Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 33-- Urusan Pekerjaan


__ADS_3

Setelah mendapat izin dari Elvira, dua orang pria paruh baya berpakaian rapi segera masuk ke ruangannya. Setelah mempersilakan mereka duduk di sofa khusus untuk tamu, Elvira lalu duduk menghadap mereka.


“Bu Elvira,” sapa keduanya.


“Kalian mengenal saya? Ada apa ya?” tanya Elvira yang masih berusaha mengingat barangkali ia pernah bertemu dengan mereka atau salah satunya.


“Saya senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dengan Bu Elvira, sebelumnya saya turut berduka cita atas kepergian pak Daffin. Jujur saja saya turut merasa sangat kehilangan. Bu Elvira masih mengingat saya? Kita pernah bertemu waktu itu, perkenalkan saya Jaya Wardana dan ini sekretaris saya, pak Bondan.” Seorang pria bernama Jaya memulai pembicaraan.


“Terima kasih sebelumnya, tapi mohon maaf saya agak susah mengingatnya.” Elvira berucap dengan ramah.


“Saya yang mengundang pak Daffin dan Bu Elvira pada jamuan makan siang waktu itu di sebuah restoran, saya benar-benar sangat menyesalkan apa yang terjadi dengan Bu Elvira waktu itu. Saya benar-benar minta maaf,” ucap pria yang bernama Jaya itu dengan penuh harap.


Elvira mendelik menatap pria itu lagi dan rasa-rasanya ia mulai mengingatnya, tapi mendengar permintaan maafnya hingga harus mendatanginya kemari membuat Elvira lebih terheran.


“Ya ampun, saya sama sekali sudah melupakan kejadian itu. Lagipula itu sudah berlalu, tidak ada masalah. Bapak tidak perlu minta maaf seperti ini,” ujar Elvira.


“Benar kah? Saya sungguh menyesal Bu Elvira.”


“Tidak apa-apa,” sahut Elvira dengan sopan.


Lalu ia menyoroti wajah mereka yang sepertinya ragu-ragu hendak mengatakan sesuatu.


“Begini Bu, sebenarnya ada masalah lain yang ingin kamu bicarakan,” ungkap pria yang bernama Bondan.


“Ada masalah apa, Pak?”


“Buntut dari kemarahan pak Daffin waktu itu, dia memutuskan tidak melanjutkan kontrak kerja sama lagi dengan perusahaan kami. Kami masih sangat berharap untuk terus melanjutkan kerjasama ini.”


“Hmm,  sebenarnya jika mengenai masalah pekerjaan di perusahaan, saya tidak memiliki andil apapun untuk ikut campur. Itu bukan ruang lingkup saya,” kata Elvira terdengar seperti penolakan.


“Bu Elvira, tolong bantu saya, saya sangat mengharapkan bisa melanjutkan kerja sama dengan Arkatama grup, terus terang saya juga belum mengenal baik dengan pak Nevan, CEO yang sekarang,” pinta pak Jaya penuh harap.


Elvira mengerti maksud dan keinginan mereka, menurutnya Daffin tidak seharusnya bertindak sejauh ini karena kejadian yang dianggapnya sepele itu juga terjadi karena kesalahannya.


“Ini Bu, coba dilihat dulu, setelah pengajuan proposal kami ditolak, beberapa minggu ini kami sudah merevisinya.”


Bondan menyerahkan sebuah dokumen yang berisi tentang beberapa konsep kerja sama yang sudah mereka siapkan. Elvira hanya melihatnya sekilas karena ia sebenarnya juga tidak cukup mengerti.


“Saya yakin jika dari Bu Elvira yang merekomendasikannya mungkin akan membuat pak Nevan tertarik untuk melihatnya lagi,” ujar Jaya berasumsi.


“Baiklah, tapi saya hanya akan menyerahkan ini kepada pak Nevan, saya tidak berani menjamin ini akan berhasil membuatnya tertarik.”


“Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih banyak Bu Elvira atas bantuannya. Saya tidak akan melupakan bantuan Ibu,” ucap Jaya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Di kediaman keluarga Arkatama.


Nevan memandang ke arah Meisya yang sedang menikmati segelas tehnya. Malam ini ia sengaja datang ke rumah untuk bertemu mamanya.


Meisya merasa sangat senang karena jarang-jarang putranya ini mau menemaninya di saat bersantai seperti sekarang ini apalagi Nevan sekarang sibuk mengurus perusahaan dan selalu pulang ke apartemennya.


“Mama kenapa sih?” tanya Nevan yang membuat Meisya mengangkat alis mendengar ucapan putranya.


“Kenapa apanya? Mama senang lah kamu ada disini menemani Mama. Jarang-jarang kamu mau menemani Mama minum teh.”


“Bukan itu. Mama kenapa melakukan ini kepada kak Elvira?”


