
Suara ketukan pintu menyadarkan Ameer yang sedang serius membaca data para pasien. Ia memerintahkan siapapun itu untuk masuk, karena belum tentu itu adalah Khansa istrinya.
" maaf dok mau antar obat yang dokter pesan". Khansa berusaha untuk formal, Ameer rasanya ingin tertawa namun ia urungkan takut Khansa makin marah padanya.
" Tolong letakkan di meja". Ameer berjalan ke arah pintu.
Klik.
pintu itu di kunci agar tak ada yang masuk siapapun itu, Ameer tak ingin ada yang mengganggu dirinya bersama Khansa.
" kenapa di kunci kak, Khansa mau kembali bekerja" kesal Khansa.
" Sebentar jika dalam ruangan dengan pintu terkunci itu tandanya aku bersama istri ku, bukan pekerja lainnya ". Ucap Ameer makin mendekat kan tubuhnya pada Khansa.
" Kenapa hemmm,,, masih belum percaya dengan kakak". Khansa hanya mendesah tak ingin jika teman kerjanya berfikir yang macam-macam padanya.
" kak Khansa mau ker...". Khansa terdiam Ameer memboikot bibir Khansa tanpa aba-aba. Tak bisa menolak justru Khansa malah menikmati nya.
Hingga hampir tiga puluh menit mereka ada di dalam ruangan.
" Kakak mau ada di ruang operasi beberapa jam lamanya, kakak mau minta vitamin dulu dari kamu supaya tetap semangat". Ucap Ameer mengusap bibir Khansa yang basah. Khansa hanya terdiam cukup dia tetap ada dalam dekapan Ameer.
" Nanti makan siang nya jika kakak belum keluar dari ruang operasi kamu duluan ya sayang jangan di tunda". Ucap Ameer membenarkan hijab Khansa yang sedikit berantakan karena ulahnya. Khansa hanya terdiam memandangi wajah tampan suaminya itu.
" ya sudah sana kembali bekerja ingat jangan capek-capek banyakin minum ya ". Ameer mengusap kepala Khansa dan ditutup dengan ciuman di keningnya.
Tanpa berkata apapun Khansa lalu keluar ruangan dokter Ameer, di luar pintu ia memegangi dadanya yang ritme nya sudah tak beraturan.
" mbak Khansa kenapa pegangin dada, ketemu dokter Ameer ya trus jantung nya berdendang". Ucap Nilam sembari tertawa.
" apaan sih Nilam". Khansa langsung berlalu tanpa peduli dengan Nilam ia pun tersenyum merona wajahnya dapat vitamin dari suami.
Sesampainya di apotik rumah sakit, mba meta heran dengan Khansa yang cukup lama hanya mengantar obat saja.
" kenapa lama Khansa ". Tanya nya.
" itu mbak, eh itu dokter minta saya menuliskan resepnya beliau sedang sibuk membaca data pasien untuk operasi sekarang". Ucap Khansa mencoba menetralkan kata-katanya, sedikit berbohong tak mungkin kan dia akan bilang sedang ehemm wkwkwk.
" oh emang pagi ini ada dua jadwal operasi dokter Ameer, sekalinya bekerja langsung ada pasien cukup berat." Khansa hanya tersenyum dan mengangguk saja.
__ADS_1
Ia lalu melanjutkan pekerjaan nya, rumah sakit ini cukup besar dan ramai pasien sangat banyak hingga para pekerja harus ekstra dengan pekerjaannya masing-masing.
___
Fahri dan Mahya sang pengantin baru yang lagi sayang-sayange, Fahri meminta mahya untuk tinggal bersamanya di rumah kecil dekat pesantren. Karena Fahri mengajar di sana dan akan lebih mudah dia mengontrol sang istri saat di rumah.
" Besok kita langsung tinggal di rumah pesantren ya mau kan mbak eh dek Mahya". Fahri cengengesan ia masih lupa panggilan kepada istrinya.
" iya mas, Mahya mau ". Mahya tersenyum saat Fahri memegang tangannya, sejak semalam pun Fahri belum berani untuk sentuh apalagi karena juga Mahya sedang datang bulan jadi belum bisa menikmati malam pertama.
