
Dewanti memperlihatkan sebuah foto kalung perhiasan kepada Elvira seraya meminta pendapatnya. “Elvira, bagaimana menurut kamu?”
“Bagus Oma, cantik.”
“Ini desain terbaru yang ditawarkan oleh bu Ester. Oma mau belikan satu untuk kamu.”
“Ya ampun, Oma. Mas Daffin sama Oma kan sudah banyak banget membelikan aku perhiasan. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Oma tu senang kalau melihat kamu memakai perhiasan, kamu terlihat sangat cantik.”
“Tapi itu harganya pasti mahal banget.”
"Tidak sampai senilai membeli lima unit apartemen seperti milik Nevan," guraw Dewanti.
"Itu mahal banget loh, Oma."
“Tidak masalah, Sayang. Oma ingin kamu tahu kalau Oma sangat menyayangi kamu seperti cucu Oma sendiri. Oma akan belikan ini untuk kamu, tidak boleh menolak ya."
Sementara Anya yang masih memperhatikan dan mendengar pembicaraan mereka langsung menyeringai dan melihat senyum canda dari wajah Elvira membuat dirinya merasa resah sendiri.
“Bisa-bisanya dia menikmati hidupnya.” Anya berujar sembari merasa iri melihat kebahagiaan Elvira.
Ia membandingkan dengan hidupnya sendiri membuat Anya merasakan kebencian dan ingin memiliki apa yang dimiliki oleh Elvira.
“Kalau aku tidak bisa mendapat perhatian dan kasih sayang dari Oma, setidaknya akan ku coba membuat perhatian dan kasih sayang dari Oma itu berkurang bahkan hilang untuknya.”
Anya menghela napas, lalu ia mulai melangkah menghampiri mereka. Elvira dan Dewanti pun mengalihkan perhatian kepadanya.
“Kayaknya lagi seru, apa boleh aku ikut bergabung?”
“Oh, iya tidak apa-apa.”
Setelah mendapat izin dari Elvira, Anya pun ikut duduk bergabung bersama mereka.
“Duduk bersama di sini membuatku merasa seperti punya keluarga baru,” ungkap nya.
“Iya, kamu bisa menganggapnya begitu,” sahut Elvira.
“Dasar bermuka dua! Bisa-bisanya dia bersikap biasa saja dan seolah bijak. Oke, aku akan ikuti permainan kamu.”Anya mengumpat dalam hati sembari menatap ke arah Elvira.
“Oh ya, Elvira. Besok aku ada jadwal USG kandungan, kamu mau tidak menemaniku? Aku yakin kamu juga penasaran kan ingin lihat perkembangan janinnya?”
__ADS_1
Mendengar perkataan Anya membuat Elvira tertegun sejenak dan berpikir.
“Ayolah, marah saja. Kamu tidak akan suka melakukannya kan?” suara hati Anya berbicara.
“Kamu kan bisa pergi ke dokter kandungan sendiri,” sahut Dewanti.
“Tidak bisa begitu dong.” Meisya tiba-tiba datang ikut bergabung dan langsung menyahut.
Meisya memandang sebentar ke arah Elvira. “Elvira harus menunjukkan sikap baiknya terhadap Anya karena anak itu kan anak suaminya juga. Jadi kamu harus menemani dia."
“Iya, Ma. Aku akan mengantarnya besok.”
“Bersikap lah dengan baik dan lebih perhatian terhadapnya.”
“Iya, Ma.”
“Sayang, kamu tidak perlu melakukan itu,” sanggah Dewanti.
“Mama Meisya benar, Oma. Aku tidak apa-apa kok,” pungkas Elvira membuat Anya tersenyum senang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya Elvira dan Anya sedang berada di perjalanan dengan mobil yang disetir oleh Elvira.
Elvira selalu menolaknya, ia lebih suka jika mengendarai mobilnya sendiri yang merupakan hadiah pemberian dari mendiang suaminya.
Selama perjalanan Elvira hanya membungkam mulut tidak ingin berbicara kepada Anya meski sesekali Anya mencoba mengajaknya bicara.
Tidak berselang lama, mobil milik Elvira sudah tiba di rumah sakit dan mereka langsung menuju ruang dokter kandungan.
Atas permintaan Anya, Elvira pun akhirnya turut masuk ke dalam saat pemeriksaan. Ia turut mendengarkan penjelasan dokter saat melakukan USG pada bagian perut Anya.
“Ibu lihat kan ini adalah janinnya yang sudah terbentuk saat sudah memasuki usia kandungan akhir trimester satu,” ujar dokter.
Terlihat pada layar monitor yang memperlihatkan keberadaan janin yang berusia hampir tiga bulan tersebut yang masih berbentuk sangat kecil.
