
Ammar keluar dari kamar dengan senyum yang mengembang, awalnya dia bingung di kamar itu bagaimana memperlakukan seorang istri pertama kali. tapi ini dengan alur yang tak sengaja semuanya berjalan dengan lancar. Ammar bertemu ustadz Barra, aki juga Khalid berjalan berdampingan menuju masjid.
Khansa di dalam tertawa kecil sungguh rasanya memang Nano nano begitu aja.
" apa aku sudah langsung jatuh cinta sama suamiku." Khansa terkekeh ia lalu lanjut untuk shalat Maghrib.
__
Ameer merenung, walaupun ingin melupakan semuanya ternyata sulit tak mudah sama sekali bagi Ameer. Khansa adalah cinta pertama nya yang membuat hatinya bergetar saat melihat sosok wanita. Hatinya merasa perih saat mengingat nya, sungguh hatinya terluka oleh dirinya sendiri karena mencintai seseorang yang tak seharusnya ia cintai saat ini.
Bintang di atas sana bertaburan indahnya membuat Ameer makin menatap seolah ada wajah Khansa yang tersenyum padanya. Angin pun berhembus ringan mengikuti alunan hati yang sedang rapuh. Ameer hanya ingin melepas semua nya ia ingin segera berangkat ke Amerika secepatnya tak ingin bertemu lagi dengan Khansa apalagi hingga dalam satu rumah nantinya di sini.
Ameer pasti pikirannya akan berselancar memikirkan Ammar dan Khansa sedang apa yang mereka lakukan di dalam kamar.
" astaghfirullah hal adzim, maafkan hamba ya Allah ini tak pantas hamba pikirkan". gumam Ameer kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
Di pandangnya langit-langit kamar pikirannya benar-benar belum hilang dari benaknya tentang Khansa. baru saja cinta itu bersemi tapi sudah di patahkan oleh kenyataan. hati Ameer potek.
__
Khansa mengaji setelah shalat Maghrib karna memang itu adalah kebiasaan nya. Ammar berhenti sejenak mendengarkan alunan suara merdu Khansa yang sedang mengaji begitu sangat indah. Ammar tersenyum lalu ingin mendengar lagi kalau dia masuk pasti Khansa akan mengakhiri nya.
' ya Allah itukah bidadari yang Engkau kirim untuk ku, sungguh sempurna.' batin Ammar.
" sodakallahuladzim..." Khansa menyelesaikan bacaannya takut Ammar datang lebih dulu.
ceklek,,, Ammar kemudian masuk.
" assalamu'alaikum ". ucap Ammar sembari menyunggingkan senyum nya
" wa'alaikumsalam mas." Khansa menjulurkan tangan nya untuk Salim, Ammar gelagapan ini hal baru untuk nya.
derrr...
ada getaran hati yang tak nampak Ammar langsung merasakan hatinya bergetar saat Khansa menyentuh tangannya lalu mencium punggung tangan nya.
" ayo mas makan". ajak Khansa ia melipat mukenanya sembari mengajak Ammar, Ammar hanya terus memandangi Khansa saja.
" mas ayo turun."
__ADS_1
" eh iya..." Ammar gelagapan, sosoknya kini sangat berbeda sekali. Seorang Ammar yang dingin kini menjadi lemah di depan Khansa.
Khansa berjalan lebih dulu di ikuti Ammar dari belakang, Ammar lalu duduk di samping Khalid. di sana semuanya sudah berkumpul karena setelah shalat Maghrib mereka makan malam bersama. Khansa ambilkan nasi juga lauknya untuk Ammar, Ammar hanya tersenyum adegan itu tak lepas dari mata Barra.
" makan yang banyak nak Ammar". ucap Alira menjulurkan tahu goreng kesukaan Ammar.
" iya umi terima kasih". ucap Ammar.
makan malam berlangsung dengan khidmat hingga mereka semua merasa kenyang, tak ada suara hanya sendok dan piring saja yang beradu itulah peraturan Barra.
Setelah nya tepatnya sepulang shalat isya di masjid mereka duduk di depan televisi hanya untuk berbincang, eratnya keluarga barra sama dengan keluarga Azzam jadi Ammar tak kaget dengan situasi begini hanya saja kadang Ammar tak lama bergabung jika di rumah ia akan naik ke atas untuk urusan pekerjaan nya.
" Nak setelah ini kalian akan tinggal di mana, Abi senang jika kalian tinggal di sini saja". barra seakan belum rela melepas anak gadisnya tapi ia sadar kini Ammar lah yang lebih berhak.
" Ke rumah Ammar Abi, Ammar sudah beli rumah tak jauh dari rumah ayah juga dari sini kalau di ukur rumah Ammar berada di tengah-tengah". ucap Ammar menerangkan.
" boleh ya Abi, Khansa juga ingin mandiri." ucap Khansa ingin ikut kemanapun suaminya pergi.
