Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 80-- Peringatan Dari Nevan


__ADS_3

Asty kembali menoleh ke arah Elvira, yang tampaknya sudah dalam keadaan jauh lebih tenang. Beberapa saat yang lalu, Elvira sempat berlinang air mata, saat menceritakan semua yang ia hadapi selama ini yang belum diketahui oleh Asty.


Asty hanya terus mencoba memberikan perhatian penuh saat mendengarkan penuturan Elvira, ia berusaha membantu menenangkannya. Ia bersumpah, tidak akan membiarkan Elvira menghadapi ini sendirian lagi.


Kini Asty pun sudah memesankan makanan dan minuman untuk mereka, namun tampaknya masih belum tersentuh untuk Elvira. Asty lalu meraih tangan Elvira dan memegangnya.


“Elvira, sekarang ada Kakak di sisi kamu. Kamu tidak perlu menyimpan penderitaan sendiri lagi.”


“Iya Kak. Terima kasih ya,” ucap Elvira.


“Elvira, kalau kamu tidak bahagia dengan keluarga kamu sekarang, kamu kan masih punya Kakak. Kakak akan selalu ada untuk kamu, kamu bisa tinggalkan saja mereka. Apalagi sekarang ada perempuan itu yang tinggal serumah dengan kamu, Kakak takut dia akan menyakiti kamu.” Asty mengungkapkan kekhawatirannya.


“Aku juga sangat ingin meninggalkan mereka, Kak. Tapi aku belum bisa melakukannya. Dulu aku yang memilih untuk hidup bersama dengan Mas Daffin, sekarang aku harus menerima semuanya meski tidak sejalan dengan harapanku dulu.”


“Tidak bisakah kamu melepaskan saja semua yang kamu miliki saat ini? Kembali lah ke rumah. Pintu rumah akan selalu terbuka untuk kamu, ada Kakak sama ibu. Meski ibu sering bersikap acuh terhadap kamu, tapi Kakak tahu ibu sebenarnya sangat menyayangi kamu. Ibu juga pasti tidak akan terima kalau mengetahui semua ini.”


“Kak, aku mohon. Tolong jangan ceritakan soal ini kepada ibu. Aku tidak mau ibu mengetahui apa yang telah aku hadapi sejauh ini. Aku pun sangat ingin melepaskan semuanya, aku juga sangat ingin kembali ke rumah seperti dulu, tapi untuk saat ini aku benar-benar belum bisa meninggalkan oma.”


Asty kembali membelai kepalanya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


“Bertahan lah, yang penting kamu harus tahu kalau selalu ada Kakak untuk kamu kapan pun kamu perlu.”


“Iya, terima kasih ya, Kak.”


“Kakak sangat menyayangi kamu, Elvira. Kakak juga sangat terpukul mengetahui kalau kamu harus mengalami ini dalam hidup kamu.”


“Iya Kak. Aku merasa sangat beruntung memiliki seorang seperti Kak Asty dalam hidupku.”


...🌿🌿🌿...


Gio yang baru kembali ke kantor tempatnya bertugas, kini masih saja tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya. Ia jelas menyimpan kesedihan dan penuh beban, karena tidak hentinya memikirkan kelakuan adiknya.


Hal itu pun mampu mengurangi konsentrasinya, meski ia terus mencoba untuk tetap fokus ketika sedang mengikuti rapat penting bersama tim kerjanya, yang sedang membahas sebuah kasus.


".... Seperti yang kita ketahui, dua orang pelaku penodongan yang tertangkap waktu itu. Mereka juga mengantongi narkotika jenis sabu. Dari hasil penyidikan, mereka membelinya pada salah satu pengedar lokal. Hal ini terhubung dengan beberapa terduga pengedar yang sedang dalam pengintaian. Kemungkinan mereka memproduksi sendiri. Kabar sementara dari informan kita yang beberapa hari ini melakukan pemantauan, mereka mencurigai sebuah rumah yang diduga kuat digunakan sebagai tempat produksi. Perlu beberapa waktu untuk mendapatkan informasi yang lebih valid. Bersiaplah untuk operasi penggerebekan selanjutnya." Salah seorang pemimpin rapat menuturkan panjang lebar.


Sampai pada akhirnya rapat telah berakhir, Gio baru keluar dari ruangan masih dengan wajah lesu dan terhimpit tekanan pikiran. Segenap rasa itu sepertinya masih enggan berhenti mengganggunya.


“Gio, ikut ke ruangan saya sekarang,” perintah dari Hasto yang tiba-tiba sudah berada di hadapannya, membuat Gio langsung sigap membenarkan posisinya agar berdiri dengan posisi siap.


“Siap, Ndan.” Gio segera membuntut di belakang pria yang telah berjalan mendahuluinya itu.


“Gio, ibu Dewanti Arkatama menghubungi saya. Dia ingin meminta untuk bertemu dengan kamu,” ujar Hasto, begitu mereka sudah berada dalam ruangannya.


