
Mobil sampai di halaman rumah ustadz Barra hari ini memang hari libur semua masih ada dirumah. Barra yang masih duduk di samping rumah aki merasa terkejut melihat mobil yang ia kenal. memang saat itu mobil yang di pakai adalah mobil Azzam.
Ammar merasa gugup, entahlah kenapa ia gugup rasanya enggan untuk turun. jujur ia malu dengan Khansa yang tiba-tiba datang bersama orang tuanya untuk mengkhitbah nya padahal selama ini ia begitu cuek dengan Khansa.
" siapa dia nak." tanya aki yang sedang menikmati pisang goreng.
" seperti nya mobil dokter azzam bah, ada apa ya kemari barra seperti nya tak buat janji dengan siapapun". ucap Barra juga bingung.
" ya sudah kalau begitu temui dulu mungkin mereka mampir." ucap Abah.
Abah dan Barra berjalan menemui mereka yang sudah turun dari mobil. Tampak semua anggota keluarga dokter azzam hanya Ameer yang tidak ikut.
" siapa mas." tanya alira yang tau jika ada mobil berhenti.
" keluarga dokter azzam Ra, "
" mas ada janji dengan mereka". tanya Barra.
" tidak, mas tak pernah buat janji dengan siapapun di hari libur mungkin mereka mampir. oh ya bajunya Bu Aisha sudah di ambil."
" sudah mas ."
" ya sudah yuk kita temui saja, tamu itu juga rezeki". Barra dan alira menemui mereka sedang kan Abah berbalik menemui Khalid yang sedang asyik dengan kucingnya.
" assalamu'alaikum." sapa Aisha.
" wa'alaikumsalam, masuk Bu Aisha, dokter azzam".ucap Alira mempersilahkan masuk.
Mereka bersalaman terlebih dahulu sapa kangen.
" Maaf jika kedatangan kami membuat heran ustadz dan ustadzah". ucap Aisha yang membuka omongan lebih dulu.
" oh tidak apa-apa Bu Aisha, kami juga senang memang dari mana." alira pun akhirnya bertanya ia penasaran.
" dari rumah kami sengaja datang ke sini". ucap azzam kemudian. Ammar menunduk sungguh dia malu sesekali matanya menyusuri keberadaan Khansa.
" Alhamdulillah terima kasih sudah bertandang ke rumah kami dokter".
" kami datang ke sini ada keperluan penting dengan Ustadz." ucap Aisha. alira dan barra saling pandang dengan seribu pertanyaan di benaknya.
__ADS_1
" oh iya boleh Bu ada yang bisa saya bantu."
" pertama kami datang ke sini untuk silaturahmi, kedua kami ingin menjalin kekeluargaan diantara kita, terakhir dengan rasa hormat kami datang untuk mengkhitbah Khansa putri ustadz ". ucap Aisha jelas.
alira dan barra kembali saling pandang, ia cukup terkejut apalagi Khansa belum lulus masih satu tahun lagi ia akan lulus sekolah farmasi nya.
" Maksud anda ingin melamar putri saya Khansa"
" iya ustadz untuk putra saya Ammar ". ucap dokter azzam, Ammar diam ia sungguh malu rasanya ingin tenggelam saja dari sana.
" maaf tapi putri saya masih sekolah dokter ia belum lulus."
" setau saya tak ada larangan mahasiswi untuk menikah ustadz, mungkin ini akan membuat ustadz kaget karena kami tidak membicarakan sebelum nya. Setelah anak saya mau kami memang langsung ke sini, putri ustadz bagaikan mutiara jadi kami tak ingin jika ada yang mengkhitbah nya lebih dulu " ucap Aisha jujur.
" gimana ini mas" lirih alira ia tak sanggup untuk menolak hubungan mereka cukup baik apalagi dokter azzam donatur terbesar pesantren nya.
" Kami senang atas niat baik anda, kami panggil anak kami Khansa dulu "
Lalu alira ke belakang mencari keberadaan Khansa, Khansa sedang bersama Nini membuat makanan kesukaan mereka.
" nak di panggil Abi ke depan". ucap Alira.
" ayo ke depan dulu, cuci tangan mu". khansa lalu mengekori uminya.
