
Suasana di malam hari memang mencekam apalagi rumah sakit meski masih banyak orang yang lalu lalang tapi tetap saja berbeda. di sini tempatnya orang-orang yang butuh pengobatan, Ameer masih berada di ruang operasi malam ini ia membantu dokter Bilal dokter senior di rumah sakit ini.
Meskipun berada di ruangan ber AC tetap saja keringat mengalir karena suasana yang cukup tegang apalagi seorang Ameer ia dokter baru. ada perasaan tak tega melihat tubuh yang utuh harus di sayat demi berhasil nya operasi jantung. Ameer memang sedang mendalami bagian ini untuk saat ini memang dia masih menyandang dokter umum. rencana ke depannya Ameer akan sekolah lagi untuk mengambil jurusan spesialis jantung.
" ini bagian jantung dan ini aliran darahnya, kalian harus hati-hati jika ingin memotong pembuluh darah agar tidak menyempit lagi". ucap Bilal memberitahu para dokter yang sedang magang.
" baik dokter". ucap mereka di dalam ruangan ada sekitar enam dokter.
Tiga jam selesai dari selepas Maghrib semua dokter mengusap dahinya menggunakan tisu karena semua tegang. Ameer menghembus kan nafas kasarnya berasa lega bisa keluar dari ruang operasi.
" makan yuk aku lapar". ajak Athar dokter muda yang sedang magang dia adalah anaknya dokter Bilal.
" Sebenarnya aku tak terlalu lapar sih Athar". ucap Ameer.
" Ayuk aku traktir sekali-kali deh kak Ameer menerima traktiran dari ku". ucap Athar terus mengajak Ameer.
" oke sebentar aku kabari bunda ku dulu". Athar mengangguk ia pun memberi kabar kepada umi nya arsi jika ia sudah keluar dari ruang operasi.
Abi nya Bilal sudah pulang karena sekarang hanya sebagai dokter panggilan jika urgent saja. ia lebih suka di rumah menemani istrinya Arsi, Dokter Bilal mempunyai anak kembar tiga. dan memiliki bidang pekerjaan yang berbeda-beda, yang meniru ayahnya hanya satu yaitu Athar.
" kak belum ingin menikah". tanya Athar tiba-tiba, Athar cukup mengidolakan Ameer karena Ameer laki-laki yang cukup tekun beribadah.
" belum ada jodohnya Athar, nanti saja aku masih mau ambil spesialis".
" wah keren, ambil spesialis apa kak".
" aku lebih suka spesialis jantung." ucap Ameer.
" kan bisa menikah dulu kak sebelum sekolah lagi." ucap Athar di sela mereka menunggu pesanan nya yang datang.
" aku takut tak fokus Athar, karena setelah menikah kita punya tanggung jawab lain dan itu berat Athar."
" padahal mau aku jodohiin sama adik perempuan ku kak". ucap Athar sedikit bercanda namun serius.
" Kalau jodoh tak akan ke mana Athar doakan saja ".
" iya sih, tapi wajib usahanya kan kak". Ameer hanya menanggapi dengan senyuman.
__ADS_1
" kamu setelah lulus mau ke mana Athar". tanya Ameer.
" sama aku juga mau ambil spesialis jantung kak, aku suka dengan itu " Ameer tersenyum.
" yang penting sekarang kamu fokus lulus dulu Athar aku doakan nilaimu bagus semua".
" aamiin, terima kasih kak". keduanya lalu makan karena pesanan nya sudah datang.
___
Semua duduk di ruang televisi setelah makan malam, semua berkumpul. Bahagia rasanya jika bisa mengajak emak dan Abah kemari.
" kenapa sih aki sama Nini ngga di tinggal di sini saja". tanya Khansa
" aki masih punya tanggung jawab neng, rumah aki yang di desa gimana terus sawah aki sayang kalau tidak di tanami". ucap aki.
" Di sewakan saja aki terus aki tinggal di sini bersama kami." ucap Khalid.
