
Selesai dengan makan siangnya mereka berdua, Ameer akan masuk ruang operasi lagi setelah ini. Khansa pun akan masuk bekerja lagi ke bagian farmasi.
Khansa merapikan pakaian nya yang jelas berantakan karena ulah suami nya, bercanda saling mencurahkan rasa sayang. Kedekatan mereka semakin baik, dan Ameer pun memakai jas dokternya untuk masuk ke ruang operasi.
" pulangnya tunggu kakak ya sayang, kasusnya ngga separah pagi tadi insyaallah ini akan segera selesai operasi nya." Ameer membenarkan jilbab Khansa yang tampak miring sedikit.
" iya kak Khansa tunggu di luar saja ya nanti ".
" ngga di sini saja ".
" ngga ah kak sendirian sepi, mending di depan banyak teman bisa ngobrol ". Ucap Khansa menepuk-nepuk jas suaminya.
" ya sudah tak apa, yuk kakak antar dulu ke depan".
" Khansa jalan sendiri saja kak tak apa, nanti kakak keburu lagi pasiennya ".
" tenang lima menit saja tak apa, mereka tak akan mulai jika kakak belum datang". Khansa tersenyum begitu Ameer tak malu jalan dengannya.
Awalnya Khansa mengira pernikahan mereka akan Ameer tutupi terlepas Ameer menikahi seorang janda dan janda itu dari kakaknya sendiri dengan kata lain turun ranjang.
Keduanya berjalan menuju ruang farmasi, Ameer mengantar sang istri hingga pintu. Kemudian Ameer pamit menuju ruang operasi, pasien juga staf dokter dan perawat sudah menunggu di dalam.
Dengan mengucap bismillah dan berdoa kepada Allah terlebih dahulu mereka mulai memainkan alat operasi nya.
__
" gimana rasanya Khansa". Tanya Mahya.
" apanya Mahya..." tanya Khansa mengerutkan keningnya, pertanyaan Mahya tidak jelas.
" ada yang mendampingi, menyayangi, mengkhawatirkan hidup kita lagi menjadi teman hidup kita."
" Alhamdulillah merasa lega Mahya, Allah memberikan dua laki-laki dalam hidupku kesemuanya sangat menyayangi ku".
" takdir Allah tetap yang terbaik kan". Khansa tersenyum juga Mahya bersamaan.
" lalu kamu gimana dengan mas Fahri mau itu " canda Khansa sembari meracik obat-obatan nya.
" bagaimana apanya ya seperti pengantin baru begitulah kiranya Khansa." Mahya kikuk ia tersipu malu.
" begitu bagaimana sih aku ngga ngerti loh".
" ya begitu tidur bareng apa-apa jadi di lakukan bareng-bareng ".
" Mahya kamu sedang haid ya". Mahya mengangguk, Khansa tertawa terbahak.
" ih apaan sih kamu ngeledek, aku haid tiga hari sebelum hari pernikahan ku".
__ADS_1
" ya sudah nikmati pacaran nya dulu, Fahri junior nya nanti-nanti lagi."
" mau gimana lagi memang takdirnya begitu ".
" tapi aku seneng Lo kamu nikahnya sama Fahri, dia sejak dulu baik juga penyanyang. Saat ada yang mengganggu ku dia selalu terdepan dia sangat menjaga kami para wanita kerabat dekatnya ".
" iya Alhamdulillah aku bersyukur, mas Fahri lebih dewasa daripada aku yang umurnya lebih tua dari nya".
" umur itu tak menentukan kedewasaan Mahya, bagaimana cara berfikir seseorang ".
" mas Fahri mau sekolah lagi lanjut S2 ".
" masyaallah sejak dulu memang dia giat belajar, ke Kairo lagi".
" ngga dong masa aku mau ditinggal pengantin baru gini, di sini saja universitas Darmawangsa ". ucapnya.
" di mana pun mengenyam pendidikan yang penting kesungguhan nya".
" aku suka semangatnya sa, ".
" kalian semangat ya aku doakan sakinah mawadah warahmah ".
" aamiin kamu juga Khansa aku bahagia jika kamu juga bahagia ". Keduanya mengulas senyum.
_
Tak lama bayi mungil berjenis kelamin laki-laki itu lahir, dokter Salsabila menghela nafas lega atas ketegangan beberapa menit tadi ketika tali pusar melilit di leher Sanga bayi. Para suster membersihkan terlebih dahulu bayi tampan itu sebelum di adzani oleh ayahnya.
" suster Nilam dengar berita yang beredar tidak,". Tanya Salsabila saat keluar dari ruangan bersalin.
