Cinta Untuk Istri Sang Pewaris

Cinta Untuk Istri Sang Pewaris
Bab 66-- Kemarahan Anya


__ADS_3

Elvira menyadari ada mobil Nevan yang baru berhenti, namun sepertinya Nevan masih belum mematikan mesin mobilnya.


Detik selanjutnya Elvira kembali mengalihkan perhatian kepada Gio. “Kamu ingin bertemu Anya? Temui aku lagi nanti. "


“Benar kah?” tanya Gio bersemangat.


“Sekarang pergilah,” pinta Elvira, ia tidak mau Nevan terburu turun menemui mereka.


“Tapi--"


“Tidak bisa sekarang.Yayasan Mentari Kasih, temui aku di sana nanti.”


Elvira segera memberi isyarat untuk Gio agar segera pergi setelah memberitahu nama tempat dimanaGio akan bisa menemuinya karena kini Nevan sudah turun dari mobil dan berjalan hendak menghampirinya.


Gio langsung mengerti dan segera masuk ke mobil. Saat Nevan sudah berada di dekat Elvira, Gio sudah terburu pergi dengan mobilnya.


Sementara Elvira menyadari pandangan penuh pertanyaan serta rasa curiga dari sorot mata Nevan yang memperhatikan laju mobil Gio sampai sudah semakin menjauh dari mereka.


“Siapa?” tanya Nevan yang sudah dengan jelas melihat wajah Gio, namun ia belum mengenalnya.


“Bukan siapa-siapa, hanya orang bertanya alamat,” jawab Elvira yang tidak ingin memberitahu Nevan, ia memiliki rencana sendiri untuk memeriksa sesuatu terkait tentang Anya.


“Oh.”


Nevan berucap singkat lalu segera kembali masuk ke mobilnya, sedangkan Elvira masih memperhatikannya.


Jelas saja Nevan merasa hatinya tidak nyaman saat melihat seorang pria berwajah tampan itu terlihat akrab bicara dengan Elvira.


Batinnya yang kini menyimpan kekesalan karena rasa cemburu terhadap Elvira memilih mengacuhkannya hingga pada akhirnya Nevan sudah kembali membawa laju mobilnya masuk ke arah halaman rumah dan meninggalkannya.


“Ya ampun! Setidaknya dia menawarkanku tumpangan,” gerutu Elvira sebal meski ia melihat jalan menuju pintu utama rumah tidak terlalu jauh baginya, Elvira pun lantas menyusul masuk dengan berjalan kaki.


...----------------...


Di ruang tamu sudah ada Nevan yang kedatangannya disambut oleh Meisya dan Dewanti, mereka tampak duduk bersama mengobrol.


Untuk sejenak, Meisya dan Dewanti melupakan lagi perdebatan mereka yang biasanya selalu mewarnai hari-hari mereka sejauh ini.


Meisya pun sebenarnya masih menyimpan kekesalan terhadap mama mertuanya itu karena masih saja bisa memaafkan Elvira dengan mudahnya.


“Aku akan menghadiri acara hari jadi universitas besok,” ujar Nevan.


“Benarkah? Kamu serius?” Meisya sangat bersemangat mendengar pernyataan dari putranya itu.


“Iya, Ma.”


“Ma, Mama juga akan hadir kansebagai dewan pembina yayasan?” tanya Meisya kepada Dewanti.


“Iya, Mama akan hadir,” jawab Dewanti, detik berikutnya ia sudah melihat Elvira yang sepertinya baru memasuki pintu utama rumah.


“Elvira,” sapa Dewanti begitu Elvira sudah berjalan mendekati ruang tamu.


“Oma.” Elvira turut menyapa.


“Kamu baru pulang? Pasti lagi banyak kerjaan ya?” tanya Dewanti seperti biasanya, penuh perhatian.


“Iya Oma,” jawab Elvira, ia lalu melirik ke arah Meisya yang tampak membuang muka ketika mengetahui kehadirannya di ruang ini.

__ADS_1


“Sayang, besok kamu ada kegiatan? Kalau tidak, bisakah kamu ikut Oma menghadiri acara hari jadi kampus kita?”


“Mm, sebenarnya aku masih ada beberapa yang harus dikerjakan, Oma,” jawab Elvira yang memberi penolakan secara halus.


