
Meisya memperhatikan dari kejauhan, tampak keberadaan Elvira yang sudah bersiap untuk pergi ke kantor.
Meisya kemudian melangkah untuk menemuinya, kehadirannya di dekat Elvira membuat perempuan itu sedikit terkejut. Jarang-jarang, mama mertuanya itu mendatanginya terlebih dulu seperti ini.
Biasanya saat berpapasan dan Elvira menegurnya, Meisya hanya memandang sinis, tanpa mau menghiraukannya. Untuk menatapnya saja, rasanya Meisya tidak sudi melakukannya.
“Mama," sapanya.
“Kita bicara sebentar,” titah Meisya.
Ia berjalan mendahului, Elvira segera mengikutinya di belakang. Langkah mereka berhenti di salah satu teras samping rumah. Meisya langsung memandanginya dengan tatapan penuh amarah.
“Apa yang kamu lakukan? Bagaimana bisa menemui keluarga Anya dan memberitahu tentang yang terjadi pada Anya? Kemarin kakaknya Anya menemuiku dan kamu tahu apa yang dia lakukan? Dia membuat keributan dan menuduh ku macam-macam. Apa yang kamu pikirkan? Kamu membuat semua orang mengetahui apa yang terjadi di keluarga ini?” Meisya menggerutu melempar banyak pertanyaan.
“Ma, aku tidak bermaksud melakukan itu.”
“Lalu apa? Kamu mau membuat ku malu? Reputasi keluarga ini juga akan terancam jika hal ini diketahui banyak orang. Keterlaluan kamu!” hardik Meisya yang selalu menyalahkan apa pun yang dilakukan Elvira.
“Tidak seperti itu, Ma.”
“Kamu tahu mengapa aku membawa Anya ke rumah ini? Kehamilan Anya adalah aib besar bagi keluarga ini dan aku merasa harus bisa mengendalikannya! Kamu tahu kan kalau hal ini tidak boleh di ketahui orang-orang? Kamu mau menghancurkan reputasi keluarga ini?”
“Tidak sama sekali, Ma.”
“Kalau begitu, kendalikan diri kamu. Jangan sampai ada orang lebih banyak lagi mengetahui tentang ini. Sebagai menantu di keluarga ini, kamu yang nantinya akan mengakui dan mengurus anak dari Anya! Urus dia sebagai anak kamu sendiri karena dia merupakan pewaris dari Daffin. Itu pun kalau kamu masih mau tetap berada di rumah ini, dan dianggap sebagai menantu disini,” tukas Meisya.
“Kenapa Mama melakukan ini kepadaku?” tanya Elvira dengan lirih.
Kini ia sudah kembali diselimuti kesedihan, karena harus melakukan hal yang Elvira bahkan tidak sanggup membayangkannya.
Bagaimana ia bisa harus mengurus anak suaminya dengan perempuan itu, kini ia merasa sangat sedih karena Meisya benar-benar bermaksud menyiksa batinnya seumur hidupnya.
“Itu hal yang harus kamu lakukan, kalau mau terus menjadi menantu di rumah ini. Kamu berkewajiban menjaga nama baik keluarga Arkatama, meski harus mengesampingkan perasaan pribadi kamu sendiri. Kamu lupa apa yang sudah kamu lakukan kepada Daffin? Bahkan dengan melakukan hal ini saja, tidak akan sebanding dengan nyawa berharga Daffin yang harus ia korbankan demi kamu!”
“Meisya! Keterlaluan kamu!” Suara Dewanti yang datang tiba-tiba menyela perkataan Meisya.
“Ma, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Sebagai menantu keluarga ini dia turut bertanggung jawab penuh dengan kehormatan keluarga ini, tidak akan jadi masalah jika dia yang akan mengakui dan mengurus anak dari Daffin.”
“Meisya! Tidak akan Mama biarkan!” sanggah Dewanti.
“Ma, Mama mau orang-orang mengetahui tentang aib keluarga kita? Apa kata orang-orang nantinya? Mama harusnya berterima kasih karena aku bisa mengendalikan Anya dan membuatnya tidak akan menyebarkan hal ini keluar sana,” pungkas Meisya dan segera berlalu pergi.
