
Beberapa saat sejenak berkutat dengan pikirannya, Daffin menghela napas.
“Sakti, kita ke kantor pak Roni,” ajak Daffin yang tiba-tiba sudah mengambil keputusan.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aku akan lakukan cara apapun untuk mempertahankan istriku."
"Baiklah." Sakti setuju dan mereka segera berangkat.
...----------------...
Sebuah mobil saat ini sudah tiba di depan sebuah kantor firma hukum.
Tidak perlu waktu lama, Daffin yang senantiasa ditemani Sakti sudah sampai di ruangan pak Roni yang merupakan seorang pengacara kepercayaan keluarganya selama ini.
Selain menjadi penasihat keluarga mereka, Roni juga merupakan penasihat utama yang ditunjuk langsung oleh Dewanti untuk Arkatama grup.
Namun sepertinya kedatangan Daffin kali ini yang tanpa pemberitahuan sebelumnya membuat sang pengacara terkejut, seperti ada hal yang mendesak.
“Pak Daffin, ada yang bisa saya bantu?” tanya Roni.
“Istriku akan melayangkan gugatan cerai untukku, aku tidak mau berpisah dengannya. Hari ini aku akan memberikan semua saham ku untuknya.”
“Pak Daffin, apa yang Bapak lakukan?” tanya Roni yang kali ini sangat terkejut dengan keputusannya, begitu pun dengan Sakti yang memberi pandangan penuh keheranan.
“Untuk membuktikan cintaku kepadanya. Bahkan jika rasa cintaku sudah tidak sanggup lagi untuk mengikatnya, aku akan menggunakan semua yang ku miliki. Bukan kah tidak ada perempuan yang sanggup menolak ini?”
“Tapi Pak, ini keputusan yang tidak main-main. Pak Daffin merupakan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan.”
“Lakukan saja sesuai perintahku, dia hanya perlu melakukan klaim kepemilikan sahamnya setelah membatalkan gugatan cerai untukku. Aku harus melakukan ini sebelum dia bertindak lebih jauh.”
“Baik, Pak. Akan saya siapkan surat pernyataannya.”
“Apa kamu perlu bertindak sejauh ini?” tanya Sakti tiba-tiba.
“Kamu yang paling tahu bagaimana aku menginginkannya selama ini. Setelah kesalahan yang ku perbuat, aku hanya ingin memperbaiki semuanya dengan cara apapun,” pungkas Daffin yang tidak peduli pandangan orang tentangnya yang terkesan sudah dibutakan oleh cinta.
Sedangkan Sakti hanya bisa terheran dengan sikap bosnya, sungguh, cinta bisa membuat seorang seperti Daffin benar-benar takluk di hadapan istrinya.
...----------------...
Sementara itu Elvira sedang duduk di ruangannya, meski saat ini masih membaca beberapa lembar laporan pekerjaan namun pikirannya masih saja tidak bisa fokus, ditambah lagi pikirannya yang sedang runyam karena masalahnya belum menemui titik terang.
Ia berpikir sudah sangat ingin melepaskan semua kehidupannya saat ini yang terasa sangat berat baginya, akan tetapi di satu sisi ia ternyata sedang mengandung anak Daffin.
Mau terus tetap bertahan dengan suaminya itu, ia juga merasa sudah tidak sanggup.
Ia tidak mengerti kadang, mengapa takdir mempermainkannya seperti ini. Di saat hatinya yang keras mulai bisa mencair dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memberikan cinta untuk seorang pria yang saat ini masih berstatus suaminya.
Namun bersamaan dengan itu ia justru mendapati sakitnya pengkhianatan yang mampu mematahkan semua perjuangannya dalam membuka hatinya selama ini.
__ADS_1
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan setelahnya ada seorang perempuan muda yang masuk dengan membawakan segelas minuman untuknya.
“Bu, ini teh aromatik yang Ibu minta,” ujar Dara, seorang perempuan muda yang kini sudah ikut bekerja dengannya.
“Iya, letakkan saja di meja. Terima kasih ya,” ucap Elvira.
Perempuan itu segera kembali meninggalkan ruangannya. Saat hendak kembali ke sebuah ruangan, Dara tiba-tiba menahan langkahnya karena melihat siapa yang datang.
