Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 58-- Masalah Lanjutan


__ADS_3

Elvira yang kini merasa sudah cukup untuk beristirahat dan kakinya juga terasa lebih enakan dari sebelumnya lalu memutuskan untuk segera berjalan kembali, ia mencoba lebih dekat lagi ke jalan raya bermaksud mencari taksi kosong yang bisa diberhentikan.


Beberapa kali ia mencoba menghentikan tapi tidak ada yang berhenti karena sepertinya taksi tersebut sudah berisi penumpang, ia bahkan sempat berpikir untuk naik mobil angkutan kota yang saat ini menawarinya untuk menumpang, tapi arah angkutan kota tersebut tidak satu jurusan dengan jalan menuju kantornya.


Sampai beberapa saat berlalu, ia akhirnya berhasil menghentikan sebuah taksi dan merasa lega karena akhirnya akan bisa kembali ke kantor dan berniat akan membayar ongkosnya saat sudah tiba di sana.


Namun saat hendak naik tiba-tiba seorang wanita paruh baya menegurnya dan ia sepertinya sedang tergesa-gesa sambil memohon kepada Elvira untuk membiarkan dia yang menaiki taksi tersebut.


“Boleh ya, Nak? Ibu minta tolong,” ucapnya dengan penuh harap sambil terlihat seperti sedang panik.


Elvira yang merasa ibu itu sepertinya sedang buru-buru akhirnya membiarkannya saja. Bukan tanpa alasan, Elvira hanya merasa perlu menghormatinya yang jauh lebih tua darinya dan ia merasa tidak apa-apa jika harus mengalah.


“Terima kasih ya, Nak,” ucap ibu itu lagi yang sudah membuka kaca jendela mobil.


“Iya Bu, hati-hati di jalan,” balas Elvira, mobil pun segera melaju meninggalkannya.


Tiba-tiba dua orang pria berbadan besar dan berbaju serba hitam kini menghampirinya. Elvira melihat sekilas sepertinya mereka baru saja berlari dan malah berhenti di depannya.


Tanpa diduga oleh Elvira jika dua orang pria itu segera menangkap tangannya dan seperti sedang melotot ke arahnya.


“Apa kamu berkomplot dengannya? Beraninya kamu sudah membiarkannya pergi dari kejaran kami!” ujar salah seorang dari mereka yang berbicara dengan nada bentakan kepada Elvira yang membuat Elvira jadi ketakutan.


Apa lagi ini? Elvira benar-benar merasa lengkap sudah kemalangan yang ia dapatkan hari ini, niatnya berbuat baik malah ternyata membawanya dalam sebuah masalah.


kini ia merasa terancam dengan dua orang besar di samping kiri kanannya saat ini karena pegangan mereka sanga kuat sehingga Elvira sempat menjerit kesakitan.


“Apa yang kalian bicarakan? Aku tidak mengerti, lepaskan aku!” berontak Elvira yang dirasa percuma.


“Kamu sudah membiarkan wanita tadi pergi, dia seorang penipu! Dia adalah orang dalam kejaran kami karena telah menipu bos kami! Sekarang karena kamu sudah membantunya kabur, maka kamu yang harus membayarnya!” kata salah seorangnya lagi dengan nada lebih kasar.


“Aku tidak tahu kalau dia seorang penipu yang sedang kalian kejar! Mana mungkin aku yang harus membayarnya!” sahut Elvira sambil terus berusaha berontak dari pegangan yang sungguh seakan menguncinya itu.


“Karena dia sudah kabur, kamu yang akan menggantikannya!”


“Mengganti? Mengganti apa?! Aku bahkan sedang tidak punya uang sepeserpun! Kalian bisa lihat isi tasku! Tidak ada isinya!”


“Tunggu dulu, bagaimana kalau kita bawa saja dia kepada bos,” saran salah seorang kepada rekannya itu.


Mereka lalu memandangi Elvira dengan seksama dari ujung rambut hingga ke ujung kepala.


“Kamu benar juga, kita tidak berhasil mengejar wanita itu. Tapi kita akan membawanya saja pada bos kita, dia adalah tipe yang sangat disukai oleh si bos. Bos kita pasti akan sangat senang kalau kita mendapat barang bagus.” Mereka berdua tertawa senang sambil memandangi Elvira.


“Apa?! Apa kalian menyebutku dengan sebuah barang! Hah! Lepaskan aku!” teriak Elvira yang sudah sangat ketakutan, namun di sekitarnya orang-orang sepertinya tidak peduli.