Khansa cukup terkejut melihat sosok yang tak asing baginya. khansa lalu Salim kepada Aisha dan azkiya lalu menangkupkan tangannya kepada azzam dan Ammar. Ammar hanya melirik sekilas saja wanita yang akan di jodohkan dengan nya.
" khansa nak kamu sudah dewasa sekolah mu pun sebentar lagi akan lulus. Abi tak bisa menolak niat baik dokter azzam, mereka datang kesini untuk mengkhitbah mu nak". jantung Khansa yang tadinya aman kini berdegup kencang.
" semua umi serahkan pada keputusan mu nak, dokter azzam mengkhitbah mu untuk anaknya Ammar " seketika Khansa mendongak melihat ke arah Ammar tatapan mereka bertemu lalu buru-buru menunduk.
" Kamu tau kan jika menikah itu ibadah dan sunah Rasul ". tanya abinya.
" iya Abi, boleh Khansa tanya dulu kepada pak Ammar bi" abinya mengangguk.
" pak Ammar atas dasar apa anda berniat mengkhitbah saya, memilih saya untuk anda jadikan pendamping ".
" karena bunda, "
" itu saja ada yang lain".
__ADS_1
" tidak saya hanya menurut apa kata bunda, saya yakin bunda pasti memberikan yang terbaik untuk anaknya." harapan Ammar jika itu bukan kemauan nya tapi kemauan bundanya Khansa akan menolak.
" terima kasih Jawabannya itu sudah mewakili semua nya". ucap Khansa.
" Bagaimana Khansa apa cukup itu saja ".
" iya Abi cukup."
" lalu jawaban mu".
" khansa ingin kata khitbah keluar dari ucapan pak Ammar kepada Khansa." Semua mata tertuju kepada Ammar, iapun gelagapan ia mengira jika Khansa akan menolak nya karena jawabannya tak ada itu melamar niat darinya.
" nak ayo katakan ". ucap Aisha. Ammar celingukan ia bingung menatap semua yang ada di sana lalu Khansa yang masih menunduk.
" Kha... khansa saya Ammar mengkhitbah mu". ucap Ammar gugup, dalam benak padahal ia tak ingin mengatakan nya tapi kata-kata itu lolos begitu saja.
" bagaimana nak Khansa." tanya Aisha penasaran ingin tau jawaban Khansa. khansa tersenyum ia sebenarnya malu tapi mendengar ucapan Ammar ia yakin.
" khansa menurut atas keputusan Abi ". ucap Khansa lalu.
Semua dalam keadaan tegang ingin mendengarkan keputusan Barra.
" nak ini hidupmu bukan hak Abi untuk memilihnya". ucap Barra lalu ia tak ingin mengambil hak anaknya untuk memilih.
" apapun keputusan Abi Khansa akan menurut, Khansa yakin keputusan Abi yang terbaik untuk Khansa". Barra justru menitikkan air mata tak di sangkanya anaknya akan sangat patuh atas keputusan nya. sejak dulu memang Khansa sangat dekat dengan Barra, dan barra tau apa yang ada di pikiran Khansa.
" meski keputusan terburuk dalam hidupmu."
" jika itu masih dalam syariat agama Khansa akan selalu menuruti ucapan Abi."
" Bismillah tugas terakhir Abi adalah menikah kan mu nak, jika ada orang baik yang mengkhitbah Abi pun tak akan mampu untuk menolak nya. saya ustadz Barra selaku Abi dari Khansa menerima khitbah dari nak Ammar ". ucap Barra tegas.
" Alhamdulillah ". ucap semuanya kini ada aki, Nini juga Khalid yang mendengar dari dalam.
Khansa mengusap wajahnya dengan kedua tangan nya mengucap kan Alhamdulillah. Ammar yang hanya terbengong dengan semua yang telah terjadi hari ini.
" khansa nak kamu sudah terikat dengan khitbah oleh nak Ammar, jadi tidak boleh menerima khitbah dari siapapun " Khansa mengangguk hanya Ammar yang masih belum percaya jika dia sudah mengkhitbah seorang gadis.
___
__ADS_1
bersambung