
Meisya bangun dari duduknya dan berkata, “Tidak bisa!”
“Kenapa tidak bisa?”
“Bagaimana dengan hak anak Daffin?” tanya Meisya.
“Mama yang akan memberikannya tanpa menyentuh sedikitpun milik Elvira.”
“Tapi, Ma.”
“Apa lagi? Kamu juga sudah memiliki jatah kamu sendiri kan?” tantang Dewanti.
“Dalam kepemilikan saham Daffin seharusnya juga ada hak Nevan di sana, bagaimana bisa Mama menyerahkan semua milik Daffin kepada Elvira?” Meisya masih belum puas membahasnya.
Dewanti memandang ke arah Nevan. “Untuk Nevan, Oma akan menyerahkan semua milik Oma kepada kamu sekaligus status kepemilikan perusahaan."
“Apa yang Oma lakukan?” tanya Nevan.
“Menurut kamu, kepada siapa lagi Oma akan menyerahkan semua ini selain kepada kamu? Kamu adalah pewaris tunggal Arkatama grup saat ini. Setelah Oma tiada nanti, kamu yang menjadi harapan Oma untuk mengambil alih semuanya. Oma sudah cukup tua, dan yang Oma ingin kan adalah kalian mendapatkan hak kalian masing-masing serta kalian harus hidup dengan bahagia.”
“Oma kenapa bicara seperti itu?” Nevan merasa sedih karena ia masih berharap Dewanti akan terus bersama mereka dalam waktu yang lama.
Dewanti tidak menghiraukan pertanyaan dari cucunya itu, melainkan kini melayangkan pandangan ke arah menantunya.
“Apa lagi yang kamu harapkan? Cepat atau lambat, Mama akan pergi meninggalkan kalian. Mungkin hanya ini cara Mama melindungi hak Elvira dan Mama harap kamu bisa sedikit melunakkan hati kamu untuknya,” pinta Dewanti kepada Meisya yang kini hanya bisa terdiam sejenak.
“Terserah Mama saja lah.” Meisya berucap seraya meninggalkan ruangan.
“Oma, jangan bicara seolah Oma akan meninggalkan kami semua,” pinta Nevan yang kini duduk mendekat lalu memeluknya.
“Iya sayang. Oma berharap, Oma bisa berumur panjang dan melihat kalian semua hidup bahagia.”
Nevan lalu melepas pelukannya, seraya membantu menyeka air mata Dewanti, yang sudah jatuh menetes di pipi.
“Oma sudah membuat surat kuasa untuk kamu, Nevan. Tanggung jawab kamu akan lebih besar nantinya,” ungkap Dewanti.
“Oma, kita tidak usah membahas soal ini dulu ya,” pinta Nevan, sedangkan Sakti hanya turut terharu melihat mereka.
“Baiklah, kalau begitu Oma mau membahas yang lain saja,” ujar Dewanti. Ia menatap Nevan dengan pandangan yang tidak dapat Nevan artikan.
“Oma, kenapa menatapku seperti itu? Jangan bilang Oma mau menyuruhku cepat menikah?” tebak Nevan tiba-tiba merasa curiga yang sukses membuat gelak tawa ringan bagi Dewanti.
“Ya kalau masalah itu terserah kamu saja. Kalau kamu sudah siap dan ada calonnya, Oma tinggal memberi restu saja.”
“Nevan itu sangat pemilih kalau masalah perempuan, Oma.” Sakti ikut menimpali.
“Apaan sih,” sahut Nevan dengan ketus.
“Jelas dong harus pemilih.Karena yang kalian pilih nantinya, dia yang akan mendampingi hidup kalian. Yang penting, jangan pernah melakukan kesalahan serupa dengan yang pernah Daffin lakukan, karena meski hal itu terlihat menyenangkan untuk sesaat, tapi itu hanya akan menghancurkan hidup kalian dan hidup orang lain nantinya. Oma tidak mau kalian berdua, cucu-cucu Oma, menyakiti perempuan apa lagi perempuan itu pasangan hidup kalian,” pinta Dewanti yang memberi nasehat kepada kedua pria itu.
“Iya, Oma,” sahut keduanya kompak.