“Nevan, kamu merusak suasana hati Mama dengan tiba-tiba membahas soal ini,” celetuk Meisya terkesan marah.


“Kalaupun memang Anya mengandung anak dari kak Daffin, kan bisa dia tidak perlu tinggal di sini. Kita cukup beri dia tunjangan seumur hidupnya dan berikan hak untuk anaknya.”


“Nevan! Akan jauh lebih baik jika kamu tidak usah ikut campur masalah ini. Lagipula Mama heran kenapa kamu seolah membela Elvira daripada berpihak ke Mama?”


“Aku juga tidak ingin memihak siapa pun. Tapi kan bagaimanapun juga dia tetap kakak ipar ku.”


“Kakak ipar kamu bilang? Kamu tahu apa yang sudah dia lakukan kepada Daffin? Kehadiran dia membuat kakak kamu sering membantah Mama. Sekarang, Mama yakin karena dia membawa sial terhadap keluarga kita, kita jadi kehilangan Daffin untuk selamanya.”


“Ma!” sergah Nevan.


“Kamu lebih baik diam, Nevan. Jangan campuri urusan yang bukan urusan kamu,” pungkas Meisya.


Lalu ia bangkit berdiri dari kursinya dan segera pergi dengan wajah yang kesal.


“Nevan!” panggilan dari Meisya terasa hanya sia-sia karena Nevan sudah tidak menghiraukannya.


Saat berpapasan dengan Anya yang menyapanya dengan senyuman, namun Nevan memilih tidak mau membalasnya. Ia hanya terus berlalu begitu saja.


Sesampainya di depan pintu utama rumah besar itu, Nevan bertemu Elvira yang baru saja pulang.


“Kamu sudah mau pulang?” tanya Elvira menyapanya.


“Iya,” jawab Nevan cuek karena masih terbawa kesal dengan Meisya.


“Oh ya, ada sesuatu yang ingin aku berikan ke kamu.”


Elvira lalu menyerahkan sebuah map berwarna cokelat berisi dokumen yang diberikan oleh pak Jaya tadi kepadanya.


“Apa ini?”


“Seseorang datang kepadaku dan menitipkan itu untuk kamu. Lihat saja sendiri nanti, aku masuk dulu.”

__ADS_1


Elvira segera masuk ke dalam rumah, sementara Nevan hanya membiarkannya saja sambil menoleh sebentar ke punggung Elvira yang perlahan menjauh darinya.


...----------------...


Saat tiba di apartemennya, Nevan yang sudah berganti pakaian santai duduk di sofa. Ia melihat kembali ke arah map yang tadi diberikan Elvira yang masih tergeletak di atas meja belum tersentuh.


Nevan tidak ingin menyimpan rasa penasarannya, akhirnya ia segera memeriksanya. Matanya mendelik senang begitu mendapati itu adalah dokumen berisi proposal kerja sama yang diberikan oleh PT. Jaya Wardana.


Nevan bersemangat untuk mempelajari konsep-konsep yang mereka siapkan dan ia merasa sangat tertarik. Bak gayung bersambut, keinginannya untuk melanjutkan kerja sama dengan perusahaan tersebut berbalas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Nevan menelepon Elvira yang saat ini sedang fokus menyetir mobilnya di tengah keramaian jalanan kota.


“Iya, ada apa?” jawab Elvira setelah memasang handsfree di telinganya.


“Kamu di mana sekarang?”


“Aku lagi di jalan.”


“Mau makan siang denganku?” tanya Nevan.


“Aku tidak bisa, aku sedang ada urusan,” sahut Elvira menolak begitu saja.


“Oh ya? Ya sudah, lain kali saja.” Nevan segera menutup teleponnya tanpa basa basi lagi.


“Apa? Dia mengajakku makan siang? Tumben banget.” Elvira berbicara sendiri.


Sedangkan di tempat lain, Nevan terlihat kesal karena Elvira menolak ajakannya.


Tadinya ia merasa hanya ingin menraktirnya makan sebagai tanda terima kasihnya karena telah membantu urusan pekerjaannya.


Tiba-tiba Sakti masuk ke ruangannya mengalihkan perhatian Nevan.


“Aku akan mengatur jadwal untuk pertemuan dengan pak Jaya Wardana membahas lebih lanjut tentang kerja sama kita, bagaimana jika minggu depan?” tanya Sakti.


“Ya, lebih cepat lebih baik.”


...----------------...


Di sebuah kafe.


Elvira baru sampai dan langsung masuk ke dalam bangunan tersebut. Hari ini ia sudah mengatur janji untuk menemui seseorang.


Matanya langsung teralihkan pada seseorang dari jarak yang tidak terlalu jauh, senyumnya mengambang di udara tatkala melihat orang tersebut yang sepertinya saat ini sudah menunggu kedatangannya.

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2