
Melihat Elvira sudah berlari menjauhinya, detik itu juga Olla langsung mengejarnya tanpa memedulikan lagi atasannya yang saat ini terlihat linglung melihat tingkah mereka.
“Elvira! Aku bersumpah akan menjambak rambut kamu ya!!” teriak Olla di tengah masa pengejarannya melihat Elvira yang kini terus berlari menjauh darinya.
“Ampun!!!” balas Elvira berteriak ke arahnya.
Namun langkahnya masih belum juga mau berhenti karena ia sudah tahu jika Olla berhasil menangkapnya kali ini, Olla pasti tidak akan mengampuninya karena Elvira yang selama ini ‘kabur' menghilang tiba-tiba darinya setelah memutuskan untuk hidup bersama Daffin dan sejak saat itu kehidupan mereka terpisah.
“Sini kamu! Aku tidak akan mengampuni kamu!” teriak Olla dengan matanya yang melotot seperti mengejar seseorang yang sangat ingin ia tangkap.
Olla masih belum menyerah untuk segera meraihnya meski kegaduhan yang ditimbulkan oleh keduanya kini terlihat dan menarik perhatian oleh beberapa karyawan yang kebetulan sedang melintas di sekitar sana.
Sementara Elvira terus berpikir sebisa mungkin untuk menghindarinya menyadari betapa kesalahannya telah meninggalkan temannya itu dulu.
Olla adalah temannya yang paling dekat saat dulu ia masih sama-sama bekerja di sebuah bank swasta.
Sampai pada akhirnya Elvira kini merasa dadanya sudah mulai sesak karena terus berlari, ia tidak sengaja menabrak tubuh Sakti yang kebetulan hendak menyambut tamunya hari ini hingga membuat Elvira tertahan oleh tubuhnya.
“Sakti tolong aku! Aku dikejar seseorang!” pinta Elvira yang terdesak penuh ketakutan.
Kini Elvira memilih bersembunyi di balik badan Sakti sambil mengatur napas karena tadi berlari cukup jauh, namun detik berikutnya ia sudah menyadari saat ini sosok perempuan yang sedang mengejarnya sudah mendekat ke arah mereka dan tiba-tiba menghentikan langkahnya saat bertatap muka dengan Sakti.
Olla lagi-lagi sukses dibikin terkejut karena bertemu dengan Sakti, ia sampai harus membuang muka beberapa detik mengucek matanya memastikan jika ia sedang tidak berhalusinasi. Bagaimana bisa ia bertemu dengan Sakti lagi di tempat ini.
“Dia orang yang mengejar Bu Elvira?” tanya Sakti terheran melihat tingkah Elvira.
Sakti turut terheran suasana macam apa ini yang mereka berdua ciptakan.
Sepertinya Olla yang masih menyimpan penuh rasa kemarahan bercampur rindu itu langsung menambah langkahnya untuk maju mendekati teman lamanya itu.
“Diam di situ! Aku tahu kalau kamu mendekat, kamu akan menjambakku kan?!” tuduh Elvira.
“Menurut kamu apa yang akan ku lakukan jika bertemu lagi dengan orang yang pernah kabur dariku di saat aku masih sayang-sayangnya?!”
Olla melontar pertanyaan balik sembari menyimpangkan tangannya di dada membuat Sakti mendelik heran mendengar penegasannya, ia merasa seperti tertampar dengan perkataan Olla yang saat ini bahkan terlihat enggan untuk menatapnya.
Elvira terharu melihat sikap Olla, ia senang karena reaksi Olla seperti ini menandakan jika Olla masih menganggapnya sebagai teman dekat karena Olla orangnya memang lebih ekspresif dalam mengungkapkan perasaan entah itu marah atau senang.
“Aku benar-benar tidak akan mengampuni kamu Elvira!” celetuknya yang saat ini tiba-tiba penuh dengan emosi bercampur rasa terharu karena mereka bertemu lagi dan menyiratkan kerinduan yang mendalam di antara keduanya.
“Ampuni aku.”
