
Di sebuah ruang rawat rumah sakit.
Rani senyum semringah saat melihat suaminya sudah kembali datang setelah tadi izin pulang ke rumah sebentar mengambil beberapa keperluan karena Rani yang masih belum boleh pulang dari tempat ini.
“Mas,” sapa Rani dengan lembut penuh antusias karena kehadiran orang yang disayanginya itu sangat membantu membuatnya lebih nyaman di saat-saat seperti ini.
“Bagaimana keadaan kamu, Kirani?” tanya Arga.
Rani lagi-lagi tersenyum mendengar Arga menyebut nama lengkapnya karena selama ini hanya Arga yang suka memanggilnya namanya tersebut. Pria itu segera menempelkan telapak tangannya pada dahi istrinya.
“Syukur lah, panas badan kamu sudah berkurang.”
“Iya, Mas. Oh ya, Mas bawa 'kan yang aku minta tadi?” tanya Rani.
Arga lalu terlihat mengambil sesuatu dari dalam tas kemudian menyerahkan sebuah bingkai foto berukuran kecil kepada Rani.
“Ini kan?”
“Iya Mas.”
Rani terlihat sangat senang saat melihat kembali potret dalam bingkai foto tersebut yang menunjukkan dua orang perempuan muda dengan wajah yang sama bak pinang dibelah dua, dimana yang satu ada sosok dirinya dan satunya lagi adalah kembarannya.
Meski foto tersebut telah di ambil sangat lama yakni pada saat masa mudanya, namun kecantikan yang dimiliki Rani seakan tidak ada ubahnya melainkan hanya bertambah beberapa garis dan kontur wajah yang menandakan pertambahan usianya hingga saat ini.
“Mas, hari ini adalah peringatan hari kepergian Kirana. Sampai saat ini aku masih belum bisa melupakannya, karena waktu itu aku tidak bisa melihatnya untuk yang terakhir kalinya,” ungkap Rani mengenang kembali saat-saat sedih yang sudah bertahun-tahun silam.
Saat itu, Rani yang masih muda dan bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja di sebuah pabrik yang mengharuskannya hidup terpisah beberapa tahun dengan saudara kembarnya yang saat itu memilih bekerja di dalam negeri.
Setelah kepergian orang tua mereka dan mengharuskan hidup tinggal berdua dalam keadaan sulit dan terdesak ekonomi, mereka pun memutuskan mencari jalan masing-masing untuk bekerja dan melanjutkan hidup.
Namun saat mendengar berita tentang kepergian Kirana yang mendadak membuat Rani hanya bisa menelan pil pahit kehilangan karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk pulang ke dalam negeri.
Bahkan hingga saat ini Rani tidak pernah tahu dimana makam kakaknya tersebut karena beberapa bulan setelah kepergian Kirana, Rani terputus kontak dengan seorang pria yang saat itu diketahuinya adalah suami dari Kirana dan satu-satunya orang terdekat Kirana yang juga mengurus pemakamannya.
Saat sudah memutuskan kembali ke dalam negeri pun, Rani tidak dapat menemukan informasi apapun mengenai pria tersebut. Hingga ia memutuskan untuk tidak lagi kembali ke tempat kerjanya, melainkan akan tetap tinggal di rumah peninggalan orang tua mereka yang saat ini sudah ia bangun menjadi rumah bagi anak-anak asuhnya.
“Kirani sayang.” Arga mengusap air matanya yang saat ini telah berjatuhan di pipi.
“Aku tidak ingin melupakannya sampai kapan pun, Mas.”
“Iya, iya. Mas tahu.” Arga lalu memeluknya sembari mengusap kepalanya dengan penuh kasih sayang.
“Tapi kenapa ya, akhir-akhir ini aku selalu teringat dengannya saat aku melihat seseorang?” Rani melempar pertanyaan yang ia dan suaminya pun tidak tahu pasti jawabannya.
...ওওও...
Hari berganti malam, Dewanti dan Elvira baru saja sampai di restoran yang sudah disiapkan oleh Sakti untuk acara mereka.
Kehadiran mereka disambut oleh Nevan dan Sakti yang ternyata sudah lebih dahulu datang di tempat yang khusus didekorasi sedemikian rupa indahnya dengan beberapa pajangan bunga-bunga serta lampu-lampu kristal yang menambah kesan mewah dan spesial.
“Kamu suka tempatnya, sayang?” tanya Dewanti.
