Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 65-- Adegan Memalukan


__ADS_3

Hampir satu jam berlalu, Elvira yang masih bersikeras ingin bertemu dengan Sakti. Ia tetap saja menunggu meski, ia harus meluangkan waktunya untuk hal yang satu ini.


Sementara Nevan yang sembari sibuk di meja kerjanya, sesekali melirik ke arah Elvira tampak belum juga menyerah, menunggu kedatangan Sakti.


Nevan berpikir Elvira mungkin tidak sadar, sudah berapa lama ia berdiam diri menunggu di sofa tersebut.


Tapi Nevan cukup merasa senang, karena keberadaan Elvira di ruangannya dalam waktu yang cukup lama seperti ini, memberikan rasa semangat tersendiri untuknya. Hingga detik berikutnya Nevan mendapati tatapan mata Elvira, yang tiba-tiba sudah mengarah kepadanya.


Nevan yang merasa dipergoki Elvira sedang memandanginya, langsung salah tingkah, dan segera melemparkan pandangannya ke sembarang arah.


“Kamu yakin sudah menghubunginya?” tanya Elvira.


“Sudah, tapi dia tidak menjawab,” sahut Nevan.


“Kamu mengerjai ku?”


Elvira beranjak dari duduknya, ia berjalan menghampiri Nevan yang masih duduk di kursinya, hingga mereka sudah berhadapan.


“Tidak, kan sudah ku katakan tadi kalau dia izin keluar.”


“Ya ampun! Kenapa dia lama sekali?” gerutu Elvira.


Ia lalu melirik jam tangannya, benar saja jika ia sudah menunggu hampir satu jam. Tapi tidak ada tanda-tanda Sakti akan memunculkan diri.


“Kamu sendiri yang ingin menunggunya.”


“Katakan! Di mana dia sekarang?! Kemana dia pergi?” tanya Elvira yang mulai hilang kesabaran.


Tiba-tiba terdengar bunyi dering telepon dari ponsel milik Nevan yang terletak di atas meja, Elvira melirik sekilas nama dan nomor telepon yang tertera sedang melakukan panggilan adalah Sakti.


Elvira bersumpah akan langsung mengambil benda pipih tersebut. Akan tetapi saat ia hendak melangkah lebih dekat, kakinya tidak sengaja malah tersandung. Akibatnya hilang keseimbangan, hingga akhirnya terjatuh di pelukan Nevan.


Sedangkan Nevan yang tidak dalam keadaan siap, hanya bisa dengan sigap langsung menangkap pinggangnya. Hingga kini posisi mereka sangat dekat, dengan tubuh yang saling menempel.


Deg.


Keduanya seketika membeku, saling menatap satu sama lain, yang hanya berjarak beberapa sentimeter.


Elvira bahkan bisa mencium aroma parfum Nevan, yang membuatnya mengingat sesuatu.


Terus terpaku merasakan gejolak perasaan yang tidak bisa mereka artikan, sampai-sampai keduanya tidak memperhatikan lagi ponsel tersebut, yang kini layarnya sudah dalam keadaan padam kembali.


Saat itu Sakti baru datang menyelonong masuk tanpa permisi, biasanya Nevan sudah memakluminya, karena ruangan ini sama seperti ruangan kedua bagi Sakti di kantor ini.


Namun alangkah terkejutnya Sakti ketika melihat keduanya sekilas seperti sedang dalam keadaan berpelukan yang membuatnya langsung bereaksi terkesiap sembari langsung menutup mata.


“Astaga! Apa yang kalian lakukan?!” pekik Sakti yang rasanya enggan melihatnya.


Elvira segera tersadar dan langsung melepaskan diri dari Nevan. Sementara Nevan segera berdehem sambil membenarkan posisi duduknya, tanpa mau kehilangan wibawa.


“Ini tidak seperti yang kamu pikirkan.” Nevan bersuara membela diri.

__ADS_1


Sakti akhirnya sudah membuka kembali penglihatannya.


“Lalu kalian sedang apa?” tanya Sakti merasa penasaran dan perlu penjelasan.


Elvira yang saat ini wajahnya sudah memerah, merasa tersipu, langsung mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia kembali fokus pada tujuannya untuk bertemu Sakti.


“Pokoknya itu tidak seperti yang kamu lihat!” Elvira turut mengelak membela diri.


Ia mengernyih kesal atas apa yang baru saja terjadi dan hal itu membuatnya sangat malu.


“Jangan mengalihkan pembicaraan! Kamu tahu berapa lama aku menunggu kamu di sini?!” celetuk Elvira.


Kini ia berjalan mengarah kepadanya tanpa membiarkan Sakti lebih dalam mengulik kejadian yang dilihatnya tadi.


“Bu Elvira menunggu saya? Ada apa?”


“Menurut kamu?”


Detik berikutnya Elvira langsung menambah langkah lebih mendekat kepada Sakti, ia hendak meraih telinganya. Akan tetapi langsung gagal karena Sakti segera menghindar, dengan gerakan yang lebih cepat sepersekian detik dari Elvira. 


Sedangkan Nevan masih terlihat menyimak mereka.


“Ampun Bu!” ucap Sakti yang kini menepi menjauhinya.


Ia sudah sadar akan kemarahan dari Elvira yang mungkin sudah mengetahui permasalahannya dengan Olla.


“Ya ampun, Sakti! Bagaimana kamu bisa melakukan ini kepada Olla?! Apa kamu tidak tahu bagaimana selama ini tersiksanya dia?!” gerutu Elvira dengan penuh kekesalan.