Anya sangat senang dan bersemangat kala memperhatikannya dan saat dokter menjelaskan jika kondisi janinnya sangat baik. Sedangkan Elvira ikut terharu melihatnya meski dengan hati yang seakan tercabik, ia mencoba terus menahannya.
Setelah keluar dari ruangan dokter kandungan, Anya lalu memegang lengan Elvira dan menggandengnya saat berjalan seolah mereka adalah dua orang yang sangat akrab.
“Apa yang kamu lakukan?” Elvira merasa risih saat Anya memperlakukannya seperti ini.
__ADS_1
Ia berusaha melepaskan pegangan tangan Anya akan tetapi Anya berniat tidak mau melepaskannya, ia sangat senang melihat raut kekesalan di wajah Elvira.
“Aku hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan kamu, aku harap kamu turut merasakan kebahagiaanku saat ini.”
“Lepaskan tangan kamu dariku!”
“Tidak mau, kapan lagi kita bisa terlihat akrab seperti ini. Kamu harusnya bersyukur karena aku mengizinkan bahwa kamu juga boleh menjadi ibu dari anakku. Kamu kan sudah kehilangan calon anak kamu. Aku akan memberikan kesempatan agar kamu juga bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi ibu dari anak ini.”
“Lepaskan!” bentak Elvira yang kini sudah berhasil melepaskan tangannya dari Anya.
“Jangan hanya karena aku bersikap baik terhadap kamu, kamu bisa berbuat sesukamu. Kamu yang harusnya bersyukur karena aku masih bersikap baik, harus kamu tahu jika saat ini aku masih menahan diri,” tegas Elvira lalu ia segera melangkah lagi meninggalkan Anya.
“Apa itu terdengar seperti sebuah ancaman? Sudah kuduga, dia pasti tidak akan bisa terus bertahan dengan kesombongannya itu. Dia hanya terus bersikap kuat padahal masih memiliki hati yang sangat rapuh,” gumam Anya mengomentari tentang Elvira sembari melihat punggung Elvira yang berjalan jauh di depannya.
“Hei, tunggu! Kamu harus mengantarku ke kantor!” teriak Anya setengah berlari mengejar Elvira.
Hingga ia berhasil menangkap tangan Elvira menyuruhnya berhenti. Elvira segera menarik kembali tangannya dengan kasar.
“Kamu harus mengantarku ke kantor,” pinta Anya terdengar memaksa.
“Kamu pergi saja sendiri.” Elvira menunjukkan wajah dinginnya lalu segera pergi meninggalkan Anya yang terlihat kesal.
...----------------...
Menepi sejenak dari keramaian jalanan kota, Elvira memutuskan untuk pergi ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Ia berhenti di sebuah taman untuk bersantai dan sekedar menikmati pemandangan sejenak.
Elvira duduk di sebuah kursi di taman tersebut yang langsung menghadap ke sebuah danau dengan air yang tenang.
Elvira kemudian merogoh isi tasnya dan mengambil selembar foto kecil. Ia teringat tadi sesaat akan meninggalkan ruangan dokter, Anya memberikan sebuah foto cetakan hasil USG-nya kepada Elvira.
“Ini, simpan satu untuk kamu, aku mau kamu juga menyayanginya,” ujar Anya sambil memberikan foto tersebut kepadanya.
Elvira memikirkan obyek kecil yang ada di foto tersebut, itulah janin yang memang sedang tumbuh dan berkembang di rahim Anya yang juga merupakan anak dari suaminya.
Elvira menghela napas betapa beratnya ia selalu bersembunyi di balik sikapnya yang seolah kuat selama ini. Meski ia selalu bertekad untuk tetap tegar, akan tetapi ia juga memiliki sisi lemah dan halusnya perasaan seorang perempuan dan saat ini bulir air mata pun kembali jatuh membasahi pipinya.
Saat ini ia meraba bagian perutnya menyadari jika kini sudah tidak ada lagi janin yang mengisi di ruang rahimnya dan itu merupakan buah cintanya bersama Daffin.
Ia lalu teringat saat-saat bersama Daffin dahulu, banyak sekali momen waktu Daffin yang selalu mencurahkan kasih sayang terhadapnya. Daffin juga pernah mengungkapkan keinginannya yang ingin memiliki anak dari Elvira.
Elvira tidak tahu bagaimana seharusnya ia menjalani kehidupannya saat ini yang dibaluti penuh penyesalan dan rasa kecewa yang mendalam, ia bahkan belum bisa terlepas dari bayangan mendiang suaminya.
__ADS_1
Jelas bukan kehidupan seperti ini yang ia harapkan saat dahulu memutuskan untuk menerima lamaran Daffin. Namun tetap saja saat ini ia berusaha untuk menaklukan kerikil tajam yang ada dalam kehidupannya.
Bersambung ...