" Kapan mulai kerja". Tanya Fahri mengecup jemari Mahya.
" izinnya sih satu minggu mas, lusa sudah sampai satu minggu ".
" kalau mas mau kamu ngga kerja lagi gimana ". Tanya Fahri hati-hati takut jika istri nya tak mau.
" saat ini kan kita masih belum ada momongan mas, Mahya inginnya sih kerja. Kalau mas ke pesantren Mahya bingung mau ngapain ngga ada temannya tapi kalau mas izinkan juga" ucap Mahya manja.
" gimana mau ada momongan buka segel aja belum". Ucap Fahri menggoda Mahya.
" ih mas, ya nanti tunggu biasanya tiga hari lagi Mahya selesai ".
Siang ini mereka masih tinggal di rumahnya Abi Fauzan, setelah kemarin akad di rumah Mahya esok harinya mereka di boyong di kediaman Fauzan. Orang tua Fahri membuat resepsi kecil teruntuk tetangga dan saudaranya.
" Mas katanya mau sekolah lagi ambil S2 ".
" iya insyaallah mau ambil di sini saja, Alhamdulillah uangnya sudah terkumpul ". Ucap Fahri yang sekarang berbaring kepalanya di pangkuan Mahya.
" Mas nabung sendiri".
" iya, Abi sudah bayarin kuliah mas sampai Kairo untuk lanjutkan S2 mas emang sengaja ingin pakai uang sendiri".
" kenapa ngga kuliah dulu kok keburu menikah". Ucap Mahya heran sama suaminya itu.
" nanti calon istri mas ini keburu jadi perawan tua". Fahri terkekeh.
" ih mas, kenapa mas maunya sama yang tua gini. Gadis di luaran sana kan banyak yang lebih cantik lebih saliha" . Ucap Mahya mencoba mendengar jawaban suaminya.
" bukan tentang muda atau tidak, mas sudah terpesona sejak kamu datang ke kota ini. Memang mas minder karena umur mas yang lebih muda dan tentunya status sosial kita. tapi makin ke sini aku yakin jika kamu itu adalah jodohku yang sudah tertulis dalam lauhul Mahfudz Nya". Terang Fahri menciumi tangan Mahya.
__ADS_1
" terima kasih ya mas."
" terus kenapa kamu langsung terima mas yang brondong ini, jangan bilang karena ngga laku-laku alias aji mumpung ya." Fahri tertawa.
" oh mas bukanlah, yang udah khitbah mahya banyak mas tapi entah kenapa Mahya tak pernah sreg aja. Dan yang jelas mas hasil dari istikharah ku". Kata Mahya cukup manja dengan intonasi suara yang mendayu-dayu.
" Karena ada doa yang tertahan di langit, mas selalu mendoakanmu memaksa Allah untuk menghadiahkan kamu menjadi istri ku".
" masa sih, Mahya ngga percaya."
" buktinya aku lebih berani mengkhitbah mu kan, coba kalau tidak mungkin kita juga belum bersama seperti ini. Makasih y, mas mencintaimu sayang." Mahya wajahnya merona Fahri memang sangat manis.
" Mahya juga".
" juga apa".
" cinta sama mas."
" apa ngga jelas."
" Mahya cinta sama mas Fahri."
" masyaallah jantungku ". Fahri memegangi dadanya.
" kenapa mas." Mahya panik.
" coba pegang". Mahya meletakkan tangannya di dada Fahri.
" dengarkan, berdegup kenceng banget kayak pacuan kuda."
" ih lebai". Kata Mahya mencubit Fahri.
" Harus siap tiap hari di lebaiin resiko menikah sama brondong ". Fahri tertawa.
" ya Allah mas benar-benar suami brondong ".
" tapi kamu suka kan." Mahya mengangguk ia malu.
" masyaallah istriku cantiknya apalagi kalau lagi merona begini main Ter... Mas nya". Mahya tertawa keduanya larut dalam kebahagiaan pengantin baru.
__ADS_1
__