Cinta Untuk Khansa

Cinta Untuk Khansa
Part 19. amar bosan


__ADS_3

Ayah dan bundanya Ammar tak mengizinkan Ammar untuk bekerja hari ini ia meminta Geri untuk menghandel perusahaan beberapa hari saja. Ammar boleh bekerja hanya dari rumah tak boleh pergi kemana pun.


" Ammar bosan di rumah bunda, biarkan Ammar bekerja. Ammar ada proyek dengan Mr Jack juga om Hamdan". ucap Ammar mencoba melobi ke bundanya.


" proyek mu masih bulan depan Ammar dan om mu Hamdan sudah bilang sama bunda jika bisa di kerjakan santai masih banyak karyawan kamu yang membantu. untuk apa merekrut karyawan jika kamu terus yang mengerjakan nya. kamu harus mulai percaya dengan karyawan mu, Geri juga sudah pandai menghandel perusahaan ". ucap Aisha karena Ammar ngotot mau ke kantor.


" kakak ini di kasih istirahat ya istirahat dulu kak biar sehat, meski terlihat lukanya ringan tapi kakak butuh istirahat ". ucap Ameer membawakan buah pir kesukaan Ammar.


" bosan di rumah ". ucap Ammar.


" makanya cari istri kak biar di rumah betah ngga keluar terus." goda Ameer.


" itu lagi yang di bahas ." dengus Ammar tak suka, Ameer terkekeh.


" kamu mau ke rumah sakit nak." tanya bunda kepada Ameer.


" iya bunda nanti siang ada sift siang ini." ucap Ameer.


" ngga ke kampus ".


" kalau siang ke rumah sakit Ameer tak ambil jadwal mengajar kak". ucap Ameer menyuap kan satu potong buah ke mulut kakaknya.


" Kenapa kakak butuh teman, biasanya kakak lebih suka sendiri pacaran sama kang laptop." kata Ameer terus menyuapi kakaknya karena tangan Ammar masih terasa ngilu yang kanan. Ammar yang merawat kakaknya jadi dia tau bagian mana yang memang cukup sakit.


" isshh... ". lagi-lagi Ammar ingin menjitak Ameer.


" sarapan lalu minum obatnya kak, buah ini cukup segini dulu makannya boleh di makan nanti jam 10". ucap Ameer ia mengambil piring yang di bawakan bundanya.


sup iga kesukaan Ammar sudah siap untuk di habiskan. aromanya membuat Ammar semakin lapar.


" biar aku sendiri seperti bayi saja di suap".


" tanganmu sakit kak biar aku saja, ". Ameer memaksa menyuapi kakaknya.

__ADS_1


__


Pikiran Khansa masih tentang Ammar orang yang menolong nya. Berharap lekas sehat kembali, gara-gara dia Ammar harus mengalami sakit.


" nak nanti kita jenguk nak Ammar ya, umi belum bilang makasih juga sama Ammar". Khansa tak menjawab ia hanya melirik abinya, Khansa tak akan pergi jika abinya tak mengizinkan.


" nanti Abi antar, siang ini Abi kosong jadwalnya." ucap Barra lalu ia tau jika alira dan ibunya Ammar berteman sedangkan keluarga Azzam donatur terbesar juga di pesantren.


" Alhamdulillah tak enak bi kalau tak ke sana dia sudah menolong anak kita, bahkan justru dia yang terluka." ucap Alira mencoba supaya suaminya mengerti.


" iya Abi sudah lihat lukanya lumayan meski dia bilang tidak apa-apa ". ucap Barra.


Bara lalu menghubungi Fauzan jika dia akan pergi bersama alira, Barra membawa mobil sendiri yaitu mobil yang ia hadiahkan untuk alira. jarang di pakai kadang hanya alira pakai ke butik atau restoran saja, alira sudah tak suka nongkrong sama temannya seperti dulu.


" Abi, Khalid nanti siang langsung ke rumah teman Khalid ya belajar kelompok ".


" ya sudah yang penting pulangnya jangan kesorean ".


