidak bisa ikut,” sambut Anya yang menghampiri Dewanti dan Elvira.
Ia memang selalu bersikap lemah lembut saat berhadapan dengan Dewanti.
“Nevan mana, Ma?” tanya Meisya.
“Dia tiba-tiba pergi, katanya ada urusan,” jawab Dewanti.
“Oma, aku mau ke kamar dulu ya,” pamit Elvira.
“Elvira, lain kali kamu mau kan menemaniku ke makam Daffin?” tanya Anya menghalau Elvira yang sudah hendak berpaling darinya.
“Anak aku pasti turut rindu dengan papanya, bukan kah begitu seharusnya?” timpal Anya lagi sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat sedikit membuncit itu.
Elvira merasa sangat kesal dalam hatinya karena Anya selalu saja mencoba memancing amarahnya.
“Iya,” jawabnya singkat.
__ADS_1
Ia tidak mungkin menolaknya karena ada Dewanti dan Meisya yang turut memperhatikan pembicaraan mereka.
Elvira masih harus bisa mengendalikan diri walaupun ia sangat kesal karena Anya pasti akan terus mengganggu dan membuatnya merasa tidak nyaman di rumah ini.
Kemudian ia langsung berpaling terus berjalan. Sedangkan Anya tersenyum senang sembari memandang punggung Elvira yang semakin menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sebuah restoran.
Nevan memandang sesosok perempuan di hadapannya yang sedang menikmati makanannya.
Detik berikutnya, perempuan bernama Melody itu langsung menyadari pandangan mata dari Nevan yang sepertinya sedang menyimpan banyak pertanyaan untuknya.
“Apa kamu hanya memandangku seperti itu saja tanpa menyentuh makanan kamu sedikitpun?” Melody menegurnya.
“Kenapa kamu tiba-tiba memutuskan kembali?” tanya Nevan terkesan dingin kepadanya.
“Hmm, sudah lama sekali rasanya semenjak aku pergi ke Paris. Aku sebenarnya sangat merindukan mama. Karena mama yang memintaku, jadi aku pulang. Aku dengar kamu juga sudah kembali dari Amerika dan menetap di sini, jadi aku putuskan saja untuk menghubungi kamu saat aku sudah sampai.” Melody menjelaskan kepadanya.
Melihat tidak ada respon dari Nevan atas penjelasannya, perempuan berambut sebahu itu memperhatikannya lebih lekat lagi.
“Jangan marah. Meskipun kamu sudah menganggap hubungan kita berakhir sejak kepergian ku waktu itu, namun aku masih mau berteman baik dengan kamu sama seperti dulu. Aku benar-benar minta maaf karena pergi begitu saja,” ucap Melody.
Bertemu kembali setelah lima tahun berpisah dalam keadaan yang sudah berbeda membuat Nevan merasa asing dengan perempuan yang pernah dekat di hatinya waktu itu.
Meski masih ada sisa kemarahan dalam benaknya karena Melody yang dulu tiba-tiba saja memutuskan pergi saat hubungan mereka sedang baik-baik saja, namun Nevan merasa tidak harus menyimpan dendam terhadapnya. Ia masih bisa menerima kehadiran Melody walau kini hatinya sudah berubah.
“Nevan, aku benar-benar minta maaf,” ucap Melody lagi membuyarkan lamunannya.
“Iya,” sahut Nevan.
“Jangan bersikap terlalu dingin kepadaku, kamu banyak berubah sekarang.”
“Karena memang keadaannya sudah berubah.”
“Tapi kamu akhirnya masih mau menemui ku. Tapi terima kasih ya sudah mau datang kesini. Oh ya, kamu sudah punya pacar sekarang?” tanya Melody penasaran.
“Tidak.”
“Kamu yakin? Rasanya tidak mungkin, jangan bilang kamu masih belum move on?” goda Melody tertawa kecil.
“Perasaanku sudah lama berubah.”
“Oke, kalau gitu kita bisa berteman baik lagi kan? Sama seperti sebelum kita pacaran dulu, kamu ingat kan dulu kita adalah teman yang baik.”
“Iya,” jawab Nevan lagi-lagi irit bicara namun tidak menyiratkan sedikit pun kebencian di wajahnya.
Ia berpikir itu sudah lama, menyimpan kemarahan terlalu lama juga tidak ada gunanya. Nevan sepertinya sudah bisa mengikhlaskan segala yang terjadi.
“Kamu memang yang terbaik,”puji Melody yang terharu karena Nevan yang masih bersikap baik terhadapnya.
Melody merasa lega karena Nevan tidak membencinya padahal ia tahu dulu dengan kepergiannya, pasti membuat Nevan sangat marah apalagi saat itu Nevan sedang dalam masa terpuruknya karena baru ditinggal pergi oleh papanya untuk selamanya dan mungkin menyimpan dendam terhadapnya.
Namun setelah melihat kebaikan serta sikap Nevan yang tenang saat berhadapan dengannya saat ini membuat Melody merasa bersalah dan muncul rasa penyesalan dalam benaknya karena dulu melepaskan Nevan begitu saja.
“Ayo sering-sering ketemu, aku rasa aku nanti akan kembali lagi ke Paris. Selama di sini aku tidak punya teman dekat lagi selain kamu,” pinta Melody.
__ADS_1
Bersambung ...