
Di kantor yayasan Mentari Kasih.
Elvira yang sedang duduk di sofa ruangannya tampak merenung, ia masih memikirkan bisa-bisanya Anya memfitnah dirinya untuk tambah memperkeruh hubungannya dengan mama mertuanya.
Tidak lama kemudian, Dara langsung masuk ke ruangannya dengan membawa nampan dengan cangkir yang berisi minuman di atasnya untuk Elvira.
“Permisi, Bu,” ucap perempuan muda itu sambil meletakkan cangkir tersebut di atas meja.
“Iya, terima kasih.” Elvira berucap tanpa menatapnya.
“Bu Elvira sedang tampak tidak sehat, apa Bu Elvira sakit?” tanya Dara setelah lebih memperhatikan raut wajah Elvira yang tampak lesu penuh beban.
Ia memahami dengan apa yang baru di alami atasannya tersebut setelah sepeninggal suaminya belum lama ini pasti akan terasa sangat berat.
“Saya baik-baik saja.”
Dara pun langsung mendekat ke arahnya dan duduk bersimpuh.
“Bu.” Perempuan itu memegang tangannya membuat Elvira menatapnya.
“Ya? Apa yang kamu lakukan?” Elvira terkejut melihat Dara sudah bersimpuh di kakinya.
“Saya mau mengucapkan terima kasih sama Ibu, saya sangat senang bisa bekerja di sini. Akhirnya saya bisa rutin mengobati adik saya. Saya tidak akan melupakan kebaikan Bu Elvira terhadap saya, saya janji akan bekerja keras dan lebih baik lagi. Terima kasih,” ucapnya.
“Kamu tidak perlu melakukan ini.”
“Bu Elvira jaga kesehatan ya, jangan sampai sakit,” ujar Dara terdengar penuh perhatian.
“Iya, terima kasih atas perhatian kamu, saya hanya merasa sedikit pusing,” sahut Elvira sembari memijat dahinya yang terasa tegang karena banyak berpikir.
“Ibu tunggu di sini sebentar ya,” pinta Dara, lalu ia segera keluar dari ruangan.
Hingga tidak lama kemudian Dara kembali lagi ke ruangan Elvira dengan membawa sebuah alat tensimeter yang ia ambil dari sebuah ruang kesehatan di kantor ini.
“Sini, biar saya periksa.” Dara langsung meraih tangan Elvira untuk memasangkan pada alat tersebut dan Elvira menurut saja.
“Selama bekerja di sini, saya juga mempelajari hal yang satu ini Bu.”
Setelah menunggu beberapa saat, hasilnya pun sudah kelihatan dan membuat Dara mendelik melihat angka yang ditunjukkan pada alat tersebut.
“Bu Elvira kurang tidur apa bagaimana? Tekanan darah Ibu cukup tinggi loh dari kisaran normal.” Dara menjelaskan.
__ADS_1
“Oh ya? Iya sih kayaknya. Akhir-akhir ini saya mudah stres dan memikirkan banyak hal.”
“Hmm, Bu Elvira jangan terlalu berpikir yang berlebihan ya, menurut saya hal itu bisa berpengaruh terhadap kesehatan loh.”
“Iya, kamu benar.”
“Kalau saya biasanya mengelola stres dengan gaya hidup sehat, Bu. Misalnya kayak berolahraga, makan yang sehat-sehat, pokoknya melakukan semua hal yang saya sukai,” ujar Dara menjelaskan sembari kini ia membantu melepaskan alat tersebut dari tangan Elvira.
“Begitu ya?”
Sambil melihat Dara melakukannya, Elvira tidak sengaja melihat ada semacam bekas luka seperti goresan di lengan Dara yang membuatnya tercengang.
“Dara, maaf. Di tangan kamu?” Elvira bingung bagaimana cara mengajukan pertanyaannya.
“Oh ini.” Dara langsung memegangi goresan tersebut untuk menutupi pakai tangannya.
“Sebenarnya, ini bekas luka yang sudah cukup lama. Dulu saat saya sangat frustasi dengan hidup saya, saya pernah mencoba mengakhiri hidup saya, Bu,” ungkapnya yang membuat Elvira sangat terkejut.
“Kehidupan masa remaja saya sangat tidak menyenangkan, selain keluarga saya yang miskin, saya juga sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari oknum teman-teman di sekolah. Namun ternyata, Tuhan memberi kesempatan saya untuk hidup satu kali lagi, saya masih bisa terselamatkan.”
Dara menghela napas sembari menyeka air matanya yang mulai berguguran saat kembali mengingatnya.
“Disitulah saya menyadari betapa egoisnya saya sedangkan masih ada orang terdekat saya yang sangat menyayangi saya. Ternyata selama ini yang membuat saya merasa tidak sanggup bertahan hanya karena saya selalu terfokus pada hal lain yang menyakiti saya tanpa saya memperhatikan bagaimana orang-orang yang menyayangi saya,”
“Kita memiliki kisah masing-masing saat mengalami masa tersulit dalam hidup,” ujar Elvira.
