
Tiba di halaman gedung untuk menghampiri mobil Elvira yang terparkir, Gio membukakan pintu mobil untuk Elvira.
Elvira tersenyum dibuatnya karena pria itu bertingkah seolah ia sedang bertugas sebagai supir untuk Elvira.
“Tidak perlu, aku akan duduk di kursi depan saja,” ujar Elvira yang segera berlalu dengan cuek tanpa memedulikan pintu mobil yang telah dibukakan Gio untuknya. Elvira justru memilih masuk sendiri ke mobilnya.
“Masuk lah, kamu yang mengantar ku sekarang,” titah Elvira setengah berteriak dan langsung diiyakan oleh Gio dengan tindakan, ia segera mengambil alih kemudi mobil tersebut.
...----------------...
Di perjalanan, kali ini Gio membawa laju mobil Elvira dengan hati-hati. Elvira mengingat kembali saat pertama bertemu dengannya yang sempat membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia membandingkannya dengan sekarang.
Namun sepertinya saat ini pria di sampingnya ini memilih untuk irit bicara, karena mungkin saja merasa harus menghormatinya.
Elvira lalu membelai bagian kupingnya yang masih ada sedikit terasa sakit sejak kejadian tadi.
“Awww!” Suaranya memekik memecah keheningan.
“Ada apa?” tanya Gio yang perhatiannya kini teralihkan.
“Bagian kuping ku sepertinya terluka cukup parah karena orang tadi merampas antingku dengan kasar, rasanya sangat sakit saat aku menyentuhnya.”
“Maaf ya karena aku tadi mengajak bertemu di tempat itu, kamu harus mengalami hal ini,” ucap Gio dengan sesal.
“Tidak apa-apa, musibah kan tidak ada yang tahu.”
“Tapi biasanya di sana aman-aman saja, aku sering pergi ke sana karena tidak jauh dari kantor.”
“Sudah lah, tidak apa-apa.”
...----------------...
Saat itu terlihat Nevan sudah duduk di sofa lobby kantor yayasan Mentari Kasih menunggu kedatangan Elvira. Sejak ia datang mencari Elvira, salah satu staf mengatakan jika Elvira belum juga terlihat kembali setelah pergi ke acara universitas.
Tidak lama kemudian, dari kejauhan ia melihat dari balik pintu utama kantor yang sedang terbuka lebar ada mobil Elvira yang baru saja berhenti.
Nevan segera bangkit lalu berjalan maju beberapa langkah, namun detik selanjutnya kakinya langsung terhenti saat melihat Elvira baru keluar dari mobil berbarengan dengan seorang pria.
Nevan memutar otak mengingat wajah pria yang tidak asing itu dan akhirnya ia mengingat orang itu adalah pria yang semalam bersama Elvira di depan rumah.
Melihat keduanya bersama sekilas terlihat akrab karena Gio yang mengemudikan mobil Elvira membuat Nevan panas sendiri.
“Gio, terima kasih ya sudah mengantar ku dan terima kasih karena tadi sudah menolong ku,” ucap Elvira.
“Iya, sama-sama.”
“Mm, mengenai adik kamu. Kita bahas nanti saja ya.”
“Iya, tidak apa-apa. Aku mengerti keadaan kamu saat ini, pasti kejadian tadi masih menyisakan rasa trauma bagi kamu. Wajah kamu yang ketakutan tadi terlihat sangat pucat.”
“Sepertinya. Bagaimana tidak? Aku melihat pisau tajam itu sangat dekat dengan wajahku. Aku sangat ketakutan kalau sampai orang itu menyakiti ku. Ini apa lagi, telingaku masih terasa sakit,” rutuk Elvira yang kini mengeluhkan rasa sakitnya.
“Boleh aku lihat?” tanya Gio.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari Elvira, Gio mencondongkan sedikit badannya mendekat untuk memperhatikan telinga sebelah kanan Elvira sembari menyisihkan sedikit rambut Elvira agar ia leluasa bisa melihatnya, dan ternyata ada bercak berwarna merah membuat Gio terkejut.
“Telinga kamu berdarah,” ungkap Gio merasa turut cemas.
“Apa?!” Elvira sontak memegangnya namun ia malah kesakitan sendiri.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Aku harus mengobatinya sekarang, kenapa tadi aku sampai lupa tidak melihatnya di cermin. Aku pikir tidak akan parah sampai berdarah.”
“Ya sudah kalau begitu, aku harus kembali sekarang,” pamit Gio.
Elvira mengiyakan dan Gio akhirnya segera bergegas ke depan gerbang kantor untuk segera menemukan taksi.
Sementara saat ini Elvira sudah dibuat terkejut hebat karena tiba-tiba sudah ada Nevan menghampirinya dan memandangnya dengan tatapan dingin.
Melihat Gio tampak akrab dan dekat bahkan sampai membelai rambut Elvira membuat Nevan marah sekaligus cemburu tanpa ia tahu yang sebenarnya terjadi, yang pastinya hal yang baru saja tertangkap pandangannya sungguh membuat hatinya bergejolak.
“Kamu di sini?” sapa Elvira.
“Baru selesai berkencan?” tanya Nevan.
“Apaan sih? Siapa yang berkencan?”