“Ayo ikut!”


“Aku akan berteriak! Tolong!”


Mulut Elvira buru-buru dibekap oleh seorang dari mereka.


“Kalau kamu berani berteriak, aku akan patahkan tangan kamu!” ancamnya seraya melepaskan perlahan.


“Oke, oke, kalem. Aku tidak akan berteriak, tapi tolong lepaskan aku,” pinta Elvira memohon yang tidak mau beranjak dari posisinya saat keduanya mau membawanya.


“Aku, aku akan ganti rugi semua kerugian kalian, aku dari keluarga kaya! Kalian lihat kan bagaimana pakaianku? Semuanya ini harganya sangat mahal, aku bisa memberi kalian ganti rugi. Tolong lepaskan aku.” Elvira masih berusaha di tengah kepanikannya.

__ADS_1


“Apa kamu bercanda? Kamu sendiri tadi yang bilang tidak punya uang sepeser pun!”


“Bukan begitu, tapi kalian cobalah lihat merk tasku? Ini tas mahal, ambillah.”


“Kami juga tahu jika benda milik wanita seperti itu banyak dijual dipasaran. Apa kamu mau menipu kami? Hutang wanita tadi ratusan juta!”


“Kalian benar-benar tidak mengerti fashion wanita ya? Kalau kalian tahu harganya bisa saja membuat kalian bisa membeli rumah!” Elvira terbawa kesal dengan kedua orang ini.


“Diam lah! Bos kami akan lebih senang jika kami membawa kamu kepadanya!”


“Jangan! Aku mohon!”


Di tengah keputusasaan Elvira yang merasa tidak bisa melepaskan diri dari dua pria ini, tanpa ia duga sebuah mobil mewah yang ditumpangi Nevan sudah berhenti di dekat mereka.


“Nevan! Sakti! Tolong aku!” pinta Elvira yang merasa lega karena kedatangan mereka yang saat ini sudah turun dari mobil.


“Ada apa ini? Lepaskan dia,” pinta Nevan dengan nada bicara yang masih santai.


“Tidak bisa! Dia harus kami bawa karena telah membantu orang yang menipu bos kami kabur, dia harus ganti rugi semuanya!”


“Nevan! Aku tidak membuat kesalahan apapun! Mereka hanya menuduhku,” sanggah Elvira.


“Kalian lepaskan dia, apa kalian tidak tahu kalian sedang berhadapan dengan siapa?” ujar Sakti.


“Memangnya siapa?” tanya salah seorang dari mereka.


“Dia adalah pemimpin dari Arkatama grup! Kalian akan dapat masalah jika tidak menuruti kehendaknya.” Sakti sudah pasang badan satu langkah lebih maju mendekat.


Mendengar nama itu membuat kedua orang itu saling memandang seperti mengenal nama besar perusahaan itu.


“Jumlah hutang wanita itu dua ratus juta.”


Tanpa berkata lagi, Nevan langsung melepas jam tangan miliknya.


“Ambil lah.” Nevan berucap seraya melempar ke arah salah satu dari mereka yang membuat orang itu dengan sigap menangkapnya.


“Harganya lebih dari dua kali lipat jumlah hutang itu. Kalau perkataan ku tidak terbukti, kalian bisa kembali menemuiku,” tantang Nevan yang tengah mencoba bernegosiasi dengan mereka.


“Tahu kan di mana perusahaan Arkatama grup? Sekarang lepaskan dia!” pinta Sakti lagi yang sudah emosi.


Mereka pun segera melepaskan Elvira karena terfokus pada sebuah jam tangan yang diberikan oleh Nevan.


“Aku pernah mendengar tentang merk jam pria ini sih.” Salah satunya berujar sambil memeriksa barang tersebut.


Mereka yang kini kembali terdiam lalu sesekali memandangi penampilan Nevan yang tampak sangat meyakinkan. Di sisi lain mereka juga mulai ciut setelah mendengar nama perusahaan tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Elvira kini sudah bisa bernapas dengan lega karena saat ini sudah berada di mobil dalam perjalanan bersama Nevan dan Sakti.


“Aku tidak melakukan kesalahan,” ujar Elvira kembali menegaskan setelah tadi sebelumnya sempat menjelaskan secara singkat kronologi kejadiannya hingga bisa ditawan oleh dua pria itu.


“Untung saja Bu Elvira tidak kenapa-napa, Bu Elvira lain kali lebih berhati-hati ya.” Sakti menyarankan.