“Oma sampai lupa tadinya mau bahas apa. Oma mau membahas soal hari ini adalah hari ulang tahunnya Elvira.”
“Oh ya?” tanya keduanya lagi kompak, Nevan dan Sakti lalu saling memandang karena merasa tidak tahu apapun.
“Oma berencana untuk merayakannya, tapi Elvira sepertinya tidak akan mau. Dulu saja waktu Daffin ingin mengadakan pesta untuknya, dia menolak dan sepertinya tidak pernah menganggap hari ulang tahunnya sebagai hari yang istimewa baginya. Dia juga tidak mau menerima bentuk hadiah apapun.Terus terang Oma juga tidak mengerti. Tentang hari ini saja dia mungkin tidak mengingatnya.”
__ADS_1
“Bagaimana dengan makan malam keluarga saja, Oma? Ya semacam menikmati waktu kebersamaan dengan keluarga, mungkin akan membuatnya lebih merasa nyaman dibandingkan dengan mengadakan pesta.” Sakti mencoba memberi saran dan Dewanti tampak memikirkannya.
“Iya, kamu benar juga. Elvira tidak akan pernah menolak jika di ajak berkumpul makan bersama.” Dewanti setuju dengan saran Sakti.
“Oma tenang saja, biar saya yang akan membantu menyiapkan semuanya.” Sakti dengan semangat menawarkan diri dan langsung diiyakan oleh Dewanti dan Nevan yang ikut setuju.
...✽✽✽...
Elvira yang tengah sibuk sendiri di meja kerjanya, mendapat sebuah panggilan telepon dari Dewanti yang membuatnya seketika melepas semua dokumen yang ada di tangan.
“Iya, Oma,” sahut Elvira.
“Sayang, kamu masih sibuk?”
“Mm, sebenarnya tidak juga, Oma.”
“Kamu pulang ke rumah sekarang ya. Masak kan Oma sesuatu, Oma kangen rasanya ingin makan masakan kamu,” pinta Dewanti.
Sedangkan Elvira merasa tumben sekali Dewanti tiba-tiba meminta hal ini kepadanya. Tapi itu bukan masalah baginya, Elvira malah senang dan langsung mengiyakan tanpa penolakan.
...✽✽✽...
Tidak lama waktu berselang, Elvira sudah sampai di rumah dengan penuh semangat karena Dewanti sudah menunggu dan menyambut kedatangannya. Sedangkan saat ini rumah sudah tampak sepi, setelah Nevan dan Sakti sudah pergi.
“Sayang, kamu datang juga. Oma sudah menunggu dari tadi,” sambut Dewanti.
“Iya, maaf ya sudah buat Oma menunggu. Ya sudah, aku masak sekarang ya.”
“Oma temani kamu,” pinta Dewanti, Elvira mengiyakan saja.
Setelah selesai melakukan aktivitas di meja dapur, kini mereka sudah duduk bersama di meja makan menikmati makan siang yang tadi mereka masak bersama.
“Kan tadi juga ada campur tangan Oma yang membantu.”
“Oh ya, Elvira. Hari ini kan hari ulang tahun kamu. Kamu mengingatnya kan?”
“Iya Oma.”
“Karena kamu tidak suka dirayakan atau diberi hadiah apapun, Oma hanya mau memberi ucapan serta doa saja. Selamat ulang tahun, Sayang. Semua doa yang terbaik selalu Oma panjatkan untuk kamu, Oma berharap agar kamu selalu hidup bahagia,” ucap Dewanti seraya membelai kepalanya.
“Terima kasih ya, Oma. Aku juga selalu berharap untuk kesehatan dan kebahagiaan Oma, aku ingin di setiap kebahagiaanku ada Oma bersamaku.”
“Iya Sayang. Oh ya, malam ini kita makan diluar bersama ya. Kebetulan Nevan dan Sakti juga sudah kembali, Oma sekalian mengajak mereka. Anggap saja pengganti pesta ulang tahun kamu, Oma ingin keluarga kita berkumpul menikmati waktu bersama.”
“Iya Oma”
Kehadiran Meisya yang tiba-tiba berada di sana, memecah suasana haru mereka. Tampaknya ia sedang tidak baik-baik saja, setelah mendengar keputusan dari Dewanti.