Sementara Dewanti tampak terdiam melihat kekacauan dalam keluarganya, yang membuatnya merasa bersalah sekaligus sedih, mengapa mereka semua sampai harus mengalami hal ini.
Dewanti tak kuasa menahan kesedihan melihat Elvira, yang kini harus menanggung akibat perbuatan Daffin. Namun di sisi lain ia juga memikirkan bagaimana ia bisa melindungi kehormatan keluarganya, yang selama ini susah payah dibangun dengan penuh perjuangan oleh mendiang suaminya.
__ADS_1
“Sayang.” Dewanti langsung memeluk Elvira dengan penuh kasih sayang, menguatkannya yang saat ini hatinya pasti dipenuhi lara.
“Kita pasti bisa melewati semua ini. Kamu tenang saja, ada Oma disini. Oma tidak akan membiarkan kamu kamu menanggung semua ini sendirian,” tutur Dewanti.
“Iya, Oma. Aku tidak apa-apa. Yang di katakan mama Meisya memang benar, aku akan melakukannya untuk mas Daffin.”
“Elvira, kamu yakin anak yang ada dalam kandungan perempuan itu adalah anak Daffin?” tanya Dewanti yang kerap meragukannya sejauh ini seraya kini melepas pelukannya.
“Mas Daffin sendiri yang pernah mengakuinya di hadapanku, Oma,” jawab Elvira terdengar sedih.
“Tapi kamu tidak perlu melakukan ini, Sayang.”
“Aku melakukannya juga demi Oma, aku akan membantu menjaga nama baik keluarga ini. Oma tidak perlu memikirkan yang macam-macam ya, sekarang Oma hanya perlu memikirkan kesehatan Oma sendiri. Aku tidak mau sampai Oma sakit,” ujar Elvira yang kini tersenyum di hadapannya.
Hal itu membuat Dewanti seolah tidak bisa berkata-kata, melainkan hanya terus memandanginya nanar.
Ia turut merasakan bagaimana Elvira yang masih bisa berhias senyum, walau sebenarnya dalam hatinya penuh perasaan tidak tentram dengan semua ini.
“Ya sudah, kita sarapan bareng yuk, Oma. Belum sarapan kan?” ajak Elvira, mencoba menghilangkan ketegangan suasana.
“Iya sayang.”
Keduanya lalu berjalan bersama menuju meja makan. Mereka menikmati sarapan bersama, untuk sejenak melupakan permasalahan.
“Oh ya Elvira, Oma sudah menghubungi pak Hasto untuk bisa bertemu dengan Gio. Nanti kamu juga ikut ya,” ajak Dewanti.
“Nanti Oma kabari lagi setelah mengatur waktunya,” pungkas Dewanti, Elvira hanya mengiyakan saja tanpa bantahan.
...🍂🍂🍂...
Gio menatap datar ke arah Anya, yang kini sudah berada lebih dulu di kediaman Rani yang satu lokasi dengan panti.
Gio hanya merasa heran, adiknya itu bisa datang lagi kesini. Padahal biasanya ia sangat susah diajak kemari, selalu berdalih karena sibuk bekerja.
Gio melayangkan pandangan kepada beberapa anak panti, mereka terlihat semringah bermain dan bersenda gurau dengan Anya.
Sekilas, sikapnya yang seperti itu mengingatkan Gio pada sosok Anya yang seperti biasanya, sebelum kejadian baru-baru ini. Gio sungguh tidak pernah menduga, entah apa yang bisa mengubah kepribadian adiknya secepat ini.
“Gio, lagi tidak bertugas?” sapa Rani yang kini menghampirinya.
Ia tidak heran lagi melihat kehadiran Gio di tempat ini, karena Gio yang sering mengunjunginya. Tetapi Rani cukup terkesan hari ini, karena tiba-tiba kedatangan Anya. Perempuan itu bahkan datang tidak dengan tangan kosong, melainkan banyak sekali membawakan makanan serta mainan untuk anak-anak panti.
“Iya, Bu,” jawab Gio, yang masih memandang ke arah Anya. Tampaknya Rani menyadarinya.
“Dia datang hampir satu jam yang lalu, katanya hari ini ingin sedikit lama menghabiskan waktu di sini, karena mungkin nanti akan lebih sibuk dan banyak pekerjaan.” Rani menjelaskan, Gio hanya mengiyakan saja.