Elvira memohon dengan memasang wajah memelas dan polos tanpa dosa membuat Olla melengos kesal ke arahnya.
“Ada apa ini?” tanya Nevan yang entah datang darimana tiba-tiba kini sudah berada di sana bersama mereka.
Berikutnya terdengar bunyi hentakan sepatu dari seseorang yang tengah berlari terengah-engah seperti baru menyusul mereka.
__ADS_1
“Pak Direktur!” sapa Olla yang baru teringat akan atasannya tersebut yang tadi ia tinggalkan di lift saat mengejar Elvira.
Situasi saat ini benar-benar membuat Nevan tidak mengerti apalagi saat ini sudah ada beberapa orang karyawan yang menyaksikan langsung apa yang baru saja terjadi.
Nevan lalu melayangkan pandangannya kepada beberapa orang karyawan mengisyaratkan menyuruh mereka untuk segera meninggalkan lokasi dan melupakan kejadian tersebut.
Sementara tatapan tajamnya yang penuh wibawa tersebut kini membuat Olla gugup bercampur rasa takut karena ia baru saja membuat keributan di kantor Nevan.
...----------------...
Beberapa saat kemudian, Olla baru keluar dari sebuah ruangan bersama dengan pria paruh baya yang tadi datang bersamanya.
Olla yang kini merasa sangat sangat bersalah meskipun tadi ia sudah menyampaikan permohonan maafnya secara langsung di depan Nevan tak lantas bisa membuatnya lebih tenang.
“Kamu ya Olla! Beruntung pak Nevan masih mau menandatangani kontrak kerjasama dengan kita, kalau tidak, jabatan kamu akan saya pertaruhkan!” celetuk pria tersebut.
“Yah jangan dong, Pak. Saya kan sudah minta maaf.”
“Perbuatan kamu itu sungguh keterlaluan! Kamu malah membuat keributan di kantor ini! Memalukan! Saya tahu kamu memang dulunya berteman dengan Bu Elvira dan saya juga masih mengingat jika dia dulu adalah bawahan saya.Tapi kan sekarang keadaannya sudah berbeda, dia sekarang adalah anggota keluarga dari Arkatama grup dan kita harus menghormatinya!”
“Iya Pak, iya, saya mengaku salah. Habisnya saya terbawa emosi karena saya sangat merindukan Elvira, Pak.”
“Jaga mulut kamu! Beraninya kamu menyebut namanya seperti itu, panggil dia dengan sebutan Bu Elvira Arkatama! Saya tidak mau tahu, pokoknya kamu harus memperbaiki kesalahan kamu dan hubungan kamu dengannya. Saya akan ke kantor lebih dulu, ingat, kamu tidak boleh pulang sebelum permasalahan ini beres, mengerti?”
“Iya Pak, saya mengerti,” jawab Olla dengan polos sambil menundukkan pandangannya.
Kini ia hanya perlu sedikit lebih menebalkan muka saat bertemu Nevan maupun Sakti.
“Permisi,” sapa Sakti tiba-tiba membuatnya mengangkat wajah menengoknya.
Wajahnya yang jelas memerah terlihat masih menyimpan rasa malu di depan Sakti.
“Bu Elvira ingin menemui kamu, dia sudah menunggu di sebuah ruangan,” ujar Sakti.
Lalu ia mengisyaratkan kepada seorang sekretaris perempuan untuk mengantarkan Olla menuju ruangan yang dimaksud dan Sakti segera beranjak pergi menuju pintu ruangan Nevan.
...----------------...
Sakti yang tadi masih memasang wajah penuh wibawa saat berada di depan Olla, saat ini sudah masuk ke ruangan Nevan untuk menemui Nevan yang saat ini masih terlihat duduk bersantai di sofa ruangannya.
Pria itu rupanya masih mencerna apa yang telah terjadi di kantornya hari ini.
Detik berikutnya ia mendapati wajah Sakti yang kini langsung berubah berbanding terbalik menjadi ciut dan penuh kecemasan.
“Ada apa?” Nevan tampak penasaran.
