
Elvira sudah tiba di sebuah taman kota. Tempatnya rindang dengan banyaknya pepohonan berjajar rapi, menambah kesejukan di area yang sering orang-orang kunjungi untuk bersantai itu.
Sebelumnya tadi ia sudah berhasil menghubungi Gio, dan Gio setuju untuk bertemu, karena ia juga hendak membicarakan sesuatu kepada Elvira.
Tidak lama Elvira berjalan mengitari tempat ini, ia sudah menemukan keberadaan Gio, yang ternyata sudah tiba lebih dulu darinya di tempat janjian mereka hari ini.
Elvira menghampirinya, ia menghentikan langkah kakinya sejenak. Elvira memperhatikan ke arah bangku berukuran panjang kurang lebih satu meter, yang sedang menjadi tempat Gio duduk untuk menunggunya.
“Apa yang kamu lihat?” tanya pria itu.
Elvira memandang ragu untuk duduk di samping pria ini, dengan jarak yang menurutnya sangat dekat. Bukan apa-apa, ia merasa hanya perlu berjarak dengan seorang pria yang baru-baru ini dikenalnya.
Sedangkan kini, Gio memperhatikan sebuah payung yang dibawa oleh Elvira. Ia tersenyum singkat melihatnya.
“Ini, payung kamu aku kembalikan. Maaf aku baru mengingatnya,” ujar Elvira, sembari menyerahkannya kepada Gio dan langsung disambut.
“Ini benar milikku, atau kamu menggantinya dengan yang ada di toko-toko?”
“Ini memang milik kamu.”
Gio tersenyum lagi. “Terima kasih ya, sudah menjaganya.”
“Lagi pula itu hanya sebuah payung.”
“Jangan hanya lihat bendanya, kamu tidak akan pernah tahu arti benda ini bagi seseorang.”
“Ya terserah lah, yang penting aku sudah mengembalikannya. Terima kasih untuk waktu itu, dan maaf karena aku telah menampar kamu,” ucap Elvira terdengar penuh sesal.
Mendengar kalimat terakhir yang Elvira ucapkan, Gio tersenyum. Tampaknya hal itu bukanlah sesuatu yang akan ia permasalahkan, ia merasa memang pantas mendapatkannya setelah tudingannya yang salah.
“Tidak apa-apa, aku pantas menerimanya. Sekarang, duduklah,” ajak Gio.
Merasa kakinya sedikit pegal setelah berjalan di area yang cukup luas tadi, Elvira mengiyakan saja. Ia duduk dengan perasaan ragu.
Kini keduanya duduk bersampingan dengan sedikit jarak dan hal itu membuat Elvira merasa kurang nyaman, namun ia tetap berusaha menenangkan diri. Seperti halnya Gio di sampingnya saat ini, terlihat tenang dan santai.
“Kamu mungkin sudah mengetahui tentang oma ku yang ingin bertemu dengan kamu.” Elvira segera membuka pembicaraan.
“Iya.”
“Kamu bersedia menemui oma?” tanya Elvira.
“Mana mungkin aku bisa menolak permintaan, dari seorang yang terpandang seperti ibu Dewanti.”
“Aku sebenarnya mau minta tolong sama kamu.”
“Minta tolong apa?”
__ADS_1
“Oma belum tahu kalau kamu adalah kakaknya Anya, sebaiknya kamu jangan mengungkapkan hal ini kepada Oma,” saran Elvira.
“Kenapa?”
“Oma sangat tidak menyukai kehadiran Anya di keluarga kami. Jika oma mengetahui siapa kamu sebenarnya, aku khawatir masalah ini akan jadi semakin runyam. Kamu sama sekali tidak ada kaitannya dengan apa yang sudah Anya lakukan. Jadi, biarkan oma tidak mengetahui soal ini,” tutur Elvira.
“Kamu tidak mau aku mengatakan kalau aku adalah keluarga dan orang terdekat Anya?” tanya Gio memastikan lagi. Elvira mengiyakan.
“Kamu khawatir kalau ibu Dewanti tahu, dia mungkin akan turut membenciku?" tebak Gio jitu. "Apa kamu mengkhawatirkan ku?” tanya Gio lagi.
“Bukan seperti itu, kamu hanya tidak perlu terlibat dengan kelakuan adik kamu. Pokoknya lakukan saja sesuai permintaanku,” pinta Elvira terdengar agak memaksa.
“Aku sebenarnya tidak pandai berbohong, Elvira. Tapi aku akan merahasiakan ini, karena kamu yang memintanya. Kamu harus tahu bagaimana saat ini aku menebalkan muka, menahan rasa malu saat bertemu kamu,” ungkap Gio.
“Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak mempunyai alasan untuk turut membenci kamu.”
“Aku juga ada satu permintaan,” ucap Gio tiba-tiba.
“Apa?”
“Elvira, ada ikatan kekeluargaan yang tidak hanya terbentuk karena ikatan darah. Selain pernikahan, ada ikatan sebuah hati yang bertaut hanya berdasarkan rasa simpati dan kasih sayang. Seperti yang terjadi antara kami, kepada kedua orang tua angkat kami.”
“Maksud kamu?” Elvira nampak perasaan, ia tidak sadar jika mereka berdua kini sudah berbicara layaknya seorang yang sudah saling akrab.
“Aku dan Anya sebenarnya adalah hanya lah anak angkat dari bu Rani dan pak Arga--suaminya. Namun mereka berdua sudah ku anggap lebih dari sekedar orang tua. Aku sangat menyayangi mereka bahkan sampai aku tidak sanggup membuat hati mereka terluka. Semua curahan kasih sayang yang mereka berikan selama ini tak bisa ku patahkan begitu saja, karena itu aku harus merahasiakan apa yang telah terjadi pada Anya,” ungkap Gio panjang lebar.