" boleh Khalid bawa motor Bi, rumah temen Khalid agak jauh " alira memegang lengan barra agar mau mengizinkan. itulah alira dan Barra tak pernah membela anaknya di depan mereka langsung.


" siap Abi, terima kasih banyak. semoga Abi dan umi selalu langgeng cinta nya tak akan pernah berujung." alira dan Barra geleng-geleng kepala Khalid sudah mulai dewasa mereka seakan lupa. rayuan Khalid cukup maut.


Tugas kelompok yang di berikan kepada Khalid merupakan tugas kelompok semua murid tak terkecuali mereka sengaja di acak. Di kelas tiga ini Khalid memang berada di kelas murid-murid yang pandai, kepintaran Barra di warisi oleh Khalid juga.


" kelompok kita siapa aja sih." tanya Khalid yang bingung belum paham.


" aku, kamu, aza, Sofiya, Rena, Aulia.". ucap haris teman Khalid.


" perempuan empat laki-laki dua ".


" eh aku gabung sama kalian juga loh". Rere tiba-tiba datang karena kemarin dia tak masuk jadi di minta untuk gabung dengan kelompok Khalid.


" terus enaknya kita ngerjain di mana". tanya Khalid lagi.

__ADS_1


" kalau mereka bilang tadi sih di rumah Aulia saja yang tak begitu jauh."


" oke sekalian ketemu sama calon mertua". ucap Khalid sembari tersenyum terkekeh. Aulia yang mendengar jengah saja entah kenapa ia tak begitu suka dengan Khalid, Aulia kesal apalagi Khalid suka menggodanya usil.


" ya udah yok keburu siang". mereka naik motor saling berboncengan.


___


Alira sudah membawa buah tangan untuk siap di antar ke rumah dokter azzam untuk menjenguk Ammar. Khansa sudah berdandan dengan bedak tipis jilbab navy dan gamis senada terlihat kecantikan nya apalagi hijabnya ia ulurkan lebar hingga menutupi dada. siapapun yang melihatnya pasti terpesona apalagi di tambah dengan senyuman nya yang manis.


" khansa ayo cepat nak biar kita pulang ngga sore-sore". panggil alira.


" iya umi sebentar masih pakai kaos kaki."


" gadis itu pasti lama dandanya ya sayang."


" alira ngga tau mas, dulu Alira gadis cuma sampai SMA saja jadi ngga ngerasain seperti Khansa." alira justru sedih mengingat masa lalu.


barra mengusap kepala alira ia tau istrinya kecewa jika melihat dulu ia tak bisa menikmati masa remaja nya dengan puas.


" semua skenario Allah sayang, mas juga ngga tau bakal nikahin kamu dengan cara seperti itu. tapi mas bahagia bisa dapetin kamu sayang, kamu wanita saliha seperti impian mas meski melenceng sedikit ". alira menoleh .


" apa maksudnya mas." barra terkekeh ia ingin menggoda saja.


" ngga apa-apa, dulu mas ingin wanita alim lemah lembut. ternyata wanita yang di samping ku lebih baik dari pada yang aku inginkan. Allah tau kebutuhan kita."


" kenapa mas ngga menikah lagi saja sama wanita alim keinginan mas." alira sewot.


" gimana aku mau menikah lagi apa yang aku cari sudah ada pada istriku semua, cantik ia, pintar ia, bisa cari duit iya, apalagi urusan ranjangnya beuh... pasti tak ada yang mengalahkan istri ku ini."


" mas..." alira mencubit pinggang Barra. Barra tertawa lebar.


Tak lama Khansa pun keluar, barra lalu melajukan mobilnya agar cepat sampai ke tujuan. Barra dan alira hanya saling lirik mengingat pembicaraan tadi, barra tersenyum alira salah tingkah meski sudah lama menikah tapi tetap saja rasa malu itu ada untuk alira. sedangkan Khansa hanya melihat ke arah luar saja.

__ADS_1


__


bersambung


__ADS_2