Sakti langsung menekuk lutut dan bersimpuh sambil memegangi lutut Nevan seketika membuat Nevan bereaksi melakukan penolakan.
__ADS_1
“Sakti, apa-apan kamu!” celetuk Nevan yang merasa aneh dengan tingkah Sakti yang saat ini mengeluh di hadapannya dan hal itu jelas saja membuat Nevan sangat risih.
“Habis lah aku!” ucap Sakti penuh sesal.
“Memangnya ada apa? Katakan! Apa ada masalah? Cepat berdiri lah! Orang-orang akan mengatakan apa jika melihat kita seperti ini!”
Nevan masih berusaha menyuruh Sakti menjauhkan tangannya darinya, sementara Sakti masih berusaha meraih tangan Nevan untuk mencari kekuatan moril.
Nevan semakin merasa risih karena kini Sakti berlagak seperti sedang merengek meratapi kesedihannya.
“Cepat katakan ada apa?!” tanya Nevan lagi yang kesabarannya saat ini sudah setipis tisu.
“Perempuan itu! Dia ternyata teman dekat Bu Elvira!” ungkap Sakti penuh sesal.
“Hah? Maksudnya? Teman dekat?”
“Iya, jadi, mereka dulu berteman dan sangat dekat waktu Bu Elvira masih bekerja sebelum menikah dengan Daffin.”
Sakti tiba-tiba langsung menghentakkan telapak tangannya ke atas meja di depan Nevan membuat Nevan tersentak karena kaget.
“Habis lah aku! Bu Elvira pasti tidak akan pernah melepaskanku jika dia tahu apa yang sudah ku perbuat terhadap temannya itu!”
“Oh, jadi maksud kamu. Perempuan yang tadi membuat onar di kantor ini adalah mantan kamu itu? Yang menampar kamu waktu itu? Pantas saja wajahnya terasa tidak asing. Jadi dia temannya kak Elvira? Tidak heran tadi dia berani memperlakukannya seperti itu.”
Sakti mengangguk mengiyakan, ia masih tidak menyangka mengapa di kota yang seluas ini nasib malah mempertemukannya lagi dengan masa lalunya dan parahnya lagi Olla ternyata adalah teman dekat Elvira, orang yang sangat dihormati oleh Sakti.
Sakti jadinya tidak sanggup membayangkan bagaimana marahnya Elvira saat Olla menceritakan tentang masalah mereka selama ini.
“Nevan, boleh kah aku bersembunyi beberapa waktu dulu? Aku sangat takut bertemu dengan Bu Elvira. Dia pasti akan sangat jelas membela temannya itu! Kamu sih waktu itu mengungkit tentang Olla yang menamparku.”
“Loh, kok jadi menyalahkan ku? Ku ceritakan atau tidak, toh kalian tetap akan bertemu kan? Hadapi saja,” saran Nevan.
“Tidak bisa! Bagaimana jika dia tidak akan memaafkanku?”
“Ya, terus lah minta maaf padanya! Kamu selama ini sangat pintar mengurus pekerjaan di perusahaan sebesar ini, masa mengurus masalah perempuan saja tidak bisa!” tukas Nevan.
“Sehebat apapun seorang pria, dia pasti akan takluk juga di depan perempuan yang dicintainya.”
“Memangnya kamu masih mencintainya?” tanya Nevan yang penasaran.
“Aku baru memikirkannya akhir-akhir ini setelah bertemu dengannya lagi, aku baru sadar kalau selama ini sepertinya aku masih mencintainya. Aku baru menyadari alasannya selama bertahun-tahun ini aku menutup hatiku untuk perempuan lain.”
...----------------...
Sementara itu di sebuah ruangan tempat rapat yang sedang kosong, Elvira masih saja memandang dalam diam ke arah Olla yang saat ini duduk tersipu di sebuah kursi.
Tampaknya Olla yang merasa telah keterlaluan terhadapnya masih enggan untuk mendongak menatap ke arah Elvira yang saat ini penuh wibawa.
__ADS_1
Bersambung ...