
Di tempat berbeda, Elvira yang baru beberapa saat mengaktifkan kembali ponselnya langsung dikejutkan dengan panggilan telepon dari Nevan.
Memandangi layar ponsel yang terus berdering itu membuat perasaan Elvira selalu tidak karuan saat mendapat panggilan dari pria itu.
Namun setelah membiarkan beberapa saat Nevan menunggu, akhirnya Elvira menjawab teleponnya.
“Kamu dimana? Kenapa tidak bisa dihubungi? Apa yang kamu lakukan? Kemana kamu selama dua hari ini?!”
Baru saja ia ingin bersuara, Nevan sudah langsung menghujaninya pertanyaan hingga kuping Elvira langsung terasa panas dibuatnya. Apalagi terdengar sekali nada suara pria itu sedang marah-marah kepadanya.
“Halo! Kamu mendengar ku?” panggil Nevan lagi di seberang telepon karena Elvira tak kunjung menyahutnya.
“Iya, aku dengar. Aku lagi di sebuah tempat, lagi santai sambil makan es krim,” jawab Elvira tanpa beban sembari melirik ke arah es krim berbentuk corong yang ada di tangan satunya.
“Di sebuah tempat? Makan es krim?”
“Iya. Di taman bermain yang terbengkalai,” jawab Elvira sekenanya.
“Apa? Di saat seperti ini, kamu masih bisa mengatakan kamu lagi santai sambil makan es krim?!” pekik Nevan yang sedang mencemaskannya.
“Duh! Ini nih yang buat aku takut kalau mengaktifkan nomor teleponku, kamu pasti akan menghubungiku dengan marah-marah seperti ini,” gerutu Elvira.
“Kamu tidak tahu bagaimana aku sangat mengkhawatirkan kamu.” Nevan tiba-tiba berucap terdengar lirih.
“Apa?” Elvira memintanya mengulangi.
“Kamu dimana sekarang?” tanya Nevan langsung mengalihkan pembicaraan.
“Aku kan sudah bilang aku ada di taman bermain yang terbengkalai. Nanti juga setelah dari sini aku akan ke rumah menemui oma.”
“Aku akan jemput kamu.”
“Tidak perlu.”
“Tunggu lah disana,” pintanya terdengar memaksa.
Laki-laki langsung mematikan teleponnya secara tiba-tiba seperti biasanya dan membuat Elvira hanya mendengus kesal.
Nevan yang merasa sudah tidak asing dengan tempat yang dimaksud Elvira, karena dulu ia pernah mengantarnya ke sana. Ia segera menuju tempat itu. Ia mengambil ponsel untuk memberitahu Sakti mengenai keberadaan Elvira.
...༺༻...
Sementara itu di sebuah tempat.
Sejumlah orang yang tampak tenang melakukan aktivitas mereka tiba-tiba dikejutkan oleh suara berisik dari arah pintu utama bangunan yang baru didobrak paksa.
Suasana yang tadi sempat hening seketika berubah menjadi kegaduhan setelah belasan anggota polisi menyergap masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
Mereka menyebar dengan siaga mengacungkan senjata api, menekan nyali serta mengintimidasi sejumlah orang yang semuanya berjenis kelamin pria itu.
Dorrr... Suara tembakan peringatan menggema di udara.
“Angkat tangan! Jangan bergerak!” Terdengar suara bariton memerintah dengan nada tegas dari pemimpin pasukan penggerebekan.
Merasa kehilangan gairah melawan, sejumlah pria itu mengangkat tangan dengan pasrah. Mau kabur juga percuma, tempat mereka telah dikepung. Beberapa sorot pasang mata itu tampak masih mencerna situasi, menyadari markas penghasil uang mereka telah diketahui polisi.
Beberapa orang tim penggerebek bertugas mengumpulkan mereka di satu titik. Mereka disuruh duduk berjajar tanpa sedikitpun luput dari pengawasan.
