Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 36-- Gejolak Perasaan


__ADS_3

Nevan tidak percaya Elvira membawanya pergi ke sebuah taman bermain yang tidak berukuran terlalu besar yang sejauh mata memandang tidak ditemukan pengunjung selain mereka.


Sekilas tempat ini sangat sederhana dan jauh dari keramaian karena area ini tampaknya sudah tidak menarik lagi bagi orang-orang untuk dikunjungi semenjak banyaknya tempat rekreasi lain yang lebih bagus dan modern. Alhasil, tempatnya terbengkalai tanpa sepertinya tidak terawat lagi.


“Bukan aku yang memaksa kamu ya,” ujar Elvira dengan santainya.


“Apa kamu bercanda?” Nevan tampak kesal kepadanya.


“Tidak. Aku memang ingin pergi ke sini. Bukankah tadi kamu yang memaksa untuk mengantarku?”


“Aku pikir kamu mau ke pergi ke mana. Apa kamu mengerjaiku? Kamu benar-benar membuang waktuku,” ketus Nevan.


“Jangan dilihat tempatnya. Tempat ini menyimpan banyak kenangan untukku.Tiba-tiba saja terlintas di pikiranku untuk ke sini. Kalau kamu tidak suka, pergilah. Terima kasih sudah mengantarku,” ujar Elvira lalu ia berjalan sendiri ke taman tersebut.


“Loh, kok malah marah?”


Elvira melangkah dengan perasaan sebal meninggalkan Nevan begitu saja. Ia tidak mengerti dengan kelakuan Nevan yang kadang bersikap baik dan manis kepadanya, namun terkadang juga sangat menyebalkan.


Tidak ingin menghiraukan Nevan lagi, Elvira tetap fokus memperhatikan di sekitarnya saat ini, sudah lama sekali rasanya ia tidak berkunjung ke tempat ini.


Dilihatnya di depan kini ada sebuah bangku yang terbuat dari kayu di dekat pepohonan rindang, Elvira segera ke sana dan duduk.


Masih teringat jelas ada banyak kenangan sewaktu ia masih kecil hingga remaja sering di ajak mendiang ayahnya ke tempat ini. Meski ia sering mendapat perlakuan berbeda dari ibunya, tapi ayahnya selalu memberikan kasih sayang dan memperlakukannya sangat baik.


Setidaknya, perlakuan ayahnya lah yang masih menyelamatkan masa-masa kecilnya karena memastikan ia tidak kekuaragan kasih sayang dari seorang ayah.


Tidak peduli seberapa salah pun ayahnya ketika menjalin hubungan terlarang dengan perempuan yang telah melahirkannya, Elvira tetap merasa jika ayahnya itu adalah tetap ayah yang terbaik baginya.


Nevan yang masih sendiri di tempatnya merasa ragu untuk meninggalkan Elvira sendirian di tempat sepi seperti ini. Ia lalu memperhatikan Elvira dari kejauhan dan memutuskan untuk menghampirinya.


“Jangan marah. Aku minta maaf atas ucapanku tadi,” ucap Nevan terdengar lembut saat sudah berada di dekat Elvira.


“Duduk lah,” sahut Elvira dan Nevan juga ikut duduk di sampingnya.


“Dulu, sebelum mengenal dunia luar dan hingar bingarnya, aku hanya mengenal tempat ini sebagai tujuan untuk menghibur diri. Sejak kecil, ayah sering mengajakku bermain di sini, anehnya dengan itu saja aku bisa menghentikan tangisanku dan melupakan sejenak permasalahan.”


Elvira bercerita dengan mata yang berkaca-kaca mengingat setiap kali bertengkar dengan ibunya, ayahnya selalu bisa menghiburnya dengan membawa ke tempat ini yang dulunya masih ramai dan menjadi tempat rekreasi kesukaan mereka.


“Ya ampun, aku pasti sangat merindukan mendiang ayahku karena besok adalah hari peringatan kepergiannya, makanya tiba-tiba aku ingin mengunjungi tempat ini.” Elvira menyeka air matanya.


Elvira tertawa kecil meski masih terlihat terpaksa. “Nevan, makasih ya sudah mau mengantarku ke sini, aku jadinya menyita waktu berharga kamu.”


“Mm, tidak apa-apa. Kan sudah ku katakan aku sedang berbaik hati hari ini.” Nevan tersenyum ke arahnya.