" kabar apa dok." tanya Nilam yang belum tau hal itu, sejak tadi ia sibuk dengan pasiennya yang cukup padat.
" dokter Ameer sudah menikah". Ucap Salsabila menghentikan langkah Nilam terkejut.
" menikah saya belum tau dok, sama siapa dan darimana dokter dengar tentang hal ini".
" tadi saat saya di kantin mereka membicarakan dokter Ameer yang katanya menikah, saya sih belum jelas betul menikah dengan siapa ". Ucap dokter Salsabila tampak dirinya betul-betul kecewa.
" kenapa saya ketinggalan berita begini ya, dan kapan dokter Ameer menikah". Salsabila hanya mengedikkan bahunya.
" ya sudah saya mau ke ruangan saya dulu, tolong pasien yang memeriksakan kandungannya kamu mulai saja sekarang ya. Biar cepat selesai tak ingin pulang sore juga." ucap Salsabila karena memang pikiran dia yang sedang tidak baik-baik saja.
Salsabila memijat pelipisnya rasanya sedikit pusing mendengar kabar yang membuat dirinya patah hati. Bertahun-tahun juga menanti tapi tak kunjung dokter Ameer luluh pada nya.
" wanita seperti apa sebenarnya yang kak Ameer sukai, apa kurangnya aku ini " gumam Salsabila di dalam ruangan nya.
satu persatu pasien masuk memeriksa kan kandungannya mereka. Cukup ada dua puluh pasien siang ini sehingga tak begitu lama selepas ashar Salsabila bisa pulang.
__ADS_1
__
Bergelut dengan alat-alat nya, ketegangan selalu yang di hadapi untuk dokter spesialis seperti Ameer. Berharap selalu keberhasilan menyapanya dalam menjalani tugasnya sebagai dokter.
Namun semua kembali kepada sang kuasa pemilik raga, pasrah hanya itu titik terakhir dalam usahanya.
" langsung pulang kak". Tanya Athar yang sedang berjalan sembari melepas kaos tangan yang ia pakai.
" iya kasihan Gaza jika kami tak segera pulang." ucapnya.
" oh ya sudah aku ke ruangan ku dulu ya." Ameer mengangguk.
Ameer bersiap untuk pulang di masukkan nya beberapa data pasien untuk di bawanya pulang, mempelajari terlebih dahulu sebelum esok ia masuk ke ruangan operasi lagi.
Ameer berjalan keluar ruangan segera pulang, sang istri pasti sudah menunggu di arah pintu keluar.
" kak Ameer mau pulang." tanya Salsabila menghampiri berjalan cepat agar sejajar dengan Ameer langkahnya.
" iya memang sudah waktunya". Ameer tersenyum namun hanya sebatas sikap ramah.
Sejenak sembari berjalan Salsabila mengeluarkan obrolannya, ia bertanya yang mungkin tidak perlu juga di pertanyakan intinya hanyalah basa basi.
" sayang sudah dari tadi." ucap Ameer menyapa sang istri yang sedang duduk termenung melihat Salsabila dan Ameer berjalan beriringan.
" iya kak baru tiga puluh menit".
" maaf ya lama menunggu". Ameer meraih jemari Khansa agar bertaut dengan nya mengajaknya berdiri untuk pulang.
Ada hati yang bergerimis melihat kenyataan yang ada, wanita yang di nikahi Ameer adalah kakak iparnya sendiri. Salsabila merasa dirinya bagai tak berharga di mata Ameer.
" dokter Salsabila kenalin ini istri ku". ucap Ameer menunjuk Khansa, Salsabila masih termenung.
" oh iya, aku sudah tau dia di bagian farmasi kan." ucap Salsabila yang pura-pura tidak tau jika Khansa adalah istri ammar dulu.
" iya dia memang bekerja di sini juga, maaf aku permisi ya sudah sore."
" iya silahkan ". ucap Salsabila dengan senyuman yang memaksa. Melihat langkah pergi mereka tangan yang bertaut, seakan menyatakan kepada semua bahwa mereka adalah pasangan.
Salsabila masuk ke dalam mobilnya, ia menangis di sana melihat sendiri fakta yang ada bahwa pria yang di kagumi nya benar-benar sudah beristri.
" apa kau tak bisa sedikit saja melihat ke arah ku kak, bahwa aku jelas lebih baik darinya. Aku masih perawan sedangkan dia hanyalah seorang janda." gumam Salsabila tangisnya pecah di dalam mobil, sejenak sebelum melangkah pergi dari rumah sakit.
___
Bersambung
Hai pembaca karya baru cerita tentang Khalid sudah up ya dengan judul novel Bait-bait doa ustad Khalid.
__ADS_1
Selamat membaca.