Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 53-- Kecurigaan Elvira


__ADS_3

Malam itu di kediaman keluarga Arkatama.


Elvira sedang duduk bersama Dewanti di sebuah sofa, ia menceritakan tentang pengalamannya saat menemukan panti asuhan milik Rani waktu itu.


Dewanti mendengarkannya dengan penuh perhatian saat Elvira mengatakan jika ia ingin membantu panti asuhan tersebut.


Elvira juga menunjukkan foto tampak depan bangunannya yang tampak sederhana membuat Dewanti prihatin melihatnya.


“Bagaimana menurut Oma?” tanya Elvira yang meminta pendapatnya.


“Oma sangat setuju, sayang. Oma selalu mendukung untuk program-program seperti ini karena itu Oma dulu mendirikan yayasan ini, Oma mau membantu lebih banyak orang diluar sana. Karena saat ini kamu yang Oma percaya untuk mengurusnya, maka kamu yang harus membantu mewujudkan keinginan Oma tersebut, ya.”


“Iya, Oma.Terima kasih ya. Mulai sekarang aku akan lebih sering minta pendapat dan masukan dari Oma karena Oma jauh lebih berpengalaman,” ujar Elvira.


“Iya Sayang.”


...----------------...


Sementara itu, di depan gerbang yang tinggi dan kokoh sudah ada Gio di dalam mobilnya yang sedang memandangi dan mengagumi betapa besar dan megahnya rumah tersebut.


Sebelumnya ia telah berhasil menemukan informasi mengenai keluarga Arkatama yang memiliki nama besar di penjuru negeri.


Gio benar-benar tidak percaya jika adiknya sekarang ikut tinggal di kediaman ini.


Ia tadinya sempat tidak percaya rumah yang memiliki gerbang hampir sepanjang jalan di lingkungan tersebut adalah sebuah kediaman pribadi, karena terlihat sangat besar layaknya sebuah istana yang sangat indah dengan hiasan nyala lampu yang menerangi setiap sisi bangunannya pada malam hari seperti ini.


Gio lalu mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi nomor Anya.


Sedangkan saat itu Anya yang sedang berada di kamarnya dikejutkan oleh panggilan telepon dari kakaknya.


“Halo Kak Gio,” jawab Anya.


“Anya, Kakak sedang berada di depan rumah keluarga Arkatama.”


“Apa? Apa yang Kakak lakukan di sini?” tanya Anya langsung panik.


“Kakak mau bertemu kamu.”


“Kakak tunggu di situ saja. Aku akan segera keluar.”


Anya pun segera menutup teleponnya dan bergegas keluar, perlu waktu beberapa saat untuknya sampai keluar gerbang karena harus berjalan di rumah yang luas ini.


Belum lagi dari pintu utama menuju ke gerbang depan memiliki jarak yang tidak dekat untuk sebatas berjalan kaki.


Saat melintas, Elvira yang saat itu sudah selesai mengobrol dengan Dewanti melihat Anya yang berjalan setengah berlari dengan wajah yang terlihat panik. Elvira memperhatikan dari jarak yang tidak terlalu jauh jika Anya sudah sampai keluar pintu.


Merasa penasaran, Elvira segera mengikutinya. Sesampainya diluar, Elvira masih terheran melihat Anya terus berjalan mendekati pintu gerbang.


Hal itu mengundang rasa keingintahuannya, karena perlakuan dan sikap Anya terhadapnya selama ini membuat Elvira jadinya lebih waspada dengan segala tindakan perempuan tersebut.


Ia takut jika Anya akan menyebabkan masalah lagi untuknya.


Elvira lalu turut keluar dan terus berjalan mengikutinya dengan hati-hati. Ia melihat Anya kini sudah tiba di depan pintu gerbang, Anya sepertinya sedang berbicara dengan para penjaga di sana.


Entah apa yang dibicarakannya hingga tidak lama kemudian penjaga mau membukakan pintu gerbang untuknya.

__ADS_1


Anya segera berjalan dengan cepat keluar dan melihat di seberang jalan sudah ada mobil Gio yang terparkir. Ia lalu menghampirinya dan Gio langsung keluar dari mobilnya.


“Kak Gio sedang apa di sini?” pertanyaan Anya terdengar panik dan ia terlihat sangat gelisah dengan kehadiran kakaknya di sini.


“Bagaimana keadaan kamu?”


“Aku baik-baik saja, Kak.”


“Kamu betah tinggal di rumah itu?” tanya Gio.


“Iya. Siapa yang tidak betah tinggal di rumah semegah itu. Sejak kecil, aku sudah cukup lama tinggal di rumah yang kecil dan sederhana.”


“Anya, apa yang kamu pikirkan?” Gio merasa tidak percaya dengan sikap adiknya saat ini.


“Lebih baik Kak Gio pergi dari sini sekarang, aku takut orang rumah akan melihat Kakak di sini,” pinta Anya.


Sementara itu Elvira sudah berjalan sampai di depan gerbang yang sedikit terbuka karena Anya yang masih diluar.


“Nyonya Elvira,” sapa seorang penjaga diikuti beberapa orang lainnya yang menyambut kehadirannya.


