
Ameer mengurangi jam kerjanya ia lebih memilih sering di rumah karna khansa dengan perut besar nya.
Gaza sudah mandiri semenjak di nobatkan akan menjadi kakak Gaza. Setiap pagi ia bangun pagi lalu mandi dan turun sudah dalam keadaan rapih.
" anak ayah sudah rapih".
" iya dong ayah, Gaza harus bisa mengurus diri nanti kalau jadi kakak bisa bantu ngurusin adek." ucap Gaza tersenyum ia menegak susu yang sudah di buat oleh Khansa.
" belajar yang pintar ya sayang, kakak Gaza harus jadi anak saliha".
" iya kan setiap hari mengaji sama Aki ". Ameer memang meminta mertuanya untuk bisa mengajari Gaza namun Gaza memilih belajar di pesantren bersama anak yang lain.
" istirahat sayang biar bibik saja yang menyiapkan sarapan, lihat perut mu yang semakin besar itu". Ameer tak tega melihat Khansa dari tadi sibuk.
" Khansa ngga apa-apa kak, hanya perutnya yang besar fisik Khansa kuat. Kata dokter khansa memang harus rajin jalan agar bukaan nya nanti ngga lama. Khansa pengen lahiran normal kak".
" iya sayang kakak ngertia tapi ngga tega lihat kamu". Khansa terkekeh nampaknya Ameer yang kini manja.
" Sarapan jangan lupa bekal nya di bawa, berangkat sama ayah ya nak."
" iya bunda, Gaza sudah ngga mau di tunggu lagi. Gaza mau jadi kakak biar berangkat bareng ayah kerja bunda."
" anak pinter ". Ameer mengusap kepala Gaza.
" kan anak ayah, biar pinter kayak ayah jadi dokter bisa sembuhin orang banyak ".
" Gaza mau jadi dokter."
" iya dong ayah, dokter Gaza." Gaza terkekeh, semua tertawa.
Mereka sarapan seperti biasa Khansa lalu mengantar suaminya dan Gaza hingga ke pintu.
" berangkat dulu ya sayang jangan capek-capek".
" iya kak". Khansa Salim dan Ameer mengecup kening Khansa tak lupa dengan perut yang ada bayinya.
Gaza melambaikan tangan ketika mobil sudah di lajukan oleh Ameer.
Waktu perkiraan melahirkan tinggal dua Minggu lagi, sebenarnya Ameer was-was ia ingin sekali saat Khansa melahirkan ada di samping istrinya.
Teringat saat akan melahirkan Gaza, Ameer lah yang menunggu meski hanya di luar saja.
__
__ADS_1
Khansa seperti biasa agar tidak mengantuk di pagi hari ia memilih menyirami tanaman bunga yang ada di depan rumah. Hanya megang selang saja tidak begitu sulit dan berat.
Tak lama perutnya terasa nyeri, mungkin Khansa pikir hanya nyeri saat bayi berputar saja. Namun tiba-tiba nyeri itu semakin sering, Khansa lalu menghentikan kegiatan nya ia memilih duduk di kursi yang ada di dekat taman kecilnya.
" ya Allah kenapa perut ku, perkiraan melahirkan masih dua Minggu lagi." Ia mencoba diam dulu takutnya itu adalah kontrak palsu, namun Khansa merasakan semakin sering nyerinya.
" Bik bibik".
" iya Bu ". Bibik berlari ke depan.
" ada apa Bu, ya Allah apa ibu mau melahirkan".
" saya ngga tau Bik tapi perut saya sakit".
" Waduh terus bagaimana Bu, telepon bapak dokter ya Bu".
" suami saya pasti sedang visit bik ia sangat sibuk ".
" terus bagaimana Bu". Bibik juga jadi bingung.
" ambilkan handphone saya bik telepon Abi." bibik pun berlari mengambil handphone yang tadi ada di meja makan.
" bibik tolong ambil tas yang ada di samping meja rias ya kita bawa itu dan ambilkan kaos kaki Saya".
Setelah lama abinya mengangkat telepon akhirnya terangkat juga, ustadz Barra sedang ada di pesantren.