Ia tertegun memandangi seorang Daffin yang sedang berjalan dengan penuh wibawa melewatinya dan menuju arah ruangan Elvira.
“Itu Pak Daffin kan?” tanya seorang karyawan lain tiba-tiba muncul di dekat Dara.
“I-iya,” sahutnya tergagap masih memandangi punggung tegap itu.
“Wah, kamu lihat auranya? Dia masuk dalam daftar pemimpin muda perusahaan besar yang terbaik tahun ini,” ujar seorang perempuan itu kepada Dara.
“Iya, aku tahu. Aku baru pertama kali melihatnya mengunjungi istrinya secara pribadi ke sini. Kamu lihat betapa beruntungnya hidup Bu Elvira.” Dara berdecak kagum.
“Sudah lah, orang-orang pikir kita akan bergosip, kembali bekerja.”
“Baik.”
Saat itu Daffin sudah berjalan masuk ke ruangan Elvira yang membuat Elvira tidak menyangka jika suaminya akan sampai mendatanginya ke sini.
“Mas Daffin.” Elvira berdiri dari kursinya.
“Sayang, ayo pergi keluar bersama,” ajak Daffin yang bersikap manis seperti biasanya kepadanya seolah tidak pernah terjadi ketegangan antara mereka.
“Aku tidak bisa,” tolak Elvira yang masih tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.
“Baiklah.” Elvira setuju karena ia merasa harus menyampaikan sesuatu kepada Daffin agar bisa mengakhiri ini secepatnya.
...----------------...
Mereka berdua lalu pergi ke sebuah restoran sama seperti yang sering mereka lakukan jika pergi bersama namun kali ini dalam keadaan berbeda karena hubungan mereka terasa sudah tidak bisa seperti dulu lagi.
Meski Daffin mungkin masih bisa melupakan segala ketegangan yang pernah terjadi di antara mereka, namun beda halnya dengan Elvira yang perasaannya kini sudah mulai hambar terhadapnya dan tatapannya terhadap Daffin pun kini sudah jauh berbeda, tidak ada lagi mengisyaratkan rasa cinta itu masih ada.
Rasanya kebohongan buntut dari pengkhianatan itu kini hampir mengikis habis perasaannya terhadap Daffin.
Susah payah Elvira berusaha membangun perasaan cinta untuk Daffin yang merupakan cinta pertamanya karena selama ini ia sangat sulit untuk jatuh cinta kepada seorang pria, tapi kini semuanya sudah hancur.
Sejak dalam perjalanan hingga sampai di sini, Elvira masih saja bersikap dingin terhadap Daffin meski sesekali Daffin mengajaknya bicara. Bahkan makanan yang ada di hadapannya saat ini pun sama sekali belum tersentuh.
“Sayang,” panggil Daffin dengan suara lembut kepadanya.
“Mas, aku akan tetap pada keputusanku. Aku akan segera mengurus perceraian kita.”
“Elvira, apa yang kamu pikirkan?!”
“Aku akan melepaskan semua yang telah kamu berikan.”
__ADS_1
“Tidak! Elvira, aku akan memberikan semua saham ku untuk kamu, tetaplah bersamaku.”
“Aku tidak perlu semua itu, Mas! Aku hanya lelah, aku hanya ingin melepaskan semuanya. Semua yang kamu berikan kepadaku selama ini, semua yang telah kamu ubah dari hidupku. Aku tidak akan menutup mata dengan segala kebaikan kamu dan bagaimana peran kamu yang telah datang mengubah hidupku dulu yang runyam menjadi penuh kebahagiaan selama dua tahun ini. Terima kasih atas semuanya, Mas,” tutur Elvira.
“Apa yang kamu bicarakan? Sekarang begini, oke kalau kamu sangat marah dan kecewa kepadaku, tapi bisakah kamu tidak meninggalkanku seperti ini? Aku sangat mencintai kamu, aku bahkan sanggup memberikan apapun yang kumiliki untuk kamu, kamu juga tahu bagaimana aku sangat menginginkan kamu. Tidak bisakah kamu menerima saja semua yang telah kuberikan? Mengenai Anya dan anak yang dikandungnya, mereka bukanlah sesuatu yang berarti bagiku!” tegas Daffin.