Sakti semakin merasa takut akan kemarahan Elvira yang kini mendekatinya perlahan seperti hendak menerkamnya, entah itu menjewer telinga atau pun akan menjambak rambutnya.


Melihat tangan Elvira yang semakin hampir menyentuh wajahnya membuat Sakti panas dingin, namun tiba-tiba Elvira menghentikan tangannya di bahu Sakti, sembari menepuknya dengan rasa kekesalan yang terpendam.


“Jelaskan semuanya kepadanya. Minta maaf padanya!” titah Elvira yang kini sudah bisa mengontrol amarahnya.


“Iya Bu, saya akan minta maaf padanya.”


“Awas kamu!” Elvira memperingatkannya dengan tatapan tajam yang seakan hampir menusuk jantungnya.


Dikarenakan masih merasa malu karena kejadian tadi, akhirnya Elvira berpikir untuk sesegera mungkin meninggalkan ruangan ini.


...----------------...


Di panti asuhan Pelita Bunda.


Rani mengantarkan tamu-tamunya hari ini setelah beberapa saat sebelumnya mereka telah selesai mengadakan pertemuan tentang acara yang akan dilaksanakan nantinya di tempat ini.


Rani terlihat sangat ramah saat melepas kepergian beberapa orang anak muda yang terdiri dari dua orang laki-laki dan dua orang perempuan tersebut yang berpamitan kepadanya.


Setelah mobil yang mereka tumpangi sudah melaju meninggalkan halaman tempat tersebut, Rani terdiam sejenak memikirkan sesuatu yang baru saja ia ketahui.


Ia lalu melihat kembali pada sebuah kertas berisi proposal yang saat ini dipegangnya dan baru memperhatikan ada nama ketua yayasan Mentari Kasih yang tertera nama Elvira.

__ADS_1


Rani merasa mendapat kejutan karena ia selama ini tidak tahu siapa Elvira sebenarnya yang ternyata merupakan anggota keluarga Arkatama.


Otomatis pula berarti Elvira mungkin saja telah mengenal Anya, putri angkat kesayangannya, karena dalam sepengetahuannya Anya kini telah tinggal bersama mereka.


Ia jadinya semakin bersemangat untuk bertemu lagi secara langsung dengan Elvira apalagi mengingat betapa ia sangat menyukai kepribadian Elvira yang menurutnya sangat ramah dan nyaman untuk diajak bicara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elvira yang baru sampai di depan gerbang utama kediamannya, merasa harus menghentikan laju mobilnya.


Saat ini tepat di depannya yang tersorot lampu mobilnya di keremangan malam, sudah ada seorang pria yang tampak sedari tadi berdiri dengan menyenderkan badan pada sebuah mobil dalam keadaan diam.


Pria berjaket kulit dengan dalaman kaos serba hitam tersebut langsung membenarkan posisinya saat menyadari ada kedatangan dari sebuah mobil yang tampaknya salah satu dari penghuni rumah megah ini.


Kini sorot matanya langsung mendelik saat melihat Elvira baru keluar dari mobil dan berjalan menghampirinya.


“Kamu? Apa yang kamu lakukan disini?” Elvira tidak kalah terkejutnya melihat Gio berada di depan rumahnya.


Entah dari mana pria ini datang, apa yang dia lakukan di sini, menimbulkan pertanyaan dalam benak Elvira.


“Kamu?”


Gio melirik sebentar ke arah rumah tersebut, lalu detik berikutnya ia melayangkan pandangan heran terhadap orang yang dikenalinya itu, ia segera berpikir mungkin Elvira ternyata bagian dari keluarga Arkatama.


“Kamu tinggal disini?” tanya Gio memastikan.


Elvira mengangguk sekaligus merasa tidak nyaman karena bagaimana bisa tiba-tiba pria seperti dia berada di depan kediamannya, entah apa yang sedang ia cari, Elvira bertanya-tanya dalam benaknya.


Pintu gerbang kini terbuka lebar dan dua orang penjaga keluar menghampirinya membuat Elvira mengalihkan perhatiannya kepada mereka yang kini menatap curiga kepada Gio.


“Nyonya Elvira, apa terjadi sesuatu?” tanya salah tetua di antar mereka yang kini melihat keberadaan pria asing bersama nyonya rumah mereka.


“Tidak ada, bawa saja mobil saja ke dalam,” perintah Elvira.


Sementara ia akan mencoba menginterogasi Gio tanpa menimbulkan kecurigaan dari mereka.


“Tapi, Nyonya,” sanggahnya, yang tampak ragu membiarkan Elvira bersama dengan Gio.


“Tidak apa-apa, saya mengenalnya. Saya hanya akan bicara sebentar dengannya di sini. Kalian masuk lah,” titah Elvira lagi yang kali ini langsung sigap dilaksanakan oleh mereka.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Elvira mengulangi pertanyaannya karena merasa belum mendapat jawaban.


“Aku ingin menemui Anya,” ungkap Gio.


Elvira langsung terkejut mengetahui ternyata pria ini mengenal Anya.


Melihat dari wajah dan penampilannya, sepertinya ia orang yang tidak memiliki rentang usia yang jauh dari Anya.


Elvira malah berpikiran mungkinkah Gio ini adalah seseorang yang dekat dalam hidup Anya, atau bahkan bisa jadi kekasihnya.


Baru saja Elvira hendak bertanya lebih lanjut, ia langsung menahan perkataannya karena menyadari tiba-tiba ada sorotan lampu dari sebuah mobil yang baru datang tepat di depan mereka.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2