" astaghfirullah nak kamu kenapa, Abi ada di pesantren ".
" bisa minta tolong om Fauzan antar Khansa ke rumah sakit bi, kak Ameer sedang kerja."
" ya sayang Abi segera ke sana". Khansa sudah meringis ia terasa tak tahan rasa nyeri dalam perutnya semakin menjadi.
Barra datang dengan Fauzan, barra kemudian mengangkat tubuh khansa karena Khansa sudha tak kuat untuk berjalan lagi.
" harus kuat yaa nak sampai rumah sakit." Khansa tak bisa menjawab abinya sakitnya makin menjadi.
Ameer selesai melakukan visit, perasaan nya tak enak kemudian ia menghubungi istrinya Khansa. Handphone Khansa tertinggal di rumah, tak ada yang mengangkat kemudian ia menelepon telepon rumah. bibik yang mengangkat.
" assalamu'alaikum".
" wa'alaikumsalam bik, Khansa kemana kenapa tak di angkat handphone nya". bibik menoleh ia melihat handphone khansa yang tergeletak di meja.
" pak dokter ibu tadi sakit perut, kemudian di bawa sama ustadz Barra ke rumah sakit".
__ADS_1
" astaghfirullah kenapa tak hubungi saya".
" kata ibu tak usah bapak lagi kerja sedang visit kan".
" memang iya tapi setidaknya kalian hubungi bagian rumah sakit supaya langsung menyampaikan ke saya. Di bawa ke rumah sakit mana."
" rumah sakit bapak mungkin sebentar lagi datang."
" ya sudah bik terima kasih.". Ameer langsung menutup handphone nya ia pun berlari ke depan menunggu sang istri.
Terlihat mobil Fauzan sudah sampai, Ameer langsung berteriak kepada suster untuk segera membawa ranjang rumah sakit.
Terlihat Khansa yang masih meringis, Ameer langsu membopong tubuh Khansa di bawa ke ruang bersalin.
Suster tepok jidat ranjang yang mereka bawa tak di gunakan oleh dokter ameer. saking paniknya Ameer hanya menggendong saja Khansa saja agar cepat sampai ke ruang bersalin.
" dokter cepat tangani istri saya dok." Ameer lebih panik dari yang lain.
" iya dokter sabar." ucap dokter Mala spesialis kandungan.
" Sakit ya sayang". Khansa tak bisa menjawab lagi ia masih meringis saja.
" dokter cepat." dokter Mala tepok jidat tak di sangka nya sosok dokter Ameer yang berwibawa punya kepanikan yang lebih tinggi saat menghadapi sosok Istri nya yang kesakitan.
" Dokter istri saya dokter sudah kesakitan."
" namanya mau mengeluarkan bayi itu ya sakit, dan taruhannya nyawa dokter Ameer. Jika anda panik lebih baik anda keluar saja, saya jadi gak tambah gugup." ucap dokter Mala, suster yang ada di sana tertawa geli.
" sebentar lagi sayang tahan ya, sakitnya bisa di gantiin sama kakak ngga." Khansa hanya menggeleng.
" haduh ya Allah redakan sakit istri saya, berikan kelancaran kelahiran nya."
" ooeeekkkk...." tangisan sang bayi terdengar, Ameer terkejut mendengar nya.
" sudah lahir dok."
" sudah nah gitu lebih baik berdoa kan dari pada membuat panik." Khansa yang mendengar nya tersenyum, mengingat suaminya tadi yang pucat pasi saat menunggu dirinya kesakitan.
" sayang anak kita sudah keluar". Khansa mengangguk.
" Alhamdulillah ya Allah." Amer akhirnya luluh air matanya, perjuangan istrinya sungguh menyayat hatinya.
Meski dirinya seorang dokter namun Amer jika di hadapkan dengan orang tersayang ia tak sanggup. Teringat saat menangani ammar yang kecelakaan dirinya pun tak kuat menangani sang kakak.
__ADS_1
Kini Ameer juga tak ingin istrinya kesakitan saat melahirkan bayinya. Kepanikan sejak tadi akhirnya menjadi kebahagiaan.
__