Gio yang belum tahu apa-apa, tampak terheran. “Bertemu dengan saya?” tanya Gio mengulangi.


Ia sungguh terkejut, ada kepentingan apa wanita terpandang itu ingin bertemu dengannya.


“Ibu Dewanti mengetahui saat itu kamu yang menolong cucunya, ibu Elvira. Beliau ingin berterima kasih secara langsung kepada kamu. Kamu beruntung sekali mendapat undangan khusus dari orang seperti beliau. Persiapkan diri kamu, nanti kamu akan pergi bersama saya.”


“Siap, Ndan,” sahut Gio yang merasa tidak bisa menolaknya.


Namun tanpa ia sadari, ternyata atasannya itu kini melihat raut wajahnya yang terlihat tidak seperti biasanya.


“Apa ada masalah?” tanya Hasto menyelidik.


“Siap, tidak ada, Ndan.”

__ADS_1


“Kamu tidak perlu merasa gugup. Bersikap lah dengan baik saat bertemu dengan ibu Dewanti nanti,” pungkas Hasto yang mengira jika Gio merasa takut untuk menemui Dewanti, lagi-lagi Gio hanya bisa berkata siap tanpa bantahan sedikit pun.


...🌿🌿🌿...


Di kediaman keluarga Arkatama.


Elvira yang saat ini baru saja tiba di teras rumah setelah keluar dari mobilnya, langsung dikejutkan oleh Anya yang menghadangnya. Rupanya perempuan itu telah menunggu kedatangan Elvira dari tadi, dan menyambutnya dengan wajah penuh kobaran api amarah.


“Beraninya kamu mendekati keluargaku, benar-benar perempuan licik!” sergah Anya seraya memandang sinis ke arahnya.


“Kamu mencuri kalimat yang seharusnya ku ucapkan kepada kamu,” balas Elvira, masih terlihat tenang menghadapinya.


“Jadi kamu yang mengadukan tentang ku kepada kakakku? Kamu benar-benar membuatku muak! Ku peringatkan jangan pernah lagi mendekati keluargaku!”


“Kenapa? Kamu takut kelakuan busuk kamu akan diketahui oleh bu Rani? Aku malah heran bagaimana bisa seorang yang berhati baik seperti ibu Rani bisa memiliki anak berperangai buruk seperti kamu.”


“Elvira!” bentak Anya yang sangat marah seraya mengangkat tangan hendak menamparnya, akan tetapi harus gagal karena Elvira langsung dengan sigap menangkap tangannya.


Sedangkan merasa tangannya ditahan Elvira, membuat Anya berontak. Akan tetapi Elvira tidak kalah kuatnya menahan tangan Anya.


“Jauhi keluargaku!” Anya memperingatkan.


“Sebagaimana kamu yang masih belum berhenti mendekati keluargaku, aku juga akan melakukan hal yang sama kepada keluarga kamu. Aku yang harusnya mengatakan, jauhi keluargaku!” balas Elvira.


Anya tersenyum sinis.


“Aku tidak akan pernah melakukannya, tempat ku ada di sini! Aku akan melahirkan pewaris untuk keluarga ini, kamu yang akan segera tersingkir dari sini, Elvira,” ujar Anya dengan penuh percaya diri.


“Kamu tidak akan pernah tega mengungkapkan hal ini kepada ibuku. Kalau sampai ternyata ibuku mengetahui semua ini dan tahu dari kamu, aku bersumpah akan melakukan sesuatu terhadap oma Dewanti,” ancam Anya tersenyum penuh kemenangan.


Hati Anya kini benar-benar telah dipenuhi oleh dendam dan keserakahan, sehingga membuatnya akan berani melakukan apa saja untuk memenuhi segala keinginannya.


“Kamu hanya memiliki dendam terhadapku, jangan sekali pun berani menyentuh oma.”


Elvira kini berucap terdengar lirih, mengenang tentang Dewanti yang sangat disayanginya.


Melihat raut wajah Elvira yang penuh kesedihan seperti ini, Anya tersenyum menang. Memang mudah membuat Elvira tidak bisa berkutik di hadapannya, hanya dengan memberi ancaman terhadap orang yang disayanginya.


Padahal Anya berpikir belum tentu ia bisa melakukan sesuatu terhadap Dewanti, tujuannya hanyalah menggantikan posisi Elvira di rumah ini, dan hidup penuh kejayaan dengan anaknya nanti bersama keluarga Arkatama.


“Tidak akan terjadi hal apa pun selama kamu mengikuti permintaanku,” kata Anya terdengar lembut, seraya kini membelai wajah Elvira menyeka bulir air mata yang jatuh di pipinya.


Tiba-tiba sebuah tangan langsung menangkap pergelangan tangan Anya, sehingga terpisah dari wajah Elvira.


