
Widya menemui Asty di kamarnya, dengan membawakan sesuatu yang sudah ia siapkan dalam sebuah tas jinjing berukuran besar.
“Sudah siap-siap nya?” tanya Widya sambil memperhatikan putrinya itu, sepertinya baru selesai mengemas pakaian yang hendak dibawanya dalam koper.
“Sudah nih, Bu.”
“Ini, bawa untuk keluarga calon mertua kamu.” Widya menyerahkan tas yang tadi dibawanya, Asty mengambilnya dengan perasaan senang.
“Apa ini, Bu?”
“Hanya sedikit oleh-oleh, tadi Ibu habis belanja sekalian membelikan buah tangan untuk keluarga Raldy di sana. Ngomong-ngomong, kapan jadwal penerbangan kamu? Kok bisa mau pergi mendadak seperti ini?”
“Nanti sore, Bu. Iya nih, untungnya besok aku tidak ada jadwal mengajar disambung lusa kan hari libur. Keluarga Raldy juga dadakan mengabarinya, kebetulan ada acara keluarga sekalian mereka ingin bertemu denganku.” Asty menjelaskan panjang lebar kepada Widya.
“Ya sudah, hati-hati ya. Baik-baik selama di rumah calon mertua kamu. Sampai kan salam Ibu.”
“Iya Bu, pasti. Aku agak sedikit gugup sih karena akan bertemu dengan keluarga besar mereka.”
“Tidak apa-apa, buat diri kamu senyaman mungkin. Ibu mengenal keluarga mereka kok dari dulu sebelum mereka pindah keluar kota, mereka pandai menerima dan memperlakukan tamu. Apalagi kamu kan sekarang calon menantu mereka.”
“Iya, Bu.”
“Oh ya, Ibu baru ingat. Kemarin ada teman kamu yang berkunjung kesini, namanya Anya. Katanya dia dapat rekomendasi dari kamu makanya dia membeli banyak kue kemarin,” ungkap Widya.
“Anya?” Asty mengerutkan alis mendengar nama itu. Apalagi saat mengetahui jika perempuan itu ternyata kesini.
“Dia teman kerja satu kampus kamu kan?”
Asty mengiyakan saja dengan ragu tanpa tahu maksud dan tujuan Anya mendatangi kediamannya.
Ia seger menjauh sejenak menuju balkon, ia lalu menekan sebuah panggilan telepon menghubungi seseorang. Wajahnya langsung berbinar, setelah panggilannya mendapat jawaban.
“Selamat ulang tahun!” ucap Asty dengan penuh semangat. “Maaf ya Kakak baru aja mengucapkannya. Kakak hari ini mau pergi ke rumah orangtuanya Raldy, nanti hadiah kamu menyusul.”
Sementara itu, Elvira yang sedang tersambung telepon dengan kakaknya terlihat senyum sendiri. “Terima kasih ya, Kak. Aku tunggu.” Elvira menjawab sekenanya.
Tidak lama setelahnya, suara ketukan pintu dari arah luar mengalihkan perhatian Elvira sehingga ia secepatnya menyudahi obrolan singkat dengan Asty.
Dewanti masuk ke kamar Elvira dan menemui Elvira yang sedang duduk di tepian tempat tidur, sepertinya baru meletakkan kembali ponselnya. Sejak pulang ke rumah, ia masih merasa belum ingin kembali ke kantor.
“Sayang,” sapa Dewanti.
“Oma.”Elvira menyapa balik dengan hangat, matanya Elvira langsung terarah pada sebuah map yang kini dibawa Dewanti.
__ADS_1
“Kamu belum kembali ke kantor?” tanya Dewanti seraya ikut duduk di sampingnya.
“Belum, Oma. Tadinya mau bersantai sejenak di kamar,” jawab Elvira.
“Sayang, kamu sudah melalui banyak hal yang membuat hidup kamu kehilangan ketentraman, apalagi setelah kehadiran perempuan itu. Maafkan Oma ya, Oma tidak bisa melakukan apapun sejauh ini terhadapnya,” ucap Dewanti terdengar lirih.
“Tidak apa-apa, Oma. Oma jangan terlalu memikirkan tentang masalah ini ya. Aku tahu Oma juga dalam keadaan yang sulit karena anak yang ada dalam kandungan Anya adalah cicit Oma juga.”
“Entah harus bagaimana, Oma tidak pernah menginginkan mendapat keturunan baru di keluarga kita dengan cara seperti ini. Walau pun seandainya ada garis keturunan darah yang terkait, Oma hanya merasa berat hati menerimanya,” ungkap Dewanti.
“Maaf kan aku ya, Oma. Andai saja aku bisa menjaga calon anakku ...”
“Sayang, sudah berapa kali Oma katakan jika itu bukan kesalahan kamu,” potong Dewanti. “Kamu tidak perlu merasa bersalah, sekarang Oma ingin kamu fokus kan hidup kamu untuk kebahagiaan kamu sendiri. Yang lalu biar saja berlalu.”
Elvira mengiyakan.
“Ini untuk kamu.” Dewanti lalu menyerahkan map tersebut beserta sebuah pena.
Elvira menerimanya dengan sedikit ragu. Ia merasa semakin ragu saat sudah melihat isi dokumennya yang berisikan surat penerimaan kuasa atas kepemilikan saham yang telah diberikan Daffin untuknya.
“Kamu hanya perlu tanda tangani dokumen itu, sisanya Oma yang akan mengurusnya. Mungkin hanya ini yang bisa Oma lakukan untuk melindungi hak kamu, Elvira.”