“Mama, kita makan bareng, yuk,” ajak Elvira.
“Tidak perlu, aku akan makan diluar saja,” jawab Meisya dingin.
“Malam ini Mama akan mengadakan acara makan malam untuk keluarga kita dalam rangka hari ulang tahun Elvira. Mama berharap kamu ikut,” kata Dewanti memberitahu Meisya.
“Ya tergantung bagaimana suasana hatiku.”
“Terserah kamu saja, Mama juga tidak akan memaksa kamu. Yang terpenting Mama sudah memberitahu kamu.”
__ADS_1
Tanpa ingin menanggapi lagi, Meisya segera berlalu saja membawa langkahnya meninggalkan ruangan tersebut.
...✽✽✽...
Meisya baru masuk ke ruangannya, dan menyandarkan punggung ke kursinya. Masih dengan perasaan marah, yang saat ini berkecamuk di benaknya.
Sampai kapan pun ia tetap tidak akan rela, jika Elvira mendapatkan semua milik Daffin. Tapi keputusan Dewanti sangat sulit untuk ditentang, karena ia tidak memiliki kuasa penuh seperti mama mertuanya itu.
“Permisi, Bu. Ini ada berkas yang perlu Ibu tanda tangani.” Suara Anya memecah pikirannya.
“Sini.”
Meisya langsung mengambil berkas tersebut dan membubuhkan tanda tangannya di beberapa lembar dokumen, walau masih dengan wajah penuh amarah dan kekesalan yang tak bisa disembunyikan.
“Ibu Meisya kenapa? Sepertinya sedang kesal,” tanya Anya penasaran.
Sejauh ini Meisya sering merasa kesal selalu berkaitan dengan masalah di rumahnya sendiri, entah itu karena Elvira atau sikap mertuanya yang selalu bertentangan dengannya.
“Aku harus berbuat sesuatu, aku tidak akan membiarkan Elvira berhasil mengambil semuanya.” Meisya berujar sendiri namun masih terdengar jelas di telinga Anya.
“Apa? Maksudnya?” Anya bereaksi lebih penasaran. Rasa keingintahuan itu tak terelakkan dari benaknya.
“Hari ini Mama mertua saya akan membuat Elvira mengklaim semua saham milik Daffin. Bagaimana saya bisa berdiam diri saja? Mereka bahkan akan mengadakan acara makan malam keluarga khusus untuk merayakan ulang tahun Elvira,” gerutu Meisya meluapkan kekesalannya.
“Acara makan malam ya? Hmm ....” Anya tampak memikirkan sesuatu.
“Malas banget saya harus ikut hadir.”
“Tidak apa-apa, Ibu Meisya hadir saja. Saya juga sepertinya ingin turut bergabung.”
“Apa-apaan kamu?Tidak perlu.”
“Perlu, Bu Meisya. Saya sepertinya punya kejutan,” ungkap Anya tersenyum senang ke arahnya.
“Apa maksud kamu?” Meisya memandangnya penuh selidik.
“Akan ada kejutan untuk Elvira yang akan membuatnya selamanya terusir dari keluarga Bu Meisya.”
“Kamu membual? Saya pernah percaya sama kamu, tapi apa? Kamu pernah membohongi saya bahkan membuat saya malu! Cara kamu memang tidak pernah berhasil!”
“Percayalah sama saya kali ini, Bu Meisya pasti tidak akan kecewa. Tapi ... ada syaratnya.”
“Kamu mau membuat kesepakatan dengan saya? Harusnya kamu hanya menuruti keinginan saya saja,” bantah Meisya.
“Saya mau setidaknya 50% dari kepemilikan Elvira.”
“Apa?! Itu bahkan jauh lebih besar dari yang seharusnya kamu dapatkan! Kamu benar-benar mau menggigit saya?” protes Meisya tidak terima.
“Tidak juga, saya hanya ingin bagian yang adil dan saya yakin Bu Meisya pasti akan bisa mengusahakannya untuk saya kan?”
“Apa rencana kamu?”
Anya lalu membisikkan sesuatu kepada Meisya, yang membuat Meisya tercengang saat mendengar kalimat penjelasan darinya.
Bersambung...
__ADS_1