“Suka banget, Oma. Ini bagus banget,” ujar Elvira yang malam ini tampil cantik dengan memakai dress hitam yang membuat aura kecantikannya semakin terpancar.
Hal itu rupanya yang saat ini dirasakan oleh Nevan ketika terpesona memandanginya hampir tanpa berkedip, ditambah lagi saat Elvira mengalihkan anak rambutnya ke belakang telinga sehingga terlihat lah anting berlian menjuntai yang dulu pernah dibelikan oleh Nevan untuknya.
__ADS_1
“Sakti yang membantu menyiapkan semuanya,” ungkap Dewanti.
“Oh begitu, terima kasih ya Sakti,” ucap Elvira.
“Sama-sama, Bu.”
“Ayo, kita duduk. Sakti, kamu ikut juga,” ajak Dewanti.
“Duduk lah di sini.” Nevan bersikap manis sembari menyiapkan sebuah kursi di sampingnya untuk Elvira.
“Sering-sering lah bersikap seperti ini terhadapku. Kamu biasanya selalu menyebalkan.”
“Kapan aku menyebalkan? Kamu saja yang terlalu terbawa perasaan.”
“Kamu mau mulai lagi?” Elvira menajamkan pandangannya ke arahnya.
“Kamu yang memulainya duluan,” balas Nevan mendebatnya.
“Aku?”
“Sudah, sudah. Kalian itu kakak adik, yang akur dong,” sela Dewanti yang gemas sendiri melihat keduanya.
“Iya Oma.” Elvira segera duduk di kursinya.
Tiba-tiba seorang pelayan restoran membukakan pintu dan nampak lah kehadiran Meisya yang turut datang bersama Anya.
“Datang juga kamu,” sapa Dewanti tapi ia merasa tidak senang karena kehadiran Anya. “Meisya, Mama tidak meminta kamu mengajaknya. Ini acara khusus keluarga kita,” ujar Dewanti lagi.
“Ma, lagi pula ini kan hanya makan malam biasa, tidak apa-apa dong kalau aku mengajaknya. Anggap saja dia juga bagian keluarga kita.” Meisya bersuara terdengar melawan Dewanti.
“Ma, mereka tidak akan keberatan. Benar kan Elvira?” tanya Meisya mengarahkan pandangannya kepada Elvira yang saat ini tengah duduk di samping Nevan.
“Iya, Ma. Tidak apa-apa,” sahut Elvira.
“Ayo duduk,” ajak Meisya kepada Anya.
“Selamat ulang tahun ya, Elvira,” ucap Anya yang tersenyum kepadanya. Elvira yang malas menanggapi hanya mengiyakan saja.
“Jangan membuat kekacauan! Mama tidak mau acara malam ini rusak hanya karena kehadiran dia!” Dewanti memperingatkan Meisya dengan tegas sembari melayangkan pandangan tidak suka kepada Anya yang hanya bisa bermuka tebal di depan semua orang saat ini.
“Tunggu saja saatnya, acara malam ini akan berantakan karena ulah Elvira sendiri,” gumam Anya dalam hati yang saat ini semakin dendam karena tidak bisa mendapat perlakuan oleh Dewanti seperti yang Elvira dapatkan.
Setelahnya acara makan malam pun berlangsung dengan berkurangnya kehangatan kebersamaan karena suasana hati Dewanti yang benar-benar telah rusak oleh kehadiran Anya di tengah keluarga mereka.
Jika bukan karena Elvira yang memilih mengizinkannya, Dewanti sudah bersumpah akan memaksa perempuan itu keluar dari ruangan ini.
Seberapa pun besarnya amarah Dewanti yang dengan terang-terangan menunjukkan sikap tidak suka terhadap Anya, selalu saja Elvira yang bisa dengan mudah meredakannya.
Sampai Dewanti heran sendiri tidak mengerti bagaimana Elvira bisa mengatur perasaannya saat menghadapi perempuan seperti Anya yang selama ini jelas-jelas telah mengusik ketentraman hidupnya.
Dalam diamnya Dewanti masih memandangi Elvira yang menurutnya sikapnya tidak pernah berubah sedikit pun sejak pertama kali mengenalnya dulu.
Dewanti hanya merasa heran bagaimana bisa Meisya selalu mengutarakan ujaran kebencian terhadap Elvira selama ini dan bahkan menuduhnya macam-macam, belum lagi kebencian Meisya semakin menjadi setelah membawa Anya ke rumah.