Elvira lalu melihat ke arah luar gerbang dan ia melihat Anya sedang mengobrol dengan seorang pria di depan mobil, Elvira tidak terlalu jelas melihat wajah pria tersebut karena terlindung oleh Anya yang sedang berhadapan dengannya.


“Sedang apa dia di luar sana?” tanya Elvira kepada para penjaga.


“Katanya mau mengambil pesanan dari seseorang di depan sana, Nyonya.”


“Mengambil pesanan?” Elvira mengernyit heran karena ia melihat Anya tampak sedang mengobrol dan mereka terlihat dekat.


Elvira pun hendak berjalan beberapa langkah lagi ke depan, akan tetapi ia tiba-tiba mendapat sebuah panggilan telepon karena dari tadi ia masih memegang ponselnya.


Elvira pun lalu memutuskan untuk kembali ke dalam sebelum Anya mengetahui jika ia mengikutinya.


“Kalian jangan bilang kalau saya ada disini,” pinta Elvira kepada para pria tersebut yang langsung diiyakan oleh mereka.


“Halo, ya ada apa?” Elvira menjawab telepon Nevan sembari berjalan menuju rumah.


“Aku mengirimkan sebuah lukisan, mungkin besok sudah sampai di ruangan kamu.”


“Lukisan? Lukisan apa?” tanya heran.


Sedangkan Nevan kini tersenyum mengingat saat ia memandangi lukisan tersebut pada acara pameran hari itu, ia langsung teringat Elvira dan berencana mendapatkan lukisan tersebut untuk Elvira.


Nevan bahkan langsung menemui pelukisnya yang juga sangat ia kagumi semua karyanya dan Nevan meminta untuk bisa memiliki lukisan tersebut bagaimanapun caranya.


Beruntung, sang pelukis tidak mempersulitnya karena ia sangat senang bisa dikagumi oleh CEO Arkatama grup itu.


“Ada lah, pokoknya itu lukisan dari pelukis yang sangat terkenal. Kamu harus memajangnya di ruangan kamu.”


“Kenapa aku harus mengikuti kehendak kamu?” sanggah Elvira.


“Karena aku sudah memberikannya untuk kamu, kamu harusnya menyambut kebaikanku.”


“Aku tidak pernah memintanya,” ketus Elvira karena Nevan selalu saja terkesan memaksanya.


“Tapi kamu harus menerimanya karena aku sudah memberikannya. Apa kamu tidak bisa menghargai pemberian orang lain? Hah!” paksa Nevan terdengar marah.

__ADS_1


“Ya ampun.”


Elvira tidak habis pikir malah kini Nevan yang terdengar marah-marah kepadanya.


“Terima saja dan pajang itu di ruangan kamu. Besok akan ku periksa langsung ke sana.”


Detik berikutnya Nevan sudah mematikan sambungan teleponnya yang sukses membuat Elvira selalu saja kesal terhadapnya.


“Kenapa dia jadi sangat menyebalkan seperti ini?!” gerutu Elvira.


...----------------...


Sementara itu Anya yang masih mengobrol dengan Gio lalu segera mengusir kakaknya itu karena sejak tadi Gio terlihat berdiam diri saja sambil memikirkan sesuatu di kepalanya.


“Kakak pulang aja sekarang ya, nanti kita bicara lagi. Aku mohon,” pinta Anya.


“Nanti Kakak akan menghubungi kamu lagi,” ujar Gio lalu ia segera masuk ke mobil.


“Aku masuk dulu,” pamit Anya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Keesokan harinya, Elvira menghampiri Anya yang sudah tiba lebih dahulu di meja makan menikmati sarapannya dan Elvira lalu duduk di sebelahnya.


Elvira melihat secangkir kopi di gelas Anya yang baru ia letakkan kembali setelah meminumnya.


Elvira lalu berinisiatif menuangkan segelas jus dan memberikan untuknya.


“Ini akan jauh lebih baik daripada kopi.” Elvira lalu mengambil cangkir kopi tersebut dan menjauhkannya dari jangkauan Anya.


“Tidak usah sok perhatian, kita hanya berdua di sini,” ketus Anya.


“Setidaknya kamu harus lebih memperhatikan kesehatan calon anak kamu. Aku rasa minum kopi di pagi hari seperti ini kurang baik untuk kamu,” ujar Elvira terdengar perhatian.


“Perempuan seperti kamu,bisa-bisanya mau mengajariku.”


“Ini hanya bentuk perhatianku untuknya,” kata Elvira sembari melirik ke arah perut Anya.


Anya pun hanya mendengus kesal lalu meminum jus tersebut.


“Siapa laki-laki yang tadi malam kamu temui?” tanya Elvira tiba-tiba membuat Anya tersedak.


Ia lalu menatap Elvira tidak percaya karena Elvira mengetahuinya.


“Kamu melihatnya? Bukan siapa-siapa,” jawab Anya judes.


“Bukan siapa-siapa? Oke.”


Elvira langsung pergi meninggalkannya begitu saja.


Sedangkan Anya terlihat kesal karena ia tidak menyangka bisa-bisanya Elvira mengetahuinya.


Jika begini terus, ia berpikir harusnya tidak akan lagi membiarkan Gio menemuinya di depan rumah.


 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2