“Ma, sudah lah. Biar kan saja tidak ikut hadir, dia punya kesibukan sendiri.” Meisya tiba-tiba ikut menginterupsi.


“Dia mungkin lebih mementingkan urusan pribadinya dibandingkan acara dari keluarga kita.” Nevan turut menyahut, namun perkataannya terdengar menohok di telinga Elvira.


Entah Nevan sedang menyimpan kemarahan apa terhadapnya, Elvira masih tidak bisa menerkanya. Sedangkan Meisya kini menyunggingkan sinis di sudut bibirnya melihat sikap Nevan terhadap Elvira.


“Tidak apa-apa, sayang,” kata Dewanti sembari tersenyum kepada Elvira.


“Maaf ya, Oma. Kalau begitu, aku ke kamar dulu,” pamit Elvira yang langsung diiyakan oleh Dewanti.


“Nevan, wajarlah dia sibuk. Tapi bukan berarti dia lebih mementingkan urusan pribadinya, dia kan sibuk mengurus yayasan Oma,” bela Dewanti saat memastikan Elvira sudah meninggalkan ruangan tersebut.


“Iya, Oma.”


“Oh ya, kamu itu kalau di apartemen apa sendirian saja? Apa tidak kesepian? Sesekali lah menginap di sini,” pinta Dewanti.


“Iya, sayang.” Meisya menimpali.


“Iya, walau aku jarang menginap di sini, buktinya aku kan sering berkunjung kesini.”


“Ya sudah lah, bagaimana senangnya kamu saja,” pungkas Dewanti.


...----------------...


Elvira yang sudah berganti pakaian setelah mandi kini pergi ke dapur, ia merasa harus segera melepas dahaga dengan mengambil air dari lemari pendingin dan menuangkannya ke sebuah gelas kaca.


Baru saja ia hendak meminumnya, sebuah tangan dengan sigap merampas gelas minum tersebut dari tangannya sehingga Elvira yang dalam keadaan lengah harus melepas gelas tersebut begitu saja.


Anya tersenyum sinis menyadari raut wajah Elvira yang kini memandangnya dengan penuh rasa kesal dan marah karena Anya secara terang-terangan mengganggunya.


“Mendapat tuangan minuman dari kamu rasanya sangat berbeda,” ujar Anya.


“Jangan menggangguku.” Elvira berucap dengan sikap dinginnya.


Merasa malas menanggapi kelakuan Anya, Elvira lalu mengambil kembali sebuah gelas dan menuangkan air untuknya sendiri tanpa ingin mempermasalahkan lebih lanjut lagi gangguan dari Anya.


Anya yang masih memperhatikan Elvira sedang minum dengan santai tanpa memedulikan kehadirannya hanya bisa memasang senyum sinis sambil memikirkan hal apa lagi yang mungkin akan memuat Elvira merasa terganggu.


“Kamu tuh sangat pandai ya mencari muka di depan Oma. Bagaimana bisa coba, Oma mau memaafkan kamu begitu saja padahal jelas-jelas kamu sudah jalan dengan pria lain yang mungkin saja sudah jadi selingkuhan kamu sejak Pak Daffin masih ada,” tuding Anya tanpa beban terus memancing amarahnya.


Namun perkataannya tersebut membuat Elvira naik pitam karena tudingan menohok dari Anya telah melukai harga dirinya.


“Jangan pernah sama kan aku dengan kamu, aku masih bisa menjaga harkat dan martabatku sebagai perempuan!” Elvira berucap dengan geram.


“Maksud kamu?” Anya merasa tersindir.


“Aku tidak seperti kamu yang rela menyerahkan kehormatan demi mendapatkan seorang pria yang sudah beristri!”


“Kamu!”


Anya mengangkat tangannya yang masih memegang gelas kaca tersebut ke hadapan Elvira.


Ia terlihat memegangnya dengan cengkeraman kuat penuh emosi, seakan ia hendak memecahkan gelas tersebut sambil memasang wajah penuh kebencian karena merasa tersinggung akan perkataan Elvira tadi.

__ADS_1


Namun tanpa Elvira duga detik selanjutnya Anya dengan sengaja melempar benda tersebut ke bawah dengan kasar yang segera pecah berkeping-keping saat terbentur lantai. Hal itu menimbulkan suara pecahan dengan isinya yang berhamburan di sekitar kaki Elvira.