“Iya Sakti, terima kasih ya kalian sudah menolongku. Aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau tadi kalian tidak datang. Sampai-sampai Nevan harus menyerahkan jam mahal miliknya.”

__ADS_1


“Itu kebetulan saja karena kamu masih beruntung, kamu harus tahu, tidak semua permasalahan bisa diselesaikan dengan nilai uang,” sahut Nevan dengan nada terkesan dingin terhadapnya.


Jelas saja, Nevan masih menyimpan kemarahan karena hal yang baru diketahuinya dari foto-foto yang di kirim Meisya tadi kepadanya.


Apalagi Nevan merasa dulu ia adalah orang pertama yang melayangkan tuduhan perselingkuhan itu terhadap Elvira, walau Elvira waktu itu sudah menjelaskan, tapi kini Nevan yang belum tahu kebenaran dari cerita yang sebenarnya justru menganggap Elvira telah mengelabuinya.


“Harusnya tadi kita hajar saja mereka!” kata Sakti yang emosinya masih menggebu mengingat kejadian tadi.


“Ya ampun.” Elvira tiba-tiba memegang perutnya yang sedang keroncongan.


“Nevan, kita mampir makan dulu ya,” ajak Elvira dengan sedikit malu-malu saat ini menghilangkan sikap juteknya karena ia merasa sangat membutuhkan bantuan Nevan.


...----------------...


Beberapa saat kemudian, mereka sudah tiba di sebuah restoran. Elvira sangat bersemangat begitu makanan dan minuman yang dipesannya sudah tersaji di atas meja.


Ia bersumpah akan segera melahapnya karena rasa laparnya yang seperti orang tidak makan seharian, ia bahkan hampir saja merasa lemas karena penuh dahaga.


Namun semua rasa tersebut akhirnya sirna begitu ia sudah menyantap hidangan tersebut di hadapan Nevan dan Sakti yang saat ini memandanginya dari seberang meja.


Berbeda dari Nevan yang hanya memandangnya dalam diam, Sakti malah terlihat turut bersemangat melihat Elvira yang makan dan minum dengan lahap.


Jarang-jarang ia melihat pemandangan seperti ini apalagi selama ini Elvira selalu menjaga image di depan semua orang. Hari ini ia seperti melihat sisi lain yang berbeda dalam diri Elvira yang menurut Sakti justru sangat menggemaskan.


“Saya sebenarnya penasaran dari tadi, memangnya kenapa bisa Bu Elvira sampai berada di tepi jalan itu?” tanya Sakti tiba-tiba.


“Mm, sebenarnya, aku sedang mendapat hukuman dari Mama Meisya,” jawab Elvira.


“Dapat hukuman? Memangnya apa Bu Elvira lakukan?” Sakti tidak bisa menahan mulutnya untuk bertanya lagi ingin tahu lebih lanjut.


“Itu, karena sebuah kesalahpahaman.”


“Kesalahpahaman?” tanya Nevan tiba-tiba bersuara dengan raut wajah yang menunjukkan tidak ada kepercayaan terhadap Elvira.


“Iya. Aduh, bagaimana ya aku menjelaskannya. Bisa kah kalian tidak menggangguku makan dulu?”


“Sakti, kita harus pergi sekarang,” ajak Nevan.


“Loh, lalu aku bagaimana?” protes Elvira yang akan ditinggal sendirian.


Nevan langsung mengambil uang dari dalam dompetnya lalu meletakkan sejumlah lembaran uang pecahan besar tersebut ke atas meja di dekat Elvira.


“Pulang lah sendiri naik taksi,” ujar Nevan.


“Lalu bagaimana aku membayar makanan? Bagaimana jika aku ingin menambah makanan ini lagi? Apa ini akan cukup?” tanya Elvira terdengar protes, lebih tepatnya seperti tidak tahu rasa terima kasih di pendengaran Nevan.


Padahal Elvira hanya mencoba untuk menahan Nevan agar tidak meninggalkannya sekarang.


Masih dalam diamnya dengan raut wajah kekesalan lalu mengambil sesuatu lagi dan meletakkan di samping lembaran uang tersebut sebuah kartu kredit miliknya.


“Apa ini cukup?” tanyanya, Elvira hanya mendelik saat melihatnya.


Bukan ini yang dia mau, tapi akhirnya ia membiarkan saja dua pria itu segera meninggalkannya di tempat ini dan berpikir mungkin mereka memiliki urusan yang jauh lebih penting.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2