
Tak berselang lama, kehadiran Dewanti yang datang tiba-tiba memecah ketegangan keduanya.
“Ada apa ini? Kamu?” tanya Dewanti yang melihat kedatangan perempuan yang sebelumnya sudah pernah ia lihat.
Dewanti sudah mengetahui jika Anya lah yang menjadi duri dalam pernikahan Elvira dan Daffin dan kehadirannya hari ini di rumahnya membuatnya sangat terkejut.
“Ma, dia kesini untukku. Mulai sekarang Anya bekerja sebagai asistenku, Ma,” sahut Meisya yang baru bergabung.
“Apa? Mama tidak mengerti apa yang ada di pikiran kamu, Meisya.”
“Sudah lah, Ma. Aku lagi malas berdebat. Lagipula dia juga sudah berhenti menjadi sekretaris di perusahaan. Ayo Anya, kita berangkat sekarang,” ajak Meisya kepada Anya, lalu ia segera pergi dan diikuti oleh Anya di belakang.
“Oma heran sama mama mertua kamu, Elvira. Bagaimana bisa dia bekerja bersama perempuan itu. Apa Meisya mengetahui tentang perselingkuhan mereka?” tanya Dewanti.
“Iya, Oma.”
“Ya ampun, bisa-bisanya dia melakukan ini,” gumam Dewanti heran.
“Sudah lah, Oma. Tidak usah dipikirkan,” kata Elvira menenangkan Dewanti.
Walaupun dalam hatinya sendiri ia masih belum bisa tenang karena memikirkan Anya yang tiba-tiba bisa mendekati mama mertuanya seperti ini. Entah apa yang akan direncanakan oleh perempuan itu.
“Ya sudah, kamu nanti siang tidak kemana-mana kan? Temani Oma yuk ke butik langganan Oma,” ajak Dewanti.
“Iya, Oma, nanti aku temani.” Elvira setuju, lagipula ia juga sudah lama rasanya tidak jalan-jalan.
“Nanti Oma jemput ya di kantor.”
Elvira mengiyakan saja sebelum ia turut berpamitan untuk pergi ke kantor.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Siang itu setelah dijemput oleh Dewanti, mereka pun pergi bersama. Selang beberapa saat kemudian, Dewanti dan Elvira sudah tiba di sebuah butik besar.
Kehadiran mereka langsung disambut oleh seorang wanita berusia kira-kira empat puluh tahunan bersama beberapa asistennya yang siap melayani mereka dengan baik.
“Selamat datang, Ibu Dewanti,” sapanya.
“Iya. Oh ya Elvira, kenalkan ini ibu Ester. Pemilik butik ini, salah satu langganan Oma dari dulu.” Dewanti memperkenalkan. Elvira pun langsung menyapanya.
“Mari silahkan,” ajak wanita yang bernama Ester tersebut untuk melihat-lihat koleksi di butiknya.
“Elvira, bagaimana menurut kamu gaun-gaunnya?” tanya Dewanti saat mereka melihat beberapa gaun pesta.
“Semua gaunnya bagus-bagus, Oma.”
“Kamu suka yang mana? Kamu pilih satu buat kamu ya.”
“Buat aku? Ini kan gaun-gaun pesta, memangnya untuk apa Oma?” tanya Elvira penasaran.
“Oma sampai lupa jadinya memberitahu kamu, malam ini kan para dewan direksi kantor mengadakan pesta penyambutan Nevan sebagai CEO baru di perusahaan kita.”
“Oh, begitu.”
“Iya, kamu datang ya bersama Oma. Nevan juga meminta Oma untuk mengajak kamu.”
“Mm, iya Oma.” Elvira mengiyakan dengan sedikit ragu, Dewanti lalu memperhatikan ke arahnya.
“Sayang, Oma mengerti setelah kepergian Daffin kamu lebih suka menyendiri, tapi Oma juga tidak ingin kamu larut dalam kesedihan terus. Sesekali kamu harus ikut hadir di acara perusahaan kita ya, tidak masalah kan ketemu orang banyak?”
“Iya Oma, tidak masalah.”
“Ya sudah, kamu pilih gaun yang kamu mau.”
Tidak perlu waktu lama Elvira sudah menemukan gaun pesta yang akan ia pakai nantinya di acara tersebut, pilihannya jatuh pada sebuah gaun berwarna nude yang simpel namun tetap terlihat elegan dan menawan.
“Pilihan yang tepat, gaun ini sepertinya sangat cocok untuk kamu, Elvira,” puji Ester.
“Iya, makasih Bu.”
“Oh ya Bu Dewanti, saya juga ada beberapa koleksi set perhiasan terbaru loh.”
__ADS_1
Ester menunjukkan beberapa kotak persegi berwarna hitam yang tertata rapi di sebuah lemari etalase.