“Aku tidak akan membiarkan kamu menjadi pria yang tidak bertanggung jawab, Mas. Aku juga tidak meminta kamu memilih satu di antara kami, hubungan kita memang sudah tidak bisa lagi diteruskan. Tolong mengerti perasaanku, aku tidak menginginkan apa-apa lagi selain kamu melepaskan ku.”
“Tidak akan!” sanggah Daffin dengan tegas sembari menghentakkan tangannya ke atas meja dengan penuh emosi, membuat Elvira tersentak karena mendapati raut kemarahan menyala dari wajah Daffin.
“Kamu adalah milikku dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan kamu!” Daffin kembali menegaskan dengan suara lantang.
“Kamu hanya terobsesi menginginkanku menjadi milik kamu sepenuhnya, Mas! Kamu bahkan tidak bisa membedakan antara rasa cinta dan obsesi kamu!”
“Entah apapun yang kamu pikirkan tentangku. Selama aku tidak mengizinkan, kamu tidak akan bisa pergi dariku!”
“Aku tidak mengira kamu akan seegois ini!” Elvira berdiri dari kursinya karena tidak bisa lagi meredakan amarahnya dengan sikap arogan Daffin.
“Apa susahnya bagi kamu menuruti keinginanku? Kamu juga tidak bisa egois seperti ini,” balas Daffin yang turut berdiri dari kursinya.
“Kamu keterlaluan! Kamu tahu mengapa aku melakukan ini? Agar kamu tahu pentingnya arti sebuah kepercayaan! Aku pernah satu kali memberi kamu kesempatan, aku juga memberikan seluruh cinta dan kepercayaan ku kepada kamu. Aku hanya tidak ingin lagi dipermainkan seperti ini!”
Elvira merasa tidak sanggup lagi untuk berdebat dengannya memilih segera pergi meninggalkan Daffin yang masih terdiam sejenak mencerna perkataan dari istrinya.
Daffin menghela napasnya tiba-tiba merasa menyesal atas sikapnya barusan terhadap Elvira, ia hanya tidak bisa mengerti dengan dirinya sendiri yang sangat menginginkan Elvira sampai ia harus bersikap arogan hanya demi mempertahankan agar Elvira tetap bersamanya.
“Elvira!” Daffin memanggil namanya dari kejauhan sembari melihat perempuan itu yang terus berjalan menuju pintu keluar ruangan VIP restoran.
Daffin mengusap wajahnya dengan kasar menyesalkan yang telah terjadi.
“Aku tidak ingin dia pergi dariku, aku sangat mencintainya,” lirih Daffin penuh penyesalan, bahkan di sudut matanya sudah berair karena merasa tidak sanggup jika harus berpisah dari istrinya.
...----------------...
Sedangkan Elvira yang saat ini dipenuhi rasa kekesalan yang teramat terhadap Daffin membuatnya harus berjalan dengan tergesa agar bisa secepatnya pergi dari tempat itu.
Sampai di depan sebuah jalan yang tampak lengang karena masih bukan jalan utama, Elvira melihat sebuah area penyeberangan yang tidak jauh darinya lalu memutuskan akan pergi ke seberang jalan agar Daffin tidak bisa segera menemukan keberadaannya.
“Elvira!” terdengar suara lantang Daffin kejauhan yang kini perlahan mendekatinya.
Elvira tidak menduga jika suaminya itu terus mengejarnya sampai ke jalanan seperti ini dengan meninggalkan mobilnya.
Tanpa memedulikan panggilan suaminya itu, Elvira memasuki area penyeberangan dengan berjalan cepat sembari terus siaga karena masih ada beberapa pengendara yang melintas di jalan tersebut.
Namun saat di tengah-tengah perjalanannya, ia tiba-tiba merasakan sakit pada bagian perutnya yang terasa cukup menyiksa namun ia harus terus melangkah, sedangkan Daffin masih terus berusaha mengejarnya.
“Elvira! Aku minta maaf!” teriak Daffin.
Pandangannya tiba-tiba menyadari ada sebuah mobil yang tengah melaju semakin mendekat ke arah Elvira dan tidak ada tanda-tanda mobil tersebut mau memperlambat jalannya saat ada seseorang yang sedang menyeberang.
“Elvira!” teriaknya.
__ADS_1
Bersambung ...