“Elvira, aku mohon. Kalau boleh aku memiliki satu permintaan. Tolong jangan beritahukan semua ini kepada ibu Rani, dia tidak akan sanggup menahan rasa kekecewaannya. Kalau pun ibu tahu soal ini, tidak ada yang bisa dia perbuat untuk menghentikan Anya. Melainkan hanya menyisakan kesedihan yang mendalam baginya, aku hanya ingin menjaga perasaannya. Maaf jika aku harus meminta hal ini kepada kamu.”
Elvira hanya terlihat mendengarkan saja penuturan panjang dari Gio. Tanpa ia minta pun, Elvira tetap akan merahasiakan ini dari Rani.
Selain rasa simpatinya yang turut ingin menjaga perasaan seorang yang dianggapnya baik itu, di sisi lain Anya juga memberinya ancaman yang mengaitkan Dewanti.
Elvira melihat betapa Gio sepertinya sangat menyayangi orang tuanya itu, meski tahu mereka bukanlah orang tua kandungnya. Sama seperti perasaan Elvira yang tiba-tiba teringat Widya.
Mengetahui jika Widya bukanlah ibu yang melahirkannya, membuat Elvira sangat terpukul. Namun nyatanya tetap tak bisa mengurangi rasa sayangnya terhadap Widya, sehingga ia juga tidak ingin Widya mengetahui semua persoalan yang terjadi kepadanya. Hanya untuk menjaga perasaannya.
“Kamu tenang saja, aku tidak akan melakukannya,” sahut Elvira setelah ia terlihat melamun sejenak.
“Terima kasih ya,” ucap Gio.
“Kalau begitu, aku akan pergi sekarang.”
Elvira segera berdiri dan hendak melangkah. Akan tetapi ia langsung menahan langkahnya saat melihat beberapa orang pengunjung taman tersebut, tampak bergegas pergi seperti menghindari sesuatu.
Detik berikutnya Elvira mendapati rintik air yang tidak terlalu deras mengenai tubuhnya, rupanya saat ini tiba-tiba saja turun hujan yang tidak mereka duga sebelumnya. Padahal tadi saat berangkat ke tempat ini, langit terlihat masih cerah.
Gio segera membuka payungnya. Ia berdiri selangkah lebih dekat kepada Elvira yang mulai panik, sehingga perempuan itu kini ikut bernaung di bawah payungnya.
__ADS_1
“Sepertinya semesta menginginkan, saat ini kamu harus kembali bernaung di bawah payungku,” ujar Gio tersenyum singkat.
“Aku tidak ingin terjebak disini,” sahut Elvira, tampak khawatir.
“Kalau begitu, aku akan mengantar kamu sampai ke mobil kamu.”
Keduanya segera berjalan dengan sedikit pelan, di bawah guyuran hujan yang memang tidak terlalu deras.
“Berjalan berdua seperti ini, tampaknya membuat kita terlihat akrab.” Gio mencoba mengajak Elvira yang lebih banyak diam untuk bicara.
“Iya sih.” Elvira menyahut singkat.
“Kita beberapa kali pernah bertemu dan mengobrol, apa bisa ini disebut sebagai pertemanan awal?” tanya Gio.
“Entah lah, tapi aku biasanya tidak mudah berteman dengan seorang pria. Apalagi baru bertemu,” jawab Elvira seakan mampu mematahkan keinginan Gio.
“Oh ya? Ya wajar sih. Orang seperti kamu pasti tidak akan mudah berteman sembarang orang. Pasti hanya dari kalangan tertentu, yang bisa berteman dengan kamu.”
“Bukan seperti itu maksudku,” bantah Elvira.
“Kamu tidak takut dengan ku, kan? Aku suka membawa pistol kemana-mana soalnya.” Gio berkata sembari terdengar bercanda dan hal itu membuat Elvira tersenyum singkat.
“Bukan itu juga. Aku memang tidak mudah berteman dengan pria.”
“Kamu bilang kamu tidak mempunyai alasan untuk membenci ku, apa kamu juga tidak mau berteman denganku?” tanya Gio.
“Entah lah, kita lihat saja tergantung bagaimana sikap kamu,” jawab Elvira memilih irit bicara.
Tampaknya sikapnya seperti ini, menimbulkan rasa ketertarikan sendiri dari Gio. Selain mengagumi lembutnya hatinya di balik sikapnya, pria itu juga mulai terpikat dengan kecantikan fisik menyeluruh dari diri Elvira.
“Kita mungkin akan bertemu lagi nanti," ujar Gio, kembali berusaha memecah keheningan.
“Iya,” sahut Elvira singkat.
“Tapi aku senang, kamu masih menyimpan nomor telepon ku.” Gio berujar membuat Elvira menatapnya dengan sedikit malu.
Keduanya masih terus berjalan dalam diam, tanpa dialog lagi setelahnya. Tidak lama kemudian, ternyata hujan dengan curah sedang itu kini sudah berhenti. Cuaca sepertinya mulai cerah kembali, Elvira merasa lega.
“Aku akan pergi sekarang,” pamit Elvira.
“Aku anggap ini pertemanan awal kita,” pungkas Gio.
Sedangkan Elvira tampaknya memilih diam saja. Ia segera berjalan mendahului Gio, untuk menuju area parkiran mencari mobilnya.
Bersambung ...
__ADS_1