Lalu ia buka satu persatu kotak tersebut yang mana dalamnya berisi set perhiasan bertahtakan berlian yang terdiri dari anting, kalung dan gelang.
Dewanti lalu mengambil salah satu kotak tersebut yang menarik perhatiannya.
“Elvira, Oma mau kamu memakai ini nanti malam. Pasti akan terlihat sangat cantik jika kamu yang memakainya,” kata Dewanti. Elvira pun hanya mengiyakan saja.
“Oma tidak sekalian membelikan untuk mama Meisya?” tanya Elvira.
“Tidak perlu, Meisya itu sudah punya koleksi perhiasan yang sangat banyak, dia bahkan punya desainer baju sendiri.”
Sementara Dewanti sedang asyik memfiting gaun yang akan ia pakai, Elvira berjalan untuk melihat beberapa koleksi lain di tempat yang luas itu.
Pandangan matanya lalu terhenti pada sebuah lemari etalase dengan banyaknya koleksi dasi pria keluaran dari desainer khusus.
Ia teringat dulu Daffin sangat suka mengoleksi banyak dasi dari beragam warna dan desain, kini Elvira teringat kepada Nevan.
Lalu ia meminta seorang pelayan toko yang sedari tadi mengiringinya untuk membantunya mengambilkan sebuah dasi yang menarik perhatiannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat ini Asty turut mengikuti rapat komite untuk persiapan hari jadi kampus tempat ia yang langsung dipimpin oleh Meisya, ketua yayasan kampus.
Bekerja satu ruang lingkup dengan Meisya mengharuskan Asty sering bertemu dengannya yang ia ketahui juga merupakan mertua dari Elvira.
Tanpa Asty tahu sebenarnya bagaimana perlakuan Meisya terhadap adiknya itu, sebenarnya Asty sangat mengagumi sosok Meisya yang terlihat bersahaja, tegas dan berwibawa.
Meisya juga tak pelit senyum, karena itu banyak orang yang menyukai serta menghormatinya.
Itu semua dilakukan Meisya agar orang-orang memandang citra diri yang bagus mengingat jabatannya dan status sosialnya yang juga menjadi nyonya keluarga Arkatama.
“Acara kali ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun dan sangat penting karena juga akan dihadiri oleh para donatur, saya harap para panitia dapat bekerja keras untuk kesuksesan acara peringatan hari jadi kampus kita ini,” ujar Meisya dengan penuh wibawa.
Selesai menutup rapat, Meisya tak lupa memperkenalkan seseorang yang sedari tadi setia berada di sampingnya.
“Ini Anya, sekarang dia yang menjadi asisten saya. Jika kalian ada perlu apa-apa, kalian juga bisa berkoordinasi dengannya.”
Anya pun langsung menyapa semua orang yang ada di ruangan ini dengan senyumannya yang ramah dan memperkenalkan diri secara singkat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di kantor Arkatama grup.
Nevan yang kini merasakan duduk di bangku kebesaran kakaknya sedang memandang sesuatu.
Ternyata ia sedang melihat foto pernikahan Daffin dan Elvira yang terbingkai indah terletak di atas meja kerjanya.
Nevan memikirkan betapa kakaknya pasti sangat mencintai istrinya sampai-sampai meletakkan foto pernikahan mereka di sudut yang mudah terlihat.
Nevan mengamati betapa terpancarnya wajah kebahagiaan yang diperlihatkan pasangan itu pada foto tersebut.
Nevan jadinya merasa sedih harus memindahkan foto tersebut karena sekarang ini adalah meja kekuasaannya.
Terdengar suara ketukan pintu lalu detik berikutnya Sakti sudah masuk ke dalam ruangan membuat Nevan mengalihkan perhatiannya.
“Ada apa?” tanya Nevan.
“Pak Imam, supirnya Bu Elvira mengirimkan ini,” ujar Sakti sembari meletakkan sebuah kotak di atas meja Nevan.
“Apa ini? Kenapa pak Imam mengirimkan ini?” Nevan bertanya-tanya, lalu ia segera membuka dan mendapati isinya sebuah dasi berdesain elegan.
“Apa itu sebuah dasi? Dari kotak dan mereknya sih kelihatannya mahal,” ujar Sakti turut penasaran.
Nevan langsung sadar jika ini pasti dari kakak iparnya, ia terlihat sangat menyukai hadiah yang dikirim tersebut.
“Wah, sudah pasti itu dari Bu Elvira,” tebak Sakti.
“Sepertinya,” sahut Nevan.
“Hmm, aku iri lihatnya.”
__ADS_1
“Kalau begitu minta lah sesuatu kepadanya. Kamu kan cukup dekat dengannya, katanya.”
“Andai aku bisa, aku meminta hatinya saja.”
“Apa maksud kamu?!” Nevan langsung menyaringkan suaranya.
“Aku benar-benar ingin menikahi wanita seperti dia, bagaimana menurut kamu?” kata Sakti.
