
Melihat Elvira yang kini sudah sadar sepenuhnya dan berusaha ingin bangkit, Sakti langsung menghampiri hendak membantunya. “Ibu Elvira lebih baik berbaring saja dulu. Saya akan segera memanggil dokter.”
“Tidak perlu,” cegah Elvira yang tetap berusaha untuk bangun walau tubuhnya masih terasa lemah.
Kembali sadarkan diri setelah beberapa jam matanya terpejam, hal yang pertama terlintas di pikirannya hanyalah tentang suaminya.
“Mas Daffin. Bagaimana keadaan mas Daffin?” tanya Elvira membuat Sakti langsung tertunduk.
“Ada apa Sakti? Mas Daffin baik-baik saja kan?”
“Pak Daffin ...” Sakti merasa sangat ragu untuk mengungkapkan fakta yang sebenarnya, namun bagaimanapun juga Elvira harus mengetahuinya.
“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Elvira lagi mulai cemas memperhatikan raut wajah Sakti yang tampak sedih.
“Bu Elvira, pak Daffin ... sudah tiada,” ungkap Sakti dengan berat memberitahunya.
“Apa maksud kamu?” Elvira merasa ada sesuatu yang membuatnya sangat sedih dari perkataan Sakti tadi.
“Setelah kecelakaan itu, nyawa pak Daffin tidak dapat terselamatkan.”
“Apa?!” sorot mata Elvira yang semula terbelalak karena mendengar kabar mengejutkan itu kini langsung berubah seiring keluarnya air mata dari sudut matanya yang terasa perih.
“Mas Daffin, tidak mungkin!”
Tangisannya langsung pecah begitu saja merasa tidak sanggup menghadapi kenyataan ini apalagi setelah menyadari Daffin yang sudah mengorbankan diri saat menyelamatkan nyawanya.
“Tidak mungkin! Aku harus menemuinya sekarang, aku harus melihatnya!”
Elvira berusaha turun dari ranjang rawatnya akan tetapi ia menyadari kondisinya yang masih belum terlalu bertenaga dan hal itu mengingatkannya pada satu hal lagi. Ia langsung membelai bagian perutnya.
“Anakku,” lirihnya setelah mengingat sebelumnya ia mengalami pendarahan saat di tempat kejadian kecelakaan itu.
“Bu Elvira, kuatkan diri ya. Janinnya juga tidak dapat terselamatkan.” Sakti berkata turut menyesalkan.
“Tidak mungkin! Tidak!” Elvira menggelengkan kepala menyangkal informasi tersebut. “Kenapa ini terjadi padaku?!”
“Bu, tenangkan diri Bu Elvira,” saran Sakti yang kini memegang kedua bahunya yang tampak rapuh itu.
Namun Elvira sepertinya belum bisa menghentikan tangisannya karena merasa saat ini dunianya runtuh seketika dan ia tidak berdaya menerima semua kepahitan ini.
“Mungkin saat ini pemakamannya sudah selesai,” ujar Sakti lagi memberi tahu.
Sedangkan Elvira masih menangis sesenggukan merutuki dirinya atas apa yang sudah ia lakukan kepada Daffin sebelum kejadian ini.
“Ini semua salahku.” Elvira bergumam di sela tangisannya.
Deraian air mata itu kini mengalir deras seiring rasa penyesalan terhadap keadaan yang menjalari seluruh sanubarinya hingga ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri dan bertingkah layaknya seorang yang sangat depresi.
Elvira menekuk diri sembari terus menutup kedua telinganya dengan mata terpejam betapa ia tidak kuat menerima kenyataan ini. Melihat itu Sakti langsung memegang kedua tangannya.
“Bu Elvira, lihat saya. Tenangkan diri, Bu Elvira tidak bisa menyalahkan diri Bu Elvira atas semua yang sudah terjadi. Bagaimanapun juga Bu Elvira harus menguatkan diri menghadapi semua ini, terima dan ikhlas kan meski ini terasa sangat berat. Bu Elvira harus percaya kalau Tuhan sudah punya rencana.”
“Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.”
“Tidak, jangan bicara seperti itu.”
Elvira masih terus melanjutkan tangisannya, Sakti terlihat membiarkan saja Elvira menumpahkan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya itu.
__ADS_1
Hingga puas beberapa saat merutuki diri, Elvira mulai terlihat tenang lalu menatap ke arah Sakti.“Sakti, tolong antar kan aku ke pemakaman mas Daffin.”
“Bagaimana dengan kondisi Bu Elvira sekarang? Yakin bisa pergi ke sana?”
“Iya, aku bisa.”