Walau Elvira tidak bisa mengartikan senyuman itu, tapi ia cukup senang karena saat ini Nevan bersikap baik dan lebih hangat kepadanya dan ia bersyukur masih memiliki orang seperti Nevan dalam hidupnya. Merasa tidak nyaman saat berpandangan seperti ini, Elvira lantas membuang muka.


Sedangkan Nevan hanya merasa hal aneh terjadi pada dirinya hari ini, entah kenapa bisa menghabiskan waktu bersama orang di sampingnya saat ini membuatnya merasa bahagia.


Sambil memandangi Elvira yang tidak menyadari pandangannya, Nevan hanya merasa mulai nyaman saat bersamanya meski ia tidak tahu alasan sebenarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di kediaman keluarga Arkatama.


Anya melihat Dewanti yang sedang duduk sendiri di sofa sembari membaca koran. Anya merasa harus melakukan sesuatu untuk bisa mengambil hati Dewanti.


Ia pun lantas pergi ke dapur dan melihat ada seorang asisten rumah tangga sedang beraktivitas di sana.


“Bi,” panggil Anya.


“Iya, Bu Anya? Ada apa Bu Anya tiba-tiba ke dapur?”


“Buatkan secangkir teh hangat yang biasa oma minum,” titah Anya. Wanita itu langsung mengiyakan dan mengerjakannya.


Tidak lama setelah itu, Anya menghampiri Dewanti dengan membawakan secangkir teh hangat untuknya.


Dewanti mendelik saat menyadari ada Anya yang kini meletakkan cangkir keramik berukiran motif bunga bernuansa keemasan tersebut di atas meja tepat di depannya.


“Oma, ini aku buatkan Oma teh hangat,” kata Anya dengan senyum ramah.


“Saya tidak meminta kamu untuk membuatnya.” Dewanti menyahut dengan nada datar.


“Tidak apa-apa, Oma. Aku memang sengaja membuatkan untuk Oma.”


“Baik lah, biarkan saja disitu.” Dewanti kembali melanjutkan aktivitasnya tanpa menghiraukan keberadaan Anya.


“Oma, tak bisakah aku juga dianggap sebagai keluarga di rumah ini,” ucap Anya tiba-tiba membuat Dewanti menutup koran yang sedang dibacanya.


“Dari cara kamu masuk ke rumah ini saja sudah salah, bagaimana saya akan bisa menerima kamu?”


“Oma, setidaknya tolong terima aku karena anak yang ada dalam kandunganku,dia juga cicit Oma,” pinta Anya terdengar lirih.


Tidak ingin meneruskan pembicaraan, Dewanti pun segera meninggalkannya.


“Bagaimana lagi caranya agar aku bisa mendapatkan perhatian dari oma? Aku benar-benar tidak habis pikir bagaimana cara Elvira bisa masuk ke keluarga ini dan sepertinya sangat mendapatkan perhatian serta kasih sayang oma Dewanti.” Anya menggumam sendiri sambil berpikir.


Anya pun lalu memaksa otaknya berpikir keras mengingat kembali bagaimana sikap dan kelakuan Elvira di rumah ini dan ia mendapatkan satu kesimpulan.


Saat Elvira berbicara dengan Dewanti maupun saat menyapa Meisya meski selalu mendapat tanggap sinis dari Meisya, Elvira selalu bersikap ramah dan sopan.


Anya juga mengingat kembali bagaimana Elvira bersikap tenang dan sangat ramah terhadapnya di depan semua orang di rumah ini.


“Ternyata itu rahasianya, Elvira bersikap seperti itu pasti karena oma Dewanti sangat menyukai sikap perempuan yang ramah dan sopan. Oma tidak tahu saja bagaimana Elvira saat menunjukkan sikap aslinya di depanku. Mungkin aku harus sesekali memancingnya agar menunjukkan wajah aslinya di depan Oma. Dasar pandai bermuka dua!”


Anya mengumpat dengan kesal mengingat kelakuan Elvira yang menurutnya sebenarnya hanya berpura-pura baik di depan Dewanti dan Meisya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari itu di tengah-tengah kepadatan jalan raya. Elvira terlihat fokus memperhatikan ke arah depan jalan karena ia sedang menyetir,. detik berikutnya ia memasang alat bantu komunikasi nirkabel dan menelepon seseorang.


“Ya Elvira.” Terdengar suara Asty yang menjawab telepon.


“Kak, ini aku sudah di jalan mau jemput Kakak.”