Lalu detik selanjutnya ia langsung terkekeh melihat ekspresi kesal di wajah Nevan.
“Beraninya kamu, apa kamu bosan hidup?!”
“Ya ampun, aku pasti sangat stres belakangan ini. Tenang, aku hanya bercanda,” ujar Sakti kemudian ia segera pergi meninggalkan ruangan Nevan sambil tertawa geli.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam harinya, Elvira bersama Dewanti baru hadir memasuki gedung tempat acara, sedangkan Meisya sudah ada disana lebih dahulu karena ia tadi berangkat bersama Nevan.
Melihat kehadiran Dewanti yang merupakan salah satu tamu kehormatan, beberapa orang yang mengenalnya pun langsung menghampiri untuk menyapa sebagai bentuk rasa hormat dan segan kepadanya.
Pandangan mereka pun juga teralihkan kepada Elvira yang malam ini tampil cantik menawan dan elegan.
“Ini Elvira, istri dari mendiang Daffin,” kata Dewanti memperkenalkan barangkali di antara mereka belum ada yang mengenal Elvira.
“Selamat malam Bu Elvira, saya turut berduka cita atas kepergian pak Daffin,” ucap seorang pria dengan ramah.
“Terima kasih,” sahut Elvira dengan ramah.
Orang-orang yang berada di sekitar sana pun tak sedikit yang memperhatikan ke arah Elvira yang seolah mampu menghipnotis mereka untuk terus memandangnya.
Tidak sedikit dari mereka yang belum pernah bertemu dengannya secara langsung turut penasaran tentang siapa Elvira sebenarnya.
Pesona Elvira yang menawan rupanya juga membuat Nevan seakan tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.
Nevan yang sedang berbincang dengan beberapa orang ditemani Meisya sesekali memperhatikan ke arah Elvira yang sedang di ajak mengobrol oleh beberapa orang.
Apa yang ia pikirkan saat ini, bahkan selama ini ia sudah sangat sering melihat Elvira karena sering bertemu. Tidak mungkin ia bisa-bisanya tiba-tiba terpesona seperti ini, Nevan berusaha membuyarkan pikirannya.
Sementara itu dari kejauhan, Anya yang turut datang di pesta itu sedang memperhatikan Elvira.
Ia menyimpan rasa iri karena Elvira diperlakukan dengan sangat baik dan dihormati orang-orang karena statusnya yang merupakan menantu keluarga kaya, sedangkan Anya kembali memperhatikan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang bersikap seperti itu kepadanya hanya karena ia orang biasa.
Aura kecantikan Elvira yang terpancar, gaun indah serta perhiasan yang berkilauan saat dipakai Elvira membuat Anya ingin memiliki semuanya, akan tetapi setelah kepergian Daffin membuat semua impiannya hancur.
Namun, Anya lagi-lagi merasa beruntung karena ia memiliki anak dari Daffin. Ia pun memikirkan cara agar selalu memliki kesempatan untuk mengganggu kesenangan Elvira.
“Sedang apa kamu disini?” suara Sakti menyadarkan Anya dari lamunannya.
“Aku mendapat undangan dari ibu Meisya,” jawab Anya yang kini terdengar tidak formal lagi saat bicara kepada Sakti walaupun biasanya ia sangat menghormati Sakti selagi masih bekerja di perusahaan yang sama.
“Oh ya?” Sakti mendelik heran seakan tak percaya.
“Iya, sekarang aku menjadi asisten ibu Meisya.”
“Apa? Kamu mengundurkan diri dari perusahaan dan sekarang bekerja dengan ibu Meisya?” tanya Sakti lagi memastikan.
“Iya,” jawab Anya singkat.
“Keterlaluan, apa kamu masih belum puas mengganggu kehidupan Bu Elvira?” tanya Sakti terdengar marah.
“Aku tidak akan pernah puas mengganggunya, karena dia, aku kehilangan Daffin!” tukas Anya lalu ia segera pergi untuk menghampiri Meisya.
“Apa-apaan dia?” Sakti menggerutu sendiri.
Ia tidak habis pikir bisa-bisanya Meisya yang merupakan mama mertua dari Elvira malah mempekerjakan Anya tanpa menjaga perasaan menantunya yang tersakiti karena perbuatan Anya.
...----------------...
Meninggalkan sejenak keramaian pesta, Elvira memilih untuk menepi ke sudut ruangan yang tidak terdapat banyak orang dan menikmati segelas minuman yang baru di ambilnya dari pramusaji.
Dilihatnya Dewanti sedang sibuk berbincang dengan beberapa orang, begitupun dengan Nevan dan Meisya.
__ADS_1
Baru sebentar menikmati waktunya sendiri, menyadari kehadiran seseorang membuat Elvira mengulurkan niat saat hendak menenggak minumannya lagi.
Bersambung ...