
" Khansa anak ustadz Barra ". ucap Aisha.
Jeddaaarrrrr....
Seketika Ameer yang sedang minum susu terbatuk sedikit memuntahkan isinya. Jantungnya berdebar kencang kala nama Khansa di sebut, wanita yang menjadi dambaan nya hingga kini. Wanita yang ingin dia khitbah setelah Ammar mendapatkan jodoh nya.
' ya Allah apa aku tak salah dengar '. batin Ameer, rasanya ia seperti mimpi hatinya hancur berkeping-keping.
" pelan-pelan minumnya nak ". ucap Aisha memijat tengkuk ameer
" maaf bunda Ameer tak sengaja ".ucapnya.
" Ngga ada yang lain bunda." celetuk Ammar jika bisa ia menolak, meski ia tau Khansa cantik dan saliha namun bukan itu maksud Ammar. ia tidak cinta apalagi pertemuan pertama mereka yang menurut Ammar menyebalkan.
" Kamu udah ngga bisa nolak, kamu kan yang janji. Kita bersiap saja untuk cepat ke sana ".
" sepagi ini bunda ". ucap Ammar tak yakin.
" iya sebelum ustadz dan ustadzah pergi kalian tau kan mereka punya usaha di luar dan jika pagi pasti masih ada di rumah". ucap Aisha tersenyum senang.
" Ameer ke atas dulu bunda mau mandi gerah". lalu Ameer naik ke atas dengan hati yang berasa hancur, rasanya begitu sesak kenapa harus wanita yang ia cintai.
Ameer menutup pintu kamar lalu ia menguncinya, ia rapuh di atas pijakan kakinya. Sebelum memulai sudah di patahkan dengan keadaan, kenyataan yang tak pernah ia bayangkan jika Ammar dan Ameer akan mencintai wanita yang sama. Ammar langsung terduduk di balik pintu ia menangis sejadinya dadanya begitu sangat sesak.
" ya Allah bahkan aku seperti tak yakin dengan kenyataan ini, orang yang aku cintai akan menjadi kakak iparku. apa aku bisa bahkan saat ini pun aku rapuh, Khansa aku mencintaimu". ucap Ameer lioh di balik pintu. hampir 30 menit Ameer menangis melepaskan semua rasa sesak dalam dadanya lalu ia bangkit bagaimana pun juga inilah kenyataan nya.
Ammar berendam dalam bathtub merilekskan tubuh nya bahkan pikirannya yang penuh dengan Khansa. ia sadar memang bukanlah jodohnya, mungkin jika laki-laki itu Ammar kakaknya rasanya tak akan seperti ini. lebih terasa sakitnya apalagi ia akan terus bertemu sebagai kakak iparnya.
" ayo ganti baju pakai pakaian yang lebih elegan, yang akan kita khitbah itu anak ustadz Barra wanita yang spesial". Ammar seperti malas itu yang di tangkap Azzam dari anak sulungnya itu.
" sayang kamu terlalu memaksa lihat lah Ammar seperti nya enggan dengan keputusan bunda." ucap azzam tetap mencoba agar Aisha tidak memaksakan.
" Lihat nanti mas ketika mereka sudah menikah, aku yakin Khansa bisa menaklukkan Ammar si anak dingin itu. Ammar pasti akan jatuh cinta dengan Khansa". ucap Aisha ia berganti pakaian dengan gamis yang lebih terlihat anggun.
" yang mau menikah siapa yang paling bahagia siapa."
" ya akulah mas ibunya, hadapan apa pada anak-anak kita selain mereka menikah ketika sudah cukup umur." kata Aisha sembari tersenyum.
__ADS_1
" jangan terlalu optimis begitu sayang, kita belum tau bagaimana jawaban Khansa ataupun ustadz Barra. mas takut kamu kecewa". kata azzam tak ingin jika istri nya terlalu berharap lebih.
" iya, bunda akan menerima apapun keputusan dari pihak wanita. Bunda memang berharap lebih tentang ini mas, semoga saja niat baik ini di terima oleh ustadz Barra ". ucap Aisha merapikan pakaian suaminya ia kancingkan satu persatu kemeja yang di pakai Azzam.