Sontak saja Elvira yang terkejut langsung bereaksi melangkah ke sembarang arah untuk menjauh dari kemungkinan pecahan kaca tersebut mengenai kakinya. Beruntung pecahan dari kepingan tajam tersebut tidak sampai mengenai dan melukai kaki Elvira.


“Kamu masih beruntung karena aku tidak melemparnya langsung ke arah wajah kamu,” pungkas Anya yang masih dalam keadaan membara.


Setelah menyunggingkan senyum sinis kepada Elvira, Anya langsung segera pergi meninggalkannya. Sedangkan Elvira masih mengatur napas setelah terkejut hebat atas perbuatan Anya tadi.


Elvira merasa jika ia harus sesekali melakukan hal demikian mengingat perkataan dan perlakuan Anya sudah semakin keterlaluan, dan Elvira tahu semuanya bersumber dari rasa kebencian dalam hati Anya terhadap dirinya.


Ia tidak habis pikir perempuan itu kini semakin bertingkah semaunya terhadapnya mentang-mentang sejauh ini Elvira masih bisa bersabar menahan diri.


“Ya ampun, Nyonya Elvira!”


Terdengar suara panik dari Mirah yang berseru saat melihatnya, wanita itu bergegas untuk menghampirinya membuat Elvira segera tersadar dari lamunannya.


Suara teriakan dari Mirah pun ternyata mampu terdengar oleh Nevan yang masih mengobrol dengan Meisya dan Dewanti. Ia lantas bergegas mencari sumber suara.


“Nyonya, menjauh lah!” pinta Mirah.


“Saya tidak apa-apa, Bi.”


“Duh, ini bisa saja akan melukai kaki Nyonya Elvira.”


“Ada apa?” tanya Nevan yang kini sudah sampai di area dapur.


Matanya langsung menemui pecahan gelas kaca berserakan disertai aliran air bening itu sudah berhamburan di lantai tepat di dekat Elvira.


“Elvira! Apa yang terjadi?” tanya Dewanti yang turut mengikuti Nevan, ia terlihat panik melihat ada bahaya di dekat cucu menantu kesayangannya itu.


“Oma, aku tidak apa-apa. Maaf ya aku tidak bermaksud membuat kekacauan.” Elvira mencoba menenangkan.


“Ya ampun, dikira ada apa. Rupanya hanya gelas yang terjatuh.” Meisya turut ke sana bersuara meremehkan kejadian itu. Tidak seperti Dewanti yang panik takut hal itu akan melukai Elvira.


Hal itu juga terkadang membuat Meisya kesal dengan perlakuan serta kasih sayang berlebih dari Dewanti untuk Elvira, walau sebenarnya Dewanti sama sekali tidak membedakan kasih sayangnya kepada Nevan.


Merasa hal tersebut sama sekali tidak penting baginya, Meisya segera berlalu pergi.


“Lain kali kamu hati-hati ya.” Dewanti mengingatkan.


“Iya Oma. Maaf ya, aku tidak sengaja,” ucap Elvira dengan sesal menanggung hasil perbuatan Anya.


“Apa kamu minum dengan dua gelas?” selidik Nevan yang memandangnya dengan curiga.


Berbeda dari yang lainnya, mata Nevan yang lebih jeli jelas-jelas ia melihat Elvira sedang memegang sebuah gelas berisi air yang masih bersisa setengah.


Nevan masih menunggu Elvira untuk menjelaskan sesuatu yang sebenarnya. Ia melirik ke arah pecahan kaca yang sudah menyebar kemana-mana kemungkinan bukan karena tidak sengaja jatuh, tetapi lebih tepatnya seperti baru dilempar dengan penuh tenaga.


“Oh, ini.” Elvira terlihat membingung sendiri bagaimana ia memulai untuk menjelaskannya.


“Ya sudah, tidak apa-apa,” sela Dewanti yang sudah merasa tenang, baginya yang terpenting Elvira tidak sampai terluka.


“Sini sayang.” Dewanti kemudianmenjulurkan tangan untuk meraih tangan Elvira dan segera mendapat sambutan dari tangan Elvira.


“Iya, Oma.”


“Ya sudah Oma, kalau begitu aku pulang dulu ya,” pamit Nevan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2