__ADS_1


“Oke, Kakak tunggu di kampus ya.”


“Iya.”


Tidak lama setelah Elvira menutup panggilan telepon. Saat ia berbelok hendak memasuki jalan menuju kampus tempat Asty mengajar, ternyata di depan jalan yang tidak terlalu luas itu sedang ada keramaian yang membuat Elvira harus memperlambat jalan mobilnya.


Tiba-tiba seseorang mengetok kaca jendela mobilnya, Elvira pun terpaksa berhenti. Ia pun segera turun dari mobil dan melihat di depannya saat ini orang berkerumun sepertinya ada yang baru saja mengalami kecelakaan.


Samar-samar Elvira melihat seorang korban yang tergeletak sekilas seorang anak-anak.


“Kita harus cepat, tolong bantu antar korban ke rumah sakit! Kondisinya sangat parah, tidak ada waktu lagi untuk menunggu ambulans.” Seorang pria tidak dikenalnya berbicara kepadanya dengan setengah berteriak panik.


Tanpa menunggu izin dari Elvira, pria tersebut langsung menginstruksikan kepada seorang lainnya yang mengangkat korban untuk segera masuk ke mobil Elvira.


“Apa yang kamu tunggu? Cepat!” titahnya dengan berteriak, membuat Elvira yang tak bisa berpikir serta dikekang situasi langsung menuruti saja.


Pria bertubuh tinggi dan tegap itu langsung mengambil alih kemudi mobil Elvira dan menyuruhnya untuk duduk di kursi penumpang serta ada seorang lain di kursi belakang yang membawa korban.


Elvira menengok sekilas ke arah korban yang tengah berdarah di bagian kepala namun masih nampak sadarkan diri hanya mengeluh kesakitan, hal itu membuat Elvira menjadi trauma karena ia pernah melihat keadaan Daffin untuk yang terakhir kalinya dalam kondisi demikian hingga ia tidak sanggup melihatnya.


Akan tetapi rasa ketakutannya semakin tidak karuan saat menyadari pria yang sedang menyetir di sampingnya malah membawa mobil dengan kecepatan tinggi dengan lincah menyusuri jalan mendahului mobil-mobil yang ada di depan.


Elvira merasa sangat takut karena merasa seakan jantungnya hampir terlepas dari tempatnya.


Ketegangan yang dirasakan untuk beberapa waktuitu segera berakhir ketika mobil mereka sudah tiba di depan unit gawat darurat sebuah rumah sakit terdekat, korban pun segera disambut tim medis untuk ditangani lebih lanjut.


Merasa situasi sudah tenang, Elvira akhirnya bisa menghela napas dengan lega. Ia melirik ke arah luar mobil, pria tersebut sudah berada di sana. Elvira lalu keluar dari mobil untuk menghampirinya dengan perasaan penuh kesal.


“Terima kasih atas bantuannya, akhirnya korban bisa tertangani dengan cepat,” ucap pria tersebut ketika menyadari kehadiran Elvira.


“Astaga, aku tidak percaya ini.” Elvira meracau terdengar jelas olehnya.


“Ya? Apa ada masalah?”


“Jelas ada! Kamu, beraninya mengambil alih kemudi mobilku tanpa seizinku dan mengebut di jalanan?! Kamu tidak tahu betapa ketakutannya aku? Hah!” celetuk Elvira marah.


Pria yang belum diketahui namanya itu nampak terpaku sebentar memandangi wajah cantiknya yang terkesan angkuh.


“Maaf, situasinya sedang darurat. Buktinya kan tidak terjadi apa-apa, kamu terlihat baik-baik saja. Lagian apa salahnya menolong orang,” ujarnya membela diri.


Elvira hendak kembali memarahinya namun tertahan karena terdengar bunyi nada dering dari sebuah ponsel yang ternyata merupakan milik pria tersebut.


“Maaf, permisi ya.” Pria itu segera menjauh darinya. Sedangkan Elvira melengos kesal lalu memutuskan kembali ke mobilnya dan segera pergi.


Sementara pria itu sedang menerima panggilan telepon dari seseorang.


“Halo, Kak Gio. Kakak sudah pulang? Ibu tadi telepon memberitahuku, kapan Kakak datang?” terdengar suara perempuan di seberang telepon.


“Iya, Kakak baru kemarin sampai.”


“Oke, nanti aku akan temuin Kakak.”

__ADS_1


“Iya. Sampai ketemu nanti.”


Bersambung ...


__ADS_2