“Nunduk!” perintah salah seorang petugas.
Sedangkan beberapa anggota tim lainnya segera menggeledah beberapa sisi bangunan hunian pribadi itu. mereka mengamankan banyak bukti berupa hasil produksi, beberapa bahan dasar material serta peralatan yang digunakan untuk memproduksi barang haram yang meresahkan masyarakat itu.
Gio yang ikut andil dalam tugas kali ini turut menggeledah beberapa ruangan lain ditemani dua orang anggota.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara tembakan yang dilayangkan ke udara dari arah luar, tanda peringatan berasal dari pistol seorang rekan tim lainnya.
“Dua orang melarikan diri!” seru seseorang dari arah luar bangunan. “Satu di antaranya adalah buronan kita yang sempat kabur!”
Gio segera berlari mencari sumber suara dan melihat rekannya itu sudah mengejar ke arah belakang rumah yang terdominasi pepohonan. Tanpa pikir panjang, Gio memberi isyarat pada satu orang anggotanya untuk turut membantu pengejaran bersamanya.
“Jangan biarkan mereka lolos!” titah Gio.
“Siap!” Mereka segera berlari menyusul.
Tidak berselang lama, terdengar lagi suara satu tembakan. Rupanya berasal dari senjata api yang dimiliki buronan mereka.
Di depan mereka dengan jarak beberapa meter, terlihat seorang rekan mereka tadi sudah menangkap salah seorang target. Pria itu terlihat tak berdaya untuk lari karena telah dihadiahi sebuah timah panas di salah satu kakinya.
“Satu lagi berlari ke arah sana!” Rekannya itu menunjuk ke suatu arah. Pandangan mereka sedikit terhalang karena banyaknya barisan pepohonan.
“Hati-hati, dia bersenjata dan berani memberikan perlawanan,” ujarnya lagi memperingatkan sambil terus memegangi satu orang tersebut.
...༺༻...
Elvira tampak masih duduk bersantai di sebuah bangku taman bermain yang sepi hanya untuk sekedar mengenang masa-masa bahagianya waktu bersama ayahnya dulu.
Duduk bersama, mendengarkan cerita-cerita lucu dari sang ayah hingga makan es krim, mengingat hal sederhana seperti itu justru malah membuat Elvira sudah sangat senang meski kini kedua orang tua kandungnya sudah berada di alam berbeda dengannya.
Ia lalu meraba jari manis pada tangan kanannya yang saat ini sudah tidak terpasang lagi cincin pernikahan, membuat Elvira merasa benar-benar harus menguatkan diri dan melapangkan dada menerima semua takdir ini.
“Ya ampun, aku sudah tidak ingin menangis lagi untuk hari ini,” gerutunya sambil menyeka sudut mata yang berair.
Ia segara membawa dirinya untuk berdiri lalu melangkah menyusuri area yang berada tidak terlalu jauh dari jalan raya itu. Berharap akan segera bertemu Nevan yang kemungkinan sudah hampir sampai menjemputnya.
Saat Elvira tengah asyik berjalan, seorang pria entah darimana arahnya menabrak menghantamnya dengan kecepatan tak terduga. Tubuh Elvira yang kalah kekuatan dari pria langsung oleng dan terjatuh. Ternyata ia mendapati pria tak dikenal itu juga terjatuh.
__ADS_1
Keduanya segera sama-sama bangkit. Elvira bertatap mata dengan pria berusia paruh baya itu. Penampilannya tampak beringas, tidak ada tanda-tanda keramahan pada raut wajahnya. Hal itu membuat Elvira bergidik ngeri karena di tempat sepi ini bertemu orang sepertinya.
Elvira melirik ke sebuah arah, tidak terlalu jauh terdapat pos penjagaan polisi yang kebetulan berada di dekat persimpangan lampu lalu lintas jalan. Ia berpikir jika kenapa-kenapa, ia bisa saja berteriak.