Ammar malas sekali untuk benar-benar memenuhi permintaan bundanya, tapi ia sudah berjanji siapapun dia harus mau.
" semoga saja gadis itu tidak mau menerima lamaran ku". ucap Ammar berganti pakaian.
" aku masih ingin fokus dengan pekerjaan ku dulu, belum juga umur 30 bjdna udah rewel." gerutu Ammar kesal.
" Ammar cepat nak ". panggil bunda.
" Ameer apa tak ikut dia."
" mungkin dia lelah sayang habis jaga malam." ucap Azzam.
" coba azkiya panggil kan ayah".
" ya cepat ya nak". azkiya mengangguk dan cepat naik ke atas.
" kak Ammar ayo cepat ayah sama bunda sudah menunggu". tak ada jawaban. tiga kali azkiya panggil Ammar masih sama.
ceklek.
Ammar membuka pintu kamar mandi.
" astaghfirullah hal adzim dek ." ucap Ammar kaget ada perempuan dalam kamarnya sesaat ia mengingat Khansa yang akan di kamar nya setelah menikah setiap hari.
" kenapa sih kak kayak liat hantu aja."
" iya kuntil anak".
" isshhh... ayo kak bunda sama ayah sudah menunggu."
" males bener sih, di paksa nikah".
" kakak ku sayang, bunda itu mencarikan jodoh tidak kaleng-kaleng loh. apalagi mbak Khansa itu cantik baik Saliha". ucap azkiya.
__ADS_1
" sok tau".
" tau lah, azkiya kan sering di ajak ayah sama bunda ke pesantren. cepetan kak langsung turun aku mau panggil kak Ameer.
Azkiya berlalu ke sebelah kanan, kamar Ammar ada di sebelah kiri tangga sedangkan Ameer sebalh kanan. antara kamar dan Ameer terpisah oleh ruangan yang ada sofa untuk santai di atas.
" kak ikut antar kak Ammar tidak ". tanya azkiya langsung mengetuk pintu.
" tidak dek, kakak ngantuk capek mau tidur aja".
" oh ya sudah kami tinggal ya."
" oke". teriak Ameer dadi dalam, tak ada satu orang pun yang tau jika hati nya...HANCUR.
" mulai detik ini aku akan melepaskan nama Khansa dari hatiku, hati yang sudah sangat dalam mengagumi Khansa. kebahagiaan kak Ammar dan Khansa lebih penting, bukankah cinta tak harus memiliki. bukankah cinta harus berkorban melihat orang yang kita cintai bahagia seharusnya justru kita juga bahagia". gumam ameer kepada dirinya sendiri.
Ameer menenggelamkan tubuhnya hingga menutupi wajahnya ke dalam selimut. ia mau tidur setidaknya sejenak menghilangkan pikiran nya dari Khansa dan pernikahan kakaknya.
" Ameer mau ikut tidak nak." tanya bunda
" tidak bunda katanya ngantuk banget".
" oh iya kita tinggal saja, memang dia jaga semalaman pasti ngantuk. biarkan Ameer istirahat". ucap Aisha sembari tersenyum ia bahagia.
Semuanya bersiap akhirnya Ammar pun turun dari tangga, dengan wajah yang di tekuk tak ada gurat kebahagiaan di sana. Memakai pakaian santai dengan baju Koko berwarna Milo dengan lengan tiga perempat.
" anak bunda ganteng kalau begini." rayu Aisha.
Ammar yang mengendarai mobilnya dengan ayah duduk di belakang bersama bunda, azkiya duduk di depan di samping Ammar.
" baru kali ini ayah tau ada yang melamar pagi-pagi". ucap azzam.
" ngga apa-apa kita pencetus jadinya ya mas, ".
" jujur ayah malu sama ustadz Barra sebenarnya ." kata azzam.
" untuk saat ini hilangkan rasa malu kita ayah demi kebahagiaan anak kita, memang Ammar harus di giniiin." Ammar melajukan mobil nya dengan santai, jika bisa ia akan menghentikan waktu nya agar tidak berjalan.
__ADS_1
__
bersambung