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Elvira dan Sakti sudah tiba di makam Daffin yang kini di sana hanya menyisakan seorang Nevan setelah yang lainnya sudah meninggalkan tempat ini.
Nevan yang masih duduk di samping pusara yang masih tertera bingkai foto Daffin di sana langsung berdiri menyadari kehadiran Elvira.
Sedangkan Elvira kembali menumpahkan air matanya karena tidak bisa lagi melihat suaminya yang jasadnya telah berada dalam tanah. Rasa takut akan kehilangan itu ternyata benar-benar menjelma menjadi nyata.
Bibirnya bergetar tak mampu berkata-kata seraya tetesan air mata yang seakan tidak berhenti mengalir. Kini hanya tertinggal kepiluan yang mendalam yang memaksanya untuk bertahan.
Elvira mau berteriak rasanya kenapa ia bisa kehilangan Daffin secepat ini, dalam hatinya ia tak hentinya memaki kenapa harus Daffin yang pergi dari hidupnya.
Nevan yang masih tanpa mengeluarkan satu kata pun hanya membiarkannya saja bersimpuh di depan makam Daffin.
Nevan lalu segera pergi tanpa berpamitan, sejak saat itu ia tidak terlihat pulang ke rumah dan tidak memberi kabar apapun.
...----------------...
Setelah pulang ke rumah dengan didampingi Sakti, Elvira yang masih rapuh disambut oleh Meisya yang melayangkan sebuah tamparan ke pipinya hingga membuat tubuhnya yang masih lemah terjatuh.
“Bu Elvira!” Sakti yang melihatnya langsung hendak menolong.
“Tidak perlu,” tahan Elvira yang saat ini tengah terduduk di hadapan kaki Meisya.
“Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini! Gara-gara kamu putraku harus kehilangan nyawanya yang berharga! Kamu akan menerima rasa kebencian dariku seumur hidup kamu bahkan dengan nyawa kamu sendiri saja tidak akan bisa menebusnya!” hardik Meisya dengan nada bentakan dan api amarah yang tengah membara sampai ke ubun-ubunnya.
“Aku pantas menerimanya, Ma,” sahut Elvira yang penuh penyesalan.
“Meisya!” panggil Dewanti dengan nada marah karena melihatnya memperlakukan Elvira seperti itu. “Apa apaan kamu?!”
Dewanti langsung menghampiri Elvira. “Sayang, ayo bangun,” pinta Dewanti kepadanya namun Elvira masih tidak ingin berdiri.
“Gara-gara dia, aku kehilangan putraku untuk selamanya!” sergah Meisya.
“Meisya, tenang kan diri kamu. Tidak ada yang harus disalahkan dalam kejadian ini,” bela Dewanti.
“Lalu apa? Mama mau mengatakan kalau semua ini takdir? Takdir ini tidak akan pernah terjadi kalau kita tidak membiarkan Daffin membawanya ke rumah ini!” setelah puas mengutarakan amarahnya.
Meisya yang sangat muak melihat menantunya itu segera pergi dengan perasaan penuh kebencian terhadapnya.
“Bi Mirah!” panggil Dewanti dengan berteriak mencari-cari keberadaan asisten rumah tangganya itu.
Tidak perlu waktu lama, wanita itu segera datang diikuti dua orang asisten lainnya.
“Bawa Elvira istirahat ke kamarnya dan rawat dia dengan baik, jangan biarkan dia keluar dari kamarnya sebelum kondisinya benar-benar pulih!” perintah Dewanti yang langsung dikerjakan oleh Mirah.
“Mari Nyonya, saya bantu berdiri,” ujar Mirah dengan ramah dan penuh kelembutan.
“Elvira, jangan pikirkan perkataan mama Meisya tadi. Sekarang kamu harus istirahat memulihkan diri kamu,” kata Dewanti kepada Elvira yang kini sudah berdiri.
“Iya Oma.”
__ADS_1
Dewanti merasa sangat sedih melihat keadaan Elvira, ia hanya memandangi perempuan itu kini berjalan perlahan menuju kamarnya dengan dibantu oleh Mirah.
“Oma, sebenarnya ada yang ingin saya beritahukan kepada Oma,” ujar Sakti tiba-tiba setelah memastikan Elvira sudah menjauh dari mereka.
“Ada apa Sakti?”
Sakti lalu mengajak Dewanti untuk berbicara di sebuah ruangan karena ia memberitahukan hal yang sangat penting. Dewanti lalu bersedia mendengarkan penuturan dari Sakti yang ternyata memberitahukan tentang permasalahan yang terjadi selama ini antara Daffin dan Elvira.