__ADS_1
“Ya sudah, Ibu mau menemui bapak dulu ya,” pamit Rani.
Tidak lama setelahnya, Gio mengajak Anya untuk bicara berdua di teras, ketika Anya akan berpamitan untuk meninggalkan tempat ini.
“Ada apa ini?” tanya Gio, yang merasa adiknya mengkhususkan waktu berkunjung hari ini untuk sebuah tujuan.
“Apanya, Kak? Aku merasa hanya ingin berkunjung kesini lagi, apa itu salah? Selama ini aku sering sibuk dan sangat jarang kesini.”
“Kamu mau berpamitan?” tanya Gio dengan selidik. Anya tersenyum paham, sembari menghela napas pendek setelah mendengarnya.
“Sebenarnya tidak juga, setelah ini aku mungkin akan sangat jarang mendatangi tempat ini.”
“Apa pun rencana kamu, tolong hentikan, Anya,” pinta Gio.
“Aku hanya sedang merencanakan masa depanku, Kak.”
“Kembali lah seperti adikku yang dulu ku kenal, kenapa kamu berubah seperti ini.” Gio berucap dengan lirih.
“Kak, aku memang adiknya Kak Gio. Tidak ada yang berubah, hanya waktu dan keadaan yang membuatku berubah. Saat ini aku mohon, biarkan aku menemukan jalan hidupku sendiri. Aku sudah terlalu hancur untuk menyerah begitu saja, tolong jangan lagi menghalangiku. Jaga ibu dan bapak, jangan sampai mereka mengetahui yang terjadi padaku. Aku yakin hal itu hanya akan membuat kesedihan bagi mereka.”
Usai mengungkapkan isi hatinya, Anya segera masuk kembali ke dalam rumah menemui Rani dan Arga untuk berpamitan pulang. Gio sama sekali tidak bisa lagi menahannya.
...🍂🍂🍂...
Elvira tampak sedang melamun di meja kerjanya. Beberapa tumpukan kertas di hadapannya pun, sepertinya belum juga tersentuh olehnya.
Mengetahui tentang rencana Dewanti yang akan mengadakan pertemuan dengan Gio, membuatnya tidak bisa menepisnya dari pikiran. Apalagi Gio adalah kakak dari Anya yang sudah mengetahui tentang keadaan Anya, sedangkan Dewanti belum mengetahui apa pun tentang Gio.
Tiba-tiba pandangannya teralih pada sebuah benda, yang berada di sebuah pojok ruangan. Di samping lemari arsip terlihat sebuah payung berwarna hitam yang terletak di sebuah keranjang kecil berwarna senada.
Siapa yang menaruh benda tersebut di ruangannya? Pikirnya.
Ia segera berdiri dan berjalan menghampirinya. Kemudian mengambil benda tersebut dan memperhatikannya mencoba mengingat sesuatu. Bagaimana bisa ia merasa baru saja memperhatikan benda tersebut, sedangkan ia sering menghabiskan waktu di ruangan ini.
Elvira baru sadar, jika ini adalah payung yang saat itu dititipkan Gio kepadanya. Elvira jadi teringat waktu itu setelah pulang dari area pemakaman, ia kembali ke kantor dengan membawa payung yang basah. Saat itu langsung disambut oleh Dara, yang membantunya untuk mengeringkan payung tersebut.
Kini Elvira berpikir, apa mungkin perempuan itu yang sudah meletakkan benda ini di ruangannya, karena biasanya Dara sangat suka bersih-bersih area ruangan. Ruang kerja Elvira adalah satu yang selalu diutamakannya.
“Ya ampun, kenapa aku sampai melupakan benda ini,” gumamnya sendiri.
Padahal ia tahu benda ini titipan dari seseorang, meski pun benda ini bukan hal yang istimewa bagi Elvira.
Detik berikutnya, Elvira mengambil ponselnya yang terletak di atas meja. Ia berpikir untuk menghubungi Gio, mencoba memintanya bertemu untuk membahas sesuatu. Sekalian berniat mengembalikan benda yang ia anggap remeh tersebut.
__ADS_1
Bersambung ...