Namun yang membuat Dewanti tambah menyayangi Elvira adalah karena Elvira pandai menjaga sikapnya meski Dewanti tahu dalam hati Elvira pasti turut menyimpan kemarahan dan kebencian yang mendalam terhadap Anya.
__ADS_1
“Mm, maaf semuanya. Saya keluar sebentar ya.” Anya tiba-tiba bersuara dan meminta izin setelah mendapat sebuah pesan dari ponselnya, lalu segera meninggalkan ruangan.
“Elvira, Sayang. Kamu yakin tidak mau hadiah apa-apa dari Oma?” tanya Dewanti.
“Tidak perlu Oma, semua pemberian dari Oma sudah lebih dari cukup.”
“Kamu yakin? Bagaimana kalau liburan ke Eropa? Seminggu atau dua minggu? Oma akan siapkan. Kamu bisa menghabiskan banyak waktu di sana untuk bersantai dan jalan-jalan.” Dewanti masih belum menyerah menawarinya.
“Wah, aku mau Oma.” Nevan langsung ikut menyahut dengan antusias.
“Bukan untuk kamu, kamu tidak boleh pergi berlibur kalau belum menyelesaikan proyek terbaru perusahaan,” sanggah Dewanti.
“Oma tidak adil deh,” gerutu Nevan tidak terima.
“Aku tidak ingin liburan kemana-mana, Oma. Masih ada hal yang harus aku selesaikan disini,” sahut Elvira terdengar ambigu.
...ওওও...
Kehangatan obrolan singkat itu tiba-tiba saja terpecah setelah Anya kembali masuk ke dalam ruangan, akan tetapi ia datang dengan membawa seseorang.
“Atasan saya ada di sini, Bu,” ujar Anya kepada Widya yang saat ini berjalan bersamanya.
Elvira yang bertatap mata dengan Widya langsung tertegun tak kuasa menahan rasa terkejutnya, hingga ia tidak sadar menjatuhkan sebuah garpu yang ada di tangannya. Hal itu dilihat oleh Nevan dan Sakti yang juga penuh tanya saat ini.
Sedangkan perasaan yang sama turut ditunjukkan oleh Widya yang sama sekali tidak tahu menahu jika ia akan bertemu Elvira disini.
“Ada apa ini? Maaf, siapa ya?” tanya Dewanti kepada Widya, karena ia merasa tidak memiliki janji temu dengan siapa pun apalagi ini acara khusus untuk keluarganya.
Sementara itu Anya yang telah berhasil membawa Widya dan mempertemukannya dengan Elvira merasa puas, meski saat ini ia mendapati padangan penuh tanya dari Widya.
Beberapa jam sebelumnya, saat Widya baru saja melepas kepergian Asty bersama Raldy yang berangkat menuju bandara hendak bertolak ke kota tempat orang tua Raldy tinggal.
Tidak lama kemudian, Anya datang menemuinya dan berdalih jika waktu itu ia membelikan kue di toko ini untuk diberikan kepada atasannya yang ternyata sangat menyukai.
Anya juga berbohong mengenai atasannya yang ingin bertemu langsung dengan Widya dan kemungkinan akan memesan lebih banyak lagi kue untuk sebuah acara. Widya yang tak menaruh curiga sedikit pun akhirnya setuju saja.
“Ibu.” Sebuah panggilan itu terucap dari mulut Elvira di tengah situasi saling memandang heran seperti ini.
“Apa? Kamu mengenalnya?” tanya Meisya memecah suasana.
Ia lalu menoleh dan memandangi Widya yang berpakaian sederhana dan penampilannya sangat jauh berbeda dari mereka yang memakai gaun indah serta perhiasan mewah. Perbedaan yang sungguh sukar untuk dijangkau oleh orang seperti Widya.
Masih enggan menjawab pertanyaan mama mertuanya, Elvira kini sudah melayangkan pandangan ke arah Anya yang balik menatapnya penuh kemenangan.
“Ya ampun, Bu Widya. Bukannya foto-foto yang ada di rumah Ibu waktu itu ada potret seseorang yang sepertinya mirip dengan Elvira ya? Apa jangan-jangan Elvira adalah anak Ibu? ” tanya Anya tanpa beban pura-pura tidak tahu menahu.
“Sayang, kamu mengenalnya?” tanya Dewanti kepada Elvira.
“Astaga! Apa dia Ibu kamu?” Anya turut menimpali pertanyaan terhadapnya, tentu saja dengan maksud terus memojokkannya.
“Dia ... bukan ibu aku,” jawab Elvira tiba-tiba.
Bersambung ...
__ADS_1