Cengkeramannya begitu kuat. Anya kesakitan sekaligus terkejut, saat melihat kini Nevan sudah hadir di antara mereka.


“Sakit, Nevan!”


Anya berusaha melepas tangannya, akan tetapi Nevan masih belum mau melepaskan tangannya. Pria itu hanya terus menambah kekuatan cengkeramannya, sehingga Anya meringis kesakitan.


“Ini balasan, untuk sekali kamu menyentuhnya. Sakitnya akan terus berkali lipat, saat kamu masih berani menyentuhnya!” Nevan memperingatkannya.


“Aku tidak berurusan dengan kamu, lepaskan tanganku! Sakit! Apa kamu lupa kalau aku sedang mengandung?!”


“Segala yang berkaitan dengan Elvira akan menjadi urusanku. Lagipula ini tidak akan membuat janin kamu kenapa-napa,” balas Nevan lalu ia segera melepaskan tangan Anya dengan kasar.


“Aku akan laporkan ini kepada ibu Meisya."

__ADS_1


“Lapor kan saja! Ini peringatan dariku, jangan pernah coba-coba berani menyentuhnya, atau kamu akan berurusan denganku!”


Lalu Nevan menggandeng tangan Elvira dan mengajaknya segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Anya yang masih sendiri meringis kesakitan.


Ia memperhatikan pergelangan tangannya yang kini memerah akibat cengkeraman kuat tersebut.


...🌿🌿🌿...


Setelah berpisah dengan Elvira yang memilih untuk segera masuk ke kamarnya, Nevan kini menghampiri Meisya, yang tampak duduk termenung di sebuah sofa.


“Nevan? Sayang.” Meisya langsung bereaksi senang, begitu menyadari kedatangan putranya itu. Nevan mendekat, ikut duduk di sampingnya.


“Mama tampak murung? Memikirkan sesuatu?” tanya Nevan memperhatikannya.


“Hm, tidak. Mama hanya merindukan kamu, Mama senang kalau kamu sering datang kesini.” Meisya berdalih, segera memeluk lengan putranya mengharap perhatian.


“Ma, Mama kenapa sih masih membiarkan perempuan itu tinggal di rumah ini?” tanya Nevan yang enggan menyebut nama Anya.


“Sayang, dia kan bekerja untuk Mama,” jawab Meisya santai.


“Mama punya maksud lain,” tuding Nevan.


Hal itu membuat Meisya seketika bereaksi malas membahas hal ini, seraya melepas tangannya yang tadi memeluk lengan Nevan.


“Aku tidak suka jika dia masih saja tinggal disini.” Nevan mengungkapkan ketidaksukaannya.


“Nevan, jangan merusak suasana hati Mama. Mama yang membawanya ke rumah ini, itu urusan Mama!”


“Tapi dia selalu mengganggu kak Elvira. Mama juga kenapa selalu membela perempuan itu, dibanding menantu Mama sendiri. Mama juga berkali-kali menuduhnya macam-macam, tapi Mama juga tahu sendiri kan kalau tuduhan-tuduhan Mama itu salah. Mau sampai kapan Mama terus melakukan ini kepada kak Elvira?”


“Dia memang pantas mendapatkannya, Mama tidak akan pernah melupakan apa yang sudah dia lakukan terhadap Daffin.”


“Tapi sampai kapan Mama menyimpan dendam, yang seharusnya tidak pantas ditujukan kepadanya?” sanggah Nevan.


“Kamu tidak mengerti perasaan Mama, Nevan.” Meisya berucap terdengar lirih, lalu ia memutuskan untuk beranjak dari duduknya, dan segera meninggalkan putranya itu.


Nevan merasa sedih, karena tidak bisa melembutkan hati mamanya. Bagaimana pun juga Meisya adalah mamanya, ia tidak ingin mamanya terus berselimut dendam seperti ini.


Setelahnya, Nevan memutuskan untuk segera meninggalkan kediaman ini. Namun saat akan hendak menuju pintu utama rumah, Dewanti melihatnya dari kejauhan.


“Nevan?” sapa Dewanti yang kini baru melihatnya, seraya berjalan hendak menghampiri.


Nevan menoleh dan menghentikan langkahnya, menunggu Dewanti sampai di dekatnya.


“Kapan kamu datang? Sekarang mau langsung pulang?” tanya Dewanti yang tadi melihat Nevan berjalan mengarah keluar.


“Dari tadi, Oma. Menemui mama sebentar, sekarang aku mau langsung pulang saja.”


“Loh, kok malah langsung pulang? Tidak makan dulu? Kamu sudah makan?”


“Sudah, Oma. Aku mau segera istirahat, besok ada kerjaan keluar kota.”


“Oh begitu ya, ya sudah. Kamu hati-hati ya, perginya tidak lama kan nanti?”


“Mungkin perlu beberapa hari, Oma,” ujar Nevan mengakhiri pembicaraan sebelum akhirnya ia segera berpamitan pulang.


 

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2