" bukannya ngga mau tinggal sama kalian, rumah itu rumah kenangan aki sama Nini sayang kalau mau di tinggal. Suatu saat mungkin kami akan ikut kalian tapi selama aki masih sehat dan bisa ngurus sawah juga aki senang di desa"
" bukan tak senang sayang tapi aki biar udah tua begini punya kegiatan, kalau di sini aki bingung mau ngapain. jadi security ngga lucu jadi tukang kebun apalagi nanti kalian yang malu. aki masih suka bekerja keras, maaf ya neng belum bisa mungkin suatu saat." kata aki menjelaskan kepada cucu-cucunya.
" orang hidup itu butuh kenyamanan nak, meski aki tinggal di tempat yang sederhana tapi itu bikin aki nyaman. Tak hanya materi yang membuat kita hidup nyaman, tapi ketentraman hati. "
" yah aku ngga ada yang nemenin Khalid main gitar". semua orang melihat ke arah aki jadi selama ini yang mengajari gitar Khalid adalah aki. aki nyengir saja begitulah hal yang tak Barra ajarkan ternyata aki nya mengajarkan. Barra tak marah ia pun ikut terkekeh melihat wajah aki yang takut jika di marah Barra.
" Abah cucu kita mau Abah ajarin jadi penyanyi gitu, emak tak setuju." ucap emak kesal.
" maaf bukan, Khalid yang minta jadi Abah ajarkan saja. Ngga harus jadi artis bisa main gitar Mak, buktinya Abah bisa menghibur emak kan dengan main gitar". emak meringis Abah buka kartu.
" tapi aki janji ya nanti tinggal bareng kita."
" iya pasti siapa lagi kalau bukan kalian, ke tempat Tante mu Amira jauh mending di sini. tapi untuk saat ini belum ya aki masih senang tinggal di desa". semua tersenyum senang dan mengerti kemauan Abah.
" Di desa itu jauh dari kebisingan tempatnya sejuk, umi senang saat di desa". ucap Alira.
" saking ngga bisingnya suara sapi lari saja ngga dengar". ucap Barra mengingat masa lalu saat alira di kejar sapi.
__ADS_1
" mas..." mata alira melotot tajam ia malu jika mengingat kejadian itu.
emak tertawa terpingkal-pingkal sampai pegang perut, ingat saat alira di minta emak untuk dandan ngga tau nya cuma mau di kejar sapi.
" tak apa meski begitu tapi berujung indah kan di antar sama ustadz tampan."
" siapa Nini, ". Khansa penasaran.
" ceritain ngga ya".
" ih Nini Khansa jadi penasaran, gimana sih saat umi masih remaja dulu".
" umi mu cantik nak paripurna bahkan sempurna sampai Abi langsung khitbah umi mu saat lulus madrasah". ucap Barra.
" terus waktu itu abi kok tau ada wanita cantik sih." tanya Khansa penasaran ia belum tau cerita orang tuanya bisa bertemu, perkiraan Khansa adalah ta'aruf atau di jodohkan.
" mas sudah ". alira malu jika dia dulu muridnya Barra.
" Abi mu itu gurunya umi, dulu banyak wanita yang tergila-gila sama Abi cuma umi mu yang ngga. Hem sombong ngga peka."
" mas sudah alira malu mas anak-anak ngga perlu tau." kata alira lagi wajahnya sudah merona.
" terus umi kok bisa menerima Abi."
" lah iya Abi mu tampan gini masa ngga mau."
" terpaksa ". ucap Alira.
" terpaksa cinta kan." ledek Barra.
Alira mencubit pinggang suaminya malu di depan anak-anak nya bercerita masa lalu.
Suasana malam itu penuh dengan tawa apalagi aki sama Nini nya yang terus bercerita. itulah yang di rindu kan Khansa dan Khalid canda aki dan Nini meski tua tetap energik.
__
bersambung
__ADS_1