
Geri melirik Khansa gadis itu tangannya gemetaran, Geri pun merasa kasian namun bisa apa dokter Fadil rupanya belum keluar dari dalam ruang UGD. meski Geri sudah mengatakan jika Ammar tidak apa-apa tapi Khansa masih tetap takut. takut jika yang menolongnya mengalami cidera parah.
" mbak tidak apa-apa". tanya Khalid, Khansa hanya bisa menggeleng tangannya gemetaran.
" mbak tenang kita berdoa semoga yang menolong mba baik-baik saja". ucap Khalid.
Ustadz Barra bersama Fauzan berjalan cepat, kebetulan barra selesai ceramah di desa sebelah langsung ke sini sengaja tidak memberitahu alira takut jika istrinya itu panik. Khansa langsung memeluk Barra ketika datang, abinya membalas pelukan anaknya lalu mencium kepala nya. Barra tau jika Khansa takut, takut terjadi apa-apa kepada si penolong.
" kamu ngga apa-apa sayang". Khansa menggeleng ia menahan tangis.
" tenang ya semoga baik-baik saja."
" tapi dokter belum keluar bi dari tadi bi". tes, air mata Khansa menetes.
" masih di tangani nak mungkin sebentar lagi sudah jangan panik, Barra mengusap air mata Khansa."
" bagaimana kejadiannya ". tanya Fauzan kepada Geri.
" saya kurang tau, tiba-tiba melihat bos saya berlari untuk menolong mbaknya. bos keserempet dia hanya luka sedikit namun pingsan". ucap Geri.
" ya Allah selamat kan orang baik ". ucap Fauzan.
Tak lama dokter azzam dan Aisha berjalan cepat untuk sampai melihat Ammar. ustadz Barra mengerutkan keningnya kenapa dokter azzam kemari, setau barra dokter Azzam tak praktek di rumah sakit ini.
" ustadz Barra". begitupun dengan Azzam ia kaget ada ustadz Barra di sana.
" Dokter Azzam pindah tugas di sini." tanya Barra.
" tidak, anakku kecelakaan dan di bawa ke sini." ucap Azzam.
" anak anda "
" iya Ammar."
Dokter membuka ruangan UGD, di lihatnya dokter Fadil yang keluar. Fadil melihat sahabatnya Barra ia tak tau apa hubungannya pasien dengan Barra, mungkin muridnya batin Fadil.
" Bagaimana dengan anak saya dok ". tanya Aisha langsung.
" tidak apa-apa, tadi pingsan hanya karena kaget saja. luka bagian tangan dan kepala terbentur batu, saya sudah langsung ronsen tapi aman hanya luka bagian luar." ucap Fadil.
" Alhamdulillah". ucap Khansa senang.
" nak Khansa ikut menolong Ammar". tanya Aisha karena memang Aisha dan azzam belum tau kejadian yang sebenarnya.
Fauzan lalu menceritakan yang sebenarnya.
" mungkin memang takdir mempertemukan kalian." ucap Aisha tersenyum, barra dan Khansa tak mengerti lalu Azzam mengajak masuk untuk menjenguk ngga enak hal seperti ini di bicarakan dengan keadaan yang masih di rumah sakit.
Ammar memang belum sadar ia masih terbaring, tak lama suara Ammar memanggil bunda nya.
" bunda..." ucap Ammar meringis.
__ADS_1
" iya nak bunda di sini". ucap Aisha mendekat mengusap kepala anaknya.
" dia selamat tidak bunda, tadi Ammar menolong nya tapi Ammar langsung pingsan kasihan dia bunda." ucap Ammar.
" selamat nak dia tidak apa-apa orangnya ada di sini ikut menjenguk kamu." ucap Aisha tersenyum.
" terima kasih pak." ucap Khansa yang di dampingi Abi nya."
' gadis itu'. batin Ammar mengingat saat bertemu di pesantren.
" terima kasih sudah menolong anak saya nak Ammar " ucap Barra lirih.
" kebetulan saja ustadz saya berada di sana." kata Ammar tak melirik Khansa sama sekali.
Khansa hanya diam di samping Khalid, ia sedikit takut juga tak berani menyapa Ammar. teringat kejadian saat di pesantren juga Ammar yang cukup kaku. Jika di lihat lebih dekat Ammar dan Ameer berbeda, wajah Ammar sedikit garang kalau Ameer banyak tersenyum.
Dokter Fadil masuk untuk memeriksa denyut jantung nya, karena tadi dada Ammar terbentur aspal.
" maaf sebentar ya." ucap Fadil.
" kapan saya bisa pulang dok". tanya Ammar.