“Tapi, orang seperti Bu Elvira apa mungkin masih bisa memiliki kesulitan dalam hidup? Secara, kehidupan yang dimiliki Bu Elvira terlihat sangat sempurna.”
“Yang terlihat di luar bisa saja berbeda dengan kenyataannya, Dara. Tapi terlepas dari itu, saya senang kamu bisa baik-baik saja sampai sekarang.”
“Iya Bu, bekas luka ini selalu mengingatkan saya untuk terus bersyukur dan menghargai betapa berartinya hidup saya.”
“Luka pada fisik seperti itu mungkin saja cepat sembuh seiring berjalannya waktu. Tapi mungkin masih ada luka dalam hati yang perlu waktu sangat lama dan butuh perjuangan untuk bisa sembuh, seperti trauma.”
“Bu Elvira sepertinya sangat memahami saya.”
“Sini, duduk di samping saya,” ajak Elvira. Dara pun segera menurut saja.
“Kehidupan saya tidak sesempurna yang kamu bayangkan. Saya dulu juga pernah mendapatkan perlakuan serupa dengan yang kamu alami pada masa remaja saya,” ungkap Elvira.
Meski ia sebenarnya cukup rapat menyimpan rahasia ini, tapi ia rasa tidak apa-apa jika memaparkannya kepada seorang yang pernah bernasib sama seperti dirinya di masa lalu.
__ADS_1
“Apa? Siapa yang berani melakukan itu?”
“Seseorang, entah dimana dia sekarang,” ujar Elvira sesekali mengenang masa-masa sekolahnya dulu yang tidak menyenangkan karena seseorang.
“Karena dia, saya tumbuh menjadi orang yang selalu memandang sesuatu berdasarkan nilai harga. Sesuatu yang ada harus ada harganya, sekalipun itu penghinaan dari seseorang dan hal itu sangat menyiksa saya dalam waktu yang cukup lama.”
Elvira menghela napas menjeda perkataannya.
“Saya pikir saya harus bisa hidup dengan kekayaan dan kekuasaan agar bisa hidup bahagia serta tidak ada lagi yang bisa meremehkan dan membenci saya. Tapi saat saya sudah memiliki semuanya, ternyata saya tidak bisa membeli kebahagiaan serta pandangan dan sikap orang yang memang tidak bisa menyukai saya,” tutur Elvira dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Sementara Dara hanya tertegun menyimak penuturan dari Elvira.
“Saya harus belajar banyak dari kamu untuk bisa lebih menghargai hidup saya tanpa memedulikan pandangan orang lain dan lebih berfokus pada orang-orang yang menyayangi saya, terima kasih ya,” ucap Elvira membuat Dara hanya mengiyakannya saja.
“Saya lupa, teh hangat saya hampir dingin jadinya,” ujar Elvira mengalihkan pembicaraan.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya, Bu. Tetap jaga kesehatan ya, Bu. Jangan terlalu berpikir berat. Ingat, lakukan hal yang paling Ibu sukai,” pamit Dara.
Elvira segera meminum tehnya dan berpikir sejenak bahwa ia pernah melakukan hal yang ia sukai waktu itu seperti berbelanja, menonton hingga ia pergi ke kelab untuk menghibur diri namun hal tersebut masih tidak mampu membuat dirinya merasa lebih baik.
Kini ia pun masih berpikir keras untuk membuang berbagai energi negatif yang merasuk dalam pikirannya saat ini. Tiba-tiba saja terlintas sesuatu di pikirannya, Elvira lalu bangkit untuk mengambil tasnya dan ia segera pergi dengan mobilnya.
...----------------...
“Baiklah, aku akan mencoba hal lain, mari kita mulai dari sesuatu yang sederhana,” gumamnya sembari mengendalikan laju mobil di tengah jalanan kota yang ramai.
Tiba-tiba ponselnya berdering. Dilihatnya ada panggilan telepon dari Imam.
“Iya halo, Pak Imam?” jawab Elvira.
“Nyonya, saya sudah melakukan sesuai permintaan Nyonya Elvira. Saya juga sudah kirimkan hasilnya lewat pesan,” ujar Imam di seberang telepon yang tadi sempat mendapat tugas dari Elvira.
“Iya, terima kasih ya Pak,” ucap Elvira.
“Sama-sama, Nyonya,” jawab Imam yang saat itu terlihat baru saja keluar dari salah satu pintu ruangan di rumah keluarga Arkatama.
Sedangkan Elvira, setelah menutup sambungan teleponnya ia langsung memeriksa sebentar ponselnya dan menerima sebuah pesan, namun detik selanjutnya ia kembali meletakkan benda tersebut karena masih harus fokus mengemudi.
__ADS_1
Bersambung ...