Sedangkan di saat yang bersamaan, pria itu terburu menengok ke sebuah arah berbeda dan melihat sudah ada dua orang anggota polisi yang mengejarnya kini semakin dekat.
Sekali berdecih kesal, pria itu merasa terdesak karena pelariannya terhenti beberapa detik saat tidak sengaja menabrak tubuh Elvira. Sementara Gio dan rekannya dalam beberapa hitungan detik lagi akan segera sampai mendekatinya.
Tanpa diduga pria itu langsung meraih leher Elvira dengan lengannya, mendekapnya dari belakang. Hal itu membuat pergerakan Gio dan rekannya langsung terhenti.
Rekan Gio yang tidak sabaran hendak beranjak bermaksud mendekat, akan tetapi langsung di tahan Gio dengan sebuah isyarat gerakan dari tangannya.
Sesuai dugaannya, pria itu mengacungkan pistol dan menempelkan ujung senjata tajam tersebut pada pelipis Elvira. Gio tersentak melihatnya, sementara hatinya masih bertanya-tanya untuk apa Elvira berada di tempat ini, keadaan ini sungguh sangat membahayakan bagi perempuan itu.
Sedangkan Elvira yang sedari tadi sudah ketakutan setengah mati, kini bertambah panik merasakan benda berbahaya itu tak berjarak darinya.
Masih dalam ketakutannya, Elvira memandang penuh harap ke arah Gio yang berjarak beberapa meter tampak tidak bisa berkutik. Gio memahami ketakutan Elvira, karena itu juga membuatnya sangat khawatir.
“Letakkan senjata kalian! Atau peluru dari pistol ini akan bersarang di kepala perempuan ini!” ancamnya.
Gio mengajak rekannya untuk menurut saja. Bagaimanapun juga, mereka tidak akan berani jika situasinya mengancam keselamatan seorang warga sipil seperti saat ini.
“Ampun, Pak! Ja-ja-jauhkan benda itu,” pinta Elvira memohon dengan tergagap di tengah ketakutannya.
Tangan serta kakinya sudah dingin dan gemetar, darahnya berdesir tak karuan serta jantungnya berdegup tak seirama. Entah apa yang akan terjadi kepadanya setelah ini, Elvira hanya merasakan ketakutan yang semakin menyelimutinya.
Pria itu tersenyum sinis, menunjukkan seringai penuh kemenangan. Ia merasa ada untungnya bertemu seorang perempuan karena bisa menjadikannya tameng untuk berlindung dari penangkapan.
Sementara itu, Nevan yang baru datang melihat dari kejauhan. Matanya terbelalak, karena sudah disuguhkan pemandangan yang membuat jantungnya hampir melompat.
“Elvira!” Nevan menyeru namanya sembari berlari.
Elvira yang masih berbalut ketakutan kini hanya terlihat pasrah, ia memejamkan matanya. Berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya, napasnya kini sudah mulai kehilangan kebebasannya.
Tiba-tiba terdengar sebuah suara tembakan melesat dengan kecepatan tak terhingga membuat matanya semakin menutup rapat. Sepercik cairan berwarna merah pekat menghambur di sebagian pelipisnya.
Pistol yang tadi dilekatkan oleh pria itu kini terlepas seketika, seiring ambruknya tubuhnya yang turut membawa tubuh Elvira jatuh ke tanah secara bersamaan.
Keduanya tak sadarkan diri dengan posisi terlentang dan bersampingan. Tangan pria itu pun sudah terlepas dari Elvira.
“ELVIRA!!!!” Suara teriakkan keras dari Nevan menggema di udara. Nevan terus berlari secepat mungkin untuk menaklukan jarak mereka.
Tak kalah paniknya, Gio yang berada dalam jarak lebih dekat turut langsung berlari dengan perasaan yang sudah tak karuan.
Bersambung ...
__ADS_1