Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 79-- Kafe Tepi Danau


__ADS_3

Elvira yang saat itu masih duduk manis di taksi baru meletakkan kembali ponselnya setelah sebelumnya menerima sebuah panggilan telepon.


Baru saja Gio tiba-tiba menelponnya meminta untuk bertemu sekarang juga dan Elvira hanya memberitahukan lokasi tempat yang akan ia datangi setelah ini karena sudah janjian dengan Asty, meski ia sendiri belum mengetahui tujuan Gio ingin menemuinya lagi hari ini.


...☘️☘️☘️...


Beberapa saat kemudian, Elvira sudah tiba lebih dulu karena lokasinya yang sebelumnya lebih dekat dengan tempat ini. Elvira merasa senang merasakan terpaan angin alam yang berhembus di tempat ini sambil menunggu kedatangan Asty yang masih dalam perjalanan. Juga sembari menunggu kedatangan Gio.


Ia berada di sebuah kafe tepi danau berkonsep wisata alam yang terletak tidak jauh dari pusat kota.


Tempatnya yang luas dan terbuka dilengkapi banyak susunan meja kursi minimalis dengan pemandangan langsung air danau yang tenang, mampu memberikan rasa ketenangan tersendiri bagi setiap orang yang berkunjung ke tempat ini.


Apalagi di saat ini kebetulan tempat ini masih dalam keadaan tidak terlalu ramai pengunjung, sehingga Elvira dapat menikmati waktunya dengan tenang.


Dulu, Asty terhitung sering mengajak Elvira pergi ke tempat ini sekedar untuk mengobrol dan bersantai sembari menikmati pemandangan menenangkan hampir di sekelilingnya.


Berada disini lagi rasanya mampu membangkitkan kembali kenangannya dulu saat sering menghabiskan waktu bersama Asty. Apalagi biasanya setelah bertengkar dengan Widya, Asty suka membawanya kesini untuk menghiburnya.


Tidak lama waktu berlalu, kedatangan Gio memecah suasana keheningan Elvira. Gio terdengar berdebat dengan Anya sambil menarik tangan adiknya itu yang terus berontak memberi perlawanan.


Hal itu mengejutkan Elvira sehingga membuatnya langsung berdiri dari duduknya menyadari kehadiran dua orang kakak beradik itu. Ia tidak menduga jika Gio akan datang bersama dengan Anya.


“Lepaskan aku, Kak!” berontak Anya yang terdengar terus mengulangi perkataannya saat mengetahui Gio akan mempertemukannya dengan Elvira di tempat ini.


Tanpa berkata apa-apa dan memedulikan pekikan suara adiknya, Gio langsung menekan pundaknya dengan kasar sehingga kini Anya seketika berada dalam posisi bersimpuh di hadapan Elvira. “Minta maaf padanya!” titah Gio.


Masih dalam penuh dengan amarahnya, Anya merasakan sakit pada lututnya karena mendapat dorongan dari Gio sehingga saat ini terasa sulit untuknya hendak bangun. Namun saat Anya masih berusaha untuk bangkit, Gio terus menekan pundaknya hingga ia tidak bisa berganti posisi.


Kebencian Anya jelas semakin membesar setelah diperlakukan dan dipermalukan seperti ini, ia berdecih kesal karena dipaksa Gio untuk bersimpuh di depan kaki Elvira.


Sedangkan Elvira masih tidak menduga akan hal ini, membuatnya hanya bisa diam sekaligus terkejut.


“Apa kamu tidak mendengar? Kakak bilang minta maaf dan pengampunan padanya setelah apa sudah kamu lakukan terhadapnya!” titah Gio dengan nada bentakan.


Ia memang benar sangat menyayangi adiknya lebih dari apa pun, tapi Gio tidak akan tinggal diam jika Anya melakukan kesalahan. Baginya, setiap kesalahan yang dilakukan harus ada konsekuensinya.

__ADS_1


“Apa? Minta maaf? Aku tidak pernah merasa punya salah terhadapnya!” bantah Anya yang kini sudah di puncak kemarahan.


“Kamu bilang tidak punya salah? Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan?”


“Lalu apa, Kak? Aku memang menjalin hubungan dengan suaminya atas dasar suka sama suka, karena apa? Karena suaminya tidak pernah bahagia bersama istrinya sendiri! Sekarang, aku memang hamil anak dari suaminya. Dan aku tinggal di keluarganya hanya untuk meminta hak anakku yang ada pada Elvira! Bisa Kakak jelaskan di mana letak kesalahanku?!”


Anya menyeringai tanpa merasa salah sedikit pun sambil memandang  ke arah Elvira dengan sinis.


“Anya, kamu!” Gio mengangkat tangannya bermaksud hendak melayangkan tamparan, akan tetapi langsung dicegah Elvira yang dengan sigap menangkap lengannya.


“Gio! Dia sedang mengandung!” tahan Elvira.


Gio segera menurunkan tangannya lalu bertanya, “Kenapa kamu menahan ku?"


“Aku melakukan ini untuk anak yang dikandungnya,” jawab Elvira.