" Nak kamu sekarang sudah menjadi seorang istri seharusnya kamu memang ikut kemanapun suamimu pergi, sekarang bukan Abi lagi yang kamu utamakan kepatuhan nya tapi suamimu Ammar ". ucap Barra menerangkan, karena Khansa ini ke kebiasaan apa-apa abinya.
" iya Abi Khansa mengerti ".
" buat Abi di manapun kalian tinggal Abi tak masalah, pintu rumah ini juga selalu terbuka untuk kalian."
" Nini ngga akan kembali lagi ke desa kan." tanya Khalid kemudian.
" ngga nini sama aki akan tinggal di sini, sawah udah saya serahkan Parman untuk menggarap dan rumah aki biar di tempati Parman dan istrinya."
" Alhamdulillah Khalid udah ngga khawatir lagi sama aki Nini, Khalid mau berangkat sebentar lagi." ucap Khalid.
" belajar yang bener biar jadi ustadz beneran ". ucap Nini.
" siap Nini sayang ". Khalid mencium niniknya semua tertawa lepas, ada kehangatan di hati Ammar ia pun jadi teringat dengan keluarga nya.
Karena sudah larut semua beranjak ke kamarnya masing-masing. Ammar jalan di belakang Khansa, dada Ammar rasanya masih berdegup kencang ia bingung ini adalah malam pertama untuk nya dan Khansa.
" Khansa maaf..." Ammar menghentikan ucapannya.
" kenapa mas..." tanya Khansa yang sedang merapikan ranjangnya. Ammar terdiam ia gugup bingung ingin menolak Khansa, untung Khansa menyadari semuanya.
__ADS_1
" Khansa tau mas kita ini baru saja kenal bahkan langsung menikah, dan aku tau jika suami ku ini pemalu. Tak harus malam ini mas, biarkan waktu berlalu dengan sendirinya mengiringi cinta kita berdua mas. Mas mau kita pacaran dulu." ucap Khansa kemudian duduk di samping Ammar.
" maaf kan aku ya".
" tidak apa-apa mas, yakinkan hati mas dulu jika mas mencintai Khansa jika itu sudah melekat dalam hati mas boleh buka puasa." khansa tersenyum di ikuti Ammar.
" terima kasih". ucap Ammar senang, Khansa tau sejak tadi kegelisahan Ammar.
" yuk mas tidur, apa ngga gerah tidur pakai sarung." tanya Khansa melihat Ammar tak mengganti Koko dan sarung nya.
" itu sudah Khansa siapkan kaos nya di sana" ucap Khansa. Ammar lalu beranjak ke kamar mandi untuk mengganti Koko dengan kaosnya..
" Khansa apa kamu tak ingin bulan madu seperti yang lain." Khansa terkejut dengan kata bulan madu yang Ammar lontarkan itu jauh di pikiran Khansa.
" mas serius". Ammar tersenyum ia sadar ia harus memberikan kebahagiaan untuk istrinya.
" boleh kan bulan madu hanya jalan-jalan saja menikmati keindahan alam dengan pasangan " Ammar bicara sangat hati-hati takut jika Khansa kecewa.
" iya mas boleh kita pacaran, Khansa mau." ucap Khansa semangat.
" kapan kamu libur ". tanya Ammar karena Khansa memang masih kuliah.
" bulan depan Khansa sudha libur mas"
" oke kamu ingin kemana hemmm..." Khansa lalu memiringkan tubuhnya ke arah Ammar.
" kemanapun mas mau Khansa ikut."
" jangan, aku mau kamu yang memilih nya, aku sudah terbiasa ke luar negeri." karna kerabat ayahnya ada di Amerika Ammar sering perjalanan bisnis juga ke luar negeri.
" Swiss ya mas."
" oke kebetulan bulan depan musim Salju." Khansa sangat senang dulu ia tak di izinkan abinya untuk kemana pun kini hal itu terwujud oleh suaminya Ammar.
" Khansa izin buka jilbab ya mas." Ammar mengangguk, akan panas memang jika tidur dengan jilbabnya. Ammar tak bisa menahan ia ingin melihat istrinya tanpa hijab, Ammar akhirnya memiringkan tubuhnya menghadap Khansa.
Khansa tersenyum malu, Ammar menggeser anak rambut yang menutupi wajah khansa.
" Khansa kamu cantik". Khansa pun tersipu malu ia memejamkan matanya kembali. Ammar tetap masih belum siap untuk merambah ke situ.
__ADS_1
" tidurlah sudah malam besok kita akan persiapan ke hotel malamnya resepsi untuk kerabat ayah dan bunda." Khansa lalu membuka matanya ia ingat Ammar memang belum siap. lalu keduanya tidur terlelap dengan wajah yang masih saling menghadap.
bersambung