
Akhirnya mobil sampai di depan rumah dokter azzam, rumah megah dengan bangunan dua lantai jika di kota itu hanya rumah sederhana. untuk Aisha dan azzam rumah itu sudah cukup untuk mereka tinggali dengan ketiga anaknya.
" assalamu'alaikum". ucap Barra.
" wa'alaikumsalam". salam itu terbalas dari dalam.
" Ustadz, MasyaAlloh silahkan masuk". ucap Aisha senang tak di sangkanya jika ustadz Barra akan datang berkunjung.
Alira memberikan buah tangan untuk Aisha, mereka saling berpelukan tak lupa Khansa mencium punggung tangan Aisha.
" maaf kami baru bisa datang ke sini, bagaimana keadaan nak Ammar."
" tidak apa-apa ustadzah, Alhamdulillah sudah lebih membaik hanya masih memar tak perlu khawatir ada yang merawat nya di sini ."
" Alhamdulillah jika sudah lebih baik".
" sebentar saya panggilkan tunggu di sini". Aisha lalu naik ke atas.
bibik mempersilahkan tamunya agar minum dan makan cemilan yang di sediakan.
" nak ada ustadz Barra yang berkunjung". tentu saja Ammar masih sibuk dengan laptopnya.
" males banget bunda ."
" eh nak mereka punya niat yang baik mau menjengukmu. turun yuk ayahmu juga belum pulang ngga ada yang di ajak bicara." ucap Aisha merayu Ammar. Ammar berdecak ia malas sekali untuk turun ke bawah.
Ammar lalu turun ia melihat ketiga orang tersebut, di liriknya sedikit Khansa yang hanya diam menunduk.
' gadis itu lagi'. gumam Ammar.
Ammar memang berbeda ia tak menyukai gadis apalagi yang mendekati nya, menurut-nya itu akan mengganggu konsentrasi pekerjaan nya saja.
Ammar Salim kepada Barra dan menangkupkan tangannya kepada perempuan selain mahram nya.
" bagaimana keadaan mu nak". tanya alira melihat seluruh tubuh Ammar.
" Alhamdulillah sudah lebih baik ustadzah".
" terima kasih ya kamu sudah menolong anakku Khansa, kalau tak ada kamu mungkin Khansa yang akan celaka."
" kebetulan saja Ammar ada di situ ustadzah". ucap Ammar tak ingin membuat Khansa baper.
" tapi tetap saja kamu sudah menolong Khansa." Ammar diam saja.
" nak ucap kan makasih sama nak Ammar". pinta alira, lalu Khansa mendongak.
__ADS_1
" terima kasih pak sudah menolong Khansa". ucap Khansa, Aisha terkekeh.
" dia belum terlalu tua Khansa, panggil saja mas lebih cocok." ucap Aisha ia memang duduk di dekat Aisha.
" kamu tidak ada yang terluka nak." tanya Aisha memegang tangan Khansa.
" Alhamdulillah tidak apa-apa Tante hanya sedikit terpental saja."
" syukurlah kamu baik-baik saja, panggil bunda ya jangan Tante." Khansa hanya tersenyum saja, ia memang lebih banyak diam jika ada abinya.
" Nak Ammar ini berkerja di mana."
" kalau Ammar perusahaan peninggalan kakeknya sedangkan Ameer anak saya satunya dokter." ucap Aisha mengenalkan dua anak bujangnya.
" Kamu jadi harus tidak bekerja hari ini Ammar, semoga kamu lekas sehat."
" terima kasih ustadz". Ammar sudah gelisah ia tak nyaman saja duduk lama dengan orang lain, apalagi pembahasan yang menurut nya tidak perlu di bahas. tapi Ammar bisa apa ia tak ingin membuat bundanya kecewa dengan mengabaikan tamu.
Ameer berangkat ke rumah setelah ia shalat Zuhur kali ini ia ada sift siang dan akan pulang malam hari. keinginan nya untuk mengkhitbah Khansa sudah bulat setelah kakaknya mendapatkan pasangan.
Sudah hampir dua jam barra bertamu ke rumah Ammar, lalu barra pamit dengan banyak mengucapkan terima kasih.