Mulai dari Elvira yang telah mengetahui perselingkuhan Daffin sejak ia di rumah sakit dulu, hingga kebohongan kedua Daffin soal Anya yang tengah mengandung anak dari Daffin di mana hal itu berujung pada gugatan cerai yang dilayangkan Elvira kepadanya, dan karena hal itu juga lah hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja sebelum akhirnya kecelakaan itu merenggut nyawa Daffin.
Mendengar semua ini jelas saja membuat Dewanti sangat syok dan tidak pernah menyangka dengan apa yang sudah terjadi pada hubungan kedua cucunya itu.
“Ya ampun, apa yang telah Daffin lakukan! Elvira, bagaimana bisa dia menutupi semuanya selama ini dariku? Bagaimana dia bisa menyimpan penderitaannya sendiri seperti itu? Kini dia bahkan harus kehilangan calon anaknya berbarengan dengan kehilangan suaminya.”
Dewanti tampak semakin bersedih setelah mengetahui kenyataan apa lagi yang kali ini ia terima.
“Maaf Oma, saya harus mengatakan semua ini karena saya rasa kita tidak seharusnya menimpakan semua kesalahan kepada Bu Elvira atas semua yang sudah terjadi. Kita juga tidak bisa membenci pak Daffin karena perbuatannya, yang pastinya kita tahu meski pak Daffin pernah melakukan kesalahan pada Bu Elvira, tapi dia sejatinya sangat mencintai Bu Elvira bahkan sampai akhir hayatnya.”
“Iya, kamu benar. Saya juga yakin jika Elvira sebenarnya juga sangat mencintai Daffin, namun perempuan manapun tidak akan bisa terima jika ia merasa dirinya dipermainkan seperti itu.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Berhari hari lamanya setelah kepergian Daffin membuat suasana di rumah nampaknya penuh berkabung dan hanya terdapat keheningan.
Dewanti lebih banyak berdiam diri dengan kesedihan apalagi setelah ia mengetahui kebenaran yang telah disampaikan oleh Sakti, sedangkan Meisya hampir setiap hari menangis sembari memegangi foto Daffin menyesalkan semua yang terjadi.
Sementara Elvira tidak tahu harus bagaimana, ia rasanya sudah kehilangan semangat hidup karena harus menelan pil pahit dalam kehidupannya.
Kehilangan calon anak dan kepergian suaminya yang tiba-tiba, seakan mampu membawa separuh napasnya turut pergi hingga hari-harinya terasa hanya diselimuti oleh awan tebal kesedihan yang membuatnya belum bisa bangkit dari keterpurukan.
Di sisi lain, Nevan berada di sebuah balkon apartemennya sambil memandang cerahnya sang surya yang sedang bangkit dari fajar hari ini, entah sudah berapa hari lamanya ia menyendiri dan merenung di tempat ini. Ia tak percaya ia takkan lagi bisa melihat kakaknya selamanya, kakak yang selama ini selalu menjadi panutannya selain papanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat terpisah, Anya yang juga merasa sangat kehilangan akan kepergian Daffin harus menjalani hari-harinya yang terasa berat. Ia menitikkan air mata setiap kali memandang foto Daffin.
Pupus sudah harapannya untuk mendapatkan Daffin kembali. Namun yang lebih menyakitkannya lagi adalah saat ia menundukkan pandangannya dan melihat lagi ke arah perutnya yang saat ini ia usap dengan penuh kasih sayang, ada seorang calon bayi mereka di dalam sana yang kini harus kehilangan sosok ayahnya.
“Aarrggh!!” Anya menjerit dengan kesal mengeluarkan segala penyesalannya.
Kini ia benar-benar merasa hancur dan tidak tahu harus bagaimana menjalani hidupnya. Sejak mengetahui kepergian Daffin untuk selamanya, ia pun sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari Arkatama grup karena saking tidak sanggupnya menghadapi kenyataan harapannya yang pupus.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Meisya yang saat itu sudah mulai bangkit dari keterpurukannya, ia seperti tersadar akan sesuatu.
Ia meletakkan kembali bingkai foto Daffin yang sedari tadi ia pegang dan ia pandangi dengan penuh rasa sedih akan kehilangan.
Meisya mengusap sisa bulir air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya, lalu segera keluar dari kamarnya.
Tidak perlu waktu lama, ia sudah menemukan keberadaan Elvira yang tengah duduk sendiri di taman tepi kolam renang. Masih dengan hati yang membara, Meisya segera melangkah dengan cepat untuk menghampirinya.
Bersambung ...
__ADS_1