“Oma tidak perlu melakukan ini.”
“Maaf Nyonya besar, ada telepon untuk Nyonya,” ujar Mirah memberitahu.
“Sayang, Oma tinggal dulu ya,” pamit Dewanti yang segera keluar dari kamar Elvira.
Sedangkan saat ini Elvira kembali meletakkan dokumen tersebut ke sampingnya. Ia benar-benar tidak bisa menerima semua ini. Apa yang sudah dialaminya sejauh ini, sudah mengubah haluan hidupnya yang dulu hanya berorientasi, jika kekayaan adalah hal yang harus ia miliki untuk hidup bahagia.
Namun sepertinya, saat ini ia sudah tidak menginginkan hal itu lagi. Mengingat saat ini, ia masih menyimpan sebuah rahasia yang tentu saja pasti akan sangat mengejutkan Dewanti. Mungkin saja akan membuatnya marah, jika mengetahui kebohongan Elvira selama ini.
Segala bentuk kebaikan dan kasih sayang yang diberikan kepadanya selama ini saja, sudah cukup membuat Elvira merasa bersalah, karena takut akan mengecewakan Dewanti.
Diliriknya saat ini ke arah sebuah dinding, dimana masih terpajang foto saat pernikahannya dengan Daffin. Bingkai foto indah yang sampai saat ini masih enggan ia turunkan dari posisinya, karena hanya dengan itu ia bisa terus mengingat mendiang suaminya dan semua yang telah diberikan Daffin kepadanya. Meskipun masih terdapat luka pada kenangan itu.
...☘︎☘︎☘︎...
Selang beberapa waktu, Dewanti kembali ke kamar Elvira setelah menyelesaikan urusannya. Akan tetapi ia sudah tidak lagi melihat keberadaan Elvira, melainkan hanya ada map beserta pena yang diletakkan Elvira di atas tempat tidur.
Dewanti segera mengambil dan memeriksanya, tapi ia tidak mendapatkan hasil seperti yang diinginkannya, saat melihat kolom tanda tangan nama Elvira masih kosong.
...☘︎☘︎☘︎...
__ADS_1
Sementara itu, Elvira kini kembali mengunjungi toko bunga yang dulu pernah ia datangi saat itu dan tidak sengaja bertemu dengan Daffin disini.
Bagi Elvira, itu adalah pertemuan pertama kalinya ia dengan Daffin, meski bagi Daffin saat itu adalah ke sekian kalinya ia melihat Elvira.
Elvira segera masuk, lalu memesan rangkaian bunga yang indah. Setelah selesai di toko bunga, Elvira segera kembali melaju membawa mobilnya memecah keramaian jalan raya.
Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah sampai di depan makam Daffin. Elvira melayangkan seutas senyuman, saat meletakkan karangan bunga yang dibawanya di atas pusara.
“Maaf ya, Mas. Akhir-akhir ini aku jarang berkunjung,” ucap Elvira seolah bicara dengannya.
Ia membelai batu nisan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Ia terdiam sejenak memandang ukiran nama tersebut, dan lagi-lagi hanya bisa membelainya.
“Kamu yang dulu membawaku masuk ke dalam keluarga kamu, tapi malah kamu yang kini harus meninggalkan mereka karena aku. Aku tidak akan pernah melupakan tentang kamu dan semua yang telah kamu berikan. Tapi aku harus mengatakan semua tentangku kepada mereka. Walaupun jika pada akhirnya aku harus meninggalkan mereka, aku akan tetap mengingat mereka sama seperti aku selalu mengingat kamu.”
Elvira menghela napas sejenak, lalu ia tersenyum lagi.
“Kalau kamu bisa melihat keadaanku di sini, kamu pasti akan tahu jika sampai saat ini aku masih menyimpan kamu dalam hatiku. Terima kasih untuk semuanya, damai lah di sana.”
Elvira menyeka sudut mata yang mulai berair. “Aku akan mencari waktu yang tepat untuk mengatakan kepada mereka, lebih tepatnya menyiapkan diri untuk pergi dari mereka,” sambungnya bermonolog.
“Elvira.” Terdengar suara yang tidak asing memanggil namanya, Elvira segera menoleh.
Matanya tercengang. “Gio? Kamu di sini?” tanya Elvira heran.
Pria itu memberi senyuman sebentar, lalu memperhatikan nama yang terukir pada pusara.
“Aku sedang merindukan seseorang, makanya datang kesini. Kebetulan aku tidak sengaja melihat seorang perempuan cantik berada di sini. Hal itu membuatku merasa harus menyapanya, karena dia seorang yang ku kenal,” jawab Gio yang saat ini membicarakan tentang Elvira di depan orangnya sendiri.
“Oh ya?”
“Kamu juga pasti sedang merindukannya ya?” tebak Gio yang memandangi makam Daffin.
“Mm ... iya.”
“Hm ... aku berharap saat ini tidak akan turun hujan. Karena aku sedang tidak membawa payung,” candanya membuat Elvira tersenyum.
Terlihat lah kecantikannya semakin dipertegas dengan senyuman simpul, yang mampu menawan hati bagi siapa saja yang melihatnya.
“Aku akan pergi sekarang,” pamit Gio tiba-tiba merasa takut hatinya akan goyah jika berlama-lama memandanginya.
Elvira hanya mengiyakan saja, seraya membiarkan punggung pria itu sudah menjauh darinya.
__ADS_1
Bersambung ...