" nak hilangkan kebiasaan burukmu yang terlalu cuek dengan orang asing". ucap Aisha setelah barra dan keluarga nya pergi.
" bagaimana kamu bisa dekat dengan wanita jika kamu masih punya sikap dingin seperti itu." ucap Aisha
" nanti kalau jodoh pasti bertemu bunda, "
" kan tadi sudah bertemu." ucap bunda namun Ammar tidak ngeh ucapan bundanya ia berlalu masuk ke kamar lagi.
__
Ameer sibuk dengan banyaknya pasien dan siang ini ia harus ikut operasi dengan dokter Bilal. Mata Ameer memang tajam ia cepat sekali memahami cara kerja dokter.
Tiga jam selesai, pukul empat sore mereka keluar dari ruangan operasi. wajah yang sumringah karena operasi nya berhasil. Ameer juga puas senang pasien bisa terselamatkan setidaknya melewati masa kritis. mereka para dokter sudah maksimal mengerjakan meski soal hasil hanya Allah lah yang menentukan.
" kapan rencana ambil spesialis, aku dengar dari Athar kamu akan ambil spesialis jantung". tanya dokter Bilal mereka berjalan beriringan.
" Tahun depan aku sudah mendaftar dan di terima universitas Amerika".
" wah keren, kamu hebat".
" dokter lebih hebat aku hanya berusaha mengikuti jejak dokter."
" ayahmu yang hebat ia sekolah kedokteran di sana juga ambil spesialis di sana dengan beasiswa" ucap dokter Bilal tau jika dokter azzam adalah kakak tingkatnya.
__ADS_1
" Maaf dokter saya permisi ". ucap Ameer lalu masuk ke ruangan nya.
rasa lelah menerpa diri Ameer ia shalat ashar terlebih dahulu sebelum menganalisis data pasien nya.
" cukup masih banyak operasi yang terdaftar, makin banyak sekali orang sakit mereka tak memikirkan hidup sehat. hanya berfikir makan kenyang saja dan rasa nikmat di lidah tanpa menghiraukan kesehatan. apalagi makanan zaman sekarang ngeri saja kalau liat komposisinya ". gumam Ameer di dalam ruangannya sendiri.
___
Khalid dan temannya berada di ruangan tengah rumah Aulia. sejak tadi ia kadang melirik Aulia, Aulia cuek karena ia sebal dengan Khalid. Khalid yang selalu usil dengan Aulia, makanya Aulia kesal.
" ini Khalid anak ustadz Barra kan." tanya Aisyah ibunya Aulia saat menghampiri mereka memberikan makanan kecil.
" iya bunda,saya Khalid." ucap Khalid, Aulia memutar bola matanya jengah.
" bagaimana keadaan umi mu nak". tanya Aisyah.
" Alhamdulillah sehat bunda, kenal sama umi ku"
" iya saya dan ayahnya Aulia teman, karena waktu itu ayahnya Aulia pindah dinas ke Yogyakarta jadi kami jarang bertemu. makanya kamu tak mengenal bunda, salam untuk umi mu ya dari bundanya Aulia ."
" iya bunda, bunda Aisyah dan ayah Fadil kan". ucap Khalid menjelaskan.
" itu kamu tau nak nama kami".
" tau bunda kami kan kenal dengan Aulia nama orang tua nya pun kenal juga".
" ya sudah bunda ke dalam dulu kalian belajar yang benar, "
" siap bunda mertua." ucap Khalid lirih. teman-temannya terkekeh hanya Aulia yang kesal.
" kode-kode Aulia terima aja itu calon ustadz Khalid".
" amit-amit ogah."
" jangan gitu nanti kamu tergila-gila loh padaku, ingat kan jika kita tak boleh membenci seseorang lebih bisa jadi dia nanti orang yang sangat kamu cintai." kata Khalid sembari tertawa.
" astaghfirullah hal adzim kenapa sih kamu tuh masuk kelompok aku, dan kenapa harus ada di sekitaran hidupku bikin aku pusing saja".
" karena aku calon imam mu dan kamu tulang rusukku". entengnya mulut Khalid mengucapkan hal itu.
teman-temannya tertawa terbahak, Aulia sangat sebal entahlah baginya Khalid itu menyebalkan.
__
bersambung
__ADS_1