Detik berikutnya, mereka merasa ada yang baru datang mendekat. Elvira dan Gio kompak menoleh.


“Apa semua ini Elvira?” Asty yang tertegun menanyainya atas semua yang telah didengarnya.


“Kak Asty?” Elvira segera bungkam tidak tahu harus bagaimana menjelaskannya.


...☘️☘️☘️...


“Anya!” panggil Gio setengah berteriak namun tak digubrisnya.


Menyaksikan sendiri bagaimana perubahan sikap adiknya yang berbanding terbalik dari yang biasa ia kenal, membuat hati Gio merasa sangat hancur dan ia tidak pernah menyangka dengan yang terjadi pada diri Anya saat ini. Gio pun turut bergegas untuk menyusul Anya sambil terus menyerukan namanya.


“Elvira, apa yang barusan Kakak dengar tadi?” tanya Asty yang kini menatapnya nanar.


Mendengar langsung pengakuan dari orang yang telah menyakiti perasaan adik yang disayanginya membuat perasaan Asty seakan ikut tercabik.


Entah bagaimana selama ini Elvira bisa menyembunyikan semua rahasia ini darinya. Entah bagaimana sejauh ini Elvira bertahan sendiri dengan penderitaan batinnya, Asty tak kuasa menahan rasa sakit hatinya serta air matanya untuk Elvira.


Kini ia hanya bisa memeluk Elvira dengan penuh penyesalan bagaimana ia bisa membiarkan adiknya mengalami semua ini sendirian.

__ADS_1


Sedangkan Elvira yang kini berada di pelukan Asty hanya bisa terdiam sambil terus menguatkan hati, ia tidak bisa mengelak atau menyembunyikannya lagi.


“Elvira, kenapa kamu tidak pernah cerita bahwa kamu harus mengalami hal yang menyakitkan ini?” Asty melemparinya pertanyaan lagi seraya melepas pelukannya.


Ia lalu membelai pipi lembut Elvira dan mengusap air mata yang sudah jatuh di area tersebut.


Elvira lalu segera duduk kembali ke kursinya dan diiringi Asty yang turut duduk di sampingnya. Melihat wajah Elvira tampak murung, Asty merasa tidak ingin lagi menyerangnya dengan pertanyaan.


Ia memberikan waktu sejenak untuk Elvira menenangkan diri, sambil kini tangan Asty tidak berhenti untuk membelai kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang.


...☘️☘️☘️...


Sementara itu Gio masih terus mengejar Anya yang berjalan sangat cepat hingga saat ini ia sudah tiba di pinggir jalan mencari-cari barangkali ada taksi yang akan melintas.


“Anya!” tahan Gio menarik tangannya namun segera ditepis Anya.


“Kamu kenapa sih jadi berubah seperti ini? Kamu sadar apa yang telah kamu lakukan?” tanya Gio.


“Oke, sekarang Kakak sudah tahu semuanya. Lalu mau apa lagi? Semuanya sudah terjadi, Kakak tidak bisa terus menyalahkan dan memojokkan ku seperti tadi. Biarkan lah sekarang aku mengurus hidupku sendiri. Aku hanya ingin hak anakku, Kak.”


“Anya, bagaimana Kakak akan menjelaskan semua ini pada ibu dan bapak? Kamu tidak sayang apa dengan mereka? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana hancurnya perasaan mereka?”


“Justru karena aku sangat menyayangi mereka, makanya aku tidak akan memberitahu hal ini kepada mereka. Oke, aku mengaku salah karena melakukan perbuatan terlarang itu, lalu mau bagaimana lagi? Pria yang harusnya bertanggung jawab atas kehamilanku sudah meninggal dunia, Kak. Aku tidak mau anak ini tidak memiliki masa depan nantinya. Aku sudah tidak bisa mendapatkan ayah dari anakku, tapi aku akan memperjuangkan hak anakku,” tutur Anya kali ini terdengar lirih.


Ia berharap Gio mau luluh untuk menerima keputusannya.


“Kak, kalau Kak Gio sayang sama aku. Tolong biarkan aku tetap dalam perjuanganku, tolong jangan beritahu ibu dan bapak soal ini. Kecuali Kakak tega menghancurkan perasaan mereka,” pinta Anya sambil memegang tangannya dengan penuh harap.


“Kamu tidak bisa melakukan ini, Anya.  Tolong jangan lakukan ini.”


“Kak, aku akan tetap pada pendirian ku. Aku hanya ingin memiliki kehidupan seperti yang Elvira miliki, aku hanya ingin memiliki semua yang dia miliki. Aku sudah tidak bisa menjadi menantu keluarga itu, tapi aku akan melahirkan pewaris untuk keluarga mereka. Dan tolong jangan halangi aku,” pinta Anya dengan penuh penegasan, kini ia sudah melepaskan tangan Gio.


Diliriknya ada taksi yang hendak lewat, ia pun segera beranjak untuk menghentikannya.


“Anya!” panggil Gio namun tidak ada gunanya, karena perempuan itu bergegas masuk ke dalam mobil dan terburu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2