“Kamu pulang cepat dari acara ternyata untuk menemui laki-laki itu? Elvira, baru saja kamu ketahuan ketemuan dengan dr. Raldy, sekarang mau buat ulah lagi dengan jalan dengan pria itu? Dia pria yang semalam bersama kamu di depan rumah kan? Siapa dia?” celetuk Nevan terdengar menginterogasinya.
“I-iya sih. Tapi dia itu ...”
“Pacar baru kamu?!” Nevan langsung menginterupsinya.
“Oh ya?”
“Lagian kamu kenapa peduli tentang dia? Kamu tidak tahu apa yang tadi menimpaku? Aku ditodong dengan senjata tajam oleh penjahat sampai aku terluka! Dan dia yang sudah menolongku!” gerutu Elvira menjelaskan dengan kesal karena Nevan selalu memancing emosinya.
“Apa? Kamu ditodong?” tanya Nevan kini dengan nada bicara lebih lembut, seketika perubahan sikapnya nampak nyata sangat khawatir.
Rasa kekhawatirannya itu bahkan mampu meredamkan segala amarahnya yang sempat terbakar api cemburu.
Nevan memegang bahu Elvira lalu memutar badannya memeriksa beberapa bagian tubuhnya yang kemungkinan mengalami luka. “Kamu terluka? Di bagian mana?”
Tapi tampaknya keadaan Elvira baik-baik saja, Nevan tidak menemukan bagian yang terluka. Ia bahkan memperhatikan sampai ke bagian kaki Elvira membuat perempuan itu merasa risih sendiri.
“Ih, apaan sih?!” Elvira segera menepis tangan itu dari tubuhnya.
Hal tersebut rupanya memancing kehadiran dari Sakti dan Dara yang kini baru keluar menemui mereka.
“Bu Elvira, ada apa?” tanya Sakti. Sedangkan Elvira masih melengos kesal kepada Nevan.
“Bukan disitu! Tapi di sini!” Elvira memperlihatkan telinga kanannya yang terlihat ada noda darah, sontak membuat ketiga orang yang sedang bersamanya terkejut berjamaah.
Nevan yang hendak mendekat buru-buru di tahan oleh Elvira. “Jangan sampai kamu menyentuhnya! Sakit tahu!”
“Aku cuma mau memeriksanya sebentar.”
__ADS_1
“Ya ampun, apa yang terjadi Bu? Ya sudah sini saya bantu obati ya,” ajak Dara.
...----------------...
Mereka sudah berada di ruangan Elvira dan ia menceritakan kejadian yang tadi dialaminya sembari menunggu Dara yang mengambilkan kotak P3K.
“Memangnya kenapa kamu sampai pergi ke tempat itu?” selidik Nevan.
“Untuk bertemu dengannya, pria itu adalah kakaknya Anya,” ungkap Elvira.
“Apa?” tanya Nevan dan Sakti kompak.
Tiba-tiba Dara kini sudah masuk ke dalam ruangan dengan membawa kotak berisi obat-obatan tersebut.
“Sini Bu, biar saya bantu.” Dara segera duduk di samping Elvira pada sofa panjang tersebut dan duduk berseberangan dengan kedua pria itu.
Elvira segera menguncir rambutnya agar lebih memudahkan Dara membantu membersihkan luka serta mengobati luka pada telinganya.
“Kok bisa sih Bu Elvira mengalami hal seperti ini,” tanya Dara sembari membersihkan darah tersebut dengan kapas yang sudah diberi sedikit cairan alkohol.
“Yah mau bagaimana. Kejadiannya tidak terduga.”
“Lain kali Ibu hati-hati ya, banyak kejahatan yang mengintai siapa saja di luar sana.”
“Iya.”
“Bu, bersiap ya. Ini mungkin akan sedikit terasa sakit karena daun telinga Bu Elvira tergores cukup parah.”
Dara memberinya aba-aba sebelum menitikkan obat pada area luka dan seketika membuat Elvira mengaduh kesakitan, hal itu membuat Nevan dan Sakti yang menyaksikannya ikut bergidik ngeri akan rasa sakitnya.
“Nah, sudah selesai,” ujar Dara yang baru menyelesaikan mengobatinya lalu ia segera permisi keluar mengembalikan kotak obat tersebut ke tempat asalnya.
Elvira lalu mengambil kalungnya yang rantainya harus terputus karena direnggut paksa oleh orang tak dikenal itu, ia memperhatikan dengan penuh penyesalan karena kalung ini adalah pemberian dari Dewanti dan ia merasa sedih karena tidak bisa menjaganya dengan baik.
“Apa yang harus kulakukan dengan kalung ini?” tanya Elvira pas dirinya sendiri.
Tiba-tiba Nevan yang kini sudah berada di dekatnya langsung mengambil benda tersebut dari tangannya.
“Biar aku yang akan membawanya untuk diperbaiki. Dulu aku sering mengantar oma untuk pergi ke tempat perbaikan perhiasan,” kata Nevan yang terdengar sedikit bisa lebih menenangkan Elvira.
“Beneran?”
“Iya, oma sering memodifikasi perhiasan-perhiasannya ke tempat itu.”
“Syukur lah ada kamu.”
“Nanti biar aku yang ke sana.”
“Aku mau ikut, aku ingin tahu dimana tempatnya,” pinta Elvira memohon.
“Hari ini kamu istirahat saja dulu, nanti saja ikut ke sana saat mengambilnya lagi.”
“Baiklah, terima kasih ya,” ucap Elvira yang merasa terharu.
__ADS_1
Bersambung ...