" Anda masih butuh istirahat."
" saya mau pulang saja dok untuk istirahat di rumah, ayah dan adik saya dokter nanti bisa merawat saya". ucap Ammar. Fadil menoleh ke arah belakang, lalu Azzam mengangguk.
" iya saya dokter Azzam".
" tapi saya mau pulang sekarang dok, pekerjaan Saya banyak".
" Ammar biar sembuh dulu nak, jika kamu pulang dan malah ngga sembuh kamu juga yang rugi Lo". ucap Aisha ibunya.
Ammar menurut setiap apa yang ibunya katakan Ammar selalu tak bisa membantah.
Khansa, Bilal, Fauzan dan Khalid pamit. alih-alih Bilal ingin membayar rumah sakit tapi azzam dan Aisha menolak semua sudah di bereskan oleh Geri.
" saya jadi tak enak begini, Ammar sudah bertaruh nyawa untuk anak saya." ucap Bilal.
" tidak apa-apa ustadz mungkin memang takdirnya anak saya menolong anak anda". ucap Azzam.
Kemudian mereka pamit, Khansa pulang bersama abinya Bilal. Khalid menaiki motornya sendiri.
" Maaf ya Abi ini salah Khansa." ucap Khansa.
" tidak nak, mungkin mobil tadi saja yang ngebut bersyukur ada Ammar yang cepat menolong mu". Khansa mengangguk ia bersender di bahu abinya, Barra mengusap terus tangan Khansa yang ada di genggaman nya.
itulah perlakuan Barra terhadap anak perempuan nya, ia perlakukan lembut. Khansa memang dekat sekali dengan anaknya Khansa, kalau Khalid memang terbiasa kesana kemari.
Ammar akhirnya pulang setelah Ameer datang ke rumah sakit, Ameer baru pulang dari rumah sakit ia jaga pagi dan tidak mengajar. Sampai rumah ia di beritahu oleh mamang tukan kebun jika Ammar kecelakaan.
" Ayah memang sengaja tak hubungi Ameer ". tanya Ameer.
__ADS_1
" kamu lagi praktek nak takut mengganggu lagian Ammar tidak apa-apa ini sudah boleh pulang." ucap Azzam.
" Mana yang sakit kak." Ameer meledek mereka memang biasa bercanda satu sama lain.
" isshhh... ini sakit Ameer". ucap Ammar saat Ameer memegang dahi Ammar pakai telunjuk.
" aku kira begini tidak terasa, biasanya kerja sampai larut malam ngga apa-apa". ledek Ameer kembali.
" berbeda kalau ini kan terluka, mobil itu kencang sekali padahal waktu gadis menyeberang mobil itu sangat jauh".
" cantik ngga kak gadisnya". Ammar diam saja jika bicara soal wanita ia langsung tak bisa bicara.
" cantik bunda suka punya menantu seperti itu".
" kenapa tidak di jodohkan saja dengan gadis itu bunda, biar Ameer juga bisa cepat menyusul". ucap Ameer.
" ya nanti kita bicarakan ya Ammar, umurmu sudah cukup benar kata Ameer kamu harus nikah dulu baru adik-adik kamu bisa menikah."
" yang lain saja bunda." ucap Ammar.
" yang lain mana bunda belum menemukan wanita seperti dia, cantik salihah pula". ucap Aisha.
" tapi bunda .."
" sudah kak mau saja, pilihan bunda pasti tokcer itu kak."
" hemmm... gadis itu saliha bunda yakin ia akan cocok sama kamu Ammar".
" bunda Ammar belum ingin menikah sekarang". kata Ammar.
" apa yang kamu tunggu sih Ammar, umurmu sudah cukup nak".
" iya kak kalau kakak tak cepat menikah aku juga akan ikut jadi bujang tua, ngga mau aku kak". ucap Ameer.
" isshhh.... kalian ini aku mau cari sendiri saja."
" oke bunda tunggu kata-kata mu Ammar, kemarin kamu janji tahun depan akan menikah. Sekarang kamu akan cari sendiri, jika belum ada kamu harus nurut bunda mau dengan pilihan bunda."
" kok bunda tak adil". ucap Ammar malas.
" tak adil bagaimana, kamu punya syarat bunda juga ngajuin syarat dong nak."
" iya Lo kak ini juga demi kebaikan kakak". kata Ameer terkekeh.
" kamu duluan saja Ameer".
" kakak dulu sebagai kakak tertua nanti aku menyusul, tak afdol jika tidak kakak duluan". Ammar mendengus kasar ia terjebak dengan syarat nya sendiri tak di sangka bunda juga memberikan syarat.
__
bersambung
__ADS_1